
Di kota yang sangat maju seperti kota X ini, Raina begitu terpesona oleh keindahan yang begitu memukau sehingga pantas saja kedua orang tuanya begitu enggan meninggalkan kota ini.
Sambil jalan-jalan tak lupa Raina mengabadikan keberadaannya di kota tersebut "ini moment langka, gak tahu kapan aku kesini lagi." Raina.
"Ibu kita mau kemana." Raina menggelayut manja pada ibunya.
"Kita akan kasih kejutan buat ayah." Maria tersenyum.
Maria sengaja tidak memberitahukan pada Hasan kalau Raina akan liburan di sini, karena secara diam-diam Maria menyuruh Raina untuk berkunjung kesini.
Maria yang sudah paham benar dengan sifat suaminya, dia pasti tidak akan mengizinkan putri semata wayangnya untuk berangkat sendiri, karena Hasan beralasan Raina masih anak kecil.
Raina tumbuh menjadi anak yang mandiri itu semua berkat Maria yang tidak pernah memanjakannya, padahal di hati kecilnya dia begitu teramat sangat menyayangi Raina melebihi apapun.
Berbeda dengan Hasan, dia begitu memanjakan Raina dengan segala hal yang dia punya, dia selalu menunjukkan kasih sayang yang sangat berlimpah pada putri semata wayangnya sehingga cara menyampaikan kasih sayang antara Hasan dan Maria sangat jauh berbeda.
Perlakuan mereka akhirnya bertolak belakang sang ayah yang selalu menuruti semua keinginan putrinya, dan sang ibu yang selalu memilih dan menentukan skala prioritas terhadap semua hal yang berkaitan dengan Raina.
Maria selalu berpikir, ketika kelak mereka tua, Raina bisa hidup tanpa bergantung pada siapa pun, dan buktinya sekarang Raina bisa menjalani hidup berjauhan dengan orang tuanya, meskipun sulit namun semuanya bisa terlewati tanpa ada keluhan apapun, itu semua berkat Maria yang selalu memberikan keberanian untuk Raina belajar hidup mandiri.
Di kantor perusahaan tempat ayah Raina bekerja sedang ada acara rutin yang selalu diadakan 3 bulan sekali, semua karyawan membawa turut serta keluarganya karena hari ini semua karyawan bisa menikmati hiburan yang disediakan oleh pihak perusahaannya.
Itulah alasan Maria menyuruh Raina untuk datang, karena kalau Raina datang besok itu sama aja gak ngaruh, karena hampir semua sahabat Hasan hanya mengenal Maria saja, mereka tidak mengenal Raina, sekarang Raina akan diperkenalkan pada semua sahabat ayahnya.
Mereka tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi, ya itu adalah kantor tempat ayah Raina bekerja.
Karena Hasan merupakan orang kepercayaan dari pemilik perusahaan maka tidak sulit bagi Maria untuk bisa langsung masuk kedalam kantor tersebut.
Mereka naik lift menuju lantai 10 dimana ayah Raina bekerja, lift terbuka dan mereka langsung menuju ruangan Hasan.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Maria dan Raina langsung masuk dan ...
__ADS_1
"Sayang... kapan kamu kesini Nak? ayah kangen sama kamu." Hasan langsung berhambur memeluk putri semata wayangnya.
"Aku juga kangen Yah..." Raina memeluk dengan manja.
"Sayang kamu ke sini sama bi Asih?" Hasan menatap Raina tajam.
Raina hanya menggelengkan kepala dan tersenyum pada Hasan.
"Dia sudah besar, jadi dia berani pergi sendiri, Ayah jangan khawatir berlebihan seperti itu." Maria duduk di kursi sambil membawa Raina duduk.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mau kesini, Ayah bisa jemput kamu dan pergi bersama ke sini." Hasan menghampiri Raina.
"Gak apa-apa Yah... aku kan jadi anak yang berani, aku kan udah gede, jadi aku bisa jaga diri aku sendiri." Raina menyenderkan kepalanya di pundak Hasan.
"Apa ini semua benar-benar keinginanmu atau ada faktor lain?" Hasan mulai melirik ke arah Maria.
