
Dua minggu sudah waktu berlalu, Raina sudah mulai terbiasa tinggal di kota X, setiap pagi selalu saja Maria yang membangunkan Raina, karena hampir setiap malam Alex menelpon atau mengirimnya pesan hingga larut malam, sehingga setiap pagi Raina masih terlelap dalam tidurnya.
Pagi ini pun Maria begitu kesusahan untuk membangunkan putri semata wayangnya, dengan berbagai cara dia membangunkan Raina namun tetap sang putri belum juga mau bangun.
"Rai... Bangun sayang." Maria menggoyang - goyangkan tubuh Raina.
"Bentar lagi Bu ... aku masih ngantuk hoaaaammm." Raina menguap
"Bangun cepat, lihat tuh udah jam 10 Rai." Maria masih belum menyerah dan menunjuk ke arah jam dinding di kamar Raina.
"Apa.. jam 10? kenapa ibu baru bangunin aku." Raina langsung lari masuk ke kamar mandi.
Sekitar 20 menit Raina di kamar mandi kemudian dia keluar dan langsung memakai baju dan merias dirinya, dia sangat buru-buru sekali karena hari ini Raina akan ikut ke kantor ayahnya.
Raina bergegas turun ke bawah, dia berlari menuruni tangga namun sampai di bawah, dia mendapati ayah dan ibunya sedang tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil mengerjai anaknya.
"Kenapa ayah belum berangkat? dan juga kenapa kalian tertawa seperti itu?" Raina bingung dan mendekati orang tuanya.
"Kami senang melihatmu yang sangat semangat Nak." Hasan menutup mulutnya sambil menahan tertawa.
"Aku gak ngerti, sumpah." Raina mencoba meminta penjelasan dan melirik pada Maria.
"Maafkan Ibu ya Nak, Ibu cuma iseng saja, habisnya kamu Ibu bangunin tiap hari gak pernah langsung bangun, makanya Ibu merubah jam yang ada di kamarmu supaya lebih cepat, Ibu cuma menambahkan 2jam saja kok." Maria menatap Raina sambil menahan tertawa juga.
"Ibuuuu... curang... aku pikir sekarang udah jam 10, makanya aku buru-buru, takut ayah nunggu aku lama di kantor, tahunya ayah masih di rumah." Raina Kesal dan bermanja ke ayahnya.
"Maafin Ibu ya, ayo kita sarapan dulu, nanti keburu siang berangkat ke kantornya." Maria menggiring Hasan dan Raina ke meja makan.
__ADS_1
Namun tidak seperti biasanya, Hasan yang biasanya anti bicara saat di meja makan sekarang dia mengajak berbicara saat sarapan, dan pembicaraan itupun begitu serius.
" Rai ... Kamu pindah ke sini saja ya? biar kita bisa berkumpul seperti ini." Hasan memulai pembicaraannya dengan wajah yang serius.
"Iya Rai, biar Ibu dan ayah tenang, gak kepikiran kamu terus." Maria menguatkan pendapat Hasan.
"Kenapa tiba-tiba Yah?" Raina langsung tidak berselera sarapan.
" Kita lihat kamu betah dan senang tinggal di sini, apa Ayah salah lihat?" Hasan menatap serius ke arah Raina.
"Aku senang tinggal di sini, tapi aku gak kepikiran buat pindah ke sini, lagian aku sekolah tinggal satu tahun lagi Yah, tanggung kalau harus pindah sekolah." Raina mencoba meyakinkan Hasan.
"Kamu pikirkan dulu saja ya Rai, mungkin nanti bisa berubah." Hasan melanjutkan sarapannya.
Raina hanya mengganggukkan kepalanya, dia masih bingung dengan tawaran ayahnya, yang jelas dia tidak mau pindah sekolah, selain sudah betah sekolah di sana juga salah satu alasannya yang paling berat adalah Alex.
Raina terus memutar otaknya untuk mencari alasan yang paling tepat menolak ajakan orang tuanya, di sisi lain Raina sangat senang bisa berkumpul dengan orang tuanya, namun di sisi lain dia tidak ingin pindah-pindah sekolah karena harus adaptasi lagi dengan situasi yang belum tentu bisa senyaman di sekolahnya sekarang.
