
Ayu yang melihat Raina tergeletak pingsan dia langsung menghampiri Raina dan mengajak teman-temannya yang lain untuk mengangkat Raina ke UKS.
Kabar jatuhnya Raina terdengar oleh Alex yang tengah mengajar di kelas lain. Alex langsung berlari ke UKS untuk melihat keadaan istrinya.
"Rai ..." Alex ngos-ngosan karena berlari dari kelas sampai ke UKS.
"Ayu ... Bagaimana Raina." Alex melihat Raina yang masih belum sadarkan diri.
"Dari tadi Raina belum sadar juga Pak ... Aku khawatir." Sahut Ayu sambil memberikan minyak kayu putih pada hidung dan pelipis Raina.
"Rai ... Rai ... Bangun Rai ..." Alex mengelus Rambut Raina.
"Pak apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja? saya takut terjadi apa-apa sama Raina." Sambung Ayu.
Alex baru sadar saat Ayu menyarankan untuk membawa Raina ke rumah sakit. Dia langsung menggendong Raina sambil mengajak Ayu.
"Yu ... tolong jagain Raina ya." Alex mendudukkan Raina di jok kursi belakang dengan Ayu.
Alex langsung membawa Raina ke rumah sakit terdekat. Di sepanjang perjalanan dia terus melirik Raina yang terlihat lemah.
Raina langsung di bawa ke UGD saat tiba di rumah sakit. Namun Alex dibuat syok ketika Ayu berkata sesuatu pada dirinya.
"Pak ... tadi saya lihat ada darah di jok kursi bekas Raina duduk." Ucap Ayu.
"Darah?" Alex mengulang kalimat Ayu. Bersamaan dengan itu dokter yang memeriksa Raina keluar dan menghampiri Alex.
"Apakah pihak keluarganya sudah diberitahu?" Ucap dokter pada Alex.
"Saya keluarganya dok. Apa telah terjadi sesuatu pada Raina?" Sahut Alex.
"Mari ikut saya sebentar." Ucap dokter mengajak Alex masuk ke ruangannya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dok?" Alex langsung mencari tahu karena penasaran.
"Mohon maaf apakah anda tahu kalau pasien sedang hamil?" Ucap dokter ragu-ragu karena takut keluarga pasien tidak tahu.
__ADS_1
"Iya dok ... Saya suaminya." Tegas Alex.
"Oh jadi anda suaminya. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa kandungan istri anda tidak bisa di pertahankan. Istri anda mengalami keguguran akibat dari benturan yang sangat keras. Kami harus segera mengambil tindakan dan istri anda harus segera di kuret." Sambung sang dokter.
Deg ...
"Keguguran dok?" Alex langsung lemas ketika mendengar istrinya keguguran.
"Iya ... istri anda harus segera di kuret supaya rahimnya kembali bersih." Ucap dokter lagi.
"Apakah tidak akan berpengaruh dengan kehamilan berikutnya dok?" Alex takut Raina tidak akan bisa hamil lagi.
"Tenang saja Pak ... Istri anda bisa kembali hamil lagi dalam waktu dekat ini." Ucapan dokter melegakan pikiran Alex.
"Baiklah ... lakukan yang terbaik untuk istri saya dok." Alex menyetujui saran dokter.
Dengan langkah gontai Alex keluar dari ruangan dokter tersebut. Ada rasa sakit yang sulit diartikan yang ia rasakan kini. Tiba-tiba air mata keluar dengan tanpa bisa dicegah ketika mengingat Raina yang manja karena morning sickness yang selalu hadir setiap pagi.
Maafkan Kakak Rai ... Karena belum bisa menjaga kamu dengan sangat baik. Maafkan Papi Nak ... Tuhan belum mengijinkan kita untuk bertemu.
"Pak Raina kenapa?" Ayu membuyarkan Alex yang sedang melamun.
"Kalau ada apa-apa kasih tahu saya ya pak ... saya masih khawatir sama Raina." Ucap Ayu saat hendak masuk taksi.
