Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Masih kangen


__ADS_3

"Kakak tuh paling senang bikin aku keselek kayak tadi." Raina memulai obrolannya kembali setelah menghabiskan makanannya.


"Gak sengaja Rai ... Tapi benar kan malam pertama kita sudah ada di depan mata, tinggal menghitung hari saja." Alex terkekeh melihat ekspresi Raina.


"Kak malu ih ... Nanti kedengaran sama orang lain, lagian kita nikah belum tentu juga bisa melakukan malam pertama." Raina menunduk karena malu telah mengatakan yang dianggapnya vulgar.


"Kenapa tidak bisa? kalau sudah sah kita bebas melakukan apapun, dimana pun dan kapan pun." Alex menegaskan kalimatnya supaya Raina paham.


"Aku kan masih sekolah ... " Raina terus menunduk dan tidak berani menatap Alex.


"Ayo kita pulang, kita bahas di rumah saja gak enak kalau dibahas di tempat umum." Alex berdiri dan menarik tangan Raina dengan lembut.


"Tapi Kak ... " Sebelum tuntas menyelesaikan kalimatnya Alex sudah menyetop taksi yang lewat dan membuka pintu untuk Raina.


"Udah jangan diterusin, nanti di rumah saja." Tegas Alex.


"Kenapa jadi marah." lirih Raina yang masih terdengar oleh Alex.


"Siapa yang marah?" Tanya Alex.


"Hehe ... Kakak!" Jawab Raina sambil mengerucutkan bibirnya, dan dengan secepat kilat Alex langsung mengecup bibir Raina.


"Kakakkk ... " Raina memukul Alex.


"Kenapa ? mau lagi?" Alex mendekatkan wajahnya lagi sama Raina.


"Malu ihh.. ada orang lain." Raina mendorong wajah Alex sambil setengah berbisik karena takut kedengaran sang sopir, dan Alex malah meraih tangan Raina kemudian mencium tangannya.


"Kakak kangen." ucap Alex Lirih.


Suasana seperti ini baru Raina rasakan, ada getaran lain di dadanya hingga ada dorongan yang membuat Raina memeluk Alex dan membenamkan wajahnya di dada bidang Alex.


Alex merasa sangat rindu pada kekasihnya itu dengan senang hati dia membalas pelukan Raina sambil membelai rambut dan mencium pucuk kepala Raina.


Taksi berhenti di depan rumah Raina, karena sudah lewat magrib Alex memilih untuk menyapa calon mertuanya karena takutnya mereka akan salah paham dengan Raina yang pulang hampir malam dan sekalian sholat karena magrib sudah lewat.


"Kapan kamu datang? bukannya kamu pergi ke rumah ayahmu?" Sapa Hasan yang melihat Alex baru selesai sholat di mushola rumahnya.


"Iya Om, tadi sore baru nyampe." Jawab Alex sambil salim pada ayah Raina.


"Kenapa bisa bareng sama Raina?" Tanya Hasan sambil mengajak Alex keluar dari mushola.


"Tadi dari bandara saya langsung menjemput Raina di sekolah dan sekalian jalan-jalan dulu." Alex mengatakan apa adanya dan tersenyum ramah pada Hasan.


"Bi ... buatin minum ya." Perintah Hasan pada bi Asih, dan seperti biasa bi Asih hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana respon ayah mu?" Hasan menyandarkan punggungnya di sofa.

__ADS_1


"Semuanya berjalan baik Om, hari jumat sekarang mereka akan datang untuk melamar Raina secara resmi." Alex mencoba menutupi kegugupannya, karena ini adalah obrolan serius kedua kalinya dengan ayah Raina.


"Syukurlah ... Artinya orang tua mu bisa menerima Raina sebagai menantunya. Sekarang Om merasa lega." Hasan menarik napasnya beratnya karena sebenarnya dia khawatir kalau ayah Alex tidak memberikan restu pada anaknya.


"Silakan diminum ...." Bi Asih datang membawa nampan.


"Makasih Bi." ucap Alex dan Hasan berbarengan.


"Ehhhh ada calon mantu ... kapan datang?" Maria sedikit berteriak menyapa Alex dari ujung tangga dan menghampiri suami dan calon menantunya.


"Tadi sore Tante." Alex berdiri dan salim pada Maria. Mereka melanjutkan perbincangannya kembali.


"Om ... Tante ... saya pamit pulang dulu, maaf udah membuat Raina pulang terlambat."


"Kamu bawa mobil Raina aja." Pinta Hasan.


"Terima kasih Om, saya naik taksi saja, badan saya lelah kalau nyetir sendiri, hehe ..." Alex menolak dengan ramah.


"Ya udah ... hati-hati." Hasan mengantar Alex sampai depan pintu.


