Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
sekamar


__ADS_3

Alex mulai melajukan mobilnya, dengan jarak kurang dari 100 meter penginapan yang di maksudpun sudah terlihat dan mereka sampai.


"Kamu yakin Rai mau tinggal di sini malam ini?" Tanya Alex.


"Kenapa?" Raina mengerutkan dahinya.


"Kakak khawatir aja bi Asih akan menunggumu." Alex menjelaskan kecemasnnya.


"Nanti kita telpon aja, lalu bagaimana dengan Kakak? apa gak ngasih kabar juga?" Raina balik bertanya.


"Kakak lupa ngasih tahu, ayah dan ibu sudah pulang kemaren malam." Alex tersenyum.


"Oh... ya udah kita turun yuk?" Raina membuka pintu mobil.


Alex dan Raina keluar dari mobil sambil berlari memasuki penginapan karena sedang hujan.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" sapa Receptionist.


"Kami mau menginap, 2 kamar ya." Alex menjawab singkat.


"Mohon maaf, di penginapan kami hanya tinggal satu kamar lagi, apakah mau diambil?" Tegas Receptionist.


"Coba di cek kembali, mudah-mudahan ada yang kosong." Alex menatap receptionist.


"Kamar kami hanya tinggal satu pak." Receptionist tersenyum.


"Rai disini hanya ada satu kamar yang tersisa, kita cari ketempat lain saja ya." Alex mengajak Raina pergi.


"Kita tanyakan saja pada receptionist nya letak penginapan yang dekat dari sini." Raina memegang tangan Alex.


"Bagaimana pak mau diambil tidak? karena ada konsumen kami yang lain sedang menunggu jawaban anda." Receptionist menegaskan kembali


"Kalau dari sini kira- kira dimana ada penginapan lagi?" Tanya Alex.


"Ini adalah penginapan terakhir pak, karena hampir semua penginapan sudah penuh, kebetulan penginapan yang ada sebelumnya adalah cabang kami juga, jadi gimana pak mau diambil atau tidak?" jelasnya


"Kita ambil saja mbak." Raina langsung membuat keputusan.


"Baiklah, mohon kami pinjam identitasnya pak." Receptionist mulai membuka buku tamunya.


Alex mengeluarkan KTP sambil menatap Raina.


"Kamu yakin Rai, kita sekamar loh." Alex mencoba untuk meyakinkan.


"Aku yakin 100%, kita kan cuma butuh tempat buat istirahat saja, biar besok kita bisa melanjutkan perjalanan kita." Raina dengan polosnya menjawab tanpa sadar dengan maksud pertanyaan Alex.


Setelah pengisian identitas petugas hotel mengantarkan mereka ke sebuah kamar.

__ADS_1


ceklek pintu kamar terbuka


Alex dan Raina masuk, Raina langsung menjatuhkan dirinya di kasur dan melihat Alex malah berdiri.


"Kakak kenapa berdiri?" Raina celingukan melihat ke sisi kiri kanan ternyata hanya ada satu tempat tidur.


"Emang Kakak harus ngapain?" Alex kemudian duduk di tepi kasur.


"Bagaimana ini, kenapa hanya ada satu kasurnya?" Raina menatap Alex.


"Tadi Kakak udah bilang kita cari penginapan yang lain, kamu sih main terima-terima aja." Alex membuang napas kasar.


"Jadi kita gimana? masa harus tidur bareng." Raina berpikir.


"Ya mau gimana lagi, dengan terpaksa." Alex menggoda Raina.


"Kakakkk.. awas ya." Raina panik.


"Ha... ha... ha... kenapa kamu takut?" Alex terus menggoda.


"Jangan macam-macam ya." Raina mengancam.


"Nggak bakalan, paling cuma satu macam saja." Alex asyik menggoda Raina


"kakakkkkk... " Raina memukul Alex dengan bantal.


"Ayo kamu tidur dulu, nanti kalau kamu udah tidur kakak keluar." Alex mendekati Raina.


Raina mencoba membenamkan matanya, dan terlintas dipikirannya kalau tidur di mobil nanti bahaya dong, bisa-bisa kakak... batin Raina dan dia langsung duduk.


"Kak udah tidur di sini saja bareng aku, kalau tidur di mobil nanti Kakak keracunan, kalau keracunan berarti..." Raina menggantungkan kalimatnya


"Kamu tuh paling senang ya menggantungkan kalimat kaya gitu, Kakak gak apa-apa kok, ayo tidur aja." Alex mencoba merebahkan Raina.


"Udah Kakak disini aja temenin aku, tapi janji jangan ngapa-ngapain." Raina memberi tempat untuk Alex tidur.


