Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Dilamar lagi


__ADS_3

Mereka tertidur sambil saling memeluk satu sama lain, saat sore tiba, mereka terbangun karena ada suara ketukan pintu dari luar.


"Kak ... coba lihat si bibi mau apa." Raina malah memejamkan matanya lagi.


Alex mulai mengumpulkan kesadarannya kembali sambil berjalan dan membukakan pintu.


"Maaf mengganggu, Nyonya sudah menunggu di bawah." Ucap bi Asih lalu beranjak pergi.


"Sayang ... ibu udah pulang, bangun yuk?" Alex merapikan anak rambut istrinya.


Mereka berdua bersiap turun ke bawah untuk menemui Hasan dan Maria.


"Sayang ... kenapa gak bilang kalau mau ke sini? tahu kamu mau datang tadi ibu gak bakalan mau di ajak ayah jalan." Maria memeluk putri semata wayangnya.


"Kok ibu seperti yang terpaksa ikut sama ayah?" goda Raina.


"Habisnya ibu BT harus nungguin bapak-bapak yang bicara soal hobi mereka masing-masing yang lebih parahnya lagi cuma ibu loh ceweknya." Maria mendelik ke arah suaminya.


"Lagian ibu tadi main setuju-setuju aja ngikut sama ayah, coba kalau bertanya dulu, 'kan ayah pasti bilang mau kumpul sambil mancing." Hasan tertawa mengingat kembali istrinya yang BT harus menunggu suaminya mancing.


Mereka akhirnya tertawa sambil berbincang-bincang ria.


Malam hari Raina, Alex dan kedua orang tua Raina menikmati quality time mereka dengan bermain ular tangga, mereka tertawa ketika harus turun lagi ke bawah karena pion mereka menginjak ular.


Saat sedang asyik-asyiknya bermain terdengar ada suara bel berbunyi. "Siapa ya? biasanya tidak pernah ada tamu kalau malam-malam kayak gini?" ucap Maria sambil menyuruh bi Asih untuk membukakan pintu.


Tak berselang lama bi Asih memberikan kabar bahwa ada Pak Bowo yang ingin bertemu dengan majikannya.


"Bowo? tumben dia bertamu malam-malam." Hasan beranjak dari duduknya dan segera menemui tamunya di depan.


Raina, Alex dan Maria melanjutkan permainan mereka karena memang sedang asyik-asyiknya.


"Sayang ... kalian berdua lanjutin dulu ya, ibu mau nemuin dulu sahabatnya ayah." Maria pun beranjak dari duduknya dan segera menyusul suaminya ke ruang tamu.


"Hasan ... sorry nih gue ganggu malam-malam." ucap ayah Shabi yang tak lain adalah pak Bowo.

__ADS_1


"Wah ... tumben-tumbenan nih loe sengaja datang nemuin gue, kangen ya karena tadi loe gak ikutan mancing?" Hasan mempersilakan Bowo duduk.


Mereka berbincang panjang lebar sampai akhirnya mereka terhenti karena Maria datang membawa nampan untuk menyajikan teh hangat untuk tamunya.


Mereka melanjutkan obrolannya hingga akhirnya dengan tanpa ragu-ragu Bowo mengungkapkan maksud dari kedatangannya.


"Hasan ... sebenarnya maksud kedatangan gue ke sini tiada lain untuk meminta putrimu Raina untuk menjadi menantu di keluarga aku."


Deg ... hati Alex langsung bergemuruh ketika ada orang tua yang terang-terangan ingin menjadikan istrinya sebagai menantu dari keluarga mereka.


Alex tidak sengaja mendengar perbincangan mereka karena saat itu dia ingin mengambil minum untuk istrinya dan tak sengaja mendengar obrolan orang tua yang datang berkunjung ke rumah mertuanya.


"Sebelumnya aku juga ingin minta maaf sama kamu Wo, Sebenarnya Raina sudah terikat oleh seorang laki-laki, dan hubungan mereka sudah masuk ke tahap yang serius, rencananya setelah kelulusan nanti mereka akan menyiapkan semuanya. Kamu ngerti 'kan?" sahut Hasan dengan ramah.


