
tok ... tok ... tok ...
Ceklek Raina membuka pintu kamarnya.
"Ditunggu Nyonya di bawah Non." Bi Asih pergi setelah mendapat jawaban Raina.
"Ya." Raina turun dengan pikiran yang tak bisa di tebak. Dia berjalan ke ruang tamu dan seketika dirinya kaget karena melihat ada Sahabat ayahnya yang pernah ketemu di kota X dan juga di sana ada kekasih hatinya.
Kenapa Kak Alex kelihatan begitu akrab ya dengan tante Nina? Batin Raina.
"Hallo Tante, kapan datang?" Raina menghampiri Nina dan mencium punggung tangannya.
"Rai ... kamu sudah kenal?" Alex bingung melihat Raina yang langsung menyapa ibunya.
"Iya Kak, tante Nina kan sahabat Ayah, Tapi ..." Raina menggantungkan kalimatnya dan dirinya mulai bingung.
"Sini duduk dulu." Nina meraih tangan Raina dan membawanya duduk di sebelah Nina.
"Kenapa? kamu bingung?" Goda Maria pada Raina.
"Hehe ... Tante juga gak nyangka Rai kalau pacar anak tante itu kamu." Nina mencubit hidung Raina.
"Jadi ...?" Raina melirik Alex, ayah dan ibunya.
"Iya sayang ... Alex adalah anaknya tante Nina." Jelas Hasan. Raina tidak menyangka bahwa kekasihnya adalah anak dari sahabat ayahnya.
"Oh ... pantas saja waktu aku main ke rumah tante dulu, aku merasa tidak asing melihat wajah Tante, ternyata emang wajah anaknya yang sering aku lihat, hehe..." Raina mengingat kembali saat mereka bertemu.
"Kak masih ingat gak waktu aku liburan aku pernah video call di taman yang pekarangan rumah, itu tuh rumahnya tante Nina." Raina antusias menceritakan semuanya pada Alex yang tanpa sadar bahwa disana juga ada orang tua mereka.
Aku pikir waktu itu hanya kebetulan ada orang yang punya hobi yang sama dengan Bunda, ternyata benar dengan apa yang ku lihat waktu itu, itu adalah tanaman kesukaan Bunda. Batin Alex.
"Jadi kita gak dianggap nih." Goda Hasan yang melihat Raina asyik berbicara sama Alex.
"Bukan gitu Yah, aku cuma ..." Raina tidak melanjutkan kalimatnya karena orang tua mereka menertawakan tindakan Raina yang seperti anak kecil yang manja.
"Ya udah ... sekarang ibu pinjam Alex dulu ya, mau ibu ajak ke dapur buat masak." Maria langsung memberi isyarat Alex untuk mengikutinya ke dapur.
__ADS_1
"Ih kenapa di ajak ke dapur bu, Ayah belum juga ngobrol sama Alex." Ucapan Hasan membuat Maria kembali lagi ke ruang tamu.
"Nanti saja, masih banyak waktu, sekarang ibu mau ajak Alex masak dulu." Maria tertawa puas.
Di dapur Alex dan Maria sibuk memasak dan sesekali mereka tertawa karena ada hal-hal yang dianggap lucu.
Di ruang tamu, Nina mulai membuka obrolan kembali setelah Maria pergi.
"San, aku bahagia karena Alex bisa jatuh cinta sama Raina, kalau boleh jujur saat pertama kali aku mendengar Alex punya kekasih, aku sangat kecewa karena tadinya aku ingin sekali mengenalkan Alex pada Raina, dan ternyata rencana Tuhan begitu indah, pacar yang Alex bicarakan sama aku ternyata Raina." Nina mengelus Rambut Raina.
"Aku juga sering mendengar nama Alex dari Maria, karena Maria sering bertanya pada bi Asih tentang Raina di sini, dalam laporan bi Asih hampir setiap hari ada nama Alex yang dia sebut, aku tidak menyangka kalau Alex yang sering aku dengar adalah Alex anak mu." Tutur Hasan.
"Kamu sejak kapan kenal sama Alex, Rai?" Tanya Nina.
"Kak Alex guru aku di sekolah, aku sudah 1 tahun lebih kenal sama kak Alex." Raina menunduk karena serasa di interogasi oleh calon mertua.
