
\*\*\*
Siang itu...
Kenzi dan Nino sedang berjalan keluar gerbang sekolah ketika mereka melihat Arka sedang bersandar di pagar, menunggu Sania. Mereka menggodanya karena ini merupakan kali pertama Arka menunggu seorang perempuan, sedangkan biasanya yang menunggu Arka adalah perempuan.
"Cie cie cie... Yang sedang janjian...." goda Nino dan Kenzi pun tertawa.
Arka merasa sedikit gugup dan malu ketika Kenzi dan Nino mulai menggodanya. Namun, ia mencoba untuk tidak terlalu mempermasalahkan komentar mereka dan mencoba tetap tenang.
"Arka, kamu telah menjatuhkan harga dirimu demi seorang wanita ha ha ha."
Nino kemudian mulai menggoda Arka lagi, namun Arka mencoba untuk tetap tenang dan tidak terlalu memperdulikan candaannya. Ia tahu bahwa persahabatan mereka adalah persahabatan yang baik, dan ia tidak ingin hal-hal kecil seperti ini merusak hubungan mereka.
Di saat Arka, Kenzi, dan Nino sedang bercanda di depan gerbang sekolah tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Mobil itu tidak dikenali dan sepertinya tidak memiliki nomor plat.
Beberapa pria yang mengenakan baju hitam dan mengemudikan mobil itu membuka pintu dan berkata dengan suara serak, "Masuk, sekarang!."
Kenzi: "Apa maksudmu?."
Nino: "Kami tidak tahu siapa kalian."
Pria itu menunjukkan pistol dan menyuruh mereka masuk ke dalam mobil. Merasa terancam m, tanpa ragu-ragu ketiganya masuk ke dalam mobil, tetapi mereka mencoba untuk tetap tenang.
Arka: "Siapa kalian? dan apa yang kalian inginkan?."
Pria itu tidak menjawab, hanya berkata, "Diam!."
Mereka duduk dengan diam, tetapi Arka mencoba untuk melihat nomor plat mobil dan mencatatnya. Namun, pria itu menyadari dan menampar tangannya hingga pulpennya terjatuh.
"Jangan macam-macam!," ancam salah satu pria berbadan besar itu.
Sania, yang baru tiba karena sudah janjian bertemu dengan Arka melihat kejadian itu dan merasa hawatir. Lalu dia pergi ke kantor polisi dan melaporkan kejadian tersebut. Kebetulan yang menerima laporan itu adalah om Tedi.
"Ini sangat aneh, siapa mereka?," kata om Tedi.
"Mereka terlihat sangat aneh, dan mereka seperti mengancam Arka dan teman-temannya," jawab Sania.
Om Tedi berpikir jika Arka tidak pernah mendapat ancaman dari orang lain kecuali dari para preman Coki dan gengnya. Lalu dia mengingat sesuatu dan melakukan sebuah panggilan namun setelah beberapa menit telponnya tidak di angkat.
Setelah telpon nya tidak di angkat, om Tedi merasa khawatir dan segera pergi dari kantor polisi. Lalu Sania mengikuti dan bertanya tentang kemana om Tedi akan pergi dan ingin mengikutinya.
Awalnya om Tedi melarangnya karena berbahaya, karena tempat yang om Tedi tuju adalah rumahnya Coki. Tapi Sania terus memohon agar di izinkan ikut, jadi om Tedi terpaksa membiarkannya ikut.
Saat tiba di rumah Coki, om Tedi tidak mendapati mereka di sana. Dia semakin hawatir karena Coki memiliki hubungan baik dengan para bos gengster yang sangat berbahaya.
__ADS_1
"Pak, dimana mereka?."
"Mereka tidak ada disini," jawab Tedi.
"Bagaimana ini, bagaimana keadaan Arka dan teman-temannya?," tanya Sania.
"Tenang saja, aku akan berusaha menolong mereka." om Tedi berpikir sejenak, "Tiga berandal itu, beraninya mereka memukuli anak buah Jack hingga babak belur. Mereka terlalu sombong dan tidak berhati-hati. Sekarang mereka dalam bahaya karena Coki di dukung oleh sindikat organisasi kriminal."
"Jadi bagaimana? Apakah mereka dalam keadaan bahaya? Apakah mereka akan baik-baik saja?." Sania semakin merasa cemas.
Lalu om Tedi menelpon seseorang dan kali ini telponnya di angkat.
"Hallo?." terdengar suara berat seorang laki-laki di seberang telpon sana.
"Hallo, Remon, ini aku. Jika kamu ingin membalas budi, ini waktu yang tepat untuk kamu lakukan."
"Ya, ada apa?."
"Kamu harus membebaskan orang-orang yang sedang Jack sekap sekarang. Dan beri peringatan kepadanya agar tidak berbuat macam-macam kepada mereka."
