
"Calon pengantin gak makan?" Goda Nisa pada Alex dan juga Raina.
"Nanti bu, silahkan ibu duluan aja." Jawab Alex ramah.
"Raina ... hari ini kamu terlihat berbeda, kamu cantik sekali .... Tante hampir tidak mengenalimu Nak." Nisa mengelus rambut Raina.
"Ah Tante terlalu berlebihan, terima kasih pujiannya." Raina tersenyum ramah.
"Selamat ya ... sebentar lagi kalian akan hidup bersama, jangan lupa makan biar semangatnya tidak berkurang." Nisa terkekeh dan meninggalkan Alex juga Raina.
"Kak makan dulu yuk? aku tadi cuma sarapan roti, jadinya sekarang aku laper banget." Ajak Raina.
"Kamu yang suapin ya." Goda Alex.
"Ihh apaan sih ... malu banyak orang." Raina mengedarkan pandangannya kesemua tempat.
"Kakak pengen makan kamu Rai ..." Alex makin menggoda.
"Kak ... Udah deh ... Nanti kedengaran orang, ayo!" Raina menarik tangan Alex untuk mengambil makan.
Acara makan pun selesai dan satu persatu tamu dan keluarga Alex mulai berpamitan pulang. Tinggal Sardi dan istrinya juga Nina serta Andi yang masih belum pulang dari rumah Raina.
"Hasan ... aku tidak pernah mengira kalau Raina adalah anak mu, dulu waktu kita bertemu aku pernah bertanya pada dia cuma sayangnya waktu itu aku tidak bertanya nama orang tuanya." Sardi membuka obrolannya dengan Hasan.
"Dunia memang sempit Sar, kita yang sudah lama tidak pernah bertemu sekarang dipertemukan kembali oleh anak-anak kita." Jawab Hasan.
"Lex ... karena waktu pernikahan tinggal sebentar lagi artinya hari ini adalah hari terakhir kamu bisa ngobrol dengan Raina, karena mulai besok kamu dilarang menjemput atau menemui Raina." Ucap Maria.
"Kenapa dilarang Tante?" Jawab Alex heran.
"Istilahnya kalau calon pengantin harus dipingit, Biar kalian sama-sama rindu, jadi nanti ketika menikah kalian merasa sangat ....." Ucapan Maria dipotong oleh suaminya.
"Apaan sih bu ... pikirannya udah kemana-mana." Hasan terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Yang dikatakan ibu Maria benar Lex, kamu harus menjaga jarak dulu ya.. biar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan, contohnya berselisih paham yang nantinya akan membuat kalian rugi sendiri." Nisa menambahkan.
"Baiklah ... Alex akan mencoba." Jawab Alex pasrah.
"Tapi kalau di sekolah gimana? nanti kan Kak Alex harus masuk ke kelas aku?" Tanya Raina.
"Hadeuhhhh gak kepikiran kalau sebenarnya mereka guru dan murid." Maria menepuk jidatnya.
"Anggap bonus saja." Andi ikut menambahkan.
"Wahhh enak nih dapat bonus." Ucap Hasan dan semuanya tertawa bersama.
Terlihat ada kecanggungan antara Sardi, Nisa dan juga Nina, meskipun sudah berpisah lama, namun ketiganya masih terlihat tidak nyaman ketika harus duduk bersama.
Setelah bincang-bincangnya selesai mereka pamit pulang.
Raina langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan makeup nya. Dia senyum-senyum sendiri ketika mengingat kalimat yang diucapkan oleh Alex.
Di bawah orang-orang sedang sibuk membereskan kembali tempat bekas acara tadi, mereka bekerja sesuai porsinya masing-masing.
Saat malam tiba Raina merebahkan tubuhnya di atas kasur, pikirannya masih melayang pada acara lamaran tadi.
ddrrttt .... ddrttt .... ddrrrttt... Pesan masuk dari Alex dan dengan segara Raina membuka pesan di ponselnya.
Alex : Lagi apa honey?
Raina : Lagi tiduran, Kakak lagi apa emang?
__ADS_1
Alex : Kakak lagi bayangin kamu, Kakak masih kangen sama kamu Rai ... Rasanya menunggu satu minggu itu lama sekali.
Raina : Ihhh lebayyy.
Alex : Swear Rai ... Kakak udah gak sabar pengen meluk kamu terus.
Raina : Kakak mulai mesum lagi
Alex : Mesum apaan Rai ... masa bilang pengen meluk disebut mesum.
Raina : Hahahaha...
Alex : Awas ya kalau ketemu.
Raina : Kakak lupa? kita kan gak boleh ketemuan.
Alex : Itu kalau disengaja, kalau di sekolah kan gak sengaja.
Raina : Sama aja ... Kak udah dulu ya ... aku ngantuk, kemarin malam aku hampir gak tidur.
Alex : Kenapa gak tidur?
Raina : Gara-gara sindrom orang yang mau dilamar, hehe ... udah ya...
Alex : Ya udah... good night honey.. have a nice dream. mmmuaaacchhh....
Pesan berakhir dan Raina menyimpan ponselnya di atas nakas dan langsung menarik selimut untuk tidur.
