
Suasana kota X yang begitu indah mampu membuat Raina begitu terpesona oleh keindahan alamnya.
Matahari enggan menampakkan sinarnya pagi ini, hujan yang begitu deras menemani liburan Raina hari ini sehingga membuatnya tidak mau beranjak dari tempat tidur ditambah suasana rumah yang begitu damai dan tenang menambah siapapun betah berlama-lama tinggal di kamar untuk bermalas-malasan.
tok.. tok.. tok.. Maria mengetuk pintu kamar
ceklek pintu kamar Raina di buka oleh Maria
"Sayang.. ayo kita sarapan dulu." Maria mendekat pada Raina.
"Sebentar lagi Bu, aku masih ngantuk." Raina menarik selimut lagi.
"Hari ini ayah gak pergi ke kantor, katanya mau ngajak kamu jalan-jalan keliling kota X." Maria membuka selimut Raina.
"Tapi sekarang masih pagi Bu, mana hujan lagi." Raina mengucek-ngucek matanya.
"Di rumah gak hujan sayang, ayo, cepetan bangun masa anak gadis bangunnya keduluan sama ayam." Maria tertawa.
"Untung saja di rumah ini gak ada ayam, jadi aku gak saingan sama ayam." Raina mulai melepaskan selimutnya.
"Ya udah cepat mandi, dan yang penting setelah kamu mandi langsung ke meja makan buat sarapan, kasihan ayah udah menunggu lama." Maria meninggalkan Raina.
Raina beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi, sekitar 20 menit Raina sudah turun dan berkumpul dengan orang tuanya di meja makan.
Tidak ada kebahagiaan yang melebihi apapun bagi Hasan kecuali saat Hasan melihat anggota keluarganya berkumpul dengan lengkap.
Saat mereka sarapan, tidak ada yang berbicara sepatah katapun, karena aturan yang selalu mereka ingat bahwa ketika makan mereka tidak boleh bicara.
Hari ini Hasan berencana untuk mengajak Raina ke suatu tempat, Hasan akan mencoba membujuk Raina agar mau pindah ke kota X dan tinggal bersamanya hingga mereka bisa berkumpul bersama.
Bagi Hasan Raina tetaplah Raina yang manja yang selalu merengek dan nangis ketika ada hal yang membuatnya terganggu.
"Setelah sarapan kamu siap-siap ya, Ayah mau nunjukkin sesuatu sama kamu." Hasan menepuk Raina dan pergi meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Raina pun melanjutkan sarapannya dan tak lama mengikuti langkah sang ayah, dia masuk ke kamar untuk bersiap-siap pergi bersama orang tuanya.
Sepanjang perjalanan, Raina begitu antusias untuk mengetahui semua yang dilihatnya, ayahnya seolah-olah menjadi seorang guide yang sedang mengantar turisnya, Raina tidak berhenti bicara setelah mobil yang dikemudikan oleh ayahnya berhenti di pekarangan rumah yang lumayan jauh dari rumah dinas ayahnya.
Mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang umurnya tidak jauh berbeda dengan ayahnya dan dia adalah sahabat ayah.
Wanita paruh baya itu bernama Nina, dia seorang janda beranak satu, dulu Hasan dan Nina bersahabat, kemudian mereka bertemu kembali saat Hasan bertugas di kota X dan Nina yang baru saja pindah ke kota X karena dia baru saja bercerai dengan suaminya.
Nina mempunyai seorang anak laki-laki, namun anaknya tersebut tinggal bersama mantan suaminya.
Nina mempersilakan mereka masuk, dan tidak tahu kenapa, Raina seolah-olah merasa tidak asing bertemu dengan Nina, padahal ini adalah pertemuan pertamanya dengan Nina.
Hasan dan Maria terlihat senang sekali berbincang tentang masa lalu mereka, Raina yang merasa tidak tahu apa-apa, dia hanya menyimak pembicaraan antara orang tuanya dan Nina.
Melihat Raina yang bosan dengan obrolan mereka, Nina menawarkan Raina untuk berkeliling melihat-lihat rumahnya dan menawarkannya untuk memetik bunga di pekarangan belakang rumahnya.
