
Pagi hari Alex dan Raina sudah bersiap untuk ke sekolah, sebelum mereka keluar dari kamar Alex sudah banyak mewanti-wanti istrinya agar hari ini jangan terlalu dekat-dekat dengan Shabi.
"Kak ... aku gak mungkin langsung menjauhinya begitu saja, kita tuh sahabatan ... jadi nanti orang-orang malah heran lihat aku yang malah menghindar terus. Lagian itu 'kan cuma keinginan ayahnya saja, Shabi pasti gak akan setuju karena dia tahu aku pacaran sama kamu" Raina berusaha untuk memberi pengertian namun, Alex malah jadi salah paham.
"Kamu gak nurut ya sama suami." Alex terlihat kesal karena Raina kekeh dengan asumsinya.
"Bukan gak nurut, Kak. Aku cuma ingin bersikap biasa saja sama Shabi karena memang aku gak punya perasaan apa-apa sama dia. Percaya deh ... Aku cuma cinta sama kamu aja."
CUP ...
Raina mengecup bibir suaminya sekilas dengan manja.
"Pokoknya aku gak mau tahu, apapun alasan kamu ... tugas kamu cuma satu ... nurut sama suami." Alex tidak terpengaruh oleh ciuman yang di berikan oleh istrinya itu.
"Ish ... aku baru tahu ya kalau kamu orangnya pemaksa." Raina mengerucutkan bibirnya karena ternyata usaha yang dilakukan untuk merayu suaminya sia-sia tidak ampuh.
Akhirnya keduanya mengakhiri pembicaraan pagi mereka dengan perasaan yang sama-sama tidak puas.
"Pagi sayang ... Sapa Maria saat Alex dan Raina baru saja turun dari kamarnya.
"Pagi"
"Pagi Bu."
Alex dan Raina menjawab bersamaan dengan ekspresi wajah yang berbeda.
"Mereka kenapa ya? wajahnya terlihat seperti yang sedang gencatan senjata." Batin Maria langsung peka terhadap raut wajah Raina yang di tekuk.
Maria tidak ingin menanyakannya pada Raina karena menurutnya pasangan suami istri pasti akan mengalami hal-hal yang seperti ini.
Mereka sarapan saling membisu, Alex dan Raina hanya terlihat kaku karena perasaan mereka sama-sama sedang merasa tidak puas dengan keinginan mereka sendiri.
"Kami berangkat dulu ya, Bu, Yah ... dan nanti kami akan sekalian pulang ke rumah." Pamit Alex pada Ibu dan ayah mertuanya.
"Bukannya kita mau nginep satu malam lagi? kenapa malah sudah pamit." Gerutu Raina dalam hati ketika mendengar suaminya sudah sekalian pamit pulang.
__ADS_1
Raina hanya menatap kesal pada suaminya yang memutuskan pulang tanpa bicara dulu pada dirinya.
"Kenapa pamit pulang? bukannya kita mau nginep lagi?" Raina akhirnya tidak bisa memendam pertanyaan itu dalam hatinya saja.
"Aku gak mau, siapa tahu nanti ayahnya Shabi datang lagi dan merengek sama orang tua kamu buat menjodohkan kalian lagi." Sahut Alex tanpa melirik ke arah Raina.
"Lagi? Maksudnya" Raina sengaja menekankan kalimatnya.
"Ayah Shabi tidak akan menyerah cuma sampai situ, dia orangnya egois jadi pasti akan terus berusaha meyakinkan ayah kamu untuk menyetujui ide gilanya." Alex makin menunjukkan rasa kesalnya.
"Pikiran kamu dangkal sekali, cemburu sih boleh, tapi gak ngatain orang sampai segitunya juga." Raina mendelik dan mengubah posisinya menjadi menghadap ke kaca jendela mobil.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Rai ... aku akan berusaha untuk menjaga kamu sampai napas terakhir aku." Batin Alex.
"Ternyata cemburunya lebih parah dari ABG." Batin Raina sambil terus merutuki Alex dalam hati.
"Ingat, jangan terlalu dekat dengan Shabi." Ucap Alex saat mereka baru saja tiba di sekolah.
