Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Perang air


__ADS_3

Alex telah menyuruh orang untuk menyiapkan segala kebutuhan mereka saat di gunung G, hingga ketika sampai mereka hanya tinggal menikmati alam saja, karena semuanya sudah ada yang membantu menyiapkan segala kebutuhan mereka.


"Wuah, ini mah udah kaya camping family gathering, mau makan apa aja semuanya sudah tersedia." Ucap Ayu.


"Bagaimana dengan semuanya apakah kalian menyukainya?" Tanya Alex.


"Bukan hanya sekedar suka Pak, tapi ini mah bakalan keterusan minta PJ." Sahut yang lainnya.


Mereka semua tertawa sambil melepaskan penat dan lelah.


"Kamu capek gak?" Alex menyodorkan minuman pada Raina.


"Lumayan ... Aku udah lama gak hiking jadinya kaki aku terasa pegal semua."


"Sini Kakak pijitin"


"Jangan aneh-aneh deh, malu dilihat mereka"


"Kalau gak mau ya udah ... Ayo, kita makan dulu!"


Alex mengajak yang lainnya juga untuk makan dulu karena makanan sudah siap untuk dinikmati.


Setelah makan mereka berpencar menikmati alam bebas yang begitu indah, begitu juga dengan Alex dan Raina mereka memilih menikmati alam bebas berdua.


Alex dan Raina menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan pepohonan hingga mereka sampai di sebuah sungai.


Tak lupa mereka mengabadikan moment yang begitu indah dengan mengambil beberapa foto mereka.


Mereka asyik memainkan kakinya di aliran sungai yang begitu jernih, sambil bersenda gurau.


"Rai ... Hubungan kita sudah satu tahun, Kakak rasa sudah cukup untuk masa perkenalan kita, apa kamu sudah siap dengan hubungan kita selanjutnya?"


"Aku sih terserah ayah dan ibu saja."


"Kalau kamu sudah siap ... bulan depan saat ayahmu pulang Kakak akan melamarmu langsung."


"Kayaknya Kakak udah kebelet ya?" Raina menutup mulutnya dengan tangan.


"Iya lah, secara Kakak itu laki-laki normal Rai, lagian temen-temen juga hampir semuanya sudah berkeluarga."

__ADS_1


"Aku baru tahu loh Kakak normal, hahaha ...."


"Rai ...." Alex menyipratkan air ke wajah Raina dan dengan sigap Raina pun membalasnya, alhasil mereka malah perang air di sungai sambil tertawa.


"Udah Kak ... Aku nyerah ...." Raina mengangkat kedua tangannya sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan dan seketika Alex langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Kakak gak akan pernah lepasin kamu Rai, sekalipun kamu menolak dengan ajakan Kakak ... Kakak akan terus berjuang supaya kamu juga setuju."


CUP


Alex mengecup singkat bibir Raina.


Alex dan Raina tidak menyadari bahwa dari tadi ada teman-teman Raina yang tidak sengaja melihat adegan romantis mereka.


"Gue gak nyangka pak Alex seromantis itu." Ucap salah satu teman Raina pada yang lainnya.


"Cinta memang buta ya, lihat tuh pak Alex, dia kelihatan bucin sama si Raina." Sahut teman yang lainnya.


"Kayaknya pak Alex agresif ya?" Mereka pun mulai membayangkan hal-hal yang lainnya sampai mereka sadar bahwa posisi mereka saling menatap satu sama lainnya sambil tertawa yang ditahan kemudian mereka pergi karena takut ketahuan oleh pasangan yang sedang di mabuk cinta yaitu Alex dan Raina.


Alex dan Raina pun kembali ke tenda karena pakaian mereka basah semua.


Malam hari berada di gunung rasanya sangat berbeda, apalagi saat ini Alex, Raina dan teman-temannya sedang membuat api unggun sambil bernyanyi ria dan membakar jagung.


Pagi hari mereka sudah bersiap-siap untuk kembali lagi ke rumah.


"Seandainya besok libur, aku gak akan pulang sekarang." Ayu masih enggan untuk pulang.