Raina sangat bermalas-malasan bangun, dia melihat cincin yang telah melingkar dijari manisnya, dilihat dan ditatapnya cincin tersebut hingga dia mulai senyum-senyum sendiri mengingat kejadian kemarin sore.
Aku sangat bahagia akhirnya semua orang mendukung hubungan kami, tapi aku juga khawatir jika nanti akan ketahuan oleh pihak sekolah, aku belum membicarakan hal ini dengan Kak Alex, apa aku biarkan saja ya? tapi aku gak mau dihantui oleh rasa ketakutan seperti ini, bahkan saat memikirkan hal yang indah pun, ucapan pak guru waktu itu selalu saja muncul. Raina berkecamuk dengan pemikirannya sendiri hingga dia keluar dari kamarnya.
"Aihhh alasan ... baru juga semalam kalian ngobrol masa sekarang mau ngobrol lagi. Emangnya apa yang mau kamu sampaikan? gak usah ketemu telpon aja!" Suruh Maria.
"Gak bisa Bu, ini sangat penting jadi bakalan gak afdol kalau dibahasnya di telpon." Rengek Raina.
"Sebenarnya ada apa? ayo bilang sama ibu." Selidik Maria.
"Ini masalah sekolah aku Bu, jadi aku mesti bicara langsung sama kak Alex." Raina dengan wajah memelas.
"Baiklah ... Tapi ngobrolnya di sini gak boleh diluar." Perintah Maria.
Biarin deh di rumah juga, dari pada tidak sama sekali. Batin Raina.
"Iya, makasih ya Bu." Raina langsung pergi ke kamarnya dan menelpon Alex.
Raina : Kak ... Bisa ke rumah sekarang gak?
Alex : Panjang umur ... Kakak lagi mikirin kamu eh ternyata kita sehati.
Raina : Gombal, bisakan sekarang ke sini?
Alex : Kamu kangen ya ...
Raina : Kak aku serius nih, bisa gak?
Alex : Iya ... iya sekarang Kakak OTW.
T**ut...tut...tut... Raina langsung mengakhiri panggilannya sepihak.
Raina kenapa ya, orang belum selesai bicara langsung main diputus aja. Gerutu Alex.
__ADS_1
Ting .... tong ... ting ... tong ... Alex menekan bel di rumah Raina.
Ceklek... Raina membuka pintu.
"Masuk Kak." Sapa Raina sambil mencium tangan Alex.
"Bentar ya aku bikin minum dulu." Raina pergi menuju dapur.
"Ya." Jawab Alex pendek.
"Ehh ... yang ditunggu udah datang." Maria menyapa Alex.
"Iya Tante." Jawab Alex
"Jangan panggil Tante, biasakan dari sekarang panggilnya ibu." Maria tersenyum.
"Baiklah bu." Alex langsung lancar karena dia sudah latihan, hehe...
Raina datang dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk Alex.
"Ibu tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja ... ingat ini terakhir kalinya buat kalian berduaan." Maria pergi meninggalkan Alex dan Raina.
"Iya ... iya...." Raina cemberut.
"Lihat kamu kaya gitu makin membuat Kakak gak sabar Rai ..." Alex terkekeh melihat ekspresi Raina.
"Udah jangan bahas yang itu, ada hal yang lebih penting lagi yang harus kita bahas, Ayo minum dulu!" Raina memasang wajah serius.
"Ada apa?" Tanya Alex lembut.
"Kak ... Aku takut ketahuan." Raina menunduk.
"Ketahuan apa? yang jelas Rai ... jangan setengah-setengah kalau bicara!" Jawab Alex.
"Gimana kalau pernikahannya kita undur saja sampai nanti aku lulus, aku takut nanti ketahuan oleh pihak sekolah, aku masih pengen melanjutkan sekolah, aku gak mau dikeluarin gara-gara aku nikah." Raina tidak berani menatap Alex.
"Rai... kalau bicara tatap mata lawan bicara kamu." Alex mencoba tidak terpengaruh oleh ucapan Raina, karena kalau terpengaruh dia bisa emosi jiwa.
"Rai ...." Alex pindah ke kursi di sebelah Raina.
"Ketakutan kamu memang beralasan, tapi yakinlah semuanya akan berjalan lancar ... Kita bisa merahasiakan hubungan kita selama satu tahun dari mereka semua, dan sekarang hanya butuh waktu enam bulan saja Rai ... Kakak mohon kerjasamanya dari kamu. Kalau suatu saat ketahuan oleh pihak sekolah, Kakak yang akan maju ke pihak sekolah." Ucap Alex.
------------------
Hallo Reader semua ....
Terimakasih ya udah setia ngikutin cerita Pacarku Guru Bahasa Inggris per episodenya..
Jangan lupa untuk like dan kasih komentar juga ya...
Kasih masukan positif buat Author, biar bisa berkarya dengan lebih baik lagi..
Dan kalau boleh minta vote nya juga ya... hehe ngarep..
Terima kasih yang udah ngasih like n vote juga komentar nya..
yang belum Author tunggu ya...
Jangan lupa untuk selalu bahagia dan sehat selalu..
peluk hangat untuk Reader semuanya...
__ADS_1