
Sesampainya di mall Raina, Ayu, Shabi dan teman-teman yang lainnya langsung mencari tempat yang asik buat nongkrong. Setelah mendapatkan tempat yang enak mereka langsung memesan makanan sambil bercerita ria membahas tentang ujian nasional yang telah mereka lalui.
Mereka menikmati hidangan makanan sambil tertawa karena celotehan-celotehan dari mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Rai mau liburan ke kota x nggak?" Ucap Shabi mencari tahu.
"Kayaknya sih nggak." Sahut Raina.
"Orang tuamu emang belum pulang lagi?" Sambung Shabi.
"Kayaknya liburan sekarang jadwal kepulangan mereka deh ... jadi aku nggak perlu ke sana." Raina berbicara sambil memainkan sedotan yang ada di minumannya.
"Kalau gitu gimana kalau misalkan kita liburan yuk guys ... itung-itung refreshing otak bekas mikir ujian nasional." Ajak Shabi pada semua temannya.
"Wah, kayaknya ide bagus tuh." Sahut Ayu.
"Bagaimana kalau misalkan kita pergi hiking lagi ... seru kan ... itung-itung ngerefresh otak." Shabi mengeluarkan idenya untuk liburan.
"Kayaknya aku enggak bakalan ikut deh." Sahut Raina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Emang kenapa?" Sahut Shabi penasaran karena biasanya Raina paling antusias jika di ajak hiking.
"Sekarang aku agak susah kalau misalkan harus pergi keluar nginep-nginep kayak gitu, kecuali kalau misalkan main seperti ini oke aku bisa. Sekarang agak ketat sih aturannya." Raina mencoba menutupi kalau dirinya sekarang sudah menikah dan berusaha memberi alasan yang masuk akal tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Ya udah ... nanti kita cari aja waktu buat refresh otak kita seharian full dari pagi sampai sore." Sahut temannya yang lain.
"Oke." Jawab mereka berbarengan.
Setelah menghabiskan makanan. Mereka sekarang mengantri di loket bioskop. Rencananya hari ini mereka akan menonton bersama.
Shabi sengaja memposisikan dirinya duduk berdampingan dengan Raina, karena dia sudah membulatkan tekadnya untuk mengakui perasaannya kepada Raina.
"Aku akan berusaha mendapatkan cintamu meskipun sekarang kamu menjadi kekasihnya Pak Alex, aku yakin kalau kamu adalah takdir aku." Gumam Shabi dalam hati.
Saat tengah asyik menonton Shabi terus-menerus memperhatikan wajah Raina dari posisi yang menyamping. Dia terus menatap dan tersenyum sendiri ketika melihat Raina yang tengah tersenyum melihat film yang ditonton.
***
Di rumah Alex menunggu Raina pulang. Dia terus melirik jam yang melingkar di tangannya karena waktu sudah hampir mau memasuki maghrib.
Saat hendak mau menelepon ternyata Raina sudah pulang dengan menggunakan taksi online.
"Kak maaf ya ... aku pulangnya telat banget. Habisnya sih tadi anak-anak pakai acara keliling-keliling segala jadinya ke sorean. Ucap Raina saat melihat suaminya yang sedang menunggu kepulangannya.
"Nggak apa-apa ... yang penting kamu senang." Sahut Alex sambil menarik tangan Raina lembut.
__ADS_1
"Wah, suami aku baik banget." Raina bergelayut manja pada Alex.
"Baru tahu ya." Alex mencubit hidung Raina karena gemas.
Mereka masuk ke dalam rumah sambil terus tertawa karena tingkah mereka sendiri yang terlihat narsis.
"Rai ... jangan lupa besok waktunya buat kamu check up." Alex mengingatkan Raina karena Raina terlihat seperti tidak ingat.
"Ya Tuhan ... untung aja Kakak ingetin, aku lupa." Raina menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
Mereka sekarang sudah berada di atas tempat tidur sambil menonton acara televisi.
"Rai ... kakak kangen." Ucap Alex dengan penuh nafsu.
"Sama." Sahut Raina sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Masih harus nunggu seminggu lagi. Rasanya seperti nunggu satu abad." Alex menyadari bahwa Raina masih berada dalam nifasnya, sehingga dengan susah payah hampir tiap malam Alex menahan hasratnya.
"Sabar ya ... lagian akunya juga masih linu Kak." Raina mendongakkan kepalanya.
"Masih linu? kok gak sembuh-sembuh?" cerocos Alex karena khawatir masa nifas berakhir tapi istrinya tidak akan memberinya jatah karena masih merasakan linu di bagian intinya.
"Ya gak tahu ... aku kan baru ngalaminnya sekarang." Sahut Raina lagi.
