Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
1-1


__ADS_3

Alex yang menginginkan acara resepsi pernikahannya di gelar, dia langsung meminta bantuan mertua serta ibunya untuk menyusun rangkaian acaranya.


Raina hanya mengikuti semua keinginan suaminya karena menurutnya tidak menggelar resepsi pun tidak jadi masalah.


"Pokoknya aku ingin semua teman-temanmu di undang Rai, supaya mereka tahu kalau kamu sudah jadi milik aku." Alex mencoba menekankan kalimat yang dia ucapkan.


"Euh ... ini pasti ngungkit lagi masalah Shabi." Batin Raina.


"Iya Kak, aku pastiin satu sekolah bakalan aku undang juga, biar mereka juga tahu kalau gurunya udah jadi milik aku." Raina tidak mau kalah karena memang Alex masih menjadi idola murid-murid wanitanya.


"Oke ... kita imbang 1-1." Alex terkekeh karena perdebatannya kali ini seperti main sepak bola.


Raina hari ini benar-benar merasa sangat lelah, setelah pulang makan siang bersama Arman dan juga Ayu, Raina langsung merebahkan tubuhnya sambil menonton acara kesukaannya di ruang keluarga.


Alex seakan tidak ingin jauh dari istrinya, dia pun ikut merebahkan tubuhnya di sisi Raina sambil memainkan rambut Raina dengan telunjuknya.


Raina yang tengah fokus, tiba-tiba mendengar suara nada dering dari ponselnya. Matanya langsung terbelalak ketika dia melihat nama Shabi muncul di layar ponselnya.


"Kak ... Shabi nelepon aku." Raina menunjukkan ponselnya.


"Jawab aja, loud speaker biar aku tahu dia ngomong apa." Alex langsung mengubah posisi duduknya.


"Hallo Bi ...." ucap Raina di sambungan teleponnya.


"Rai ... bisa ketemuan gak?" sahut Shabi.


"Emangnya ada apa?" sambung Raina.


"Aku pengen ngenalin kamu sama orang tua aku." Jawab Shabi.


"Bukannya kita udah pada kenal ya Bi, hehe." Raina mulai merasakan suaminya kesal.


"Aku pengen meyakinkan mereka kalau kita memang dekat. Bantu aku ya Rai." Shabi terdengar memelas.

__ADS_1


"Dekat? maksud kamu apa?" Raina mulai tidak enak.


"Pokoknya aku bakalan meyakinkan orang tua kita kalau aku memang benar-benar tulus sama kamu, aku siap kok bersaing sama pak Alex buat dapetin kamu. Yang jelas orang tua kamu pasti akan lebih memilih aku ketimbang Pak Alex, secara dia udah tua jadi gak cocok buat kamu." Raina langsung menahan tawanya melibat ekspresi Alex yang mendengar ucapan Shabi.


Saking kesalnya, Alex langsung menutup panggilan Shabi, dan Raina hanya melotot saja.


"Kak, kenapa panggilannya di putus? nanti dia mikir yang tidak-tidak tentang aku." Sebelum Alex menjawab pertanyaan Raina, Shabi sudah menghubungi Raina lagi.


"Jangan di jawab, dia tuh orangnya ngeyel, di kasih hati malah minta jantung." Alex langsung menolak panggilan Shabi.


"Bisa-bisanya dia bicara seperti itu, untung saja kamu sudah sah jadi istri aku, kalau belum ... dia pasti akan mempengaruhi kamu supaya ninggalin aku."


"Jangan punya pikiran negatif kayak gitu, Kak ... belum tentu juga dia seperti itu." Raina mengambil ponsel dari tangan Alex.


"Inilah salah satu alasan aku buat merayakan resepsi kita, biar dia tahu bahwa kamu sudah bersuami." Alex kembali merebahkan tubuhnya.


Raina hanya menghela napas dalam melihat suaminya yang begitu terlihat seperti anak ABG yang takut pacarnya selingkuh.


Raina datang ke sekolah seperti biasa, dia akan menunggu pengumuman kelulusan yang akan di umumkan siang ini. Sambil menunggu Raina ingin meluruskan sesuatu tentang dirinya dengan Shabi karena terakhir kali mereka bicara saat sambungan teleponnya di akhiri oleh Alex.


