
\*\*\*
Keesokan harinya...
Saat Sania akan berangkat sekolah, Sania terkejut saat melihat Arka sudah menunggunya di luar rumah dengan motor kebanggaannya. Arka tersenyum lebar saat Sania keluar dari rumahnya.
"Selamat pagi, Sania."
"Kamu? kenapa kamu tau rumahku?."
Dengan perasaan ragu Sania menghampiri Arka sambil melihat sekitar takut ayahnya melihat Arka.
"Aku hanya menebaknya. Kamu percaya padaku?... Ini."
Arka memberikan sebuah helm untuk Sania dan hendak mengajaknya berangkat bersama dengan di bonceng menggunakan sepeda motornya, tapi Sania tidak menghiraukannya dan berlalu begitu saja menuju halte bus.
Saat Sania menunggu di halte bus, Arka datang dan menemui Sania kembali dan mengajaknya lagi untuk naik dan berangkat bersama tapi di tolak oleh Sania.
"Aku akan mengantarmu, naiklah...," ajak Arka.
"Tidak, aku pergi sendiri saja. Aku akan naik bus."
"Benarkah, kamu tidak akan ikut denganku?." Sania menggelengkan kepalanya.
Lalu Arka memanggil dua orang siswa dan menyuruh mereka untuk ikut naik bus dan mengawasi Sania agar tidak terjadi apa-apa.
Sania merasa tidak nyaman dan mencoba menolaknya, tapi Arka tidak menerima penolakan Sania. Dan pada akhirnya, Sania di jaga oleh dua siswa itu dari mulai naik bus hingga sampai ke sekolah.
Saat sampai di depan kelas dua siswa itu menghalau setiap siswa lain agar tidak menghalangi jalan Sania hingga membuatnya semakin tidak nyaman lalu berlari ke dalam kelas.
"Mereka sangat keterlaluan." kesal Sania, saat melihat mereka terus berjaga di depan kelasnya, hingga saat siswa lainnya yang akan masuk ke kelas itu pun tidak luput dari pemeriksaan mereka terlebih dahulu.
Siswa lain yang berada di kelas itu memandangi Sania dengan berbagai dugaan, mereka berbisik dan menggunjing sehingga membuat Sania lebih tidak nyaman.
Bahkan saat di kantin pun, semua siswa yang berada di di sana segera berdiri lalu memberi hormat kepada Sania layaknya sikap kepada bos nya. Sania semakin bingung dan berlari dengan tergesa-gesa.
"Sania, tunggu kami...!."
__ADS_1
Dua temannya mengikuti kemana arah Sania berlari.
Perhatian dan perlindungan yang Arka lakukan sudahlah sangat keterlaluan. Bahkan saat Sania akan pergi ke toilet, ia melihat siswa lain sedang menahan karena kebelet pipis. Mereka tidak di izinkan masuk sebelum Sania menggunakan toilet terlebih dahulu.
Sania keheranan lalu berbalik dan hendak pergi dari toilet dan tidak jadi masuk, tapi di rasa dia juga harus menggunakan toilet akhirnya Sania pun balik lagi lalu masuk dan menuntaskan hajatnya terlebih dahulu.
Padahal di luar toilet itu ada banyak orang yang sudah menunggunya. Tapi jika Sania tidak masuk, siswa lain akan tetap dalam keadaan menunggu dengan kebelet yang sudah tidak tertahankan.
Saat jam istirahat... Arka dan teman lainnya pergi ke depan kelas musik dan melihat Sania yang sedang bermain piano. Mereka membuat keributan dan meminta semua orang agar memberikan semangat dan tepuk tangan kepada orang yang telah menyelamatkan nyawa bos mereka.
Dari kaca jendela Arka tersenyum dan melihat Sania yang terlihat bingung dan merasa tidak nyaman. Tapi semua itu tidak Arka pedulikan, yang dia inginkan dia bisa melihat Sania saat itu.
Tidak berhenti sampai saat itu, ketika Sania akan pulang pun, dua siswa tadi yang di beri tugas oleh Arka masih mengikuti Sania kemanapun sehingga membuat Sania merasa malas. Lalu Arka datang dan menghampiri Sania dan berkata,
"Bagaimana, apa kamu masih tidak mau di antar? Aku jago mengemudi lho."
Sania hanya memalingkan wajahnya karena tidak suka atas semua perhatian Arka yang berlebihan itu lalu berkata dengan nada kesal.
"Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kita tidak ada urusan. Aku menyelamatkanmu hanya karena rasa kemanusiaan. Kamu tidak harus mengganggu hidupku dengan menyuruh mereka untuk selalu mengikutiku," tegas Sania.