"Ya udah besok sekalian aja tanyain sama dokternya. Masa kakak harus puasa terus-terusan." Alex mencium bibir istrinya sekilas.
Tanpa bicara lagi Alex langsung mencium bibir istrinya kembali dengan lembut tapi sedikit panas.
"Udah ah ... takut gak bisa nahan." Ucap Alex saat menyudahi ciumannya.
"Maaf ya kak." Raina mengeratkan pelukannya.
"Kenapa minta maaf?" Alex heran.
"Karena membuat singa tidak bisa masuk kandang." Raina terkekeh sambil membenamkan wajahnya di dada Alex.
Akhirnya karena waktu sudah hampir larut mereka berdua terlelap dalam mimpi indahnya.
Pagi hari karena Raina sudah selesai melaksanakan ujian nasional artinya Raina bebas untuk datang ataupun tidak ke sekolah.
Hari ini Alex mengantar Raina untuk check-up kembali ke rumah sakit tempatnya di kuret. Setelah mendaftar Raina dan Alex menunggu di kursi tunggu untuk menunggu giliran masuk ke ruang periksa.
Sekitar 1 jam mereka menunggu akhirnya mereka dipanggil karena sudah waktunya untuk giliran Raina diperiksa.
Setelah pemeriksaan selesai ternyata hasilnya cukup melegakan bahwa ternyata Raina sudah bisa beraktivitas seperti biasa dan waktu untuk program kehamilan diharapkan tidak boleh kurang dari 6 bulan.
__ADS_1
Alex kemudian mencoba untuk menanyakan perihal keluhan Raina yang merasa ngilu dibagian intinya. Dokter hanya tertawa ketika mendengar pertanyaan dari Alex karena pemikiran dokter mungkin hampir sama dengan semua orang bahwa Alex sudah tidak sabar ingin segera memasukkan singanya kembali.
"Rasa ngilu itu mungkin akibat dari traumatis alat-alat kuret pada bagian inti istri anda. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Ucap dokter ramah.
Setelah mendapatkan penjelas dari dokter Alex makin mengembangkan senyumnya tanda bahwa keluhan istrinya itu memang alamiah.
Kabar yang paling membahagiakan ternyata ketika ucapan dokter mengatakan bahwa meskipun baru selesai melaksanakan kuret namun ketika masa nifasnya sudah selesai maka Alex boleh memasukkan singanya kembali.
"Ish ... suami aku memang gak punya malu. Masa minta penjelasan sampai ke hal yang begituan." Gerutu Raina dalam hati.
"Kak Kenapa bertanya hal yang begituan sih ... malu-maluin aja." Raina mengerucutkan bibirnya ketika keluar dari ruang dokter.
"Kenapa mesti malu? biarin aja kita kan emang gak tahu." Ucap Alex santai.
"Tapi kan tadi kesannya si dokter itu lihatnya senyum-senyum terus aku jadi malu tahu." Sambung Raina.
"Biarin aja ... dia juga kan ngalamin juga." Alex terus tersenyum.
"Tapi kan kayak yang gimana ya." Raina bingung mendeskripsikannya.
"Udah nggak usah dipikirin ... yang jelas 5 hari lagi kamu siap-siap saja." Alex terkekeh melihat ekspresi Raina.
"Ish pikirannya cuma itu-itu aja." Raina berjalan agak cepat.
"Emangnya kamu nggak mau?" Goda Alex.
"Ya bukan gitu ... maksud aku tuh jangan terus-terusan mikirin yang itu-itu aja."
"Terus ... kita nikah buat ngapain kalau bukan buat gituan." Sahut Alex cepat.
"Maksud aku tuh bahas yang lain, misalnya kita jalan-jalan ke mana buat mencari udara segar." Raina mulai mengungkapkan keinginannya.
"Mau honeymoon lagi?" Alex seakan tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Kok tahu sih ... emang aku lagi pengen honeymoon lagi." Raina tersenyum bahagia karena Alex mengerti dengan keinginannya.
"Ya udah ... kalau gitu lusa kita berangkat ke kota B. Kita puas-puasin rasa rindu kita." Alex langsung merangkul Raina dan mengecup pucuk kepala istrinya.
---------------
Hallo semuanya ... maaf ya Author lama up nya...
Author benar-benar lagi banyak kerjaan di dunia nyata. mudah-mudahan mulai besok Author bisa up lagi setiap hari.
dan tak lupa Author ingin mengucapkan "Selamat Hari Guru" buat semua guru yang ada di Indonesia.
__ADS_1
Tanpa Guru kita bukan siapa-siapa.
Semoga sehat selalu dan jangan lupa bahagia.🙏🙏