Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 14 - Putus??


__ADS_3

\*\*\*


Setelah penghadangan yang di lakukan Keyla, Arka membawa Sania pulang ke rumahnya dan merawat luka di tangan Sania.


"Aku harus bersihkan lukamu," kata Arka dengan panik saat melihat luka Sania agak parah.


Arka tambah panik saat dia tidak menemukan obat untuk luka Sania. Dia mencari di kotak obat dan menggeledah seluruh rumahnya tapi tidak menemukannya.


"Dimana obat itu, biasanya obat itu selalu disimpan disini, kenapa saat aku membutuhkannya obatnya tidak ada," Arka frustasi.


"Apakah Keyla temanmu?," tanya Sania.


"Kami tidak dekat," jawab Arka sambil sibuk mencari obat.


"Tapi sepertinya dia sangat mengenalmu," tanya Sania lagi.


"Kami hanya bertemu saat balapan liar, itupun hanya beberapa kali."


Sania merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan Arka. Namun, dia masih merasa tidak nyaman tentang hubungan Arka dan Keyla yang terlihat dekat. Arka mencoba meyakinkan Sania bahwa Keyla hanya teman dan tidak ada apa-apa antara mereka.


Melihat Arka yang masih mencari obat, Sania mengatakan jika lukanya hanya sedikit dan tidak usah di obati. Arka dengan serius mengatakan bahwa luka tersebut bisa terinfeksi dan menimbulkan tetanus jika tidak segera diobati.


Sania terkejut mendengar hal tersebut dan merasa bersalah karena telah menganggap remeh luka tersebut. Arka kemudian pergi ke apotek terdekat membeli obat untuk membantu merawat luka Sania.


Setelah luka Sania di obati, Arka meminta maaf atas kejadian yang menimpa Sania itu. Kemudian Sania mengatakan jika hal itu tidak ada hubungannya dengan Arka, jadi Arka tidak usah merasa bersalah.

__ADS_1


"Jika bukan karena aku, kenapa Keyla mengganggumu?," Sania hanya diam karena tidak tau harus menjawab apa, karena memang itu alasannya.


Arka merasa sangat bersalah dan menyesal karena Sania seringkali terlibat dalam masalah yang melibatkan dirinya. Dia juga merasa bersalah karena Sania sering bolos les piano karena dia. Arka menyadari bahwa perilakunya yang kadang-kadang impulsif telah membawa banyak kesulitan bagi Sania.


Lalu Arka teringat perkataan Kenzi tempo hari,


"Sania bukan level kita, kamu harus segera mengakhiri kedekatanmu dengannya. Kehidupan kita hambar, sedangkan dia mempunyai masa depan yang cerah. Kita jangan menghalangi cita-citanya."


Setelah berpikir sejenak, dengan berat hati Arka mengatakan pada Sania jika mereka lebih baik mengakhiri hubungan mereka karena perbedaan yang terlalu jauh. Padahal dalam hati Arka, dia hanya tidak ingin Sania lebih terluka jika tetap berada dekat dengannya.


Sania merasa terkejut dan terpukul dengan ucapan Arka yang tiba-tiba. Dia tidak mengerti mengapa Arka tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan pertemanan mereka. Sania mencoba bertanya kenapa, tetapi Arka hanya mengulang kata-katanya bahwa perbedaan antara mereka terlalu besar.


Dengan nada bersedih, Sania mencoba bertanya sekali lagi,


"Arka, apakah ini sudah menjadi keputusanmu?."


Sania merasa kecewa dan sedih mendengar keputusan Arka untuk mengakhiri hubungan mereka. Dia merasa seperti ada yang robek di dalam dadanya saat Arka mengatakannya. Sania mencoba menahan tangisnya, tapi air matanya tidak bisa dihentikan.


"Sania?." Arka sangat terluka melihat Sania menangis. Sania mengangguk dengan lemah, terlalu terluka untuk mengatakan apa-apa.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Sania mengambil tas sekolahnya dan berlari keluar dari rumah Arka dengan menangis. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi dia hanya ingin jauh dari sana. Sania merasa sangat kecewa karena hubungan mereka yang baru saja dimulai harus berakhir dengan cara seperti ini.


Saat di luar, Sania bertemu dengan Kenzi dan Nino yang merasa heran melihat Sania menangis dan berbalik menghindari mereka. Kenzi mencoba memanggil nama Sania dan menanyakan apa yang terjadi, namun Sania hanya terus berlari menjauh.


Nino mencoba mengejar Sania untuk menghentikannya, namun Sania sudah terlalu jauh dan sulit dikejar. Nino kemudian bertanya pada Kenzi apa yang sebenarnya terjadi, namun Kenzi hanya menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dia tidak tahu.

__ADS_1


Keduanya kemudian masuk ke rumah Arka dan mendapati sahabatnya itu sedang menangis saat menerima telepon dari seseorang.


"Arka? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?," tanya Nino beruntun.


"Nenek... Nenek meninggal," jawab Arka dengan berurai air mata.


Arka sangat terpukul dengan keputusannya untuk berpisah dengan Sania. Di tengah kesedihannya itu, ia mendapat kabar bahwa neneknya, keluarga satu-satunya yang masih hidup, meninggal dunia. Arka sangat terpukul dan merasa kesepian. Ia merasa tidak memiliki tempat untuk meluapkan rasa sakitnya.


Kenzi dan Nino juga merasa terpukul atas kepergian nenek Arka. Mereka menemani Arka untuk mengurus pemakaman nenek Arka yang sudah mereka anggap seperti nenek mereka sendiri. Setelah memakamkan neneknya, Arka merenung dan menangis di pusara neneknya di temani dua sahabatnya yang turut bersedih.


~


Saat makan malam, ayah Sania memperhatikan luka di tangan Sania dan mengomelinya. Ayah Sania mengingatkan Sania agar lebih hati-hati karena bagi seorang pianis, tangannya sangat berharga.


Sania hanya diam dan mengangguk membenarkan perkataan ayahnya, tetapi dia merasa sedih dan merindukan Arka yang memintanya untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Lalu Sania melihat ke arah orang tuanya dan merasa tidak enak hati karena sudah berbohong tentang alasan tangannya yang terluka.


Sania merasa gelisah dan tidak bisa tidur setelah berpisah dengan Arka. Dia duduk di tempat tidurnya, memainkan lampu tidurnya, sambil sesekali melihat keluar jendela ke arah tempat Arka selalu menunggunya. Sania merenungkan keputusan Arka untuk mengakhiri hubungan mereka dan dia merasa sangat kehilangan.


Sania berusaha untuk melupakan Arka, tetapi dia tidak bisa menghilangkan perasaannya terhadapnya. Dia terus memikirkan kenangan indah yang mereka jalani bersama-sama, dan merindukan kebersamaan mereka.


Akhirnya, Sania bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Dia berjalan-jalan di sekitar lingkungannya sambil memikirkan tentang hubungannya dengan Arka dan bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa dia. Setelah beberapa saat, Sania kembali ke rumahnya, merasa sedikit lebih tenang tapi masih merasa sedih.


Sania akhirnya berhasil tertidur setelah memutuskan untuk menenangkan dirinya sendiri dan fokus pada hal-hal positif dalam hidupnya. Dia tahu bahwa meskipun keputusan Arka untuk mengakhiri hubungan mereka menyakitkan, dia harus terus maju dan berusaha menjalani hidupnya tanpa Arka.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa kasih like, subcribe, hadiah juga komentar nya ya...


__ADS_2