
Satu hari mereka tidak saling berkomunikasi, mereka sama-sama saling menunggu untuk di sapa terlebih dahulu, namun karena ego dari mereka masing-masing hingga sampai pulang sekolah pun mereka masih tidak ada yang mau mengalah.
Bel pulang telah berbunyi cukup lama, Alex masih disibukkan dengan pekerjaannya di sekolah, karena harus memeriksa tugas yang dikerjakan oleh muridnya.
Raina pulang bersama Ayu, mereka pergi menonton untuk mengisi waktu akhir pekannya, karena besok hari libur sekolah sehingga mereka tidak perlu pulang tergesa-gesa karena tidak harus mengerjakan PR.
Mereka masuk kedalam mall yang biasa mereka gunakan untuk nongkrong, Raina menghabiskan waktu dengan Ayu untuk bermain game, makan, kemudian nonton.
Dengan bermain bersama Ayu Raina bisa melupakan sejenak masalah yang terjadi antara dirinya dengan Alex.
Waktu sudah hampir sore, Alex baru selesai dari mengerjakan tugasnya, dia bergegas merapikan mejanya kembali, kemudian dia pulang.
D**engan menyibukkan diri seperti ini, bisa mengurangi kepenatan dalam pikiranku, melupakan masalah, apa Raina sudah pulang ke rumahnya? apa kabarnya ya? satu hari tidak berkomunikasi membuat aku kangen berat, tapi aku harus tahan dulu supaya dia bisa belajar bertanggung jawab menyelesaikan masalahnya. Gumam Alex sambil melajukan kendaraannya keluar dari sekolah.
Raina pulang setelah hampir jam 7 malam, dilihatnya ponsel berulang kali, namun tak ada satupun pesan atau telepon dari Alex, Raina berpikir Alex masih marah.
D**ia kayak anak kecil, marah gak jelas, dia kan tahu Shabi itu teman sekelas aku, masa harus marah gara-gara aku nongkrong bareng dia, lagian itu kan tidak sengaja, apa mungkin dia cemburu sama si Shabi? tapi tidak mungkin, masa harus cemburu gara-gara itu, tapi kayaknya emang dia cemburu sih. Gerutu Raina.
Satu hari, dua hari, bahkan sampai tiga hari mereka saling tidak berkomunikasi, mereka seperti orang yang sedang gencatan senjata, bila bertemu seolah-olah tidak melihat, padahal saling memperhatikan.
Besok adalah hari ulang tahun Raina yang ke 17, biasanya ulang tahun Raina jarang di rayakan, karena orang tuanya yang jarang ada di rumah, paling mereka hanya merayakannya jika kebetulan mereka sedang berkumpul.
Sama halnya dengan ulang tahun sekarang, karena orang tuanya yang baru saja berangkat beberapa minggu yang lalu artinya kali ini Raina tidak akan merayakan ulang tahunnya.
Alex mulai mengalah, dia tidak tahan kalau harus marahan sama Raina dengan waktu yang lama, tiga hari saja rasanya bagaikan tiga tahun.
Dengan moment ulang tahun, Alex akan mencoba bicara baik-baik dengan Raina
__ADS_1
masa iya di hari ulang tahun dia marah-marah. Pikirnya.
Di sekolah mereka bertemu cukup lama karena hari ini jadwal Alex mengajar di kelas Raina, tak ada yang berubah, seperti biasa jika di kelas Alex profesional, dia memperlakukan sama semua muridnya termasuk pada Raina.
Hari ini Alex memeriksa buku catatan semua muridnya, karena pada pertemuan terakhirnya Alex memberi tugas untuk membuat rangkuman materi, karena setelah pertemuan terakhir bersama Alex saat itu juga terjadi kesalahpahaman antara Raina dan Alex, sehingga Raina lupa tidak mengerjakan tugas yang Alex berikan.
Y**a Tuhan... aku lupa tidak mengerjakannya, bisa-bisa kena marah lagi, aku harus jawab apa ya, dasar Raina cerobohhhh. Raina mengumpat dalam hatinya sambil garuk-garuk tidak gatal.
Alex mulai memeriksa tugas muridnya satu persatu, dia berkeliling ke setiap bangku muridnya, tepat di bangku Raina, Alex mempersiapkan dirinya untuk mendekati lagi Raina karena sudah tiga hari mereka tidak berdekatan.