Saat melihat Shabi, Raina langsung mengajaknya bicara di kelas supaya banyak orang biar tidak timbul fitnah dari orang lain.


"Shabi, maaf ya tempo hari aku tiba-tiba menutup telepon dari kamu, aku hanya ingin ngasih tahu sama kamu kalau sebenarnya aku sama Kak Alex akan segera melangsungkan pesta pernikahan, jadi aku harap kamu bisa ngerti ya, kita tetap masih bisa bersahabat seperti sekarang tapi kalau ingin lebih dari pada itu, maaf aku tidak bisa." Raina berusaha bersikap baik pada Shabi.


"Aku kecewa sama kamu karena kamu tidak memberiku kesempatan, tapi mungkin memang kita tidak berjodoh ... ya mau gimana lagi. Semoga kamu bahagia." Selesai bicara Shabi langsung meninggalkan Raina begitu saja tanpa melihat Raina lagi.


"Meskipun kamu seperti itu, tapi aku sudah merasa lega karena sudah menjelaskan semuanya pada kamu." Batin Raina.


Tiba waktunya pengumuman kelulusan, semua murid kelas XII merasa sangat senang karena semuanya dinyatakan lulus seratus persen.


Rona bahagia terpancar dari semua wajah murid kelas XII, apalagi Raina yang merasa sangat bahagia karena menurutnya sudah tidak ada lagi alasan untuknya merahasiakan pernikahannya dari orang lain.


"Selamat sayang." ucap Alex saat mereka sudah berada di dalam mobil untuk pulang.

__ADS_1


"Aku lega Kak, semua yang mengganjal sekarang satu per satu udah beres." Sahut Raina.


"Pokoknya kamu siap-siap saja untuk acara kita, ibu sama bunda sudah mempersiapkannya, jadi kemungkinan dua minggu lagi pesta pernikahan kita akan di gelar." Alex tersenyum.


"Iya, aku mah ngikut aja." Raina membalas senyuman Suaminya.


Alex dan Raina menyusuri jalan kota yang sedikit agak ramai karena banyak dari murid-murid sekolah lain yang merayakan kelulusannya di jalan raya.


"Untung saja kamu gak ikut-ikutan seperti mereka." Alex menunjuk pada salah satu siswi yang sedang di corat-coret oleh teman-temannya yang lain.


"Aku sih mau, tapi takut gak di kasih ijin." Raina menatap suaminya.


"Kamu udah tahu jawabannya. Jadi, jangan pernah." Alex mengusap rambut istrinya.


Raina hanya melihat dengan nanar, karena dalam hati kecilnya dia ingin sekali merayakan kelulusannya seperti orang lain. Tapi, karena status sudah bersuami jadi, mau tidak mau harus nurut sama perintah suami.


"Kak kita mau kemana?" Raina baru menyadari kalau jalan yang mereka lewati bukan arah jalan ke rumah.


"Kita rayain kelulusan kamu biar kamu gak BT." Alex terkekeh.


Raina hanya mengangguk saja dan melihat ke sekitar jalan dan ternyata dia belum pernah melewati jalan yang sekarang mereka lewati.


"Kita sebenarnya mau kemana Kak, kok aku gak pernah ya lewat jalan sini." Raina celingukan sendiri.


"Sebentar lagi sampai, nanti kamu akan tahu sendiri." Alex menepikan mobilnya di pinggir jalan dan saat itu juga Raina baru tahu bahwa Alex membawanya ke panti asuhan.


"Aku ingin berbagi dengan mereka yang membutuhkan kasih sayang dari kita, kamu tidak keberatan 'kan?" ucap Alex sebelum mereka keluar dari mobil.


"Terima kasih karena sudah mengingatkan aku untuk selalu berbuat baik, Kak." Raina memeluk suaminya.


Raina tidak pernah mengira kalau Alex akan merayakan kelulusannya di panti asuhan, hatinya bergetar hebat ketika melihat anak-anak yang mulai belajar jalan menghampirinya untuk menyambut kedatangan mereka.


"Seandainya kemarin aku tidak keguguran, mungkin sekarang aku masih mempunyai bayi." Batin Raina

__ADS_1


__ADS_2