
Alex terus menunggu Raina pulang. Namun sudah hampir jam delapan malam Raina belum menampakkan batang hidungnya.
Tidak perlu berpikir panjang lagi Alex langsung menyambar kunci mobil dan melajukan kendaraannya menuju kediaman orang tua Raina.
Pikiran Alex melayang kemana-mana. Takut Raina melakukan hal-hal yang tidak diinginkan mengingat ucapan Raina terakhir yang ingin menggugurkan kandungannya.
Setelah sampai di depan rumah Alex langsung menekan bel dan tak lama bi Asih datang membuka pintu.
"Raina di mana bi?" Ucap Alex saat bi Asih membuka pintu.
"Ada di kamarnya." Sahut Bi Asih, dengan secepat kilat Alex langsung naik dan mengetuk pintu kamar Raina yang memang dikunci.
"Rai ... Rai ... Buka pintunya sayang ..." Alex mengetuk-ngetuk pintu kamar Raina.
"Rai ... Rai ... kamu tidak apa-apa kan? buka pintunya Rai ...." Alex terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Raina.
Setelah hampir sepuluh menit akhirnya Raina membuka pintu kamarnya sambil mengucek-ngucek matanya khas orang bangun tidur.
"Apaan sih ganggu orang tidur aja." Raina menguap sambil menjatuhkan diri lagi di tempat tidur.
"Kakak khawatir kamu kenapa-kenapa Rai ... ditungguin dari tadi sore gak ada, ditelepon juga gak aktif." Alex mengikuti langkah Raina.
"Aku kan udah bilang tadi pagi kalau aku mau pulang ke sini." Raina menunjukkan wajah tidak bersahabatnya.
"Iya ... Tapi kan kamu gak bilang kalau mau tidur di sini." Sambung Alex.
"Aku gak mau pulang ! kakak pulang aja sendiri." Raina menyelimuti lagi badannya hingga menutup badannya sampai kepala.
"Ya udah kalau kamu tidur di sini Kakak juga akan tidur di sini." Alex beranjak dari tempat tidur dan turun ke bawah.
Merasa suaminya keluar dari kamar Raina buru-buru membuka selimutnya karena dirinya merasa kehabisan napas.
"Bi ... Raina udah makan belum?" Alex sengaja bertanya pada bi Asih karena takut dia belum makan.
"Belum Den. Tadi bibi udah mencoba membangunkan Non Raina tapi, pintunya dikunci dari sejak pulang sekolah tadi." Ucap bi Asih yang merasa khawatir anak majikannya sedang gencatan senjata.
"Dari pulang sekolah?" Alex mengulang kalimat bi Asih.
"Iya." Jawab bi Asih pendek.
Alex langsung membawa makanan ke atas untuk Raina, dalam hatinya dia terus menerus menggerutu namun tidak berani dia utarakan karena takut Raina makin marah.
"Rai ... makan dulu ya ..." Alex langsung to the point saat melihat Raina yang sedang duduk menyender di kepala kasur.
__ADS_1
"Aku pengen makan ayam bakar." Ucapnya manja.
"Kakak beli dulu ya ..." Alex beranjak namun Raina menghentikannya.
"Aku ikut ..." Raina dengan wajah memelasnya namun tetap dengan ekspresi dingin.
"Ayo ..." Alex menarik tangan Raina lembut.
Alex tersenyum bahagia melihat Raina yang sudah mulai ingin makan sesuatu. Alex tidak mempermasalahkan sikap dingin Raina. Baginya yang terpenting adalah sekarang Raina sudah mau makan saja sudah cukup.
Alex terus menggenggam tangan Raina saat mereka berada di pusat jajanan malam.
"Mau makan di sini atau di rumah?" Tanya Alex saat mereka sampai di kios penjual ayam bakar.
"Di sini aja." Jawab Raina singkat.
Alex tersenyum dan memesan ayam bakar untuk mereka berdua. Mereka duduk berdampingan karena saat ini kios penjual ayam bakar sedang ramai oleh pengunjung yang makan di tempat.
Tidak dipungkiri Raina sangat merasa nyaman ketika duduk berdampingan dengan Alex seperti ini. Entah refleks atau sengaja Raina menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.
