
Suatu hari, Sania memutuskan untuk mengisi kekosongan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitar sekolah TK. Ketika ia sampai di sana, ia terpana melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain di halaman sekolah. Anak-anak itu tersenyum, tertawa, dan terlihat sangat bahagia.
Sania tergerak hatinya oleh keceriaan anak-anak itu. Ia merasa seperti ada kehangatan yang memancar dari mereka dan membuat hatinya merasa tenang dan damai. Sania memutuskan untuk duduk di dekat mereka dan menikmati suasana itu.
Tiba-tiba ada seorang anak yang menghampiri Sania, "Kakak, ayo ikut bermain dengan kami...." Sania merasa senang atas ajakan anak perempuan itu, apalagi saat guru mereka juga menghampiri dan mengajak Sania untuk ikut bergabung.
"Hallo, namaku Sely, guru TK disini, siapa namamu?."
"Aku Sania."
"Baiklah, Sania... Apakah kamu mau ikut bergabung bersama kami?."
"Baiklah...," jawab Sania dengan senang hati.
Anak-anak itu tampak senang dengan kehadiran Sania. Mereka mulai berbicara padanya dan menunjukkan mainan-mainan mereka. Sania merasa senang bisa berinteraksi dengan anak-anak itu. Ia merasa seperti ada hubungan khusus antara dirinya dan mereka, meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
Saat Sania melihat anak-anak itu, ia mulai memikirkan masa kecilnya sendiri. Ia mengingat betapa bahagianya saat bermain di halaman sekolah saat kecil dulu. Ia merindukan keceriaan itu dan merasa sedih karena sekarang sudah jarang mengalaminya.
Di saat anak-anak sudah pulang, Sely dan Sania sedang duduk dan berbincang,
"Sania... Aku perhatikan, kamu bisa menangani anak-anak dan mereka pun sangat menyukaimu," ucap Sely.
"Aku juga senang saat bermain bersama mereka," jawab Sania dengan gembira, Tiba-tiba Sania merasa tidak nyaman, "Maaf, jika aku menggangu aktifitas Bu guru dan anak-anak," lanjut Sania.
"Tidak apa-apa, sebenarnya... Kami kekurangan seorang guru, dan aku rasa kamu cocok untuk pekerjaan ini, jika kamu bersedia... Kamu bisa ikut mengajar di sini."
"Benarkah?."
__ADS_1
Sania menyetujui permintaan guru Sely untuk membantunya mengajar di TK tersebut. Kemudian saat sampai rumah, Sania langsung memberitahu Arka tentang dia yang akan mengajar. Namun, Arka menolak dan melarang Sania untuk melakukannya karena Arka merasa sekarang mereka tidak kekurangan uang dan Sania tidak perlu bekerja.
"Arka... Dengarkan aku, Ini bukan masalah uang, tapi... Aku hanya ingin mengisi kekosongan waktuku saat kamu tidak ada di rumah, dan aku rasa dengan berkegiatan di sekolah TK aku tidak akan merasa bosan."
"Lalu bagaimana keamananmu saat kamu pulang? Apakah kamu akan selalu pulang terlambat seperti hari ini? Apa kamu tau betapa cemasnya aku saat tidak menemukanmu? Aku hawatir terjadi sesuatu padamu."
"Aku tidak peduli, karena aku sudah berjanji pada mereka, lagipula aku bisa melindungi diriku sendiri ... Sudahlah aku akan masak untuk makan malam," kata Sania sambil melangkah menuju dapur.
"Sania?."
"Itupun jika kamu pulang malam ini," lanjut Sania hingga membuat Arka tidak bisa berkata lagi.
~
Suatu malam, saat Nino dan Keyla bertemu secara kebetulan di pinggir jalan, seperti biasa mereka akan terus bertengkar dan mencemooh satunya sama lain. Saat itu, Coki sedang berada dalam kawasan itu juga dan berniat mengganggu mereka berdua.
Tidak menunggu waktu lama, para preman kecil itu mulai membuat masalah dengan Nino, walaupun Nino sudah mengatakan dengan bangga bahwa dia sekarang anggota geng Elang, namun para preman tersebut tidak peduli dan mengatakan jika mereka sangat membenci geng Elang.
