
\*\*\*
Saat Sania mendengar kabar bahwa Arka sudah mengetahui rahasianya, ia merasa takut dan terkejut. Tubuhnya gemetar, dan ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba terjatuh ke lantai. Sania merasa seperti dunia seolah runtuh di depan matanya, dan ia merasa sangat rentan dan tak berdaya.
Sementara itu, Kenzi langsung berlari menuju rumah Sania dengan hati yang penuh kekhawatiran. Kenzi tidak ingin Sania menghadapi bahaya atau kesakitan apa pun, terlebih setelah mendengar bahwa Arka sudah mengetahui rahasia Sania.
~
"Aaaaarggghh...!."
...
"Aarrgggghhh...!."
...
"Aarggh! Hu hu hu... πππAarrgggghhh...!."
Arka mengendarai mobilnya dengan penuh kefrustasian dan kemarahan yang meluap-luap. Ia merasa marah pada dirinya sendiri karena telah mengetahui rahasia Sania dan tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Rasa bersalah dan kekhawatiran yang teramat dalam membuatnya melupakan kepentingan keselamatannya sendiri. Arka mengabaikan semua aturan lalu lintas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Pikirannya hanya terfokus untuk segera menemui Sania, mungkin untuk meminta maaf atau menjelaskan apa yang dia tahu. Rasa gelisah dan kekhawatiran membuatnya tidak dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Ketika Arka akhirnya tiba di rumah, ia melompat keluar dari mobil dengan penuh amarah dan bergegas menuju pintu rumah. Hatinya berdebar kencang dan perasaan bersalah menghantuinya.
Gubrak!
Arka membuka pintu dengan sangat kencang dan bergegas menemui Sania, tapi langsung di halau oleh Kenzi yang sudah berada disana.
"Arka, tenanglah! Semuanya sudah berakhir, tolong jangan lukai Sania lagi."
Arka menatap Kenzi dengan ketidak percayaan, karena dengan begitu Arka berpikir jika Kenzi juga sudah mengetahui rahasia Sania.
"Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Kenapa?!."
"Karena ini untuk kebaikanmu juga kebaikan Sania! tenanglah, dan dengarkan penjelasanku."
"Bagaimana aku bisa tenang! Semua itu terjadi pada Sania, tapi kalian semua menyembunyikannya dariku!."
__ADS_1
"Arka... ~."
"Biar aku katakan sendiri," kata Sania yang muncul dari balik pintu kamarnya.
Kemudian Arka dan Sania bicara berdua di dalam rumah. Sania menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya empat tahun yang lalu.
......
"Jadi... Kenzi masuk penjara karena tidak ingin hal ini terungkap, lalu aku... Aku hanya berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa dan melanjutkan hidup."
Arka menahan emosinya dan air matanya terus keluar tidak terbendung. "Kenapa? Kenapa kau sembunyikan dariku?!."
"Karena aku khawatir padamu, aku khawatir kau akan terluka... karena saat kamu mengetahuinya aku khawatir kamu tidak bisa mengendalikan diri."
Arka meremas kepalanya frustasi dan menangis marah. "Arka... Aku sudah melupakannya! Kita jalani hidup kita saja," seru Sania sambil meraih tangan Arka agar tenang.
"Teganya kau melakukan ini padaku!," teriak Arka seraya melepaskan tangan Sania. "Aku seperti orang bodoh, dan kamu katakan semua ini untukku... Apa kau tau, semua itu lebih menyakitkan daripada membiarkanku mati!."
"Arka... Hiks hiks...."
Arka tertawa miris dan memundurkan badannya hingga membentur dinding. "Sangat lucu... aku berpura-pura jadi ketua geng, sedangkan aku tidak bisa melindungi gadis yang aku cintai... Apa gunanya aku hidup di dunia ini! Aaarggh!."
Arka pun pergi tanpa menghiraukan Sania yang memanggilnya.
Arka hanya terus berlari keluar rumah dan melewati ketiga teman yang menunggu di luar. "Arka!." Panggil Kenzi namun tidak di dengar juga. Akhirnya Kenzi dan Nino pun pergi menyusul Arka, sedangkan Keyla menghampiri Sania yang sedang duduk putus asa.
"Sania...?."
