
Alex akan berusaha bersikap profesional saat di tempat kerja, dia akan memperlakukan Lia sama seperti pada rekan temannya yang lain, Alex harus mampu untuk melakukan itu karena jika tidak maka semua orang akan menganggapnya aneh bahkan akan menimbulkan kecurigaan.
Alex berjalan dengan gontai menuju ruang guru, dia mencoba bersikap seperti biasa, namun entah apa yang telah dibicarakan Lia pada teman-temannya yang lain, karena saat Alex masuk ke ruang guru sebagian teman-temannya langsung bertanya tentang kedekatannya dengan Lia.
Alex hanya menjawab sama persis dengan jawaban yang dia berikan pada Arman, bahwa dia dan Lia hanya satu universitas saja.
*A*ku rasa jawaban ini lebih tepat, karena dia tidak mungkin mengungkapkan kebenarannya, jika dia berani mengungkapkan semuanya berarti dia membuka aibnya sendiri, dan jika itu terjadi maka aku tidak akan segan-segan lagi untuk membencinya sampai kapanpun juga. Alex berlalu meninggalkan ruang guru.
Karena suasana ruang guru jadi serasa sumpek, Alex memutuskan untuk langsung pulang ke rumah sebelum nanti menjemput Raina untuk jalan-jalan.
Alex langsung duduk di ruang keluarga, pikirannya masih belum bisa berpikir secara normal, dia mencoba menelpon Raina supaya bisa mengalihkan perhatiannya, namun setelah beberapa kali Alex mencoba menelpon, Raina tidak menjawabnya sehingga Alex memutuskan untuk langsung ke rumah Raina.
Saat keluar rumah, Alex begitu kaget karena di luar ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.
"aAku dari tadi mengetuk pintu tapi baru sekarang pintunya kamu buka" Lia memasang wajah manjanya.
"Ada keperluan apa?" Alex memalingkan wajahnya dan memasang wajah datar.
"Aku ingin ngobrol sama kamu Lex, ada sesuatu yang harus aku luruskan, biar kamu tidak salah paham lagi." Lia dengan mata berkaca-kaca.
"Itu bukan urusan saya, silahkan pergi." Alex berlalu namun tangannya dipegang oleh Lia.
"Jangan berani-berani menyentuh saya lagi, selagi saya baik maka silahkan pergi dari rumah saya dan jangan pernah lagi datang ke rumah ini." Alex mengibaskan tangannya dari genggaman Lia dan beranjak pergi.
*D*ari mana dia tahu alamat rumah aku, sial aku harus berhadapan lagi dengannya, aku rasa dia terlalu mengambil resiko untuk melakukan ini, kalau suaminya tahu, ahhhh bisa-bisa jadi salah paham dan akan berujung pada masalah. Alex memukul stir mobilnya.
"Aku harus cari waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan Raina, harus secepatnya." Alex tidak fokus.
ting.. tong.. ting.. tong.. bel rumah Raina berbunyi
Di sana ada bu Asih yang membukakan pintu untuk Alex, bu Asih mempersilakan Alex untuk masuk dan menyuruhnya duduk.
Raina yang diberitahu kedatangan Alex oleh bu Asih dia langsung turun dari kamarnya dan menemui Alex.
"Kenapa kakak gak ngasih kabar kalau mau datang." Raina bertanya.
__ADS_1
"Kenapa gak boleh?" Alex kesal dengan pertanyaan Raina.
"Kok gitu ngomongnya." Raina tersinggung.
"Kan tadi kakak udah bilang mau jemput kamu di rumah, dari tadi kakak mencoba meneleponmu namun kamu tidak menjawabnya." Alex mulai menstabilkan pikirannya.
"Iya tau, tapi gak gitu juga ngomongnya." Raina cemberut.
"iIya maaf." Alex tersenyum.
*G*ara-gara dia aku malah hampir tidak bisa mengendalikan emosi dan Raina malah kena imbasnya juga. Gerutu Alex.
Alex langsung mengajak Raina untuk jalan-jalan, menurutnya dengan cara ini pasti akan mengembalikan mood Alex seperti semula.
Raina langsung bersiap-siap untuk pergi dengan Alex, dia kembali dengan menggunakan celana jeans pendek di atas lutut dan kaos oblong.
"Kenapa pakai celana pendek? ayo ganti lagi." Alex melihat dari atas rambut sampai ujung kaki.
