
Alex bangun pagi-pagi sekali, dia menyiapkan sarapan untuknya bersama ayahnya, setelah selesai dia bergegas membersihkan diri karena sekarang hari senin jadi mau tidak mau harus berangkat ke sekolah lebih pagi untuk mengikuti kegiatan upacara setiap minggunya.
Setelah memakai pakaiannya, Alex keluar dan memanggil ayahnya untuk sarapan bersama.
Alex berpamitan pada ayahnya untuk pergi ke sekolah, seperti biasa Alex menjemput Raina terlebih dahulu dan berangkat ke sekolah bersama Raina.
Raina yang memang terbiasa berangkat sangat pagi jika bersama Alex, dia sudah siap dan menunggu kekasihnya datang dengan memakai seragam rapi dengan hiasan wajah yang natural.
Raina tersenyum ketika melihat mobil Alex sudah berada di depan pagar rumahnya, Raina langsung berjalan menghampiri Alex dan masuk ke mobil dengan tidak lupa mencium punggung tangan Alex.
Raina melihat raut wajah Alex tidak seperti biasanya, Alex kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu, namun Raina takut untuk bertanya karena takut Alex tersinggung.
Raina pun memilih tidak banyak bicara ketika di perjalanan sekolah, dia menganggap mood Alex sedang tidak baik.
Alex yang melihat Raina terus menerus menatapnya, dia pun hanya mengelus rambut Raina tanpa bicara.
Saat tiba di sekolah Raina keluar dari mobil dan tidak lupa salim pada Alex, dia langsung berjalan menuju ke kelasnya.
Alex yang biasanya langsung keluar dari mobil, hari ini dia malah melamun di dalam mobil, hingga dia dikejutkan oleh Arman yang mengetuk kaca jendela mobilnya.
Alex keluar dari mobil dan berjalan bersama Arman, dia mulai mengalihkan pikirannya dengan berbincang sambil berjalan dengan Arman.
Alex tidak bisa fokus karena memikirkan ibu kandungnya, selama ini dia mencoba tidak mengingatnya namun tetap di hati kecilnya dia teramat rindu akan sosok wanita yang telah melahirkannya itu.
Jam terus berputar hingga bel masuk pun berbunyi, semua sudah siap berada di lapangan untuk mengikuti upacara.
Saat upacara berlangsung, Raina memperhatikan Alex yang ekspresi wajahnya tidak seperti biasanya, Raina berpikir mungkin karena kejadian kemarin bertemu dengan Lia hingga mengganggu pikiran kekasihnya itu.
__ADS_1
Upacara telah selesai semua murid masuk ke kelas masing-masing, begitu juga dengan para guru, mereka langsung mengajar ke kelas.
Jam pelajaran semuanya telah berakhir, sekarang waktunya pulang, Raina merasa benar-benar tidak mengerti dengan Alex hari ini, biasanya Alex pasti menyempatkan diri untuk menyapanya meski lewat pesan namun hari ini setelah beberapa kali Raina mengecek ponselnya, tetap tidak ada pesan ataupun panggilan dari kekasihnya.
Raina turun ke bawah dan dilihatnya Alex sudah menunggunya di tempat parkiran.
"Ayo, Rai!" Alex membukakan pintu mobil untuk Raina.
"Kak." Raina ragu-ragu untuk bertanya.
"Ada apa?" Alex memasang seatbelt nya.
"Kakak kenapa? Apa aku buat salah? Maaf." Raina tersenyum di paksakan.
"Enggak, kamu gak salah, emangnya Kakak kenapa?" Alex balik bertanya sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Hari ini Kakak agak beda, apa itu cuma perasaan aku aja?" Raina mulai berpikir.
Raina belum tahu kalau waktu itu yang ada di rumah adalah ibu sambung aku, kira-kira aku cerita gak ya masalah ini? Batin Alex.
Alex berperang dengan perasaanya hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah Raina.
"Kak, kalau Kakak mau Kakak bisa bercerita sama aku, meskipun aku tidak bisa membantu tapi, setidaknya kalau Kakak bercerita sama orang lain bisa mengurangi beban pikiran kakak." Raina mengajak Alex untuk masuk ke rumahnya.
