
Nisa begitu senang melihat suaminya sudah bisa menerima rencana Alex
Mudah-mudahan semuanya akan tetap seperti ini, kebahagiaan ini akan selalu hadir dalam keluarga kami. Batin Nisa.
"Minggu depan aku akan melamar Raina secara resmi dengan ayah, ibu dan juga bunda." Jelas Alex.
"Kalau gitu hari jum'at sekarang kita harus sudah berangkat ke kotamu." Ucap Sardi.
"Ayah bisa kan?" Tanya Alex.
"Akan ayah usahakan." Jawab Sardi.
"Kita pasti akan datang Nak." Sahut Nisa.
"Terima kasih. Jawab Alex pendek.
Mereka pun larut dalam kebahagian mereka, Sardi pamit berangkat ke kantor sedangkan Alex pamit untuk kembali pulang ke rumahnya.
--------------
Semenjak orang tuanya menerima lamaran Alex, perasaan Raina menjadi tak karuan, dia mudah tersinggung oleh hal-hal sepele dan mudah marah.
Sudah dua hari Raina tidak berselera makan, entah karena memikirkan pernikahannya atau karena jauh dari kekasihnya.
Saat sedang menunggu jam untuk pemadatan materi ponselnya bergetar tanda panggilan masuk, dengan segera dia menggeser tombol hijau di ponselnya.
Raina : Kakakkkk....
Alex : Lagi apa?
Raina : Lagi istirahat nunggu guru masuk.
Alex : Kakak kangen Rai ...
Raina : Aku juga ... Kakak udah pulang?
Alex : Udah, ini lagi di jalan otw rumah.
Raina : Kirain udah di rumah, tadinya aku pengen bolos mau melepas rindu, hehe ...
__ADS_1
Alex : Jangan menggoda Rai ... Kakak masih jauh ...
Raina : Aku gak menggoda kok, pikiran Kakak aja yang kemana-mana, udah dulu ya, pemadatannya sudah mau di mulai, daaahhhh.
Raina mengakhiri panggilannya karena guru yang akan memberi materi pemadatan sudah masuk ke kelas.
Sekitar dua jam Raina mengikuti serangkaian kegiatan pemadatan pelajarannya, hingga dia mulai tercekat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh gurunya.
"Sebentar lagi kalian akan melaksanakan ujian kelulusan, saya harap kalian bisa menjaga diri kalian dengan sebaik mungkin, karena tidak jarang, banyak dari kalian semua sudah menyaksikan bagaimana kakak kelas kalian yang tidak bisa mengikuti ujian karena beberapa hal, misalnya mereka tidak bisa mengikuti ujian karena mereka melakukan kesalahan fatal, seperti hamil di luar nikah saat menjadi siswa atau mereka tidak hamil namun sudah melakukan ****, nah jika ketahuan oleh pihak sekolah maka penantian kalian selama tiga tahun pupus dalam waktu hitungan detik." Ucap guru yang sedang memberikan pemadatan materi di kelas Raina.
"Kalau ketahuan melakukan **** terus langsung di nikahkan bagaimana Pak? itu kan udah ada yang bertanggung jawab." Sahut salah satu siswa di kelas.
"Atau hamil tapi langsung di nikahkan." Sahut yang lainnya.
"Tetap saja, mereka tidak bisa mengikuti ujian, karena menikah saat menjadi pelajar adalah pelanggaran, itu sudah melanggar aturan sekolah, saya berbicara seperti ini karena kalian semua sudah cukup umur untuk bisa membedakan mana yang bisa kalian lakukan dan mana yang tidak boleh. intinya kalian harus menjaga diri kalian sendiri, bukan hanya sampai kalian ujian namun sampai kalian menemukan pasangan hidup kalian, jagalah kehormatan kalian hanya untuk pasangan kalian nantinya." Pungkas guru tersebut sambil pamit keluar dari kelas karena waktunya sudah habis.
Kenapa pak guru tiba-tiba berkata seperti itu? apa dia tahu aku akan menikah? aarrrgghhhh ... aku takut ketahuan kalau aku nikah nanti, apa aku batalin aja ya? mumpung semuanya belum terlambat? tapi aku tidak mau orang tua aku kecewa dengan keputusan aku, ahhhh kenapa pak guru baru bilang sekarang, Kak Alex udah tanggung ngasih tahu sama ayahnya, kalau dibatalin bisa kacau semuanya, persahabatan ayah dan tante Nisa jadi taruhannya. Terus kalau aku batalin pernikahan apa mungkin aku masih bisa menjalin hubungan dengan kak Alex? Raina berkecamuk dengan pemikirannya sendiri hingga dia tidak menyadari kalau Alex sudah menunggunya.