"Yakin kamu gak apa-apa?" Alex meyakinkan.


"Iya, asal janji Kakak jangan ngapa-ngapain." Raina menepuk bantal untuk Alex.


"Kamu percayakan Rai sama Kakak? Kakak gak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh sama kamu, karena Kakak mencintai kamu tulus, bukan sekedar hanya untuk main-main." Alex masang wajah seriusnya.


"Iya karena aku percaya Kakak gak bakal melakukan hal-hal yang aneh makanya aku mengajak Kakak untuk tidur bareng aku di sini." Raina tersenyum.


Mereka pun akhirnya berbaring di tempat tidur yang sama untuk pertama kalinya


perasaan yang bergejolak antara mereka begitu terasa, namun Alex mencoba untuk menjaga kehormatan Raina, karena baginya Raina adalah bunga yang akan dia petik setelah waktunya tiba.

__ADS_1


Malam pun telah larut, namun kedua sejoli ini masih belum membenamkan matanya, mereka berbaring sambil berhadap-hadapan.


Alex terus membelai rambut Raina sambil mereka membicarakan hal-hal yang lainnya


Raina merasa sangat dicintai dan merasa sangat nyaman, hingga akhirnya tak terasa dia pun tertidur, setelah melihat Raina tertidur Alex mencium kening Raina kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan tidur di kursi.


Malam yang begitu mencekam membuat Raina terbangun dari tidurnya, dia bermimpi buruk, Alex yang mendengar Raina berteriak dia langsung bangun dan memeluk Raina.


"Kamu kenapa Rai?" Alex mengusap-usap kepala Raina.


"Aku mimpi buruk Kak, aku takut." Raina makin erat memeluk Alex.


"Itu cuma mimpi, sekarang tidur lagi, ada Kakak disini, jadi gak usah takut ya." Alex mencium kening Raina.


Raina pun mulai membenamkan matanya kembali, Alex mengusap-usap kepala Raina, supaya Raina bisa tidur lagi, dan ternyata benar Raina tidur tak lama kemudian Alex juga tidur.


Malam pun berganti dengan siang, pagi ini mereka bangun dengan cukup semangat karena akan melanjutkan perjalanan kembali,


mereka bergantian untuk membersihkan diri mereka, setelah selesai mereka langsung pergi dan sebelum melanjutkan perjalannya mereka mencari sarapan dulu, karena gara-gara insiden longsor mereka tidak sempat makan lagi.


Setelah sarapan mereka langsung menyusuri jalanan yang begitu menantang karena bekas hujan semalam, maka Alex sangat berhati-hati dalam mengemudikan mobilnya.


"Ini adalah ulang tahunku yang paling spesial, dari pagi sampai pagi lagi aku bersamamu." Raina tersenyum sambil menatap Alex.


"Syukurlah.. tapi cukup hanya kali ini saja ya." Alex tersenyum jahil.


"Kenapa?" Raina antusias.


"Kalau terjadi lagi, Kakak gak bisa ngebayangin bakalan memangsa kamu." Alex tertawa.


"Emangnya aku makanan hewan buas." Raina polos.


Alex tertawa terbahak-bahak, Raina hanya mengerutkan keningnya pertanda dia tidak mengerti yang diucapkan Alex.


Perjalanan yang cukup melelahkan, karena medan jalan yang curam, Alex tidak bisa melajukan kendaraannya dengan cepat, bahkan dia mengemudikannya dengan kecepatan sangat lambat.


"Untung hari ini kita libur ya Kak, kalau tidak, maka akan jadi gosip satu sekolah kalau kita pergi kencan." Raina mulai tersenyum membayangkannya.


"Gak bakalan ada yang bergosip tentang kita Rai, karena mereka tidak akan tahu kita pergi bareng." Alex membuyarkan lamunan Raina.


"Lebih baik kita publikasikan hubungan kita Rai, kita mulai dari teman terdekat kita dulu, setelah itu baru orang lain, soalnya Kakak pengen bebas mengajak kamu pulang bareng, mengajak kamu ke sekolah bareng dan pergi jalan-jalan sama kamu tanpa dihantui rasa takut." Alex menatap Raina dengan tatapan penuh keyakinan.


"Jangan sekarang Kak, aku belum siap dengan respon mereka semua, beri aku waktu ya." Raina memelas.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama karena pada akhirnya mereka juga akan tahu dengan sendirinya." Alex tersenyum.


Mereka terus menyusuri jalan yang bisa di bilang tidak padat tapi tidak bisa mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, setelah hampir 2 jam lebih mereka baru sampai ke perbatasan kota dengan jalan yang sudah mulai stabil, dan ini disambut baik oleh Alex juga Raina.

__ADS_1


__ADS_2