
Satu minggu telah berlalu. Raina mengajak suaminya untuk kembali menginap di rumah orang tuanya.
"Kak, besok kan weekend ... malam ini kita nginep di rumah ayah yuk?" Raina merengek manja pada suaminya.
"Ok ... tapi kita berangkatnya nanti sore aja ya. Kakak masih ada kerjaan." Sahut Alex sambil mata tetap fokus pada layar laptopnya.
"Aku pengen sekarang Kak ... aku pengen rebahan di kamar aku." Raina terus memaksa suaminya.
"Ini lagi tanggung Raina sayang ...." Alex berusaha membujuk namun hasilnya nihil.
"Ya udah aku duluan aja." Raina langsung cemberut sambil membanting pintu kamarnya.
"Raina ... Raina ...." Akhirnya Alex menyerah dan mengikuti keinginan istrinya.
"Rai ... ayo siap-siap." Ucap Alex saat membuka pintu kamarnya.
"Beneran Kak?" Raina langsung berhambur memeluk suaminya.
"Makasih ya ... suamiku sayang." Raina terus-terusan mengecup pipi suaminya.
"Udah puas nyiumnya?" Alex terkekeh saat mendapatkan perlakuan yang berlebihan dari Raina.
Rina hanya mendelik dan langsung menarik Alex untuk membantunya menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke rumah orang tuanya.
"Enggak usah banyak-banyak Rai ... kita kan cuma menginap satu malam. Lagian di sana juga kan ada pakaian kita jadi kayaknya enggak usah bawa baju." Alex mencoba untuk tidak membuat Raina repot.
"Siapa bilang satu malam? Aku tuh pengen 2 malam tidur di sana." Sahut Raina.
"Meskipun dua malam tetap pakaian kita masih tidak akan kurang Rai ... jadi enggak usah bawa baju Rai." Alex langsung menutup lemarinya.
"Benar juga ya. Ya udah ayo kita berangkat sekarang aja." Raina langsung berdiri tegap.
"Tunggu dulu ... Kakak mau beres-beres dulu." Alex memutar badannya untuk keluar dari kamar.
"Tadi bilangnya gak usah persiapan ... sekarang malah mau beres-beres." lirih Raina.
"Maksudnya tadi pekerjaan Kakak belum diberesin. Jadi Kakak mau beresin dulu supaya kerjaannya bisa di bawa ke rumah ayah. Tunggu ya." Alex keluar menuju ke ruang keluarga dimana tadi dia mengerjakan tugasnya di sana kemudian Alex membawa laptopnya untuk dibawa ke rumah orang tua Raina.
kedatangan orang tua Raina terdengar sampai ke telinga Shabi. Shabi yang memang mempunyai niat ingin menjalin kasih dengan Raina dia langsung meminta orang tuanya untuk bertemu dengan orang tua Raina.
__ADS_1
"Pah tahu enggak sama Om Hasan? itu ... ayahnya Raina." Shabi memberanikan diri berbicara dengan ayahnya.
"Iya tahu ... emangnya kenapa?" Tanya ayah Shabi.
"Papah bisa enggak bantuin aku buat bisa deket sama anaknya om Hasan?" Shabi tidak ingin bertele-tele karena takut ke duluan oleh Alex.
"Kamu tuh masih kecil udah main mau deket-deket aja sama cewek." Sahut ayah Shabi sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa bilang masih kecil? Aku udah mau kuliah loh ... Jadi kan kalau misalkan menikah sambil kuliah udah boleh kan?" Shabi tidak terima disebut masih anak kecil.
"Maksud kamu ... kamu mau minta papah nikahin kamu sama anaknya Hasan?" Ayah Shabi kaget mendengar keinginan anaknya.
"Tapi sepertinya itu ide bagus. Lagian papah dan om Hasan udah berteman sejak lama. Supaya pertemanan kita lebih awet lagi kayaknya menikahkan kamu dengan anaknya itu ide yang bagus juga." Sambung ayah Shabi.
"Sekarang om Hasan lagi ada di sini pah. Bagaimana kalau nanti malam kita main ke rumahnya om Hasan?" Shabi memberikan ide briliannya.
"Hasan ada di sini? kok dia enggak ngasih kabar ya? biasanya kalau misalkan dia pulang ke sini ... di selalu ngasih kabar dan suka kumpul-kumpul sama papa kenapa sekarang nggak?" Ayah Shabi terlihat berpikir.
"Kata Ayu sih baru semingguan lah Om Hasan ada di sini. Jadi mungkin masih sibuk sehingga belum bisa ngasih kabar ke papah." Shabi terlihat bijak ketika menyimpulkan sesuatu.
