
Di bawah, ayah Sania hendak pergi ke kantornya sambil berbicara dengan seseorang di telpon. Ayah Sania memesan tiket pesawat ke luar negeri untuk mereka bertiga, dan meminta agar di proses dengan secepatnya. Dan saat mobil ayah Sania melaju, Arka muncul dari tempat biasa dia menunggu Sania, kemudian bersiul memberi isyarat pada Sania.
Sania yang sedang berbaring di kamarnya
langsung terbangun saat dia mendengar suara siulan yang familiar. Setelah memperhatikan dengan seksama, Sania menyadari bahwa suara itu berasal dari Arka yang sedang berdiri di bawah memberi isyarat.
Sania terus merasa gelisah dan ingin melihat Arka di luar, namun dia takut untuk keluar karena ibunya yang selalu mengawasi dan tidak mengizinkannya keluar rumah sendirian. Sania mencoba untuk memikirkan cara agar bisa melihat Arka tanpa diketahui ibunya.
"Ibu... Aku lapar, bisakah buatkan aku mi?."
"Tentu saja, tadi ibu ingin membuatkanmu makanan, tapi tadi kamu marah pada ibu. Tunggu ya, ibu masak dulu."
Sania mengangguk, namun hatinya merasa berat hati karena sudah mengelabui ibunya,
"Ibu... Maafkan aku, aku sudah bersikap gegabah."
Mendengar penyesalan dari putrinya itu, ibu Sania merasa senang dan berkata, "Baguslah jika kamu menyadarinya. Kami lakukan semua untuk kebaikanmu. Tunggu sebentar ya, ibu masak dulu, jangan kemana-mana."
Beberapa saat kemudian, Sania mendengar Arka bersiul lagi. Sania sangat ingin melihat Arka, tapi dia masih ragu dan takut akan ketahuan oleh ibunya. Namun, setelah berpikir sejenak, Sania merasa bahwa dia harus mengambil risiko untuk melihat Arka. Sania melangkah dan sangat senang saat melihat Arka di bawah, lalu membuka jendela dan mencoba berbicara padanya dengan isyarat.
Arka mengisyaratkan, jika ia menunggunya di bawah dan mengajak Sania untuk ikut naik motor bersamanya. Tanpa pikir panjang Sania pun menyetujuinya dan segera berganti baju. Kemudian Sania merangkak perlahan-lahan keluar dari jendela kamar dan berjalan menuju tempat Arka berada.
Setelah beberapa saat, Sania akhirnya berhasil bertemu dengan Arka. Kemudian mereka bergegas pergi dari sana meninggalkan ibu Sania yang terkejut karena menemukan Sania sudah pergi dari kamar dan kabur.
Ibu Sania mencari keberadaan putrinya itu di sekitar kamar tapi tidak menemukannya, kemudian melihat jendela yang terbuka dan kain yang menjuntai ke bawah yang di gunakan Sania turun.
Saat motor melaju, Sania memeluk Arka dengan erat dan sangat bahagia. Dengan suara yang tidak jelas karena terbawa angin dan terhalang helm, Arka bertanya pada Sania,
__ADS_1
"Apakah kamu menyesal?."
"Apa? Aku tidak mendengarnya," Jawab Sania seraya berteriak.
"Apakah kamu menyesal?." Arka mengulangi pertanyaannya sambil menoleh ke belakang agar terdengar Sania.
"Aku tidak menyesal.... Selama bersamamu, aku tidak akan menyesal," jawab Sania dengan keras saking bahagia. Arka pun ikut tersenyum dan bahagia juga.
"Pegangan yang erat!," kata Arka lagi dan melaju dengan menambah kecepatan, Sania pun semakin mengencangkan pelukannya.
~
Setelah Sania pergi dari rumah orang tuanya, Arka dan Sania memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka sewa.
"Dalam waktu singkat, ini tempat terbaik yang aku dapat... Walaupun nampak sedikit lusuh, tapi aku harap kamu akan menyukainya," kata Arka.
"Aku suka, menurutku rumah ini bagus, dan jika setelah di bersihkan maka akan terlihat lebih rapi," jawab Sania sambil tersenyum dan meraih tangan Arka.
