Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Alot tapi pasti


__ADS_3

"Ayah ... Ibu ... Aku sudah bertemu lagi dengan bunda, sekarang bunda sedang ada di rumah aku. Terima kasih Yah, berkat Ayah aku bisa bertemu lagi dengan bunda. Bahkan aku bisa merasakan hangatnya pelukan bunda yang sudah lama tidak pernah aku rasakan." Alex menjeda ucapannya dan diraihnya tangan Nisa.


"Ibu ... Terima kasih karena ibu sudah memberi aku kehidupan, sudah memberi aku kasih sayang, ibu akan selalu ada di hati aku, aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpa ibu. Ibu yang selalu ngasih support tanpa lelah, perhatian dan kasih sayang ibu belum bisa aku balas." Alex memeluk ibu sambungnya.


"Ibu bahagia Nak, syukurlah kamu masih bisa bertemu dengan bunda, Ibu merasa bersalah karena telah memisahkan kalian Nak." Nisa menahan tangisnya supaya tidak pecah.


"Semuanya telah berlalu Bu, mulai sekarang aku tidak ingin kehilangan kalian lagi, aku merasa menjadi orang yang paling beruntung karena memiliki dua orang ibu yang menyayangi aku dengan tulus." Alex menggenggam tangan Nisa.


"Maksud aku kesini ... Aku ingin minta restu Ayah dan ibu untuk pernikahan aku dengan Raina." Sambung Alex.


"Menikah?" Sardi terkejut mendengar ucapan Alex.


"Raina gadis yang waktu itu kamu kenalin sama kita? Tambah Nisa.


"Iya, Raina." Jawab Alex.


"Kamu jangan bercanda Lex, dia kan masih anak SMA, masa iya kamu mau menikah dengan anak sekolah, apa jangan-jangan kamu sudah menghamilinya?" Selidik Sardi.


"Hus ... Ayah gak boleh bicara seperti itu, Nak bisa kamu jelaskan pada kami ! kenapa kamu mau menikah secepat ini padahal Raina masih sekolah?" Sahut Nisa.


"Ayah dan ibu tenang saja, saya tidak serendah itu Yah hingga membuat anak orang hamil di luar nikah. Dari awal aku sudah serius menjalani hubungan dengan Raina, hingga kemarin aku bertemu dengan orang tuanya dan meminta ijin untuk menjalani hubungan kami dengan serius, karena orang tua Raina jarang ada di rumah mereka berharap aku bisa menjaga Raina, aku takut khilap Yah, hingga akhirnya aku langsung meminta ijin untuk menikahinya dan mereka setuju, kami akan menikah secara agama dulu , nanti setelah Raina lulus baru akan didaftarkan ke negara, dan tanpa dugaan orang tua Raina adalah sahabat bunda. Kami merasa senang karena ternyata orang tua kami sudah saling mengenal." Jelas Alex dengan panjang lebar supaya bisa meyakinkan ayahnya untuk merestuinya menikah.


"Ibu hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia, ibu akan memberi restu ibu untuk mu Nak." Nisa tersenyum ramah pada Alex.


"Apa tidak bisa ditunda Lex? Ayah takut nanti ketahuan oleh pihak sekolah kalau kalian menikah, itu kan melanggar aturan sekolah." Sardi Khawatir dengan apa yang akan Alex lakukan.


"Kita akan berusaha untuk menutupinya Yah, Hanya butuh waktu 6 bulan untuk menutupi semuanya sampai Raina ujian ... Alex yakin semuanya akan lancar." Alex meyakinkan.

__ADS_1


"Percayakan saja sama Alex Yah, ibu yakin Alex sudah memperhitungkan semua resiko yang mungkin timbul, kita hanya perlu mendoakan saja supaya semuanya lancar." Nisa ikut meyakinkan suaminya.


"Tunggulah sampai dia benar-benar lulus Lex, atau kamu cari saja wanita yang sudah tidak terhalang oleh status sekolah." Sardi mencoba menghalangi niat Alex.


"Mencari wanita lain? Bagi ayah ini mudah tapi bagi aku ... aku tidak bisa langsung berpaling pada wanita lain begitu saja." Sarkas Alex.