"Kamu pusing lagi Rai ..." Tanya Alex saat Raina menyenderkan kepalanya.
"Enggak." Jawab Raina singkat.
Senyum Alex langsung mengembang lagi. Menurutnya Raina sekarang sudah mulai bisa bersikap manis lagi tidak sedingin saat dia menemuinya tadi.
Pesanan sudah datang dan tinggal dinikmati. Tanpa bertanya ataupun berbasa basi Alex langsung menyuapi Raina.
Raina yang sudah terbiasa di suapi oleh Alex, dia langsung menerima saat Alex menyuapi makanan ke mulutnya.
Lagi-lagi banyak mata yang memandang ketika Alex menyuapi istrinya dengan telaten. Orang lain ada yang memandang suka dan tidak suka terhadap apa yang Alex dan Raina lakukan saat ini. Namun Mereka tidak menghiraukannya.
"Udah Kak ... Aku kenyang." Ucap Raina saat Alex akan menyuapinya lagi.
"Aku ingin makanan yang lainnya juga, kalau sekarang makan banyak nanti gak bisa nikmati makanan yang lain." Raina tersenyum.
"Iya." Alex tersenyum bahagia karena menurutnya sikap Raina sudah tidak sedingin tadi.
Ternyata selama berada di dalam kamar setelah pulang sekolah tadi Raina mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Dia berusaha mencari tahu tentang seputar ibu muda yang hamil.
Raina membuka aplikasi yang ada di ponselnya dan dia menemukan beberapa video yang menyentuh hatinya.
Raina melihat video seorang bayi yang tengah diajak bermain oleh orang tuanya. Dia begitu tersentuh ketika melihat kebahagiaan yang terpancar dari pasangan orang tua tersebut.
__ADS_1
Raina belum pernah merasakan kehadiran saudara lain karena dirinya anak tunggal sehingga dia tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan segera mendapatkan kehadiran seorang anak.
Setelah mendapat beberapa artikel seputar kehamilan dan video bayi. Perlahan dia mengelus perutnya yang masih rata.
Sepanjang mereka berjalan Raina terus bersikap manja pada suaminya. Saat sedang duduk atau pun berjalan Raina tidak henti-hentinya mengelus perutnya sendiri.
"Kenapa Rai ... ada yang sakit?" Alex ikut mengelus perut Raina.
"Enggak." Raina menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Alex mengernyitkan dahinya.
"Aku gak nyangka aja ... di sini ada janin calon anak kita." Jawab Raina sambil tersenyum.
"Maafin Kakak ya." Alex tersenyum sambil mengelus perut Raina.
"Mau beli apa lagi?" Sambung Alex.
"Aku mau cuanki." Raina menunjuk ke kios penjual cuanki.
"Tapi jangan pake sambel ya." Sahut Alex.
"Sedikit ... boleh ya?" Rengek Raina.
"Heemmm." Alex langsung memesan satu porsi cuanki untuk istrinya.
"Jangan disuapi ya ... Aku pengen makan sendiri." Ucap Raina saat cuanki disajikan.
"Pelan-pelan Rai..." Alex memberikan air minum ketika melihat Raina yang makan cuanki ke pedesan.
"Asli ini enak Kak ... Mau nyobain?" Raina menyodorkan sendok ke mulut Alex dan Alex menerimanya.
"Ya ampun Rai ... ini pedes banget." Alex langsung mengipas-ngipas mulutnya karena merasa seperti terbakar.
"Hahaha .... Jangan marah ini kemauan anak kamu juga." Raina tertawa lepas.
"Apapun akan Kakak lakukan untuk membuatmu tidak marah lagi." Alex kembali mengipas-ngipas mulutnya.
Setelah menghabiskan satu porsi cuanki kini mereka berjalan lagi untuk kembali ke rumah.
"Pulang ke rumah aja yuk." Ucap Raina sambil bergelayut manja pada suaminya.
"Gak jadi nginepnya?" Sahut Alex meyakinkan lagi.
__ADS_1
"Enggak ah."
Alex hanya tersenyum melihat perubahan sikap Raina yang berubah-ubah. Namun dia sangat bersyukur setidaknya hari ini Raina sudah mau makan.