"Apakah ini yang kamu sebut dengan balas budi?," lanjut Sania.
Tapi, saat Sania masih berbicara dengan Arka, bus yang Sania tunggu sudah pergi sehingga ia tertinggal dan mengejarnya namun tidak terkejar dan menyalahkan Arka.
Arka mengejar bus tersebut dan menyusul nya lalu menghentikan sepeda motornya tepat di depan bis yang sedang berjalan sehingga supir bus mengeremnya secara mendadak, layaknya aksi heroik ha ha.
Aksi yang Arka lakukan membuat Sania terkejut dan melongo. Bisa-bisanya Arka melakukan hal yang membuat dirinya berada dalam bahaya. Lalu Arka memanggil Sania agar segera naik bus yang sudah dia hentikan itu.
Sania segera naik bis tersebut dengan perasaan yang campur aduk dan melihat Arka tidak percaya. Arka yang hendak naik motornya kembali, menoleh dan melihat Sania lalu melemparkan satu senyuman sambil mengedipkan satu matanya.
Sikap Arka yang seperti itu adalah sikap yang membuat wanita mana saja jatuh hati. Begitu pun dengan Sania yang hatinya mulai sedikit tergerak dan meleleh saat melihat senyuman Arka.
~
Perasaan Sania tidak karuan saat melihat Arka yang mengiringi bus dan melajukan motornya di samping sambil terus melihat Sania.
"Sebenarnya dia orang macam apa? Kenapa mengikuti terus?." batin Sania, sambil berdelik dan mencoba menyingkirkan pikirannya.
__ADS_1
Sania turun di pemberhentian bus sebelumnya agar Arka berhenti mengikutinya. Dia tertawa lepas karena merasa terbebas.
"Lihat saja, sekarang kamu tidak bisa mengikutiku. Jangan kira semua bisa kamu kendalikan," ucap Sania senang.
Tanpa Sania sadari, saat Sania terus berjalan hingga di pertengahan jalan dia di halau oleh Coki dan geng nya. Coki yang menyadari jika itu Sania yang telah menjadi saksi atas kejahatannya saat itu, ia merasa senang karena telah menemukannya dengan mudah dan akan melancarkan dendamnya.
"Akhirnya kamu datang dengan sendirinya, kamu memang wanita ja*ang!." bentak Coki.
"Kalian mau apa?," tanya Sania sambil memundurkan langkahnya dan merasa gugup.
Merasa dalam bahaya, Sania berbalik dan segera berlari dan di kejar oleh Coki beserta gengnya. Di saat Sania kewalahan, akhirnya Arka datang dan menghalangi niat buruk mereka lalu menyuruh Sania untuk segera naik ke motornya dan segera melesat pergi dari sana sehingga Sania terhindar dari bahaya.
"Baiklah! Hari ini kau bisa lari. Suatu hari nanti aku akan menangkapmu disini!." Teriak Coki dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sania yang akhirnya naik motor dan berpegangan ke pinggang Arka erat demi menghindari kejaran geng Coki yang ingin balas dendam atas insiden pengeroyokan sebelumnya.
Di tengah perjalanan dengan kecepatan sedang, Sania mencolek bahu Arka dengan satu jarinya dan meminta untuk menurunkannya di pinggir jalan sana. Tapi Arka menolaknya dan mengatakan jika Coki masih mengejarnya.
Sania merasa hawatir dan menoleh ke belakang tapi tidak melihat Coki mengejarnya. Lalu Arka tersenyum karena itu hanya alasannya saja, karena mana mungkin kecepatan motor bisa di imbangi dengan lari mereka.
Tidak lama, Arka menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu Sania segera turun dan menjaga jarak dari Arka.
"Para preman itu, pasti akan berusaha tetap mengajar kita jadi kita harus menghindarinya lebih jauh," kata Arka sambil memberikan helm berwarna pink kepada Sania. Helm yang sepertinya sudah di siapkan khusus untuk gadis penyelamatnya itu.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Sania pun memakai helm tersebut. Dan saat Sania sedang memasangnya, Arka membantu Sania memakaikannya. So sweet... π
"Mereka akan menangkapmu saat kamu merasa lengah," celetuk Arka, sehingga membuat Sania gugup dan berputar melihat sekitar takut Coki ada disana, namun Arka hanya tersenyum geli karena sudah menakuti Sania yang terlihat lucu baginya.
Lalu Sania segera naik motor kembali dan bertanya,
"Kamu akan membawaku kemana?."
"Nanti kamu juga akan tau," Jawab Arka sambil melajukan motornya menyusuri jalan. Suatu hal yang sangat romantis untuk kalangan anak muda. π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung...
__ADS_1
Lanjut episode 7 ππ