
Di hotel tempat pesta berlangsung, Kenzi sudah tiba dan merasa heran karena Arka dan Nino belum hadir di acara tersebut. Ia mendapat beberapa pertanyaan dari orang-orang yang menunggu bintang di acara tersebut. Kemudian Kenzi mencoba menghubungiku Arka dan Nino, namun sebelum itu ia bertemu dengan Remon yang baru saja tiba sehingga tidak jadi menghubungi.
"Apakah semua tamu sudah hadir?."
"Sudah Bos, hanya saja Arka dan Nino belum datang," jawab Kenzi yang langsung menarik perhatian Jack yang juga baru tiba disana.
"Apa aku tidak salah dengar? Orang yang jadi bintang di acara ini belum juga datang? Wah wah wah... Dia sama sekali tidak menghargai niatmu Kakak...," seru Jack pada Remon yang sengaja memojokkan Arka.
"Kenzi, cepat hubungi Arka, aku sengaja membuatkan pesta untuknya, jangan sampai dia menyia-nyiakannya."
"Bos, sebelum aku kemari mereka ada beberapa masalah dengan kekasihnya, kami dari kalangan bawah selalu menyelesaikan masalah kami di ranjang, jadi mungkin mereka tidak akan ikut pesta ini, aku harap Bos bisa memahami mereka," jelas Kenzi, mencoba menghindarkan masalah untuk kedua sahabatnya itu.
"Ha ha ha... Mereka memang anak muda yang penuh hasrat dan ambisi, sudahlah tidak apa-apa, aku mengerti... Biarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu."
Berkat negosiasi Kenzi, akhirnya Remon tidak mempermasalahkan ketidak hadiran Arka. Jack berjalan melewati Kenzi dengan tatapan sinis dan berbisik pada Coki, "Aku semakin tidak suka padanya."
Pesta pun berlangsung sangat meriah, makanan dan minuman yang serba mahal pun tersedia dan di nikmati semua orang. Kini, Kenzi sedang berada di toilet dan mencoba menghubungi Arka Juga Nino karena hawatir akan keberadaan mereka yang tidak dia ketahui karena sebelumnya mereka mengatakan akan hadir di pesta tersebut.
Saat Kenzi membuka pintu dan akan keluar dari toilet, dia melihat Coki sedang berjaga di luar toilet sebelah dan melarang orang lain masuk. Kenzi mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana karena tidak ingin ada keributan dengan mereka yang selalu bersikap sinis padanya, terlebih saat Jack pun baru tiba dan memasuki toilet yang Coki jaga itu.
Namun, yang membuat Kenzi heran, dia juga melihat istri Bos Remon yang juga ikut masuk ke toilet tempat Jack berada, seakan mengerti niat kotor mereka Kenzi pun hanya menggelengkan kepalanya atas perselingkuhan mereka yang tidak di ketahui oleh Remon.
Setelah beberapa saat, terdengar kegaduhan dan suara-suara meresahkan dari dalam toilet itu hingga membuat Kenzi tidak suka mendengarnya dan tersenyum sinis. Dia hanya membiarkan kejadian itu dan berniat menjadikan hal itu sebagai senjata untuk menyerang Jack yang sudah berani berkhianat pada Bos nya sendiri, yaitu Remon.
Beberapa hari kemudian, saat Arka menghadiri pertemuan di kantor geng Elang yakni markas pusat, Sania pun mengikutinya karena saat Arka di panggil Sania sedang bersamanya dan tidak mungkin membiarkan Sania pulang sendirian.
Kini, Sania sedang berada bersama Siska, istrinya Remon di ruangan khususnya. Siska memperhatikan penampilan Sania dari atas sampai bawah dan dia mengatakan jika Sania terlihat seperti gadis baik-baik.
"Berapa usiamu?," tanyanya.
"Usiaku 18 tahun," jawab Sania.
"Kenapa kamu bisa bersama Arka? Apakah kamu di culik?." Pertanyaan Siska itu membuat Sania berpikir keras lalu bertanya balik, "Apa menurutmu aku terlihat aneh bersama Arka? Apakah aku terlihat menjadi beban untuk Arka?."
"Menjadi istri seorang bos mafia itu tidak mudah... Mungkin orang biasa akan melihat jika Arka tidak pantas mendapatkan seorang gadis baik sepertimu, tapi bagi kami kamu sangat rapuh dan hanya jadi beban Arka."
__ADS_1
~
Setelah mendengar perkataan Siska di pertemuan pertama mereka di kantor tadi, kini Sania berpikir sangat keras tentang hal itu. Dia yang kini sedang duduk di taman di hampiri Arka yang membawakan minuman untuknya, namun Sania hanya terdiam dan tidak menampakkan ekspresi yang lebih kecuali wajahnya yang murung.
"Ada apa? Kamu terlihat sedih," tanya Arka saat melihat kekasihnya itu murung.
"Aku melihat nyonya Siska mengurus Bos Remon dengan sangat baik karena dia bisa menyeimbangi posisinya sebagai istri seorang Bos, tapi aku hanya menjadi beban untukmu."
"Kamu tidak perlu melakukan semua itu, aku hanya ingin melihatmu bahagia setiap hari dan selalu tersenyum padaku... Itu yang aku mau."
"Tapi semua orang mengatakan aku hanya jadi beban yang akan menjatuhkanmu."
