Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Belum ada kejelasan


__ADS_3

Alex mulai melajukan kembali kendaraannya, karena emosinya belum stabil dia pun mencoba mencari angin segar supaya pikirannya normal kembali.


Raina sampai di rumah dengan mata yang sembab khas orang yang sudah menangis, dengan buru-buru dia masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, dia mulai menangis lagi.


hiks...hiks...hiks.. aku pikir dia beda, ternyata sama saja, dasar laki-laki bisanya nyakitin saja, mulai sekarang aku gak akan ngabarin dia kalau dia gak ngabarin duluan, kita lihat siapa yang bisa mengalah, kalau tidak ya udah terserah, mungkin ini yang terbaik. gumam Raina


Dengan waktu yang cukup lama Raina menangis, hingga akhirnya dia pun tertidur.


Alex yang merasa sangat marah dengan Raina tiba-tiba tersadar pada keadaan Raina, dia mencoba mengambil ponsel di sakunya, kemudian dia mulai mengetikkan pesan di ponselnya, namun dia menghapusnya kembali, dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Raina.


K**ayaknya jangan buru-buru, sambil aku menjernihkan pikiran aku juga harus ngasih dia waktu untuk menjernihkan pikirannya. Gumam Alex yang mulai melajukan kendaraannya untuk pulang.


Pertengkaran antara pasangan kekasih memang wajar namun bagi Raina ini bagaikan tersambar petir di siang bolong, Alex yang dia kenal sebagai sosok yang penyabar dan pengertian, semua itu hanya topeng belaka, karena pada kenyataannya Alex orang yang mudah marah dengan hal yang Raina pikir sepele.


S**elama hubungan, biasanya dia tidak pernah membiarkan masalahnya sampai berlarut-larut, tapi sekarang mana? ngehubungin aku juga nggak, apalagi menjelaskan masalah. Gumam Raina saat membuka matanya melihat di ponselnya tidak ada pesan atau telpon dari Alex.


K**enapa dia bisa salah paham sama si Shabi? padahal aku gak pernah membicarakan dia padanya, seingat aku kalau tidak salah aku cuma selalu membicarakan Ayu. Batin Raina mulai bingung karena otaknya sudah mulai bisa berpikir lagi.


L**agian tadi itu aku gak sengaja ketemu sama si Shabi, aku pikir kita nongkrong bareng itu hal wajar, karena kita berteman, apa tindakan aku salah? Gumam Raina.


Raina pun mulai mengetik pesan sama Alex, kemudian dihapusnya kembali, mengetiknya lagi, dihapus lagi.


K**ayaknya jangan dulu dijelasin sekarang deh, dia lagi panas, aku harus nunggu dia tenang dulu, tapi kalau dia terus-terusan marah gimana? Gumam Raina.


Raina beranjak dari tempat tidurnya, dia turun kebawah untuk sekedar berbincang-bincang dengan bi Asih, karena menurutnya hari ini hari yang kurang beruntung baginya.


Alex sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamar kemudian membersihkan diri, setelah beres, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk Alex meraih ponselnya dan melihat notifikasi ponselnya, ternyata nihil, tak ada yang dia harapkan.


Alex menyalakan laptopnya, kemudian dia memasukkan kartu memory dari kamera, dia mulai menyalin foto-foto kegiatan saat study tour untuk dijadikan laporan, dia baru bisa menyalinnya sekarang karena waktu itu keburu ada Raina datang ke rumahnya jadi pekerjaannya tertunda.

__ADS_1


Satu persatu foto di rangkaikan untuk di satukan menjadi sebuah laporan, dia tersenyum sendiri saat melihat foto Raina.


*K*amu sangat cantik Rai, senyummu membuat kakak makin sayang sama kamu. Gumam Alex.


Alex melanjutkan pekerjaannya, sebagian foto dijadikan laporan, sebagian lagi dia simpan di file sebagai koleksi dirinya karena semuanya berisi foto Raina, tak terasa waktu malam pun sudah larut dan sudah waktunya istirahat.


Alex terus menguap karena dia sudah sangat ngantuk, dia pun beranjak dari meja kerjanya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Setelah berbincang dengan bi Asih, perasaan Raina mulai berjalan dengan normal kembali, sejenak dia bisa melupakan masalah yang sedang terjadi.


Kegiatan pagi hari yang dilakukan kedua sejoli Alex dan juga Raina adalah memeriksa ponsel mereka, dibukanya ponsel dan di periksa ternyata hanya ada pesan tentang obrolan grup saja, tak ada panggilan atau pesan dari mereka masing-masing.