"Baiklah, anggap saja sudah selesai. Sekarang hutang budiku sudah aku bayar."
Om Tedi merasa tenang lalu segera melajukan mobilnya membawa Sania ke suatu tempat dan mengatakan jika Arka dan teman-temannya akan baik-baik saja.
Arka, Kenzi, dan Nino dibawa ke sebuah markas gengster. Mereka diperlakukan dengan sangat kasar dan diinterogasi oleh beberapa orang berbadan besar di sana.
"Bos kami ingin memperlihatkan kepada kalian betapa kuatnya dia dan apa yang bisa terjadi jika kalian berurusan dengannya." Ucap salah seorang di antara para gengster tersebut sambil menunjuk kepada orang yang sedang berlatih tinju di hadapan mereka. Seorang yang berbadan kekar dan berpenampilan garang.
Tiba-tiba Coki hadir di tengah-tengah mereka lalu berkata,
"Kak Jack, mereka orang-orang yang telah menyerangku."
Arka, Kenzi dan Nino terkejut saat melihat Coki lah dalang daripada semua ini. Setelah dia kalah dari perkelahian malam itu, Coki meminta bos gengster yang menjadi tempat perlindungannya membantunya.
" Coki, apa yang kau lakukan? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi? Dan kamu berjanji tidak akan berulah lagi?," tanya Arka penuh penekanan.
"Apa? Aku tidak mendengarnya, coba katakan sekali lagi. Ha ha... Kamu sudah tau kalau aku tidak pernah memenuhi janjiku. Dasar kalian ini!." ledek Coki merasa puas.
Jack menghampiri Arka dan berkata,
"Berani sekali kalian menyerang orangku, siapa bos kalian?."
"Kami bos diri sendiri," jawab Arka, menatap tajam Jack yang balik menatapnya juga.
"Baiklah, kau memang sungguh berani. Aku pasti senang memukulimu," lanjut Jack.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan!," Teriak Nino.
Akhirnya Jack memukul Nino dengan sangat keras hingga tersungkur dan berdarah. Arka dan Kenzi merasa marah dan hendak membalas mereka. Tapi mereka bermain curang karena Arka dan Kenzi di ancam menggunakan pistol hingga tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka diperlakukan sangat buruk, dipukuli dan diinterogasi secara fisik. Coki tertawa sangat senang dan mengata-ngatai Arka, lalu menyeret Kenzi dan memukulinya.
Plak! Plak! Plak!
"Kau tau, aku sangat ingin memukulimu seperti ini, karena kamu terlalu sombong dan pintar berkelahi ha ha." Ucap Coki.
Arka marah melihat Kenzi yang terus di pukuli, lalu menarik Coki dan menodongkan pistol yang dia ambil dari penjahat di sampingnya. Arka menyandera Coki dan mengancam akan menembaknya jika mereka tidak membebaskan teman-temannya.
Tapi hal itu tidak membuat Jack luluh dan mengatakan tidak apa-apa jika Coki di tembak karena dia hanya salah satu orangnya dari sekian banyak anak buahnya.
Hal itu membuat semua orang yang berada di sana tersentak dan Coki memohon untuk menyelamatkannya.
"Kakak, tolong selamatkan aku kak...," rengek Coki.
Lalu Jack mengambil pistol lain dan menodongkannya ke arah Kenzi. Arka merasa terancam dan keadaan semakin tegang.
"Lepaskan pistolmu itu, aku tidak segan untuk membunuh temanmu ini!," Teriak Jack.
Arka semakin terancam dan akhirnya menyimpan senjatanya, lalu Coki berbalik dan memukul Arka sekuat tenaganya.
"Sialan kau! Berani-beraninya menyanderaku!."
Arka, Kenzi dan Nino sekarang dalam keadaan berlutut di hadapan bos gengster itu dengan pistol yang mengarah ke kepala mereka.
"Ternyata hanya sekumpulan anak berandal, kamu ribut meminta bantuanku karena tidak bisa mengurus mereka!," bentak Jack pada Coki.
Jack menodongkan pistolnya ke arah Arka dengan tatapan yang mematikan. Namun, tiba-tiba anak buahnya berteriak,
"Boss, hentikan! Ini akan membuat kita semua dalam masalah besar! Tuan Remon menyuruh anda membebaskan mereka."
"Apa?."
"Jika bos tidak membebaskan mereka, tuan Remon akan memberantas semua anggota geng kita."
"Sial!," umpat Jack.
Jack menatap mereka semua dengan marah, lalu akhirnya meletakkan pistolnya kembali ke dalam sarungnya. "Kalian beruntung, kali ini aku akan membiarkan kalian hidup," kata Jack dengan suara berat.
Akhirnya Arka, Kenzi dan Nino keluar dari markas tersebut dan selamat dari kematian.
☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️
__ADS_1
Bersambung...