"Terus kenapa? Aku tidak peduli dengan perkataan orang, dan kamu tidak perlu menghiraukannya."
Hening sejenak...
Kemudian Arka berlutut di hadapan Sania, "Ayo, naiklah... Aku akan menggendongmu."
"Tidak... Semua orang akan melihat kita."
"Aku melakukannya untuk memberitahumu betapa pentingnya kamu menjadi beban hidupku, karena dirimu... aku berjanji pada diriku sendiri akan melakukan apapun demi melindungimu dan tidak akan mati agar terus bisa bersamamu."
"Arka... Terima kasih...," batin Sania.
Malam harinya, seperti biasa Keyla dan Nino berkunjung ke rumah Arka dan Sania. Arka dan Nino sedang berbincang urusan pria di dalam rumah, sementara Sania dan Keyla masih sibuk menata meja dan mempersiapkan bahan-bahan makanan di balkon.
Setelah semua siap, mereka pun mulai memasak hot pot dengan berbagai macam daging dan sayuran yang disiapkan sebelumnya. Saat menunggu makanan matang, Sania meminta agar Keyla mengajarinya untuk menjadi seorang istri Bos yang baik.
Sania ingin menjadi wanita kuat dan berani agar semua orang tidak mencemoohnya dan tidak membuat Arka merasa malu karena memiliki gadis yang lemah di sisinya.
Keyla mengerti dan mengatakan pada Sania jika hal-hal seperti itu tidak bisa dia pelajari hanya dalam satu atau dua hari saja, tapi dia mengatakan akan mengajarinya secara perlahan. Kemudian Keyla mulai mengajari dari hal yang menurutnya paling dasar.
"Jika kamu bertemu dengan seseorang maka kamu harus mengangkat dagumu dan menatapnya ke bawah juga menyimpan tanganmu seperti ini."
"Begini?," tanya Sania sambil mempraktekkan yang Keyla katakan.
__ADS_1
"Tidak, tidak, matamu terlalu besar dan kamu tidak memiliki aura arogan."
Keyla merasa bingung karena memang Sania tidak cocok untuk menjadi wanita seperti itu, lalu dia mengatakan akan mengajarinya hal lain seperti merokok. Sania langsung menolaknya karena dia tidak pernah dan tidak mau melakukannya.
Lalu Keyla mengatakan jika hal itu hanya untuk pura-pura dan tidak perlu melakukannya dengan sungguh-sungguh, karena menurutnya jika seseorang melihat gadis yang merokok maka akan terlihat keren dan bisa menyelesaikan masalahnya.
Kemudian Keyla mengajari Sania cara merokok dan menyuruh Sania untuk mencobanya. Merasa penasaran, Sania pun mencobanya namun pada saat satu kali hisapan dia langsung batuk-batuk.
Pada saat yang sama Arka dan Nino melihat momen itu sehingga membuat Arka marah melihatnya dan segera menghampiri Sania, dengan segera Keyla mengambil rokok yang ada di tangan Sania dan membuangnya.
"Sania! Apa yang kamu lakukan? Kamu belajar merokok?," tanya Arka dengan nada kesal, lalu tatapannya beralih pada Keyla dan menegurnya karena sudah mengajari Sania hal-hal yang tidak baik.
"Arka, aku~...."
"Teganya kamu melakukan itu padanya?!," ucap Arka dengan nada yang lebih tinggi.
"Arka, jangan salahkan Keyla, aku sendiri yang mau mencobanya."
"Kamu mau mencobanya? Itu bukan hal yang baik dan tidak boleh kamu lakukan, mengerti?." Sania pun mengangguk.
Kemudian Arka memperingati Keyla agar tidak mengajari Sania hal-hal seperti itu lagi. Nino mencoba membela Keyla dan meminta maaf untuknya. Melihat sesuatu yang tidak biasa antara Keyla dan Nino, Arka dan Sania memperhatikan mereka berdua yang salah tingkah dan menebak jika mereka kini berhubungan.
"Ah, aku mengerti sekarang... Kalian berpacaran kan?," tanya Arka. "Benar, kalian pacaran?," sambung Sania.
Merasa tidak ada sesuatu yang perlu di sembunyikan dari sahabatnya itu, Nino pun mengakui jika hal itu memang benar. Lalu Keyla mencoba menyembunyikan rasa malunya dengan menyarankan semua orang untuk segera makan.
Sania mulai menyiapkan piring-piring mereka namun mendapat komplen dari Keyla karena Sania menyediakan piring lebih untuk Kenzi yang tidak datang malam itu.
Sania pun teringatkan jika Kenzi memang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya semenjak kejadian malam ia dan Kenzi mengunjungi sekolah dan rumah lamanya. Bukan hanya Sania, Arka pun menyadari sesuatu tentang Kenzi saat melihat piring kosong dan kursi biasa Kenzi duduk disana.
Mereka pun mulai menikmati hot pot dengan lahap. Semua makanan terasa begitu lezat dan membuat mereka merasa sangat kenyang. Tidak lupa, mereka juga menyantap beberapa cemilan dan minuman ringan sebagai penutup.
(Makan hot pot malam-malam dengan kekasih... Nyam-nyam... Enak & romantis 😍😍)
__ADS_1
BERSAMBUNG...
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