Alex pun memilih untuk bercerita pada Raina karena menurutnya Raina juga harus tahu tentang urusan pribadinya, supaya ketika nanti mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius diantara mereka tidak ada lagi rahasia tentang keluarganya.
Sebelum Alex bercerita Raina terlebih dahulu mengajak Alex untuk makan siang di rumahnya, setelah itu barulah mereka ngobrol di ruang keluarga sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Di rumah sekarang ada ayah, Rai ... beliau datang kemarin sore." Alex mencoba mengawali obrolannya.
"Oh ya, lalu apakah semua ini ada hubungannya dengan Kakak hari ini?" Raina antusias.
"Benar Rai, semuanya bermula dari kedatangan syah yang memberi kabar bahwa ayah telah bertemu dengan bunda." Alex menghela napas.
"Aku akan dengerin semuanya, kalau Kakak gak keberatan aku pengen tahu." Raina tersenyum.
"Sebenarnya ... Ibu yang waktu itu berkenalan denganmu adalah ibu sambung Kakak, ayah dan bunda sudah bercerai sejak Kakak masih sekolah dasar, Kakak ikut sama ayah karena waktu itu hak asuh jatuh pada ayah, Maaf ya Kakak tidak pernah menceritakan semua ini dari awal Rai." Alex memelas.
"Nggak apa-apa Kak, semua orang pasti punya masa lalu, kenapa ayah bertemu bunda malah menjadi hal yang mengganggu pikiran Kakak?" tanya Raina.
"Setelah ayah bercerai sama bunda, kami tidak pernah bertemu lagi dengan bunda, bahkan Kakak tidak tahu keberadaan bunda, dulu Kakak pernah mencari tahu namun Kakak tidak pernah mendapatkan informasi apapun, hingga akhirnya sebulan yang lalu ayah bertemu dengan bunda, yang mengganggu pikiran Kakak sekarang adalah kenapa ayah tidak memberikan nomor ponsel Kakak pada bunda, padahal Kakak sangat berharap bisa mendengar suara bunda meskipun tidak saling berjumpa, Kakak sangat merindukannya Rai." Alex mencoba menahan kesedihannya.
"Mungkin ayah lupa gak ngasih nomornya ke bunda, karena mereka bertemunya secara tiba-tiba, doakan saja mudah-mudahan bunda sehat dan bisa bertemu dengan Kakak." Raina memberikan support nya.
Raina mendengarkan semua tentang kehidupan pribadi kekasihnya, Alex merasa senang karena beban di pikirannya sedikit berkurang dengan menceritakannya sama Raina.
Alex menceriterakan semua tentang keluarganya hingga Raina tahu semuanya.
"Rai, apakah orang tuamu bisa menerima Kakak dengan keadaan keluarga Kakak seperti ini?" Alex khawatir.
"Memangnya apa yang salah dengan keluarga Kakak? semua orang pasti punya cerita kehidupannya masing-masing, bukan hanya Kakak yang punya orang tua ganda, yang lain juga ada." Raina mencoba untuk bijak menanggapi masalah keluarga Alex.
Alex memeluk Raina, dia tidak menyangka bahwa gadis polos seperti Raina bisa menyikapi masalah orang tuanya dan tak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih.
Alex pamit pulang dari rumah Raina karena dia merasa tidak enak meninggalkan ayahnya di rumah sendirian.
__ADS_1
Raina mengantarkan Alex sampai depan pintu rumahnya, dia terus memperhatikan wajah kekasihnya hingga mobilnya melaju dan hilang dari tatapannya.
Alex sudah tiba di rumahnya, saat hendak masuk ke kamar dia tidak melihat sosok ayahnya, dia mencari keberadaan ayahnya namun ayahnya tidak ada, dia mencari ke kamar dan ke ruang keluarga tetap tidak menemukan ayahnya dan saat Alex melihat ke belakang rumahnya, ternyata ayahnya sedang duduk sambil melihat kolam ikan yang ada di belakang rumah Alex.