Raina seperti terbebas dari penjara, karena memang benar dia merasa sangat bosan menyimak orang tuanya menceritakan dan bernostalgia tentang masa lalunya, karena menurutnya tidak mengasyikkan.
Raina berkeliling melihat-lihat semua yang ada di rumah Nina, hingga dia tak sengaja menyenggol foto yang ada di meja dekat vas bunga.
Nina yang mendengar sesuatu yang jatuh dia langsung berlari dan menghampiri Raina.
"Kamu tidak apa-apa Nak?" Nina memegang tangan Raina.
"Bingkai fotonya pecah, maafkan aku Tante, aku tidak sengaja." Raina memungut pecahan kaca.
"Gak apa-apa sayang, sudah biarkan saja, nanti asisten rumah yang akan membersihkannya." Nina meraih tangan Raina dan mengambil foto yang bingkainya pecah.
"Ini foto anak tante satu-satunya, tante hanya punya foto dia saat masih kecil, kalau dia masih hidup mungkin sekarang dia sudah dewasa dan mungkin dia sudah menikah." Nina mengusap-usap foto anaknya.
"Maafin saya tante, gara-gara saya barang berharga tante rusak, maaf ya." Raina meraih tangan Nina.
Mereka saling tersenyum dan memandangi foto anak kecil tersebut, dan lagi-lagi Raina merasa tidak asing dengan foto anak kecil tersebut, seolah-olah dia pernah melihatnya, tapi dimana? Raina pun bingung memikirkannya.
__ADS_1
Raina melanjutkan melihat-lihat rumah Nina, dan Nina kembali ke ruang tamu berkumpul dengan orang tua Raina.
Di belakang rumah Nina, ada sebuah taman yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga, kebetulan hari ini hampir semua bunga semuanya berbunga, sehingga begitu indah di pandang mata, Raina begitu terkesima melihat keindahan taman tersebut, dia langsung mengambil ponsel untuk mengabadikannya, namun saat mau memotret tiba-tiba ada video call dari Alex, dengan segera Raina menggeser tombol hijau ke atas.
Raina : Halloooooo... (sambil melambaikan tangan)
Alex : Kamu lagi dimana? (heran melihat Raina yang sedang menunjukkan berbagai bunga)
Raina: Aku lagi di taman temannya ayah, lebih tepatnya sih ini pekarangan rumah.
Alex : Ohhh.. ( Alex merasa taman itu sepertinya pernah dia lihat)
Raina : Wahh kakak juga kayaknya suka ya dengan taman, sampai melongo gitu
Alex : Itu kan karena di tamannya ada wanita cantik, jadi kakak langsung terpesona
Raina : Gombal
Alex : Ya udah nanti kakak telpon kamu lagi ya, sekarang lanjutin saja senang-senangnya, I miss You.
Raina : Miss you too.
Sambungan video call berakhir, dan di tempat lain ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan Raina dia adalah Maria.
Maria yang saat itu mau ikut ke kamar mandi tak sengaja melihat Raina yang sedang asyik ngobrol entah dengan siapa, ternyata Raina sedang melakukan video call.
Terbersit rasa khawatir dalam hati Maria, dia takut anaknya terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan, namun rasa khawatir itu harus dia sembunyikan supaya Hasan tidak ikut khawatir juga.
A**pa aku ajak saja Raina pindah ke sini? Maria berperang dengan hatinya.
Dengan keindahan taman yang begitu indah, tak terasa waktu di taman pun sudah hampir satu jam, Raina begitu menikmati pemandangan yang super indah menurutnya, setelah dipanggil oleh Maria, Raina pun meninggalkan taman.
Nina menyajikan makan siang untuk tamunya, mereka semua berkumpul di ruang makan, Nina memang pandai memasak, sehingga tak heran jika Raina dan kedua orang tuanya begitu menikmati masakan yang disajikan oleh Nina.
__ADS_1
Karena hidup sendiri, setelah pulang kerja Nina menghabiskan waktu untuk mengurus taman dengan tangannya sendiri, dan dia juga mengikuti kelas memasak, semua ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi rasa rindu pada anak semata wayangnya yang tak pernah dia ketahui berada di mana, karena semenjak perceraian, mantan suaminya pun pindah entah ke kota mana.