"Iya bener gue setuju, apa kita ijin aja ya gak sekolah?" Sahut yang lainnya.


"Yang jelas Pak Alex gak bakalan ngasih ijin." Raina membuyarkan khayalan teman-temannya.


Sebenarnya aku juga masih pengen tinggal di sini, tapi gak mungkin lah besok kan harus sekolah. Batin Raina


Raina dan teman-temannya pun keluar dari tenda, di sana mereka melihat Alex dan yang lainnya sudah menunggu para gadis untuk sarapan bersama sebelum mereka pulang.


Mereka sarapan dengan saling bersahutan satu sama lainnya, karena ternyata yang lain pun sama mereka masih ingin berlama-lama tinggal di gunung G.


"Pak liburan nanti kita kesini lagi yuk?" Ayu memberanikan diri mengajak Alex kembali.

__ADS_1


"Boleh." Jawab Alex singkat.


"Guys pak Alex setuju, nanti di rumah kita buat rencana lagi!" Pungkas Ayu.


Setelah sarapan mereka beristirahat sebentar lalu, mereka berjalan lagi menyusuri pegunungan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


---------


Di kota lain seorang wanita paruh baya tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Setelah semua barangnya dimasukkan ke bagasi wanita paruh baya itu diantar oleh sopir untuk menuju bandara.


Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya, tunggu bunda ya Nak.


Wanita paruh baya itu adalah Nina sahabat baik ayahnya Raina. Nina akan berangkat ke kota lain untuk menemui anaknya yang sudah lama dia rindukan karena sudah berpisah sangat lama.


Beberapa jam kemudian Nina sudah sampai di Bandara kota tempat yang dituju. Nina langsung berangkat ke hotel karena di kota ini Nina tidak mempunyai saudara.


Sebenarnya Nina bisa saja tinggal di rumah Hasan karena kota tujuannya adalah kota tempat dimana Raina tinggal, namun jarak dari rumah Hasan ke rumah anaknya itu sangat jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam, sehingga Nina lebih memilih untuk tinggal di hotel dekat dengan alamat rumah anaknya.


Setelah sampai di hotel Nina langsung membersihkan tubuhnya dan langsung memesan taksi online untuk menuju rumah anaknya.


Perasaan Nina sekarang tidak bisa digambarkan, dia sudah tidak sabar ingin memeluk anaknya dan juga ada rasa khawatir jika anaknya tidak akan mengenalinya.


Apakah dia masih ingat sama aku? aku takut dia tidak mengenali aku. Nina berperang dengan perasaannya sendiri karena mungkin salah satu dari mereka akan ada yang tidak mengenali wajah mereka masing-masing karena terlalu lama tidak bertemu.


Lamunannya terhenti saat sopir taksi berbicara pada Nina.


"Kita sudah sampai bu, ini alamat yang ibu tuju." Ucap sang sopir.


"Oh.. maaf, terima kasih ya Pak." Nina keluar dari taksi.


Tubuh Nina bergetar karena dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan anak semata wayangnya, Nina hanya berdiri memandangi rumah yang ada di hadapannya dan tak terasa air matanya jatuh di pipi tanpa bisa dicegah.


Dengan tubuh yang gemetaran, Nina melangkahkan kaki untuk pertama kalinya ke rumah anaknya, dibukanya pintu pagar dan dia terus berjalan hingga sampai di depan pintu.


Setelah di depan pintu Nina hanya berdiri sambil terus menyeka air matanya yang terus membanjiri pipinya. dia tidak berani memencet bel atau mengetuk pintu, dia hanya berdiri seperti patung.


Setelah mengatur napas dan mengontrol emosinya akhirnya dengan tangan gemetar Nina memberanikan untuk memencet bel.


Tak lama seorang anak laki-laki dewasa dengan tubuh tinggi membukakan pintu rumahnya.

__ADS_1


Ceklek


Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah seorang wanita paruh baya dan seorang anak laki-laki dewasa saling berhadapan dan memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2