Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 60


__ADS_3

\*\*\*


Setelah diskusi masalah penyelundupan Santi dan para gadis yang lain, Arka menyuruh Nino untuk mengurus kapal yang akan membawa santi pulang ke kampung halamannya. Namun, Santi menolak pergi sebelum memastikan keselamatan sahabatnya yang masih tertawan oleh para penculik. Dia tidak bisa meninggalkan mereka dalam situasi bahaya.


Santi memandang Arka dengan penuh tekad. "Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku harus mencari dan menyelamatkan sahabatku yang masih terkurung. Dia masih berada dalam bahaya, dan aku tidak akan tinggal diam."


"Hei, Nona! Apa kamu sudah gila? Apa kamu tidak tau, kami sudah rumit mengurus dirimu... Apalagi jika kamu tertangkap polisi maka akan menjadi lebih rumit lagi... Kami tidak bisa menyerahkanmu ke orang-orang kami, dan kamu nyaris tidak bisa menyelamatkan diri tapi kamu masih mau menyelamatkan orang lain? Tidak bisa di percaya," cerocos Nino.


"Maafkan aku, aku juga tidak ingin merepotkan kalian... Tapi aku juga harus menyelamatkan Maya, dia tertangkap karena bepergian denganku... Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika tetap bersama dengan para penjahat itu," jelas Santi dengan penuh kesedihan dan kekhawatiran." Aku yakin kalian pasti punya cara untuk menyelamatkan Maya, aku mohon temukan dia...," lanjutnya dengan memelas.


Nino menggelengkan kepalanya sambil memegang dagunya. "Ck ck ck... Aku tidak tau, jika perempuan juga punya rasa setia kawan," celetuk Nino. "Aku rasa, jika kita berada di posisinya sekarang, maka kita juga tidak akan meninggalkan siapapun bukan?," lanjutnya.


Arka berpikir sejenak lalu tersenyum. "Jika Nino berkata begitu, kenapa kita tidak bisa membantunya?," timpal Arka.


"Lagi pula, ini berkaitan dengan penyelidikan baru kita, siapa tau akan menemukan hal yang lebih menarik," sambung Kenzi.


"Terima kasih... Itu sangat bagus sekali." Dengan sorot mata yang berbinar, Santi merasa bahagia karena mereka bertiga mau membantunya.


Nino merasa senang karena akhirnya Kenzi mau bergabung lagi dengan mereka menjalankan misi penyelamatan seakan mengingatkan mereka saat dahulu sering membuat onar bersama.


"Tunggu dulu, di kota ini ada banyak sekali wanita penghibur... Bagaimana kita akan mencari tau gadis yang bernama Maya itu?," tanya Arka.


Kenzi berpikir sejenak lalu berkata, "Kita punya satu cara... Tapi kamu harus mengambil resiko," jawab Kenzi sambil melihat ke arah Arka lalu bergantian melihat ke arah Santi. Setelah itu, Kenzi berpikir lagi sejenak dan mengerungkan keningnya seakan mengkhawatirkan sesuatu.


Beralih ke tempat lain...


Keyla sedang berada di pusat perbelanjaan dan terlihat sedang berbicara lewat telepon.


"Hallo, Sania? Aku belikan gaun malam yang seksi untukmu," seru Keyla dengan senyum bahagia. "Untuk apa? Ya tentu saja untuk kamu pakai di hadapan Arka... Sudahlah, jangan mengoceh, nanti aku akan ke rumahmu dan mengantarkannya ya... Dah...."


Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Sania, Keyla menutup telponnya dan beralih menghubungi klub malam untuk memesan ruangan khusus untuk dia nikmati bersama ke empat sahabatnya.

__ADS_1


Namun, saat mendengarkan kabar jika Nino tidak berada di tempat, Keyla merasa marah dna menduga jika Nino sedang main perempuan lagi. "Sial kamu Nino! Kamu berbohong lagi! Apa yang kamu sembunyikan?!." Keyla segera pergi dari tempat itu dengan kesal.


Keesokan harinya...


Sambil berjalan menuju rumah Arka, Nino mengerutkan kening. Dia membawa beberapa paper bag yang berisi makanan dan pakaian untuk Santi, namun dia merasa agak kesal dengan tugas yang diberikan Arka.


"Tidak bisa dipercaya, Arka," gumam Nino sendiri. "Dia benar-benar memintaku untuk melakukan semua ini. Bahkan, aku harus mengambil beberapa baju milik Keyla tanpa sepengetahuannya."