Namun itu semua tidak seperti dugaannya, Raina yang terbilang anak rajin sekarang dia malah tidak mengerjakan tugasnya.
"Mana catatannya?" Alex berbicara dengan wajah datar.
" Maaf saya lupa." Raina menunduk.
"Kenapa tidak kamu kerjakan? lupa bukan alasan yang tepat untuk tidak mengerjakan tugas." Alex mulai menaikkan intonasi bicaranya.
"Maaf pak saya benar-benar lupa." Raina tidak berani menatap Alex.
"Baiklah karena kamu tidak mengerjakannya, berarti hari ini saya akan memberimu tugas tambahan, dan harus diserahkan sebelum waktu istirahat." Alex menatap Raina yang menunduk.
Alex pun berlalu meninggalkan meja Raina dan melanjutkan memeriksa tugas murid yang lainnya, dan ternyata di kelas itu hanya Raina saja yang tidak mengumpulkan tugas.
K**amu benar-benar lupa atau sengaja Rai? kayaknya kakak yang kalah dari kamu, kakak gak sanggup kalau kita terus seperti ini. Alex berencana untuk mengakhiri gencatan senjatanya.
"Rai tumben sekali tugas nggak dikerjakan?" Ayu berbisik.
__ADS_1
"Aku lupa." Raina menghembuskan napasnya.
Dua jam berlalu, Alex keluar dari kelas Raina, saatnya untuk belajar pelajaran lain, entah hari ini keberuntungan Raina atau bukan, yang jelas guru yang mengajar setelah Alex berhalangan hadir, ini digunakan oleh Raina untuk mengerjakan tugas dari Alex.
Dengan semangat empat lima, Raina mengerjakan tugasnya, setelah selesai dia langsung mengerjakan tugas yang lainnya, sehingga Raina bisa menyelesaikan tugasnya tepat saat bel istirahat berbunyi.
Semua murid keluar dari kelas, ada yang langsung ke kantin, ada yang berkunjung ke kelas lain, ada yang turun ke lapangan bahkan ada pula yang hanya nongkrong di depan kelas.
Raina bergegas meninggalkan kelas untuk menyerahkan tugas pada Alex di ruang guru, Ayu yang waktu itu menawarkan diri untuk menemaninya dia tolak dengan halus dengan alasan nanti dia akan langsung menyusulnya ke kantin.
Raina berjalan ke ruang guru, dengan langkah cepat dia sudah sampai di ruang guru, dengan mengetuk pintu dia perlahan masuk ke ruang guru dan dilihatnya Alex sedang duduk di mejanya. pandangan Raina fokus hanya pada Alex.
Alex yang melihat Raina masuk, dia balik menatap Raina, sambil menerka-nerka apa yang sedang Raina pikirkan.
"Ini tugas saya pak, maaf saya telat." Raina menyerahkan buku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lain kali jangan sampai lupa lagi, makanya kalau pulang sekolah jangan langsung main, tapi kerjakan dulu tugas sekolahnya." Alex mencoba mengingatkan Raina pada waktu itu.
"Baik pak, saya permisi." Raina tertahan pergi karena tangannya dipegang oleh Alex.
Raina langsung menoleh lagi, namun sebelum tubuh berbalik seutuhnya Alex sudah melepaskan pegangan tangannya, sehingga Raina pun berjalan keluar dari ruang guru.
A**pa coba maksudnya, pake pegang-pegang tangan segala, kalau ada lihat gimana? Gerutu Raina.
Alex duduk di meja paling pojok, sehingga ketika dia meraih tangan Raina tadi tidak ada yang melihatnya karena posisinya sangat aman.
Raina langsung menuju kantin untuk menyusul Ayu, dia berjalan gontai sambil komat-kamit sendiri, dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, karena baginya hari ini hari yang tidak harus dia ulangi lagi, sedangkan di ruang guru Alex senyum-senyum sendiri sambil melihat dan membaca buku yang Raina kumpulkan tadi.
__ADS_1
A**khirnya aku bisa melihat dia dari dekat, meskipun ekspresinya seperti itu tapi aku cukup senang. Alex melihat ke luar pintu