"Ha... ha... ha... Ayah paham betul dengan Ibu." Maria memeluk mereka berdua.
Raina dan Maria pun tertawa bahagia karena sudah melihat Hasan panik, apa lagi Maria, dia tertawa penuh kemenangan.
Di kota lain Alex begitu gelisah karena tidak bisa menghubungi Raina, dia takut telah terjadi sesuatu pada Raina, karena Raina tidak menjawab panggilannya.
Alex mondar mandir sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, dia begitu khawatir dengan keadaan Raina sekarang dia berusaha terus menerus untuk menghubungi Raina kembali, namun tetap tidak bisa.
Di kota X tepatnya di kantor ayahnya Raina kerja acara sudah dimulai, semua karyawan berbaur menjadi satu kesatuan yang utuh, karena prinsip dari perusahaan ini adalah menciptakan kekeluargaan yang harmonis.
Semua orang saling bersitatap ketika melihat Hasan menggandeng Raina, dengan bangga Hasan memperkenalkan Raina pada semua sahabat dan karyawan yang lain, termasuk kepada pemilik perusahaan ini yang kebetulan hari ini bisa hadir dalam acara rutin perusahaannya.
Raina adalah anak yang supel, dia mudah beradaptasi dan berbaur dengan yang lainnya, Raina begitu menikmati pesta yang diadakan oleh perusahaan ayahnya hingga dia tidak merasakan kalau ponselnya bergetar dari tadi.
Sementara itu pemilik perusahaan tempat ayah Raina bekerja begitu kagum melihat kecantikan Raina, dia terus-terusan memperhatikan Raina yang sedang bercengkrama dengan keluarga karyawannya yang lain.
__ADS_1
Acarapun berakhir pada jam 11 malam, namun karena Hasan adalah salah satu orang kepercayaan dari perusahaan itu jadi ketika acara berakhir dia tidak langsung pulang, karena harus berhadapan dengan orang-orang penting lainnya, ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam barulah mereka pulang menuju ke rumah dinas Hasan yang sengaja disediakan oleh perusahaan.
Raina langsung masuk ke kamar yang Maria siapkan, dia langsung membersihkan dirinya dan bergegas untuk tidur karena sudah sangat ngantuk sekali.
Setelah beres mandi Raina mencoba mengambil ponsel, dan saat dibuka sudah ada 10 panggilan tak terjawab dari Alex.
"Dari tadi kakak nelpon aku? gimana ya, kira-kira kalau nelpon sekarang dia udah tidur belum ya." Raina bicara sendiri.
Saat akan menekan nomor Alex, ternyata sudah ada panggilan masuk dari Alex.
Alex : Sayang kamu dari mana saja? kakak khawatir terjadi apa-apa sama kamu, kamu dihubungin gak bisa, pas udah bisa malah gak diangkat, apa terjadi sesuatu?
Raina : Maaf
Alex : Cuma maaf Rai? ha.. ha.. ha.. kamu memang senang ya bikin orang jantungan, kakak kangen pengen dengar suara kamu, ini malah cuma bilang maaf, kamu keterlaluan Rai.
Raina : Habisnya kakak gak ngasih kesempatan aku bicara, mau bicara gimana kalau kakak nyerocos terus kaya gitu.
Alex : Kakak khawatir Rai, tapi kamu gak apa-apa kan?
Raina : Iya aku gak apa-apa (Raina menjelaskan semuanya pada Alex)
Alex : Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, ya udah sekarang tidur, besok jangan lupa lagi ya untuk hubungin kakak.
Raina : Iya aku gak bakalan lupa lagi, tapi gak janji ya.
Alex : Good night honey.
Panggilan berakhir dan Raina langsung tertidur karena seharian ini begitu melelahkan baginya.
Alex yang jauh disana sekarang sudah merasa lega dan tenang, karena pujaan hatinya baik-baik saja, dan suara Raina tadi sudah mampu mengurangi rasa rindu yang begitu berat meskipun mereka baru satu hari berpisah baginya bagaikan satu tahun tidak bertemu.
__ADS_1