
Raina tetap melanjutkan permainannya, dia mencoba untuk bersikap biasa di depan Lia, namun nyatanya Raina tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya karena raut wajah Raina yang mendadak jadi berubah.
"Wah, kita ketemu lagi ya, sejak kapan kamu menyukai permainan anak-anak seperti ini?" Lia menyapa Alex seolah-olah dia tahu bahwa Alex tidak menyukai tempat permainan
Alex tak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lia, bahkan dia tidak melirik Lia sekali pun.
Raina yang mengetahui Alex mengacuhkan Lia, dia berpura-pura bersikap manis padanya.
"Eh bu Lia ... main permainan di sini juga?" Raina senyum dipaksakan.
"Tidak, saya hanya lihat-lihat saja, karena saya bukan anak kecil tentunya saya tidak memainkan permainan ini." Lia berbicara sinis.
"Oh kirain saya ibu mau main, tadinya mau saya ajak tanding loh bu, ya udah kami permisi ya, mau ngelanjutin lagi mainnya." Raina pergi dengan menarik tangan Alex.
Lia geram melihat Raina yang main tarik-tarik tangan Alex begitu saja dan meninggalkannya sebelum dia merespon ucapan Raina.
Raina juga kesal karena ucapan Lia yang menyebutkan bahwa permainan ini hanya untuk anak kecil, dia marah sambil meremas jari Alex.
Alex yang tahu kekasihnya kesal, dia mencoba mengalihkan kekesalan Raina dengan mengajaknya bermain bom bom car, seketika Raina yang kesal berubah jadi ceria lagi karena Alex juga ikut bermain.
Raina dan Alex tertawa lepas ketika bom bom car nya saling bertabrakan, dia langsung melupakan semua kata yang terucap dari mulut Lia.
Lia yang menyaksikan mereka saling tertawa, dia meremas bajunya karena kesal melihat kebahagiaan mereka.
Kita lihat saja, sampai kapan kamu bisa tertawa seperti itu, karena sebentar lagi Alex pasti akan kembali lagi padaku, dan aku tidak akan pernah melepaskannya.
Lia terus menerus menunjukkan rasa tidak sukanya ketika melihat Alex dan Raina sedang menikmati permainan bom bom car hingga akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berbahagia.
Waktu sudah sore, Raina begitu puas bisa mencoba semua jenis permainan yang ada di tempat tersebut, mereka pun mengakhiri kencannya hari ini dengan Alex mengantarkan Raina pulang.
__ADS_1
Saat tiba di rumah seperti biasa Raina langsung masuk ke kamarnya, dia langsung membersihkan badannya kembali karena merasa lelah setelah beres mandi dia langsung tertidur.
Berbeda dengan Alex, saat tiba di rumah, dia melihat ada ayahnya yang tiba-tiba datang dari kota lain untuk berkunjung ke rumahnya.
Alex langsung menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangan ayahnya itu, Alex mempersilakan ayahnya untuk masuk dan beristirahat.
"Kapan Ayah tiba di sini? kenapa gak ngasih kabar dulu, kalau Alex tahu kan Alex bisa jemput Ayah di Bandara." Alex membawakan koper yang ayahnya bawa.
"Ayah tiba di sini sejak dua jam yang lalu, Ayah ketuk-ketuk pintunya tapi gak ada sahutan apapun, jadi Ayah nunggu kamu di luar." Sardi merebahkan punggungnya di sandaran kursi.
Alex langsung pergi ke dapur dan membuatkan ayahnya kopi, tak lama Alex menghampiri ayahnya lagi dengan membawa secangkir kopi dan kudapan manis.
Sardi langsung meminum kopinya, karena panas dia pun menuangkan kopi ke tatakan supaya kopinya bisa diminum sedikit-sedikit.
Setelah kopinya hampir habis Sardi masuk ke kamar untuk membersihkan badannya yang lengket karena hampir seharian terpapar sinar matahari.
Alex menyiapkan makan malam untuknya dan juga ayahnya, setelah acara masaknya selesai dia mengajak ayahnya untuk makan malam bersama.
Sardi mengajak Alex membicarakan hal yang serius tentang ibunya.