"Iya." Jawab Alex singkat.
Alex berjalan lagi masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat Raina yang sudah dibawa oleh tim medis ke ruang operasi untuk dilakukan kuret.
Alex menunggu dengan sangat gelisah. meskipun hanya kuret, dia tetap merasa sangat takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah tiga puluh menit dokter keluar dari ruang operasi dengan memberikan seulas senyum pada Alex.
"Sebentar lagi istri anda akan di pindahkan ke ruang perawatan. Semuanya baik-baik saja." dokter berucap seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Alex.
"Baik ... terima kasih dok." Sahut Alex.
__ADS_1
Di tempat lain Arman yang sudah ditelpon oleh Alex untuk menyimpan tas miliknya dan juga Raina dia langsung bergegas menghampiri Ayu ketika Ayu sampai di sekolah.
"Yu ... Raina gimana?" Ucap Arman saat menerima tas punya Raina dari Ayu.
"Saya gak tahu Pak ... Tapi saya khawatir telah terjadi sesuatu pada Raina. Tadi saya melihat ada darah di celana olahraganya Raina. Saya takut Raina keguguran Pak." Ucap Ayu sambil berbisik karena takut terdengar oleh orang lain.
"Apa Keguguran?" Arman hampir keceplosan namun dia segera menurunkan volume suaranya.
"Jangan kenceng-kenceng pak." Ayu mengisyaratkan Arman untuk tidak bicara keras.
"Kasihan Raina... mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa ... dan kamu Ayu jangan bilang sama siapapun tentang apa yang kamu lihat hari ini. Ingat ya ini rahasia." Arman ikutan berbisik karena takut terdengar orang lain.
"Ok." Jawab Ayu singkat sambil tersenyum.
Arman yang mendapat kabar dari Ayu tentang Raina dia langsung meninggalkan sekolah untuk menemui sahabatnya.
Setelah sampai di rumah sakit Arman langsung menelpon Alex untuk menanyakan ruang perawatan Raina.
"Lex ..." Sapa Arman saat tiba di ruang perawatan Raina.
Arman begitu iba ketika melihat Alex yang sedang menatap istrinya dengan tatapan pilu.
"Raina gimana?" Sambung Arman.
"Sebentar lagi dia siuman." Jawab Alex dengan ekspresi datar.
"Apa yang terjadi?" Arman mencoba memberi jalan Alex untuk bercerita.
"Raina keguguran Man ... Gue gak tahu harus bilang apa kalau dia sadar nanti. Gue takut dia kecewa dan nyalahin dirinya sendiri." Ucap Alex sambil membuang nafas dengan berat.
"Gue ikut prihatin ya Lex ... yang sabar ... ini ujian buat kalian berdua. Gue yakin Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah di balik semua kejadian ini." Arman menepuk bahu sahabatnya untuk ikut menguatkan hati Alex.
"Gue hanya takut Raina tidak bisa menerima semua ini. Di saat Raina sudah menerima kehamilannya dia malah kehilangan janinnya." Alex mencoba untuk tegar karena di hati kecilnya dia tetap merasa kehilangan dengan janin yang sudah ia nantikan kehadirannya itu.
"Seandainya gue tahu bakalan seperti ini tadi pagi gue akan cegah dia untuk ikut ujian praktek penjaskes. Dia begitu bersemangat karena menurutnya hari ini dia begitu sehat dan morning sickness nya pun tidak serepot biasanya." Alex membelai rambut Raina yang belum siuman.
__ADS_1
"Loe jangan terlihat rapuh Lex ... Kasihan Raina ketika dia sadar nanti. Loe harus memberi dia kekuatan agar dia tidak terpuruk dari kehilangan calon bayi yang udah mengisi hari-harinya dengan begitu indah." Ucap Arman sambil terus memperhatikan Alex yang kelihatan terpuruk.
"Makasih ya Man ... Gue akan mencobanya." Alex tersenyum namun dalam hati dia menangis dengan dahsyat.