Raina pergi bersama orang suruhan ayahnya tersebut, dia melihat-lihat ke sekeliling kantor, saat sedang asyik ngobrol tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya, dia adalah Andi pemilik dari perusahaan tempat ayahnya bekerja.
"Raina ... Sedang apa Nak?" Andi mendekati Raina.
"Ehh om saya lagi lihat-lihat kantor om ternyata desain kantornya benar-benar keren om." Raina mengacungkan dua jempolnya.
"Wah, terima kasih atas pujiannya, bagaimana kalau om temani keliling kantornya." Andi memberi isyarat pada orang suruhan Hasan untuk pergi, kemudian Andi mengajak Raina untuk melanjutkan melihat-lihat kantornya.
Andi adalah pemilik perusahaan tempat ayah Raina bekerja, dia tidak memiliki anak, dia begitu menyayangi pada setiap anak dari karyawan-karyawannya, sehingga alasan diadakannya acara 3 bulan sekali itu semata-mata dia ingin melihat anak-anak dari para karyawannya, dia selalu merasa bahagia ketika semua karyawan bisa berkumpul bersama keluarganya.
__ADS_1
Meskipun tidak memiliki anak, namun setiap anak dari karyawannya dia anggap sebagai keluarganya yang selalu memberi kesan di hati Andi, pertama kali melihat Raina dia begitu sangat bahagia karena bisa bertemu dengan anak dari orang kepercayaannya itu, karena ini baru pertama kalinya Andi bertemu secara langsung dengan Raina.
Sikap Raina yang ramah dan mudah bergaul, tidak menyulitkan Andi untuk bisa langsung akrab dengannya, sehingga hari ini Pun Andi berencana untuk mengajak Raina jalan-jalan sambil minum di cafe depan kantornya.
"Rai temanin om minum di cafe yuk, om ga ada teman ngobrol." Andi menunjuk cafe dari atas gedung.
"Boleh om, tapi aku pamit dulu sama ayah ya, takut ayah nyari-nyari." Raina mengeluarkan ponselnya.
Setelah mendapat izin dari ayahnya, Raina pun pergi ke cafe dengan Andi.
Cafe yang ditunjuk oleh Andi ternyata cafe miliknya juga, sehingga ketika Andi masuk dengan Raina karyawan di sana sudah mengenal Raina karena waktu itu pernah dikenalkan oleh Hasan saat acara pertemuan keluarga.
Andi menceritakan tentang kisahnya membangun perusahaan hingga urusan pribadipun dia utarakan pada Raina, dia begitu senang bisa ngobrol dengan Raina, dan Rainapun begitu nyaman bisa ngobrol dengan Andi padahal ini baru pertama kalinya mereka ngobrol bersama.
Andi membayangkan jika dirinya mempunyai anak pasti dia tidak akan kesepian seperti sekarang, punya anak begitu menyenangkan karena bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk ngobrol saja.
Setelah puas ngobrol dan jalan-jalan sama Raina, Andi pun mengajaknya untuk masuk lagi ke kantor, karena khawatir Hasan menunggu Raina.
ceklek pintu ruangan Hasan dibuka
"Sayang sudah puas jalan-jalan nya?" Hasan sekilas melihat Raina dan matanya tertuju pada laptop lagi
"Aku puas banget yah, om Andi orangnya baik juga ya, tapi kasihan gak punya anak." Raina duduk di kursi.
"Hus... jangan bilang seperti itu, semua anak dari karyawan disini adalah anaknya, termasuk kamu Rai." Hasan menghampiri Raina.
Kemudian Hasan menjelaskan alasannya mengajak Raina pindah adalah salah satunya atas permintaan Andi, kalau Raina pindah ke sini Andi ingin sekali-kali Raina bisa datang kerumahnya untuk menghibur istrinya.
__ADS_1
Namun Raina tetap menolak ajakan ayahnya untuk pindah ke kota X karena dia tidak mau pindah-pindah lagi.
Hasan pun tak bisa memaksa lagi, karena dia tidak ingin anaknya terpaksa mengikuti keinginannya, dan dia tidak mau jadi orang tua yang egois, hingga Hasan pun memberi kebebasan Raina untuk memilih dan menentukan mau tinggal dimana, namun seandainya Raina mau ikut pindah ke sini, ayahnya akan sangat bahagia sekali.