Di sekolah mereka bertemu, namun keadaan tidak mendukung mereka, Alex dan Raina bertemu secara tidak sengaja saat memasuki gerbang sekolah, mereka sedang bersama orang lain sehingga tidak ada kesempatan untuk saling menyapa jadinya mereka hanya saling menatap itu pun hanya sekilas.


Mereka masih menata perasaan masing-masing, mencoba menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


A**ku ingin lihat sampai mana dia bisa menyelesaikan masalah yang telah dia perbuat. Batin Alex.


Raina berjalan dengan gontai memasuki ruang kelas belajarnya.


"Raina aku kangen." Ayu memeluk Raina saat Raina masuk ke kelasnya


"Aku juga." Raina membalas pelukan sahabatnya dengan sambil tersenyum bahagia.


S**eandainya Ayu tahu tentang hubungan kami, mungkin di saat seperti ini aku bisa curhat padanya, namun sekarang aku harus bisa mencoba menyelesaikannya sendiri. Batin Raina.


"Kemaren ibu bilang kamu nyari aku, kenapa gak nelpon?" Ayu melepaskan pelukannya.


"Iya, kamu kemana? tadinya aku pengen jenguk kamu yang lagi sakit, ternyata orang sakitnya malah jalan-jalan, kamu sakit bohongan ya?" Raina mendekatkan wajahnya pada Ayu seolah sedang mengintrogasi.

__ADS_1


"Beneranlah sakit, pas siangnya udah enakan, makanya aku keluar." Ayu memegang kedua pipi Raina dengan tangannya.


"Ha ... ha ... ha ... kenapa wajahmu panik, kamu kemaren kencan ya?" Goda Raina sambil berlalu dan duduk di kursinya.


"Ha ... ha ... ha ..." Ayu menepuk jidatnya sendiri.


Ayu pun mengikuti Raina untuk duduk di sebelahnya, mereka ngobrol cukup lama karena jam pertama guru yang mengajar di kelas mereka tidak hadir.


Shabi mulai mendekati Raina yang sedang asyik ngobrol dengan Raina.


" Rai kenapa kemaren kamu tergesa-gesa pulangnya." Shabi berdiri di depan Raina.


"Aku lupa membeli sesuatu untuk orang di rumah, jadi ketika kita beres makan aku baru ingat, karena takut lupa makanya aku langsung pergi." Raina tersenyum sambil melihat Shabi.


"Kemaren kalian kemana?" Ayu yang tidak mengerti dengan percakapan Raina dan Shabi mencoba mencari penjelasan.


"Kita makan di mall." Shabi dengan wajah senangnya memberi tahu Ayu.


" Kita gak sengaja ketemu di mall Yu." Raina menoleh pada sahabatnya itu.


Ayu mulai mengerti arah pembicaraan mereka, obrolan mereka berakhir saat ada petugas piket yang masuk menyampaikan tugas dari guru yang tidak masuk.


Meskipun guru yang mengajar berhalangan hadir, bagi Raina tugas yang diberikannya adalah sama dengan kehadiran gurunya, dia mengerjakan semua yang diperintahkan, namun itu tidak berlaku bagi sebagian murid, mereka malah terus menerus ngobrol dengan asyiknya bersama teman-temannya masing-masing, dan tidak banyak pula mereka yang mengabaikan tugas yang telah diberikan.


Jam pelajaran pertama pun habis, masuk ke jam pelajaran yang ke dua, yaitu pelajaran olahraga, semua murid mengganti pakaian mereka dengan kaos olahraga, kemudian memasuki lapangan.


Saat sedang berolahraga dengan tidak sengaja Alex melihat Raina yang tertawa lepas saat bersama teman-temannya.


K**amu bisa tertawa seperti itu saat bersama orang lain, bahkan saat bersama si Shabi kemaren ekspresi mu sama seperti ini, kenapa saat kita bersama kamu belum pernah menunjukkan ekspresi sebahagia itu Rai? apa kamu bahagia dengan keadaan kita seperti ini? atau kamu tidak bahagia dengan hubungan kita? Batin Alex yang terus-menerus tidak bisa menyangkal kalau Raina berbeda padanya.

__ADS_1


Alex dengan lekatnya menatap Raina dari kejauhan mencoba menghilangkan perasaan- perasaan aneh yang bergejolak di hati dan pikirannya, namun Raina tidak menyadari kalau ada orang yang sedang memperhatikannya dengan begitu intens.


__ADS_2