"Gak apa-apa kak, lagian kalau aku jalan sama Ayu, aku juga sering pakai baju seperti ini." Raina mendekati Alex
"Rai.. kakak gak suka kamu keluar pakai baju seperti ini, di luar banyak mata yang memandang, ayo cepat ganti, kalau gak mau berarti kita gak jadi keluarnya." Alex membalikkan tubuh Raina.
"Kamu tahu gak Rai.. kakak gak suka kamu pakai baju pendek kaya tadi karena kakak khawatir, kita akan pergi ke tempat banyak orang, kakak gak mau kamu di lihat oleh laki-laki lain." Alex melirik Raina sambil mengemudikan mobilnya.
"Iya lain kali aku gak bakalan pake baju kayak gitu lagi, kakak kenapa jadi posesif." Raina menatap ke luar kaca mobil.
"bukan posesif Rai, kakak cuma khawatir." Alex meraih tangan Raina.
*I*tu mah sama saja, lagian aku udah biasa kali pakai baju kayak gitu, kenapa baru melarangnya sekarang, ehhh.. benar juga ya, aku belum pernah pakai baju kayak tadi saat jalan dengan pacarku ini, hehe.. Raina senyum-senyum sendiri melihat ke luar.
Alex hanya tersenyum melihat Raina yang sedang senyum-senyum sendiri.
Mereka tiba di taman kota, Alex membawa Raina menikmati udara sore, berjalan sambil bergandengan tangan membuat Alex melupakan semua rasa sumpek di sekolah yang diakibatkan oleh mantannya.
Mereka asyik dengan apa yang mereka lakukan sampai akhirnya bertemu dengan Arman di taman kota, saat Arman menyapa mereka, dengan refleks Raina langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
__ADS_1
Alex malah meraih kembali tangan Raina, bahkan dia malah mendekatkan posisinya dengan Raina.
"Apa yang kakak lakukan, nanti kita ketahuan, cari mati saja." Raina berbisik dan berusaha melepaskan tangannya.
" Tenang saja, semuanya aman." Alex tidak mau melepaskan tangan Raina.
"Wah maaf mengganggu kencan kalian." Arman tersenyum geli melihat tingkah laku Raina.
"Kencan, maksud bapak?" Raina bertanya pada Alex.
"Kakak lupa belum ngasih tahu kamu, Arman sudah tahu tentang kita." Alex tersenyum pada Arman juga Raina.
Wajah Raina langsung merah karena malu, dia langsung mencubit Alex, namun gerakan Alex begitu cepat hingga dia bisa langsung menghindari cubitan Raina.
Alex langsung menjelaskan semuanya pada Raina di depan Arman, begitu juga dengan Arman.
"Maaf Rai bukan maksud saya untuk mengagetkanmu, kita kebetulan kok bertemu disini, silahkan dilanjutkan jalan-jalannya." Arman pamit dan menepuk bahu Alex.
Setelah Arman pergi, Raina langsung berjalan di depan Alex (ala-ala berjalan mundur)
"Lenapa gak bilang kalau pak Arman tahu hubungan kita." Raina berbicara sambil berjalan mundur.
"Kakak nunggu waktu yang tepat buat ngasih tahu kamu, eh malah keburu lupa, dan akhirnya kamu langsung tahu sendiri." Alex menatap Raina yang berjalan mundur.
"Sejak kapan?" Tanya Raina.
"Sejak kita pergi study tour." Jawab Alex.
Raina kaget mendengar jawaban Alex dan hampir saja terjengkang karena dia berjalan mundur, untung saja ada Alex yang selalu siap situasi seperti ini.
Alex langsung meraih pinggang kekasihnya itu dengan posisi Alex ada di atas yang mengakibatkan jarak mereka menjadi begitu dekat, hanya tinggal beberapa centimeter saja hidung mereka bisa bersentuhan.
Alex begitu terpesona melihat kecantikan Raina namun Alex langsung sadar bahwa dirinya dan Raina sedang diperhatikan oleh banyak orang, dia langsung membenarkan posisi Raina dan berdiri tegap disampingnya.
*A*duh Rai.. kenapa kamu memancingku untuk lupa diri, aku hampir saja akan mencium bibirmu, untung saja otakku masih bisa bekerja dengan baik, hingga sadar orang lain sedang melihat kita, kalau tidak bisa-bisa kejadian ini bisa jadi viral. Alex.
__ADS_1
*U*ntung saja pacarku ini kuat, kalau tidak, bisa-bisa aku malu karena terjatuh. Batin Raina
mereka bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing, pemikiran yang berbeda antara mereka, membuat kekhawatiran yang berbeda pula.