Obrolan terus berlanjut hingga makanan pun siap di sajikan, Maria menata makanan di atas meja makan setelah semuanya siap dia pun mengajak yang lainnya untuk makan.
"Wuahhhh ... kayanya makan enak nih." Hasan menggeser kursinya dan duduk.
Mereka pun langsung menikmati makanan yang sudah di sajikan, setelah beres mereka pun kembali lagi ke ruang tamu.
"San, bukannya rumah mu itu di daerah xxx?" Nina memulai kembali obrolannya.
" Iya, aku lupa ngasih tahu kamu bahwa aku sudah pindah ke sini sejak Raina SMP." Jawab Hasan.
"Pantas saja aku tak menyangka kalau bisa bertemu kamu di sini." Pungkas Nina.
"Yah boleh gak aku ngobrol sama kak Alex?" Raina ragu takut ayahnya marah.
"Mau ngobrol apa? di sini saja biar kami mendengarnya." Goda Hasan.
"Ihhhh Ayah mah gak pengertian sama anak muda." Raina merajuk.
"Hahahaha ... Kamu tuh sudah punya pacar tapi gayanya masih kaya anak kecil, untung saja Alex tahan sama sikapmu." Hasan semakin tertawa melihat kelakuan anaknya.
Melihat ayahnya puas yang tertawa lebar, Raina hanya mendengus kesal.
__ADS_1
"Udah sana, ayah cuma bercanda kok." Hasan membelai rambut anaknya.
Raina langsung berdiri dan mengajak Alex untuk pindah ke ruang keluarga.
"Ada apa Rai ... " Tanya Alex setelah duduk di ruang keluarga.
"Aku bosen tahu, mendengar percakapan orang tua." Raina menghidupkan televisi.
"Kakak belum ngobrol apa-apa Rai sama ayah mu." Alex menatap Raina yang sibuk memainkan remote televisi.
"Kakak tahu gak, mereka tuh kalau sudah berkumpul bisa lupa waktu, lupa anak juga." Raina mengerucutkan bibirnya.
"Kamu yah, kakak makin gemes sama kamu." Alex mengacak-acak rambut Raina.
Di ruang tamu, Nina permisi untuk berbicara sama Alex, karena menurutnya ini di luar rencananya, Alex yang berniat mengutarakan kesungguhannya pada orang tua Raina, sekarang malah pergi dengan Raina.
Nina langsung menuju ruang keluarga karena dia mendengar suara Alex yang sedang ngobrol dengan Raina.
"Maaf Bunda ganggu sebentar ya, Lex bukannya kamu mau ngobrol dengan om Hasan?" Nina mengingatkan Alex akan tujuannya datang ke sini.
" Iya Bun, sekarang aku kesana." Alex tersenyum pada Nina.
"Yuk kita kumpul lagi dengan mereka Rai?" Alex berdiri sambil meraih tangan Raina. dan berjalan beriringan dengan Raina.
Setelah duduk di ruang tamu, Alex memulai obrolannya yang serius pada orang tua Raina.
"Om ... tante ..., sebelumnya saya minta maaf karena saya dan Raina telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan om dan tante, saya dan Raina sudah satu tahun menjalin hubungan, saya tidak pernah punya niat untuk mempermainkan hubungan kami, kalau om dan tante tidak keberatan saya ingin menjalani hubungan kami dengan lebih serius." Ucap Alex dengan penuh percaya diri.
"Syukurlah kalau kamu tidak pernah mempermainkan anak kesayangan om, om senang karena kamu sudah mau menjaga Raina."
"Seandainya Raina tidak terikat sebagai siswi SMA, saya berniat untuk menikahi Raina om." Tegas Alex dengan penuh keyakinan.
"Om akan selalu mendukung niat baik mu, semuanya om serahkan pada anak kesayangan om." Hasan kembali membelai rambut Raina.
"Yah ... ibu gak mau kalau Raina jadi bahan gunjingan kalau Alex sering datang ke sini saat kita tidak ada, sedangkan mereka tidak ada ikatan apapun." Maria mengemukakan keluh kesahnya karena melihat tetangganya yang selalu bergosip.
Alex yang mendengar ucapan Ibunya Raina, seketika perasaannya jadi down karena dia merasa ini adalah pertanda bahwa hubungannya dengan Raina tidak bisa seperti biasanya lagi.
__ADS_1