Nino merasa sedikit bersalah karena mengambil baju Keyla tanpa izin. Dia tahu bahwa Keyla tidak akan senang jika mengetahuinya. Namun, Nino juga menyadari bahwa situasi yang dialami oleh Santi sangat penting dan mendesak, jadi dia mengambil inisiatif untuk membantu.


Setelah beberapa menit, Nino akhirnya tiba di rumah Arka. Dia memasuki rumah dan memanggil-manggil Santi. "Santi...! Santi...." Nino meletakkan paper bag di meja dan menjaga agar isinya tetap rapi.


Santi pun keluar dari kamar dan menyambut kedatangan Nino. "Nino, kamu datang?."


"Iya, dan ini, aku bawakan makanan juga pakaian untukmu."


Santi sangat senang melihat Nino datang membawakan makanan untuknya. Dia merasa lapar setelah mengalami perjalanan panjang dan cemas akibat situasi yang dialaminya. Tanpa ragu, Santi langsung mulai makan dengan lahap.


Nino tersenyum melihat kebahagiaan Santi. Dia merasa lega dapat memberikan dukungan dan kenyamanan bagi Santi setidaknya melalui makanan. Nino duduk di sebelah Santi sambil memperhatikan dengan penuh kehangatan.


"Jangan khawatir, ada lebih banyak makanan di sini jika kamu mau tambahan."


Santi mengangguk sambil tersenyum dan melanjutkan makan dengan lahap. Setelah beberapa saat, perutnya mulai terasa kenyang, dan dia menghentikan makanannya sejenak.


"Terima kasih, Nino," ucap Santi dengan tulus. "Makanannya enak sekali. Aku benar-benar lapar dan kamu membuatku merasa lebih baik."


"Oh iya, disini ada baju untuk kamu gunakan, karena nanti malam kita akan beraksi, aku akan mengamati hotel terlebih dahulu, nanti Arka akan menjemputmu."


Santi mengambil baju yang sudah Nino siapkan itu dan membukanya. Dia merasa risih karena baju yang harus dia kenakan terlihat seksi dan terbuka.


"Apa aku harus memakai ini?," tanya Santi ragu.

__ADS_1


"Tentu saja, memangnya kamu akan memakai baju petugas kebersihan he he... Kamu harus tampil sempurna agar penyamaranmu meyakinkan, dan ini kosmetik untukmu, berdandanlah yang cantik, ok."


"Baiklah, aku mengerti."


Setelah itu, Nino pun pamit undur diri.


Beralih ke rumah Arka dan Sania...


Terdengar suara bel yang di bunyikan beberapa kali dan cepat sehingga membuat Sania harus berlari untuk segera membukanya. "Ya, tunggu sebentar...!."


Ceklek!!


"Keyla?."


"Aku marah sekali sekarang!," kata Keyla sambil nyelonong masuk saat Sania membuka pintunya, lalu ia melempar tas nya ke kursi hingga membuat Sania terkejut dan khawatir.


"Ada apa? Kenapa kamu marah-marah begini?."


"Si Nino sialan itu! Aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan baru-baru ini... Dia bersikap aneh dan aku tidak menemukan apapun, sepertinya kebiasaan lamanya balik lagi! Sania, tolong hubungi Arka dan tanyakan padanya soal Nino."


"Hm, ya... Baiklah."


Sania hanya tersenyum melihat sahabatnya yang sedang di landa cemburu buta itu, lalu dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arka.


"Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi, telepon akan di alihkan ke pesan suara dan akan di kenakan biaya setelah bunyi bip...."


Keyla merasa kecewa karena Arka pun tidak bisa di hubungi. "Mungkin mereka sedang sibuk, dan aku sudah berjanji tidak akan ikut campur lagi urusan geng, jadi aku tidak boleh banyak tanya," ujar Sania.


Sania menghampiri Keyla yang sedang mondar mandir dan terlihat cemas dan mencoba menenangkannya. Dia mengatakan jika Nino akhir-akhir ini sudah terlihat lebih baik dan mengatakan agar Keyla tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Walaupun Keyla masih merasa kesal dan mengatakan jika ia akan mencabik-cabik Nino, tapi ia lalu tersenyum dan mengajak Sania untuk melampiaskan kemarahannya itu ke tempat mereka biasa nongkrong, yaitu tempat balapan.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...


__ADS_2