"Nak, sebulan yang lalu Ayah melakukan perjalanan bisnis ke kota X, Ayah tidak menyangka di kota itu Ayah bertemu dengan ibumu, ibu kandungmu." Ucap Sardi dengan menatap dalam ke mata Alex
"Bunda Yah? bagaimana kabarnya?" Alex sangat senang mendengar ayahnya bertemu dengan ibu kandungnya.
"Dia baik-baik saja." Pungkas Sardi.
"Apakah bunda menanyakan kabar aku Yah? apa bunda rindu sama aku, ceritakan semuanya Yah!" Pinta Alex pada ayahnya.
"Ayah tidak bicara banyak, karena waktu itu kita bertemu di sebuah restoran saat Ayah mengadakan rapat perusahaan, Ayah tidak menyangka akan bertemu dengan ibumu, Ayah memberikan alamat rumahmu padanya, mungkin nanti dia akan mengunjungimu."
__ADS_1
Sardi menghela napas.
"Kenapa Ayah tidak memberikan nomor ponselku pada bunda, setidaknya bunda bisa menelpon aku dulu." Alex merasa ingin cepat bertemu dengan ibunya.
"Ayah tidak memberikan nomor ponselmu Lex." Sardi berdiri.
"Kenapa Ayah tidak memberikan nomor ponselku?" Alex penasaran.
"Ayah sengaja tidak memberikannya." Sardi berbalik menghadap Alex.
Sardi tidak memberikan nomor Alex pada ibu kandungnya karena dia takut Alex akan meninggalkannya setelah bertemu dengan ibu kandungnya, namun setelah Sardi berpikir dengan jernih dia merasa menyesal karena tidak memberikan nomor ponsel Alex pada ibunya.
Alex yang mendengar alasan dari ayahnya, dia sangat marah sekali, namun dia berusaha untuk menahan amarahnya, karena dia mencoba memahami kekhawatiran yang sedang dirasakan oleh ayahnya itu.
Sardi memutuskan untuk masuk ke kamar, sedangkan Alex dia merasa tidak berdaya karena tidak bisa berjumpa dengan ibunya dalam waktu yang dekat.
Di dalam kamar, Sardi teringat akan masa lalu bersama mantan istrinya, dia mengingat-ingat masa-masa indah hidup bersama dengan ibu Alex, hingga dia tersadar bahwa sekarang dirinya telah berpisah.
Alex yang tidak sabar ingin berjumpa dengan ibunya, dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia hanya tahu bahwa ibunya ada di kota X, tapi dia tidak tahu spesifik alamat ibunya itu dimana, hingga dia terus mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa frustasi dengan keadaannya sekarang.
Orang tua Alex sudah lama berpisah, mereka bercerai saat Alex masih duduk di sekolah dasar, karena perintah dari orang tua ayahnya, ibu dan ayah Alex berpisah dengan hak asuh jatuh pada ayahnya.
Setelah bercerai ayah Alex menikahi Nisa yang sekarang menjadi ibu sambung Alex dan mereka memutuskan untuk pindah ke kota lain karena ayah Alex harus mengurus perusahaan orang tua Nisa.
Dari pernikahannya dengan Nisa, Sardi tidak memiliki keturunan, jadi Nisa begitu teramat menyayangi Alex seperti anak kandungnya sendiri.
Sejak itu Alex tidak pernah bertemu lagi dengan ibu kandungnya, namun karena Alex memiliki ibu sambung yang begitu baik dan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri hingga Alex tidak pernah merasa kesepian.
Alex begitu sayang pada ibu sambungnya, namun dia tetap ingin sekali bisa bertemu dengan ibu kandungnya, karena yang Alex ingat, saat ayahnya membawa dia pergi, ibunya menangis histeris.
__ADS_1
Alex akan mencoba mengorek informasi lagi pada ayahnya besok pagi, mungkin saja ayahnya bisa memberikan informasi lebih sehingga Alex bisa menemukan titik terang untuknya bertemu dengan ibu kandungnya.
Alex pun sama seperti ayahnya, dia mulai mengingat kembali masa-masa saat bersama dengan ibunya, namun banyak kenangan yang tidak bisa dia ingat karena usianya dulu masih kecil tapi, dia tetap merasa senang bisa mengingat kembali masa-masa itu.