Mereka memalak Nino dan menyuruh menyerahkan semua harta miliknya, namun Nino menolak. Kemudian para preman itu memberi pilihan, jika Nino tidak memberikan hartanya, maka Nino harus menukarnya dengan Keyla.
Merasa tidak terima, dengan lagaknya yang tomboy Keyla pun menggertak para preman itu sehingga menimbulkan kerusuhan. Merasa semakin tidak aman terutama untuk Keyla, akhirnya Nino membawa Keyla kabur dari para preman tersebut.
Saat mereka sedang berlari, tiba-tiba kaki Keyla terkilir dan tidak bisa melanjutkan pelariannya. Di saat preman yang mengejarnya mereka sudah hampir dekat, Nino langsung menggendong Keyla dan berlari-lari hingga akhirnya berhasil melarikan diri.
Kini, Nino dan Keyla sudah berada di ruko milik orang tua Nino.
"Waw! Kakimu sangat bengkak... tenanglah, aku akan memberimu obat ini agar cepat sembuh...," ucap Nino sambil menyiapkan obat yang dia bawa darinya dalam rumahnya.
__ADS_1
Nino merawat luka Keyla dengan telaten sehingga saat itu Keyla merasa sikap yang hangat dari Nino. Keyla terus menatap Nino dengan lekat dan berkata dalam hati, "Ternyata dia tampan juga jika dilihat dari dekat." Tanpa Keyla sadari kini Nino sudah menatapnya lalu memukul pelan kepala Keyla.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu baru sadar jika aku tampan kan... Ha ha ha...."
"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan? Dasar bodoh!," teriak Keyla karena tidak suka saat perasaannya di tebak oleh Nino kemudian dia pergi mengunakan taksi.
*
Saat ini, Arka, Kenzi dan Nino sedang berada di rumah Arka membahas tentang kejadian yang menimpa Nino dan Keyla semalam. Mereka berpikir mungkin ini satu ancaman untuk mereka. Arka dan Kenzi membahas masalah ini dengan serius tetapi Nino seolah tidak fokus dan memutuskan untuk pergi menjenguk Keyla terlebih dahulu.
Melihat kepergian Nino yang mencoba memberi perhatian pada Keyla membuat Arka memikirkan sesuatu tentang dirinya dan Sania yang kini seolah ada jarak di antara mereka.
"Saat ini, keyla yang sudah jadi korban, untuk kedepannya aku hawatir, bagaimana jika hal ini juga terjadi pada Sania ... Apalagi sekarang dia mengajar di TK, aku hawatir tentang keselamatannya," tutur Arka yang di dengar Kenzi.
Setelah beberapa saat Arka meminta Kenzi untuk menasehati Sania agar tidak keras kepala. Arka tidak ingin berdebat lagi masalah itu karena saat terakhir kali juga mereka hampir bertengkar. Lalu Kenzi pun menyetujuinya.
Hari demi hari, Sania datang ke sekolah dengan semangat yang tinggi dan senang mengajar anak-anak. Namun, suatu hari, guru Sely, membahas tentang guru piano yang cuti dan berharap Sania bisa menggantikannya untuk mengajar piano kepada murid-murid TK. Guru Sely mengatakan bahwa pihak sekolah akan sangat berterima kasih jika Sania bisa mengambil tugas tambahan tersebut.
Sania merasa gugup dan ragu saat Guru Sely menawarkan padanya untuk menggantikan guru piano yang cuti di TK tersebut. Padahal, ia sangat senang mengajar anak-anak di TK, namun saat disebutkan tentang mengajar piano, Sania merasa tertekan.
Hal tersebut bukan karena Sania tidak bisa bermain piano, namun karena piano mengingatkannya pada masa lalu, khususnya hubungannya dengan Arka yang telah menjadi gengster.
Sebagai bentuk perlindungan diri, Sania memutuskan untuk menolak tawaran Guru Sely. Ia berpura-pura tidak bisa bermain piano dan menyarankan Guru Sely mencari guru pengganti yang lebih baik.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...
__ADS_1