"Keyla... Apa salahku? Apa yang harus aku lakukan? hiks... Hiks... U hu... Hiks sebenarnya apa yang harus aku lakukan... Hiks hiks...."
"Sania, kamu tidak salah... Kamu tidak pernah salah... Kamu harus kuat dna jangan seperti ini...." Keyla memeluk Sania yang nampak rapuh dan mereka berdua pun menangis bersama πππππ.
Karena tidak menemukan keberadaan Arka, Nino mencari ke rumah lamanya dan bertanya pada Santi. Namun, Arka juga tidak berada disana dan Nino pun pergi menuju tempat lain.
Merasa khawatir atas menghilangnya Arka, Santi pun berinisiatif mencari Arka. Ia pergi ke tempat-tempat yang pernah di kunjungi bersama Arka tapi juga tidak bisa menemukannya.
Di saat semua orang sibuk mencari keberadaannya, kini Arka sedang duduk mabuk dan menghabiskan banyak minuman. Ia nampak frustasi berat dan memikirkan kejadian-kejadian yang telah berlalu.
Mulai dari kejadian empat tahun lalu saat dirinya mengabaikan Sania ketika tampil dengan penampilan barunya yang tidak ia sukai dan lebih menyukai Sania yang berpenampilan seperti dahulu.
__ADS_1
~
"Kenzi di penjara karena Jack mengirim anak buahnya untuk membunuhmu! Jadi, kalau kamu bicara tentang moral, ingatlah semua pengorbanan yang orang lain lakukan untukmu!."
...
"Empat tahun lalu anak buahku sudah memperkosa Sania, apa kau tidak tau itu?!."
~
"Aarggh!." Arka menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Ia marah pada dirinya sendiri dan memukulkan tangannya ke meja bertubi-tubi dan memporak porandakan botol minuman yang ada di atas meja.
Ia berdiri dan berjalan sempoyongan dengan meneguk minumannya di atas gedung tempat yang dulu ia berkunjung dengan Sania.
"Aargghh! Kenapa kamu pingsan karena mabuk di rumah saat itu! Arka! Kau mati saja! Kenapa kau bangun!... Aargghh! π‘π©π©π." Arka sangat frustasi berat dan memaki dirinya sendiri lalu menjatuhkan dirinya dan menangis.
Setelah melakukan pencarian ke beberapa tempat, akhirnya Santi bisa menemukan Arka di gedung yang dulu ia juga bersama Arka pernah disana.
" Arka... Arka...."
Santi menghampiri Arka dan terus memanggilnya agar tersadar. Saat Arka membuka matanya, ia melihat Santi seperti sosok Sania di hadapannya lalu tersenyum seraya memanggil namanya.
"Sania... Sania, akhirnya kamu datang, Sania...." Arka mencoba bangkit dan terus menatap Santi yang dalam pikirannya itu Sania dan tersenyum padanya.
Santi membawa Arka pulang ke rumah lamanya dalam keadaan Arka yang berjalan sempoyongan dan terus meracu tentang Sania." Hati-hati Arka," ucap Santi.
"Sania... Maafkan aku, sungguh maafkan aku...."
"Jalannya hati-hati Arka...," ucap Santi lagi yang tergopoh-gopoh karena menahan berat tubuh Arka. Lalu Arka menyeret Santi ke dinding dan menahan kedua tangan Santi. "Sania, apa kau tau... Aku ingin melindungimu, tapi aku tidak bisa melakukannya... Maafkan aku Sania...."
"Arka, aku bukan Sania... Lebih baik kamu istirahat di kamar."
Niat hati ingin membantu Arka, ia malah mendapat perlakuan di luar dugaannya. Di bawah kesadaran dan anggapan jika Santi itu Sania, Arka terbawa suasana dan hasratnya terpancing.
Pada awalnya Santi menolak keinginan Arka karena menganggapnya Sania, tapi setelah merasakan sentuhan demi sentuhan Arka, Santi pun terangsang dan membiarkan Arka menyentuhnya meskipun dengan sebutan nama Sania.
Akhirnya, pada malam itu Arka melakukan kesalahan besar dengan berhubungan gelap dan menyentuh Santi yang dia anggap Sania. Penghianatan cinta pun tidak terhindarkan meskipun dalam keadaan mabuk.
Haduuuh...! Satu masalah belum selesai, nambah lagi masalah lain π€¦ββοΈπ
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung...