
Alex menghampiri ayahnya yang sedang duduk termenung seorang sendiri.
"Kamu baru pulang Nak?" Tanya Sardi.
"Iya Yah." Alex ikut duduk bersama Sardi.
"Bagaimana hubunganmu dengan murid di sekolahmu itu?" Tanya Sardi dengan terus melihat ke kolam ikan.
"Maksud Ayah?" Alex balik bertanya.
"Anak yang waktu itu main ke sini." Sardi menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Alex.
"Oh ... Raina, dia baik Yah ...." Jawab Alex.
"Bagaimana kelanjutan hubungan kalian? ingat umur!" Sardi menatap lekat anaknya berharap dia mendapat kepastian.
"Hubungan kita berjalan baik Yah, Alex nunggu dia lulus dulu, tinggal beberapa bulan lagi, setelah itu Alex berencana akan melamarnya." tutur Alex.
"Syukurlah kalau kamu sudah punya niat untuk membawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius, tapi kalau Ayah boleh memberi saran, carilah wanita dewasa, wanita yang bisa mengimbangimu secara umur dan juga emosi, hingga kelak nanti kalian punya keturunan sudah merasa siap dan tidak terbebani." Sardi menunjukkan wajah seriusnya.
"Kenapa Ayah bicara seperti itu? Apa ... Ayah tidak menyukai Raina?" Alex kecewa dengan ucapan Sardi.
"Dia anak yang baik, namun untuk membangun sebuah keluarga itu yang kita butuhkan bukan hanya cinta saja Lex, dia masih terlalu muda untuk pria seumur kamu, secara emosi kamu sudah matang, sedangkan dia masih labil, jiwa remajanya masih melekat pada dirinya, pikirkan kembali dengan rencana mu untuk memilih gadis itu untuk menjadi pendamping hidupmu, Ayah cuma tidak ingin pernikahanmu kelak akan bernasib seperti Ayah." pungkas Sardi.
"Aku yakin dengan pilihanku Yah, Raina tidak seperti anak remaja yang lain, pemikirannya sudah terbentuk menjadi seorang wanita dewasa, makanya Alex memantapkan hati untuk melamarnya." Alex megatakannya dengan penuh kesungguhan dan tatapan yang meyakinkan.
Sardi beranjak meninggalkan Alex dia menepuk bahu anaknya itu dan berlalu meninggalkan Alex seorang diri.
Alex menghembuskan napasnya, dia tidak pernah menyangka kalau ucapan ayahnya waktu itu terus berlanjut sampai sekarang.
Sepertinya ayah tidak setuju dengan keputusan yang aku ambil. Batin Alex
Alex masuk ke dalam kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ditatapnya langit-langit hingga matanya terasa berat dan akhirnya dia tertidur.
Di tempat lain Raina sedang asyik memainkan ponselnya, dia berteriak sangat keras ketika kalah dari lawan di permainan game nya.
__ADS_1
Raina melihat jam ternyata sebentar lagi sudah masuk waktu magrib, dia menyudahi permainannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Seperti biasa Alex dan Raina selalu menghabiskan waktu malam mereka dengan saling bertukar pesan lewat aplikasi di ponselnya, saat tengah asyik bercanda tiba-tiba Alex mengirim pesan yang serius.
Alex : Menurutmu kalau kita nikah siri dulu gimana? jadi gak perlu nunggu kamu lulus dulu.
Raina : Gak mau, aku pengennya ada pesta terus kalau cerai nanti aku gak dapat harta gono-gini dong (Raina menganggap Alex menggodanya)
Alex : Ya udah ... good night.
Raina menganggap Alex menggodanya, hingga diapun balik menggoda Alex. Berbeda dengan Alex, dia menganggap Raina serius dengan pesan yang dikirimnya.
Alex melemparkan ponselnya ke atas kasur, dia merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan Raina, perasaannya campur aduk antara ucapan ayahnya yang menyuruh mencari wanita dewasa, dan Raina yang menolak diajak nikah siri olehnya.
Alex bukan tanpa alasan mengajak Raina untuk menikah siri, dia hanya tidak mau orang tuanya terus memberikan saran untuk mencari wanita lain, karena menurutnya Raina adalah cinta terakhir untuknya, namun begitu terasa kecewa ketika Raina menolaknya.
Apa mungkin Raina tidak mau menikah dengan aku? Raina ... Raina ... Alex frustasi dan mengacak-acak rambutnya
Alex menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur
Di tempat lain Raina hanya cengar-cengir tak jelas ketika membaca pesan di grup WhatsApp nya, tanpa di sadari dia telah membuat lelaki dewasa meradang karena ulahnya.
Pagi-pagi Alex mengirim Raina pesan yang mengatakan bahwa hari ini dia tidak bisa menjemputnya untuk ke sekolah karena harus mengantar ayahnya ke Bandara.
Raina tidak membalasnya, karena pagi ini dia bangun kesiangan hingga dia terburu-buru masuk kamar mandi dan setelah selesai dia langsung memakai seragam.
Karena kesiangan Raina tidak sarapan dulu, dia langsung memesan taksi online untuk mengantarnya pergi ke sekolah.
Raina datang kesiangan, saat ini di kelasnya sedang belajar pelajaran matematika, dia berlari hingga sampai di depan kelas dan membuka pintu sambil ngos-ngosan.
"Maaf bu saya kesiangan." Raina berdiri di depan pintu dan langsung meminta maaf pada Lia.
"Kenapa kamu kesiangan?" Tanya Lia.
"Maaf Bu, saya tadi bangun tidurnya kesiangan, jadi kesiangan juga ke sekolah." Jawab Raina.
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai bangun kesiangan? emangnya semalam kamu habis apa?" Lia menatap tidak suka pada Raina.
"Maaf bu, semalam saya tidurnya hampir tengah malam, karena keasyikan chating". Raina jujur.
"Kamu harusnya bisa mengatur waktumu, jangan sampai karena keasyikan chating dengan pacar akhirnya kamu mengabaikan kewajibanmu sebagai anak sekolah, hari ini saya maafkan, tapi kedepannya saya tidak akan mengijinkan kamu untuk mengikuti belajar dengan saya." Lia melanjutkan kembali ke materi yang sedang disampaikannya.
Raina langsung duduk di bangkunya, dia tidak habis pikir, kalau semalam gara-gara nimbrung di grup WhatsApp kelasnya bisa membuatnya bangun kesiangan.
Tak hanya sampai disitu, Raina kembali mendapat teguran dari Lia karena tidak mengumpulkan tugasnya.
"Raina ... mana tugasmu? kenapa kamu tidak mengumpulkan tugasnya? Lia menatap Raina dengan penuh amarah.
Raina kaget, dia langsung membuka tasnya, kemudian dia mencari buku latihan matematikanya, namun barang yang dia cari tidak ada.
Raina mulai mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Lia, dan dia mengingatnya.
"Saya sudah ngumpulin bu, kalau gak salah kan waktu itu saya ngumpulinnya bareng-bareng sama yang lainnya juga." Raina menjawab dengan sesungguhnya.
"Tapi buku kamu tidak ada! kalau kamu ngumpulin pastinya saya tidak akan mengingatkan mu". Lia memasang wajah marahnya.
Ini baru permulaan gadis ingusan, nanti kamu akan tahu akibatnya karena telah berani-berani merebut Alex dari ku. Batin Lia dengan seringai liciknya.
"Saya akan coba cari di rumah bu, mungkin ketinggalan, maafkan saya bu." lirih Raina.
"Baiklah karena ini baru yang pertama, saya akan mencoba memberimu kesempatan untuk mengerjakannya kembali, tapi ingat, ini berlaku untuk semuanya, jika pertemuan berikutnya ada yang tidak mengumpulkan tugas, berarti kalian tidak akan mendapat nilai yang tuntas, harap di ingat baik-baik." Lia langsung keluar dari kelas Raina karena kebetulan waktu mengajarnya di kelas itu telah habis.
Setelah Lia keluar, masuk salah seorang guru piket yang memberikan tugas pelajaran yang lainnya karena gurunya berhalangan untuk hadir dan pelajaran itu adalah pelajaran yang dipegang oleh Alex.
Semua murid yang ada dikelas langsung melihat ke arah Raina, mereka meminta penjelasan kenapa Alex tidak hadir, dan Raina hanya mengendikkan bahunya saja.
--------------------
*** Terimakasih buat Reader Pacarku guru bahasa Inggris.
Jangan lupa kasih jempol n vote nya ya... biar Author semangat up nya..
__ADS_1
semoga kita sehat selalu ***