"Kenapa ayah bicara seperti itu?" Nisa ikut kesal dengan ucapan suaminya.


"Maksud ayah ... biar tidak repot bu." Sardi seolah kehilangan kata-kata.


"Repot apa Yah? aku sudah memikirkan ini sejak setahun yang lalu, aku sudah mempertimbangkan semua resiko yang mungkin kita hadapi, aku udah memikirkannya dengan matang, tapi ayah hanya dengan satu kalimat saja sudah membuat harapan aku pupus, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah." Alex mulai memperlihatkan kemarahannya.


"Ayah hanya ingin pendamping hidup mu itu yang seusia dengan mu, ayah tidak ingin kamu direpotkan oleh sikapnya yang manja dan emosinya yang labil, ayah ingin yang terbaik untuk mu." Jelas Sardi


"Terima kasih karena ayah sudah peduli sama aku, tapi aku yakin Raina mampu mengimbangi aku, dewasa tidak bisa di ukur dengan usia Yah." Alex mengeraskan rahangnya karena semakin menahan emosinya.


"Kamu istirahat dulu ya, ini sudah malam ... besok kita bicarakan lagi." Nisa menuntun Alex masuk ke kamar.


"Kamu tenang ya ... ibu akan mencoba memberi pengertian sama ayah mu, ayah mu hanya khawatir saja, berikan waktu pada ayah untuk memikirkan semua ini." Nisa mengusap-usap punggung Alex.


" Terima kasih bu." Alex masuk kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Di ruang keluarga Sardi masih menikmati kesendiriannya karena Nisa sudah berada di kamarnya.


Nisa yang masih belum mendapat tanda-tanda suaminya masuk ke kamar dia pun beranjak ke luar kamar, dilihatnya Sardi sedang memikirkan sesuatu karena tangannya terus memijat pelipisnya.


"Kenapa belum tidur? Gak baik tidur malam-malam di usia seperti kita ini, Ayo ..." Ajak Nisa.

__ADS_1


"Bu ... apa ucapan ayah tadi menyinggung Alex?" Tanya Sardi.


"Ibu paham dengan ke khawatiran ayah sama Alex, tapi kita sebagai orang tua hanya mampu mendoakan anak kita, mudah-mudahan pilihan anak kita akan membawa kebahagian, dan satu hal yang ibu tidak setuju dari ayah, kenapa harus menyuruh Alex mencari wanita lain? ibu juga tersinggung yah." Jawab Nisa.


"Ayah akan mencoba bicara lagi besok sama Alex." Sardi menarik napas berat dan beranjak pergi dari ruang keluarga dengan di ikuti oleh istrinya.


Pagi hari seperti biasa Alex bangun pagi dan joging di sekitar jalan dekat rumah ayahnya. Setelah hampir satu jam Alex kembali lagi ke rumah untuk bersiap-siap pulang lagi ke rumahnya.


Saat masuk Alex melihat ayah dan ibunya sedang duduk di meja makan untuk sarapan.


"Sini sarapan dulu Lex." Nisa berdiri dan menarik kursi untuk Alex.


"Aku mandi dulu bu, badan aku lengket karena keringat." Alex masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Alex langsung bersiap untuk pulang ke rumahnya


"Kenapa pada belum sarapan? Alex menuju meja makan dan duduk di hadapan Nisa.


"Kita nunggu kamu, biar bisa sarapan bareng." Ucap Nisa dengan senyum ramahnya.


Setelah selesai sarapan, Sardi langsung membuka obrolannya kembali.


"Tanggal berapa acaranya? biar nanti ayah bisa mengosongkan pekerjaan." Ucap Sardi.


"Ayah ... ayah serius mau datang?" Alex tidak percaya dengan yang baru saja di dengarnya.


"Anak ayah cuma satu, kalau ayah tidak datang berarti ayah akan melewatkan momen yang paling berharga." Sambung Sardi

__ADS_1


"Ayah ... maafkan aku, terima kasih Yah ..." Alex langsung berhambur memeluk ayahnya.


__ADS_2