Di teras depan, terdapat balkon kecil yang menghadap ke langit malam yang memungkinkan mereka untuk melihat bintang-bintang di langit.
Sania terlihat senang sekali sambil mengelilingi setiap sudut rumah sambil menatap Arka dengan senyum lebar di wajahnya. Arka pun ikut tersenyum melihat Sania bahagia. Mereka berdua mulai memikirkan cara untuk mendekorasi rumah kecil mereka agar terlihat lebih indah dan nyaman lagi.
"Arka, lihatlah... bunga ini sangat bagus, mungkin ini bunga milik orang yang menyewa rumah ini sebelumnya," kata Sania sambil menunjuk sebuah pot bunga kecil pada Arka.
"Hai bunga cantik... Selamat datang di keluarga kecil kami," kata Sania, lalu Arka pun mengulangi perkataan Sania, "Selamat datang di keluarga kami."
Arka dan Sania saling memandang penuh cinta dan kasih, kemudian mereka saling berpelukan hangat sebagai ungkapan perasaan mereka berdua.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Terlihat di rumah Nino, om Tedi dan kedua orang tua Sania sedang menginterogasinya dan bertanya mengenai keberadaan Arka dan Sania. Nino merasa repot karena di tanya terus tentang keberadaan mereka yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya.
Di saat situasi itu, Kenzi mulai datang dan menghampiri mereka dan berkata,
"Om Tedi, sebaiknya om mengampuni Nino yang sama sekali tidak tau, Arka mengirim pesan padaku, lihatlah."
Tedi dan kedua orang tua Sania membaca pesan tersebut yang berisi,
"Sahabatku, aku pergi... Maaf karena tidak memberitau kalian kemana dan dimana aku sekarang... Aku hanya tidak ingin mempersulit kalian saat berhadapan dengan om Tedi, tenanglah... Aku akan menjaga Sania baik-baik."
Setelah membaca pesan itu, om Tedi merasa marah karena Arka pergi dengan membuat masalah yang besar. Sedangkan ibu Sania hanya bisa menangis dan bersedih karena sikap putrinya itu dan ayah Sania pun mencoba menenangkannya, walau dalam hatinya juga sangat marah.
Selama masa kawin lari ini, berkat bujukan Tedi dan martabat keluarga mereka yang tidak ingin tercemar, orang tua Sania tidak akan menuntun Arka sekarang. Tapi meskipun begitu, semua orang ingin tau keberadaan mereka. Dan untuk saat ini biarlah Arka dan Sania menemukan dan menikmati masa paling bahagia dalam hidup mereka.
Di tengah kekhawatiran orang-orang terdekat mereka, kini, Arka dan Sania sangat bahagia melakukan kegiatan belanja keperluan rumah di supermarket. Mereka telah merencanakan ini selama beberapa hari dan membuat daftar semua barang yang perlu mereka beli.
Saat mereka masuk ke supermarket, mereka merasa gembira dan antusias. Mereka mengambil keranjang belanja dan mulai melihat-lihat di lorong-lorong.
Sania dna Arka memulai dari memilih buah-buahan dan sayuran segar. Mereka membicarakan rencana makan mereka selama seminggu dan memutuskan untuk membuat tumis dengan beberapa sayuran yang telah mereka pilih. Selanjutnya, Arka dan Sania beralih ke bagian daging dan memilih beberapa potongan daging ayam dan sapi untuk dimasak di tumis.
Saat mereka berkeliling di supermarket, mereka saling tertawa dan bercanda. Mereka melewati bagian roti dan memutuskan untuk membeli roti segar yang baru dipanggang untuk dimakan bersama tumis mereka. Mereka juga membeli beberapa camilan, seperti keripik dan kue, juga mi instan untuk dimakan selama seminggu.
Mereka kemudian bergerak ke bagian perlengkapan kebersihan, dan Sania mengingatkan Arka untuk membeli deterjen pencuci piring. Mereka juga membeli deterjen pencuci pakaian dan perlengkapan kebersihan lainnya yang mereka butuhkan untuk rumah.
Saat mereka meninggalkan supermarket, keduanya merasa puas dan merasa berhasil. Mereka tak sabar untuk pulang dan memasak tumis mereka serta menikmati barang-barang baru yang mereka beli.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...