"Tapi kenapa tidak kita coba dulu untuk mendekatkan mereka. Meskipun Raina sudah punya pacar, tetapi kalau belum terikat oleh pernikahan mereka masih bisa memilih pasangan mereka." ucap ayah Shabi kekeh.


"Kenapa gak ngerti sih ... yang di ucapkan terikat oleh ayah 'kan pernikahan. Dasar orang tua tukang maksa." gumam Alex dalam hati yang merasa kesal karena teman ayah mertuanya itu tidak peka.


"Raina tidak seperti itu, dia tidak mungkin menyakiti pasangannya, lagian Shabi dan Raina 'kan sudah berteman, jadi harusnya Shabi tahu kalau Raina itu seperti apa." Hasan geleng-geleng kepala.


"Kak ... kok lama ngambil airnya." Ucap Raina sambil meneguk minumannya.


"Kita ke kamar yuk? ada yang mau aku omongin." Alex menarik lembut tangan Raina.


"Ish ... gak sabaran." Raina mengira kalau Alex mengajaknya berperang.


setelah sampai di dalam kamar, Alex langsung menceritakan apa yang telah dia dengar.


"Kak ... kamu nguping?" sahutan Raina membuat Alex melotot karena tidak percaya tanggapannya akan seperti itu.


"Sayang ... kenapa kamu tidak terkejut?" Alex meraih bahu Raina.


"Ngapain terkejut, toh pada intinya aku gak mungkin 'kan menikah dengan Shabi? kecuali kalau kamu mengijinkannya, jadinya aku Poliandri." Raina tertawa membayangkannya dan Alex malah menyentil kening Raina.


"Hus ... kalau bicara jangan ngasal, ingat ucapan adalah doa. Lagian siapa juga yang bakalan ngijinin kamu, bahkan kalau aku meninggal pun aku berharap kamu tidak melupakan aku." Alex meraih tangan Raina.

__ADS_1


"Maaf ...." Raina memeluk Alex dengan erat.


Di ruang tamu obrolan antara ayah Shabi dan ayah Raina masih berlanjut, karena Bowo yang tidak mau mengerti dan malah terkesan memaksa akhirnya Hasan mengarang cerita kalau Raina akan menikah setelah pengumuman kelulusannya di publikasi.


"Apa? secepat itukah kamu menikahkan anak gadismu? apa tidak terlalu terburu-buru?" Ayah Shabi masih belum puas.


"Mereka sudah siap dengan semuanya, sesuatu yang baik itu tidak baik kalau kita tunda, makanya aku akan segera menikahkan mereka." Hasan tidak berani mengungkapkan kalau sebenarnya Raina memang sudah menikah.


"Biarlah mereka tahu setelah acara resepsinya di gelar." Batin Hasan.


Akhirnya ayah Shabi mengalah juga, dia akhirnya menerima penolakan dari sahabatnya itu.


"Padahal aku gue benar-benar berharap kalau kita bisa jadi besan." Ucap Bowo saat akan pamit pulang.


"Biarpun tidak jadi besan, kita tetap akan dekat karena kita memang sahabat." Sahut Hasan sambil mengantarkan Bowo ke depan.


Bowo akhirnya pulang, Hasan menghela napas karena sejak tadi rasanya dia merasa sesak karena Bowo yang terus-menerus tidak mau mengerti dengan apa yang dia ucapkan.


"Ayah ... kenapa tadi gak bilang aja kalau Raina udah nikah, 'kan jadinya kita gak bisa melanjutkan main ular tangganya." ucap Maria saat melihat kertas permainan ular tangganya ditinggalkan oleh Raina dan juga Alex.


"Besok aja kita sambung lagi." Hasan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung naik ke atas untuk ke kamar.


"Bu ... jangan dulu bilang masalah ini sama Raina, ya ... takutnya dia nanti malah jadi gak enak sama suaminya, dan mungkin Alex akan salah paham. kita cari waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini." Hasan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Orang tua Raina tidak tahu bahwa pada kenyataannya Alex dan Raina memang sudah mengetahuinya.


--------


Hai ... hai ... hai...


jumpa lagi sama aku ... Maafkan karena lama tidak up...


semoga aku masih bisa menghibur kalian semua dengan cerita-cerita yang akan aku up nantinya..


semoga kalian syuka ya...🥰🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2