"Rai ..." Alex langsung menarik tangan Raina karena dia merasa di acuhkan oleh Raina.
"Kak ... kapan datang?" Raina menoleh ke arah suara
"Baru sampai, tapi kamu kayaknya gak senang lihat kakak datang." Alex melepaskan tangan Raina.
"Kamu lagi mikirin apa? sampai-sampai kamu gak peduli dengan apa yang ada di sekitarmu?" Tanya Alex.
"Nanti deh aku cerita, pulang yuk? aku udah lapar." Ajak Raina.
"Lapar tuh harus makan bukan pulang." Alex menuntun Raina untuk masuk ke mobil.
"Kakak gak bawa mobil?" Raina baru sadar bahwa Alex naik taksi online.
"Kakak belum pulang ke rumah, dari bandara langsung ke sekolah karena sudah kangen pengen ketemu sama calon istriku yang cantik." Alex berbisik di telinga Raina.
"Errrrhhhh ... Kakak geli tahu." Raina spontan menjauhkan kepalanya dari Alex.
"Kamu harus sudah belajar menerima semua ini, sebentar lagi kamu akan terbiasa." Alex malah terus-terusan berbisik di telinga Raina.
"Udah deh jangan ganggu aku kaya gitu, geli tahu." Pekik Raina yang membuat sang sopir langsung melirik ke belakang.
__ADS_1
"Maaf pak sopir." Raina cemberut melihat ke arah Alex karena sudah membuatnya hampir malu oleh sopir taksi online.
Aku pikir si bapak ini mau menjemput adiknya, kalau dilihat dari perlakuannya ... kayaknya ini bukan adiknya tapi pacarnya, cinta memang tidak memandang usia. Gumam sang sopir.
Alex tersenyum bahagia karena sudah berhasil membuat Raina bergidik dengan perlakuannya.
"Pak kita ke jalan SS ya." Perintah Alex pada sopir.
"Baik pak."
Tak lama mereka sampai di tempat yang mereka tuju, ini adalah tempat makan saat pertama kali Alex mengajak Raina makan bareng.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Alex sambil melihat-lihat menu makanan.
"Aku mau ayam bakar aja Kak, kayaknya sore-sore gini enaknya makan yang dibakar-bakar." Raina menelan ludahnya karena sudah membayangkan makanan yang dipesannya.
"Ok ... Kakak juga sama ah.." Alex langsung memesan makanannya.
"Rai ... persiapannya sudah sampai mana?" Alex membuka obrolan sambil menunggu pesanannya datang.
"Persiapan apa?" Raina dengan polosnya menjawab seperti itu.
"Kamu mau Kakak bisikan lagi?" Alex menggoda.
"Ohhhh ... itu ... kemarin pihak WO udah datang ke rumah dan mulai mengukur dan merancang yang lainnya dan selebihnya aku gak tahu." Jawab Raina.
"Berarti semuanya hampir sudah selesai kalau pihak WO sudah melakukan survey. Kakak udah gak sabar Rai ..." Alex tersenyum jahil.
"Gak sabar apa? pikiran Kakak mesum mulu." Raina mulai salah tingkah dengan tatapan Alex, dan pramusaji datang untuk menyiapkan makanan pesanan mereka sehingga obrolan mesum pun terjeda.
"Makasih mbak ..." Ucap Raina pada pramusaji dan hanya dibalas dengan anggukan serta senyuman saja oleh pramusajinya.
"Mau disuapin gak?" tawar Alex.
"Gak ah ... aku bisa sendiri, simpan saja tenaganya buat pulang ke rumah, karena Kakak pastinya capek udah melakukan perjalanan seharian." Jawab Raina sambil menyomot makanannya.
"Kamu pengertian banget Rai... baiklah akan Kakak simpan tenaganya buat nanti malam pertama." Alex malah makin menggoda Raina.
"Uhukkk ... uhukkk ... uhukkkk.... Apaan sih... senang ya bikin aku tersedak kaya gini." Raina langsung meraih minuman yang diberikan Alex.
__ADS_1
"Emang Kakak menghalangi tenggorokan mu?" Alex tertawa melihat ekspresi kekasihnya itu.
"Maaf ... udah lanjutin lagi makannya, nanti ngobrolnya di sambung lagi." Alex tersenyum penuh kemenangan, dan Raina hanya mendelik sambil mengerucutkan bibirnya.