"Iya." sahut Kanaya cepat sambil salim pada suaminya.
Raina berkumpul dengan Ayu dan juga yang lainnya termasuk ada Shabi juga. Mereka ngobrol sampai tertawa terbahak-bahak hingga akhirnya tawa Raina terhenti ketika Alex mengirimkan pesan pada dirinya.
"Jangan terlihat seperti ngasih harapan sama dia." isi pesan yang di tulis oleh Alex untuk Raina.
Raina hanya menghela napas ketika membaca pesan dari suaminya, dia hanya membacanya saja dan tidak ingin membalasnya.
"Rai ... kita bisa bicara berdua gak?" ucap Shabi tiba-tiba.
"Berdua? kalau ketahuan habislah aku kena marah suami aku." Batin Raina.
"Bicara di sini aja Bi ... gak enak kalau berdua mah." sahut Raina kikuk.
"Aku pengennya berdua, ini masalah pribadi." Shabi kekeh dengan keinginannya, akhirnya teman-teman yang lainnya mengerti dengan maksud Shabi untuk bicara berdua dengan Raina, mereka sengaja pindah ke bangku lain untuk memberi ruang pada Shabi dan Raina.
"Kamu tahu gak kalau semalam Papa aku ke rumah kamu?" tanya Shabi.
__ADS_1
"Oh yang datang malam itu papa kamu, hehe ... aku gak tahu, aku cuma tahunya semalam ada temen ayah yang ke rumah." Raina ingin terlihat wajar.
"Aku yang minta papa untuk berkunjung ke rumahmu." Sambung Shabi.
"Oh ... aku gak tahu." Raina nyengir.
"Aku cinta sama kamu, Rai ... aku tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan Pak Alex, tapi sebelum kamu sah menjadi istrinya maka menurut aku ini sah-sah saja jika aku menyukaimu lebih dari sekedar sahabat." ucapan Shabi membuat Kanaya membulatkan matanya.
Raina tidak tahu kalau ternyata ayah Shabi memintanya untuk menjadi menantunya itu adalah keinginan dari Shabi sendiri.
"Kalau suamiku tahu yang sebenarnya bisa kacau ini. Ternyata ini bukan keinginan papanya tetapi keinginan Shabi sendiri." Raina berperang dengan pikirannya sendiri.
"Rai ... gimana menurutmu?" Shabi bertanya lagi karena Raina hanya terlihat bengong.
"A-aku ... maaf aku gak bisa." Raina akhirnya beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kelas untuk menghindar dari Shabi.
"Rai ... tunggu jangan pergi dulu, aku belum selesai." Ucap Shabi sambil mengekor Raina dari belakang.
Raina terus mencoba berjalan keluar dan Shabi terus memanggil namanya sambil mengekor terus. Kejadian ini Alex lihat dengan mata dia sendiri. Alex terlihat mengepalkan tangannya karena merasa kesal sama Shabi yang terus mengekor istrinya.
Raina yang mengetahui suaminya melihat apa yang dia lakukan, akhirnya dia berhenti tepat di hadapan Alex. Dia melakukan ini supaya Shabi tidak terus mengejarnya.
"Aku mau pulang, cepetan." Bisik Raina saat sudah berada di depan Alex dan kemudian memutar badannya dan berjalan ke parkiran.
Alex yang mendengar Raina mengajaknya pulang dia dengan segera mengambil tasnya dan segera keluar menuju parkiran.
Alex dan Raina masuk ke dalam mobil dengan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Untung hari ini cuma ngajar dua kelas, kalau tidak mungkin si Shabi akan terus-menerus mendekati Raina." Batin Alex.
"Kalau dia tahu Shabi yang minta papanya buat melamar aku, bisa-bisa aku gak dibolehin lagi ke sekolah." Batin Raina.
Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya terdiam tidak ada yang memulai percakapan mereka sampai akhirnya mereka sampai di rumah.
"Ganti baju, setelah ini kita makan siang di luar." akhirnya Alex membuka pembicaraannya setelah dari tadi diam tidak saling bicara.
__ADS_1