
Sania merasa sangat sedih dan hancur ketika orang tuanya memutuskan untuk meninggalkannya setelah Sania memutuskan bahwa dia memilih Arka ketimbang memilih keinginan mereka.
Sania merasa bersalah dan bingung karena dia tidak ingin kehilangan cinta sejatinya yaitu Arka, namun dia juga tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Namun, Sania merasa bahwa dia harus memilih untuk menjadi bahagia dengan Arka meskipun harus kehilangan dukungan dan cinta orang tuanya.
Sania menangis dan merenungkan keputusannya untuk memilih Arka, namun dia tidak pernah menyesalinya. Dia merasa bahwa Arka adalah cinta sejatinya dan dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Arka.
~
Di rumah...
Terlihat Keyla duduk di samping Arka sedang membantunya mengambilkan makanan dan minuman. Arka berterima kasih karena Keyla telah membantunya, Keyla pun berkata tidak masalah bahkan dia senang bisa membantu Arka.
Nino yang baru keluar dari kamar mandi merasa senang melihat Arka yang sudah bangun dan terlihat lebih sehat. Beberapa saat kemudian, Sania dan Kenzi pulang dan di sambut beberapa pertanyaan dari Nino,
"Kalian dari mana saja? Kenapa lama sekali... Aku sudah kelaparan...."
"Warung terdekat sedang tutup, jadi kami harus mencari dulu," jawab Kenzi.
Sania yang melihat Arka sudah bangun segera menghampirinya dan merasa senang. Keyla pun yang asalnya duduk di samping Arka segera berdiri dan memberi tempat untuk Sania duduk disana.
"Arka... Kamu sudah bangun? Apa kamu lapar?," tanya Sania dengan wajahnya yang sendu karena habis menangis, "Aku tidak lapar dan belum berselera makan," jawab Arka, lalu dia melihat mata Sania yang sembab juga merah dan bertanya lagi, "Kamu kenapa? matamu terlihat merah."
"Dia tidak tidur semalaman, tentu matanya merah," jawab Kenzi dengan cepat. Lalu Arka melihat Sania dan memegang tangannya, "Maafkan aku Sania...."
"Aku tidak apa-apa, apa kamu masih demam?," ucap Sania sambil menyentuh kening Arka dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Dia tidak apa-apa, aku sudah periksa suhunya saat kamu tidak ada," sambung Keyla yang sedang berdiri di samping Sania.
Mendengar hal itu, Nino mengejek Keyla yang terus berada di samping Arka dan menggunakan setiap menit dan detik untuk selalu di dekatnya karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dengan Arka.
Keyla meradang dan membalas mengejek Nino, Keyla mengatakan jika Nino seperti akan mati jika tidak biacara sebentar saja. Akhirnya mereka terus bertengkar dan saling teriak, hingga akhirnya Kenzi melerai mereka dan mengatakan jika mereka seperti anak kecil yang tidak berhenti bertengkar sejak semalam.
Arka pun menggelengkan kepalanya karena sikap sahabatnya itu, lalu Sania berkata jika dia akan memasak sesuatu dan pergi ke dapur. Namun, bukannya masak, Sania malah melanjutkan kesedihannya yang belum selesai dan menangis lagi tanpa di ketahui orang lain.
__ADS_1
Di markas Jack...
Siang itu, Remon pergi mengunjungi Jack yang sedang beristirahat karena belum pulih. Remon menegur Jack karena mempunyai anak buah yang payah karena hanya bisa menggertak saja.
Kemudian Remon mengatakan jika Jack merasa hebat, dia tidak akan menggangu Arka dan bersikap curang terlebih dahulu dan mempermalukan geng Elang. Jack mencoba membela dirinya dan mengatakan akan membalas dendam pada Arka dan keluarganya, namun Remon berkata,
"Aku peringatkan lagi padamu, jangan pernah menyentuhnya lagi, aku mengagumi Arka dan teman-temannya, jika di latih dengan baik... Aku yakin, mereka akan jadi sesuatu," ucap Remon.
"Kakak... Mereka hanya anak-anak arogan," kata Jack, menghinakan.
"Kau yang sudah arogan! Jangan pakai tipu muslihat apapun untuk menyentuh mereka, mereka adalah milikku," jelas Remon sambil mengacungkan pisau yang dia pakai untuk mengupas buah, "Istirahatlah... Aku akan pulang sekarang," lanjutnya, lalu pergi.
Setelah Remon pergi, Jack merasa kesal karena tidak dapat pembelaan dari Remon namun malah dapat peringatan. Coki yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, mencoba mengompori Jack dan berkata jika Remon lebih membela Arka ketimbang Jack.
