
Alex yang melihat Raina sedang tertawa dengan Shabi enggan untuk menemui mereka, dia mencoba untuk menelpon Raina, diambilnya ponsel dari dalam saku celananya kemudian menekan nomor ponsel Raina.
Raina yang saat itu sedang asyik ngobrol dengan Shabi merasakan ponselnya bergetar di saku celananya, dia merogoh saku celana kemudian dilihatnya di bawah meja.
Pak Alex calling ....
"Maaf aku angkat telepon dulu ya." Raina dengan panik menjauh dari Shabi untuk menjawab telepon dari Alex.
Raina : Maaf nanti aku telepon lagi.
tuuuttt... tuuutttt... tuuutttt
Sambungan telepon di putus oleh Raina, dan dia langsung menuju meja di mana dia duduk bersama Shabi.
Raina mulai panik, karena takut ketahuan oleh Shabi kalau Alex menelponnya, Raina pun tidak menjawab panggilan kedua dari Alex.
ddrrtt.. ddrrttt... ddrrttt
pak Alex calling ...
Alex yang tadinya tidak akan menemui Raina sekarang jadi penasaran dengan Raina dan Shabi akhirnya dia mulai menuju masuk ke tempat Raina duduk bersama Shabi.
Jangan salahkan kakak Rai, kalau kakak mememuimu sekarang, kalau kamu memberi kesempatan kakak untuk bertanya di telepon, kakak tidak akan mengganggumu. Batin Alex.
Alex berjalan sambil terus melihat ke arah Raina, hingga sampailah ketempat dimana Raina berada setelah hampir mendekati meja Raina, tiba-tiba Shabi melihat kedatangan Alex.
" Pak. " Shabi berdiri sambil menyapa Alex.
"Hai.. lagi apa?" Alex sengaja mengeraskan suaranya supaya terdengar oleh Raina.
S**uara itu.. ohh no... kakakkkkk... Tamatlah riwayatku. Batin Raina berontak ketika dia melihat Alex dengan wajah datar menatapnya.
" Mari gabung sama kami pak, ini ada Raina juga." Shabi memberikan kursi untuk Alex duduk.
"Apa Bapak tidak mengganggu kalian?" Alex sambil duduk antara Shabi dan Raina.
M**aksudnya apa coba bilang kaya gitu? kenapa aku jadi makin deg-degan kaya gini ya." Batin Raina.
"Ah Bapak bisa aja." Shabi terus menjawab pertanyaan Alex karena Raina tidak bicara sepatah kata pun.
__ADS_1
K**enapa kamu tidak bicara Rai, ada apa sebenarnya? kenapa kamu gak bilang mau kesini, apa kalian punya hubungan? baiklah kalau kamu gak bicara berarti aku juga tidak akan mengajakmu bicara "Batin Alex mulai menduga-duga dan kesal pada Raina.
Shabi yang terus-menerus mengajak Alex berbincang dia berhenti saat Raina pamit pulang.
"Saya duluan ya, permisi." Raina berdiri dan langsung meninggalkan Shabi dan Alex, dia pun tak menghiraukan Shabi yang terus menerus memanggilnya dan mengejarnya.
Melihat Shabi yang langsung mengejar Raina ke depan membuat Alex marah, dia mengeraskan rahangnya saat melihat Shabi mengejar Raina, dan Alex pun mengikuti mereka.
K**akak pasti salah paham, dia marah, aku harus menghindar dulu biar keadaan tenang dulu. Batin Raina yang terus-menerus membuatnya jadi salah tingkah.
Raina berjalan keluar mall sambil setengah berlari, dia ingin segera keluar dari tempat ini, namun lift nya lama, dia pun berjalan menggunakan eskalator.
Shabi yang tengah mengejar Raina terhenti saat Alex menghentikannya, dia berpamitan pada shabi karena harus meneruskan belanjanya.
"Bapak duluan ya, maaf telah mengganggu waktu kalian." Alex pergi dengan menahan kemarahannya, dia pun akan pergi meninggalkan mall.
Shabi pun berhenti mengejar Raina karena mungkin Raina sudah keluar dari mall tersebut.
Alex berhasil mengejar dan menemukan Raina, sambil berlari Alex langsung meraih tangan Raina dan membawanya ke tempat parkiran dimana mobilnya terparkir.