"Ya udah ... sekalian nanti pas main papah akan bilang sama om Hasan tentang rencanamu." Pungkas ayah Shabi.
Di tempat lain Raina sekarang sudah tiba di kediaman orang tuanya. Dia langsung nyelonong masuk dan mencari keberadaan orang tuanya.
Setelah mencari ke semua ruangan ternyata Raina tidak menemukan orang tuanya.
"Bi ... ayah sama ibu kemana?" Ucap Raina sambil menghampiri bi Asih yang sedang mengisi kolam ikan di belakang rumah.
"Ya Tuhan ... Non bikin bibi kaget aja. Tuan dan Nyonya sedang keluar dulu sebentar Non. katanya mau kumpul bersama teman lamanya." Sahut bi Asih sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Lama nggak bi?" Sambung Raina.
"Tadi sih bilangannya bakal pulang sore."
"Ya udah mau masuk kamar dulu ya."
Akhirnya Raina naik ke lantai 2 untuk beristirahat di kamarnya.
"Ayo Kak kita istirahat dulu. Ayah sama ibu lagi reunian. Kata si bibi pulangnya nanti sore." Raina menarik Alex untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Tuh kan kakak juga tadi bilang apa ... kamu sih nggak sabaran." Sahut Alex.
"Ya aku pikir ayah sama ibu ada di rumah. Kalau tahu gini mah nanti aja kita ke sininya." Raina terlihat gak semangat.
"Emang gak kangen sama kamarnya? tadi kan bilangnya pengen cepet-cepet rebahan di kamar." Goda Alex.
"Kangen lah ... ayo kita tidur aja." Raina terlihat bersemangat lagi.
"Tidur aja apa tidur aja nih?" Alex makin menggoda Raina.
"Apaan sih ... akunya lagi males. Jadi kita tidur saja." Raina langsung menghentikan godaan Alex.
Alex terkekeh sambil merangkul pundak istrinya dan naik ke lantai dua.
"Rai kalau misalkan kamu hamil lagi gimana? Udah siap belum? Kata Alex saat mereka berdua sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ya ... siap nggak siap sih. Kalau punya suami udah resikonya kalau hamil." Jawab Raina enteng.
"Apa kamu mau menundanya dulu? Sebentar lagi kamu kuliah. Kalau kuliah di semester awal itu biasanya sibuk jadi Kakak takut kamu nanti kecapean malah bikin kamu nggak nyaman." Alex mencoba memberi pengertian pada Raina.
"Ya gimana ntar aja deh ... kalau misalkan aku hamil dalam waktu dekat ini kayaknya aku kuliahnya ngambil kelas karyawan aja kali ya ... biar bisa seminggu dua kali kuliahnya." Raina terlihat berpikir.
"Kalau misalkan kamu mau menundanya nggak apa-apa kok. Mungkin setelah kamu kuliah di semester tiga baru kita program lagi." Alex memberikan solusi agar Raina tidak terpaksa.
"Nanti deh aku diskusi dulu sama ibu." Sahut Raina dan Alex hanya mengernyitkan dahinya.
"Iya maksudnya aku mau minta saran dari Ibu gimana baiknya. Aku kan belum pengalaman takutnya aku salah lagi. Seperti kemarin ... ketika aku nggak mau malah hamil tapi pas ketika aku menerima Tuhan malah mengambilnya lagi." Jelas Raina.
"Udah yang dulu jangan dibahas lagi. Enggak usah diingat-ingat kembali. Mendingan kita nikmati aja masa depan kita." Pungkas Alex mengakhiri pembicaraannya seputar rencana kehamilan.
"Terus kalau misalkan kalau nanti sudah kelulusan apa mau langsung ngadain resepsi pernikahan kita atau gimana?" Alex masih kepikiran tentang status pernikahannya yang masih belum di ketahui oleh semua orang.
"Kayaknya sih nanti aja deh kak. Lagian orang deket mah udah pada tahu. Jadi meskipun nggak di rayain juga aku mah nggak masalah."
"Yakin mau melewatkan momen sekali dalam seumur hidup? Masa kamu enggak mau nyobain jadi ratu sehari." Alex menatap Raina dengan jahil.
"Iya juga sih ... tapi yang jelas tetangga kita dan orang-orang terdekat kita udah tahu juga itu udah cukup buat aku mah jadi nggak ada masalah." Raina memeluk tubuh suaminya.
"Ya udah kalau emang itu mau kamu ... kakak ikut aja." Pungkasnya sambil mendekap tubuh istrinya dipelukannya.
__ADS_1