Lalu Coki mengatakan akan membalas Arka dan menyerangnya kembali, namun Jack malah memarahi Coki yang seolah tidak mendengar peringatan Remon agar tidak menyentuh Arka lagi. Walau dalam hatinya Jack, dia juga merasa marah, lalu melampiaskan kemarahannya itu pada anak buahnya. Melihat kemarahan Jack, akhirnya Coki pun pergi dari ruangan itu dengan ketakutan.
Saat sedang berjalan keluar dari markas Jack, Roy berkata pada Remon jika orang seperti Jack tidak akan membiarkan Arka begitu saja, apalagi saat Remon memuji Arka dan teman-temannya.
Satu hari kemudian...
Sania dan Keyla sedang berjalan menuju minimarket dekat rumahnya. Sania berjalan dengan tatapan kosong, dia tidak mendengar Keyla yang mengoceh sepanjang jalan.
"Sania, kamu kenapa?," tanah Keyla sambil menghentikan langkah Sania.
"Aku tidak apa-apa."
"Sania, semua orang juga bisa melihat kalau kamu sedang memikirkan sesuatu ... Apakah kamu berpikir aku akan merebut Arka darimu?!."
Mendengar pertanyaan monohok dari Keyla, Sania pun berbicara lebih fokus, "Apa maksudmu Keyla?."
"Dengar Sania, aku tidak bermaksud merebut Arka darimu, memang aku akui aku masih sedikit suka pada Arka, tapi setelah apa yang terjadi pada kalian aku sudah menyerah, aku bersumpah," kata Keyla sambil mengangkat tangannya.
"Sudahlah Keyla, bukan masalah itu ... Aku hanya berpikir kenapa Arka ikut balapan lagi, jika dia tidak melakukan itu masalah seperti ini pastinya tidak akan terjadi, apa yang salah jika hidup dengan normal," ucap Sania dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Sania ... Apa kamu tidak tau, Arka melakukannya karena ingin membelikan piano untukmu."
"Piano?!."
Sania terkejut dengan apa yang baru saja Keyla katakan. Pada awalnya, Keyla tidak ingin mengatakan hal itu jika dia tidak salah bicara, namun Sania terus bertanya kebenarannya hingga akhirnya Keyla berkata jujur bahwa benar, Arka ikut balapan demi uang untuk membelikan Sania piano.
Kini...
Sania sedang mencuci celana Arka yang berlumuran darah. Dia sangat bersedih saat melihat darah yang mengalir tersiram air dari celana Arka, lalu dia mengingat perkataan Keyla tadi siang,
"Arka ingin membelikanmu piano, jadi dia ikut balapan ...."
Preeee!!
Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah dari kamar, lalu Sania segera berlari dan masuk ke kamar. Saat tiba, Sania melihat Arka yang mencoba berdiri dan memungut pecahan gelas di lantai, lalu ia segera menghampiri Arka dan membantunya untuk duduk kembali di kasur.
"Apa kamu baik-baik saja? Panggil aku saja kalau kamu mau air," ucap Sania hawatir sambil melihat tangan Arka takut ada yang terluka.
Arka menggenggam tangan Sania lembut, dia merasakan tangan Sania yang sedikit kasar dan berkata dengan nada bersedih, "Tanganmu untuk bermain piano, bukan untuk mencuci baju."
Sania melepaskan tangannya dan berkata dengan nada kecewa, "Aku lebih suka mencuci baju dari pada bermain piano yang di beli dari hasil taruhan nyawamu."
Arka merasa tidak nyaman saat Sania sudah mengetahui hal itu. Lalu Sania berkata jika ia ingin bermain piano dia bisa pergi ke tempat yang bisa menyewa piano dan tidak perlu memilikinya.
Kemudian Arka mengatakan jika ia melakukannya karena ingin membuat Sania bahagia, namun Sania berkata dia cukup bahagia dengan berada disisi Arka dan tidak perlu melakukan hal-hal yang akan membahayakan nyawa Arka demi membahagiakannya.
Sania meminta mulai saat itu Arka berjanji untuk tidak melakukan hal di luar sepengetahuan Sania, apalagi yang bisa membahayakan nyawa Arka dan langsung di setujui oleh Arka. Kemudian Arka meraih tangan Sania kembali dan menciumnya dengan lembut.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Bersambung...
Jangan lupa kasih like, subcribe, bintang 5 juga hadiahnya ya... 😊🙏
__ADS_1