Alex tidak bicara apapun pada Raina, begitu juga sebaliknya, mereka hanya perang batin saja.
Tuh kan dia marah, aku harus gimana, tolong aku Tuhannnnn. Raina sambil melihat ke atas langit.
Kamu hutang penjelasan Rai, berani-beraninya kamu pergi sama laki-laki lain. Alex mulai mengeraskan pegangannya,
Sakit tahu ... kenapa dia jadi sekejam ini sama aku, mau bilang sakit tapi takut. Raina mulai meringis merasakan tangannya sakit.
Sampailah mereka di tempat mobil Alex terparkir.
"Masuk!" Alex melepaskan tangan Raina dan dia pun masuk ke mobil.
Raina tidak menjawabnya, dia hanya menuruti perintah Alex, dia pun ikut masuk.
Alex melajukan kendaraannya dengan kecepatan tidak seperti biasanya, Raina merasa ketakutan hingga dia memberanikan diri untuk bicara.
"Bisa pelan gak? kalau nggak aku turun." Raina menunjukkan kemarahannya tapi tidak di respon oleh Alex.
"Kakak dengar gak, bisa pelan gak nyetir mobilnya." Raina menoleh ke arah Alex.
__ADS_1
cekiiiiitttttttt... mobil di rem hampir sekaligus oleh Alex.
" Aduhhh...." Raina melihat ke arah Alex dengan kesal.
"Kenapa telepon Kakak gak dijawab?" Alex berbicara dengan wajah datarnya.
Raina diam tidak menjawab.
"Kenapa kamu bisa bareng sama si Shabi? apa kalian janjian? ohhh ya ... ya ... tadi waktu pulang kamu pura-pura nunggu orang lain pulang dulu padahal kamu lagi buat janji sama si Shabi? jangan-jangan kamu pacaran sama si Shabi? Alex sambil tertawa meremehkan.
"Kalau kamu tidak percaya sama aku, ngapain kita melanjutkan hubungan ini, aku gak butuh sama orang yang tidak mempercayai pasangannya." Raina menahan tangisnya sambil keluar dari mobil.
"Tunggu." Alex pun keluar dari mobilnya dan menarik tangan Raina kembali.
"Lepasin gak, kalau tidak aku akan berteriak." Raina menangis sambil mencoba melepaskan tangan Alex.
Tanpa menghiraukan ancaman Raina, Alex membawanya kembali masuk kedalam mobil.
hikk... hikk.. hikk.. Raina menangis
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku." Alex mencoba menahan emosi tapi nyatanya dia tetap marah.
"Kamu tahu rasanya di khianati? sakit Rai.. sakittt.., kamu pikir tadi Kakak menelponmu itu untuk apa hah? Kakak cuma ingin tahu kamu lagi ngapain bersama si Shabi, tapi apa yang kamu jawab, kamu terkesan sedang tidak mau diganggu oleh siapa pun." Alex mulai meluapkan emosi nya.
"Hikks.. hikks karena aku tidak ingin Shabi tahu, hiks..hiks..hiks." Raina menangis sesegukan.
"Kenapa shabi tidak boleh tahu? karena dia pacarmu, begitukan?" Alex mulai tidak terkontrol emosinya.
"Hikks..hikks... Maaf sepertinya kamu sudah tidak percaya, percuma aku jelasin juga, terserah kamu saja, silahkan nilai aku semau kamu saja." Raina keluar dari mobil lagi namun sekarang tidak bisa dihentikan Alex, karena Raina keburu naik angkot.
Alex frustasi dengan perasaannya, dia marah dan kecewa pada Raina
kenapa dia seperti ini. Alex bergumam sambil tangan memukul stir.
Di angkot Raina mencoba menyeka air matanya sendiri, namun air mata Raina mengalir terus bagaikan kran yang tidak bisa di tutup.
K**enapa dia menuduh aku seperti itu, aku terlanjur sakit hati, sepertinya kita memang tidak cocok, lebih baik aku mundur saja. Raina meyakinkan diri untuk mengakhiri hubungannya.
Alex masih terdiam di dalam mobil, dia hanya melamun dan berpikir kenapa Raina seperti ini, Alex mulai mengingat kembali perjuangannya dulu mendekati Raina, dia berpikir perjuangan yang begitu dia harapkan kenapa harus berakhir seperti ini.
__ADS_1