Raina turun dari kamarnya dan terus mencoba mencari sosok kekasihnya di dalam rumah, namun yang dia lihat hanya kedua orang tuanya yang sedang asyik ngobrol di ruang keluarga.


"Alex sudah pulang." Maria melirik anaknya yang sedang celingukan gak jelas.


"Kenapa gak ngasih tahu aku?" Raina berkata sambil naik lagi ke kamarnya.


"Bu ... kebiasaan deh sudah teriak-teriak di dalam rumah." Hasan kaget karena sedang fokus menonton acara televisi.


"Hehe ..." Maria hanya terkekeh.


Raina masuk ke kamarnya dan langsung mengambil ponsel.


Raina : Kenapa pulang gak pamit dulu?


Raina mengirim pesan pada Alex, namun pesannya belum juga mendapat balasan.


"Harusnya kan sekarang masih di jalan, kenapa pesan aku gak di balas?" Raina bermonolog sendiri sambil mondar mandir di kamar.


"Mungkin gak kedengaran, mending ngerjain tugas dulu sambil nunggu pesan dari kakang prabu." Raina langsung membuka tas sekolahnya dan memeriksa tugas yang harus dikerjakannya.


ddrrttt .... ddrrttt.... ddrrrttt... ada pesan masuk dan ternyata Alex yang mengirim pesan.


Alex : Maaf tadi ketiduran di taksi, untung saja dibangunin sama sopirnya, Kakak langsung mandi makanya baru balas pesan kamu.


Raina : Kenapa tadi pulang gak nunggu dan pamit sama aku?


Alex : Kakak gak mau ganggu istirahat kamu, makanya tadi juga kakak cuma sebentar ngobrol sama orang tua mu. Maaf ya honey ...

__ADS_1


Raina : Kirain marah sama aku.


Alex : Marah kenapa? emang kamu bikin salah?


Raina : Gara-gara obrolan kita tadi pas lagi makan.


Alex : Obrolan yang mana?


Raina : Itu ... yang tadi.


Alex : yang tadi apa? yang jelas Rai ... (Alex sengaja memancing Raina untuk bicara).


Raina : Malam pertama. (Raina langsung melempar ponselnya di atas kasur dan menutup wajahnya karena malu, padahal ini cuma pesan jadi Alex gak bisa lihat, hehe)


Alex : Wahhh kamu udah gak sabar ya?


Raina : Kakak ... Udah ah aku mau ngerjain tugas dulu.


Alex : Ya udah sekarang fokus aja sama tugasnya ya, malam pertamanya kita bahas nanti. Kakak juga mau istirahat dulu, bye ...


Mereka mengakhiri pesan untuk hari ini, dengan perasaan yang sama-sama tidak saling menentu, Alex yang membayangkan malam pertama akan segera tiba dan Raina membayangkan betapa malunya nanti ketika dia menghadapi malam pertamanya dengan Alex.


------------


Di kediaman Alex


Tok ... tok ... tok .... Nina mengetuk pintu kamar Alex.


"Masuk Bun ..." Alex membuka pintu dan mempersilakan ibunya masuk.


"Kamu mau istirahat?" Tanya Nina.


"Cuma mau rebahan aja Bun, kenapa memang?" Jawab Alex.


"Bagaiman tanggapan ayahmu?" Nina bertanya ragu-ragu.


"Semuanya berjalan lancar Bun, alhamdulillah Ayah rencananya hari jumat akan ke sini." Alex tidak menceritakan awal mulanya, karena takut Nina akan khawatir.


"Apa mereka mau tinggal disini?" ucap Nina lagi.


"Aku akan menyediakan home stay Bun buat mereka, karena bukan hanya ayah dan ibu, tapi ada sanak keluarga yang lainnya.


"Kamu jangan khawatirkan Bunda, jika mereka mau tinggal di sini gak apa-apa kok, ibu bisa ngerti." Sahut Nina yang merasa tidak enak oleh Alex.


"Bunda akan tetap di rumah ini, dan rumah ini terbuka juga untuk saudara Bunda, aku akan sangat senang jika Bunda mengajak saudara Bunda untuk menyaksikan acara nanti." Tegas Alex.


"Bunda udah ngasih kabar ke keluarga Bunda, mereka sama akan datang hari jumat, Kakak angkat Bunda ingin tinggal di rumah ini, sedangkan yang lainnya akan tinggal di hotel, mereka akan pulang hari minggu dan kembali lagi hari kamis." Nina menuturkan semuanya dengan jelas pada Alex.

__ADS_1


"Aku akan senang jika mereka mau berkunjung dan tinggal di rumah aku Bun. Terima kasih." Alex memeluk ibunya dan setelah itu dia langsung istirahat terbang ke alam mimpi.


__ADS_2