Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 23


__ADS_3

Setelah Sania kembali ke rumah, ibunya langsung mengomelinya dengan nada marah karena hawatir. "Sania, kamu kemana saja! Kamu membuat kami khawatir sekali!," ujar ibunya sambil memandang tajam ke arah Sania namun berlinang air mata.


Sania merasa sedih dan menyesal karena telah membuat orang tuanya khawatir. "Maaf, Ibu. Aku hanya ingin bertemu Arka untuk terakhir kalinya sebelum pergi ke luar negeri," jawab Sania dengan suara pelan.


Namun, ibunya tetap tidak bisa menerima alasan Sania dan terus mengomel. "Kenapa kamu bertindak ceroboh? kamu menghilang begitu saja tanpa memberitahu siapa-siapa! Ayahmu hampir masuk UGD karena serangan jantung karena kamu!"


Sania merasa semakin sedih dan menyesal. Dia tahu bahwa dia salah dan tidak boleh membuat orang tua khawatir seperti ini. Kemudian om Tedi mencoba menenangkan semua orang disana dan mengatakan bersyukur karena Sania sudah pulang. Om Tedi menyarankan agar masalah ini di selesaikan setelah keadaan tenang agar tidak terbawa emosi.


Setelah itu om Tedi mengajak Arka untuk pamitan pulang. Tapi, Arka tidak beranjak dan malah berkata, "Om, tunggu sebentar, aku ingin bicara pada ayahnya Sania."


Mendengar Arka bicara, ayah Sania yang dari tadi diam menahan emosinya langsung berdiri dan meradang.


"Apa yang mau kamu bicarakan! Tentang kamu yang melanggar janjimu! Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak menemui Sania lagi! Lalu apa ini?."


"Ayah, semua ini tidak ada hubungannya dengan Arka, aku sendiri yang datang menemuinya." Sania mencoba membela Arka yang memang tidak bersalah dalam hal ini.


"Apa yang kamu katakan? Sebagai seorang gadis kamu berkata dan melakukan hal itu?


Apa bajingan ini yang mengajarimu?!," jawab ayah Sania semakin murka.


Arka melangkah maju dan berdiri di samping Sania lalu berkata,


"Pak, aku tau kesanmu terhadapku sangat buruk. Dan aku tau anda tidak akan mendengarkan perkataanku. Tapi cobalah untuk mendengarkan apa yang ingin Sania katakan. Dia pasti punya alasan melakukan semua ini."


"Alasan apa? Ini semua karena pengaruh buruk darimu! Jika dia tidak bertemu denganmu, dia tidak akan bersikap kurang ajar seperti ini!."


"Ayah... Sejak kecil aku sudah melakukan hal sesuai keinginan kalian, aku tidak pernah menolaknya. Walaupun aku suka atau tidak aku tetap memenuhi harapan kalian. Tapi sekarang, aku sudah dewasa, aku ingin mencari jati diriku sendiri dan tidak ingin menjadi boneka kalian. Dalam hal ini, aku tidak ingin pergi kelas luar negri dan hanya akan belajar disini saja."


" Kamu rela meninggalkan masa depanmu hanya untuk remaja bermasalah ini?," tanya ibu Sania.


" Aku tidak setuju! Sekarang cepat kamu pergi ke kamar!," bentak ayah Sania.

__ADS_1


"Ayah... Kenapa ayah tidak pernah mendengarkan aku? Ayah terlalu memaksakan kehendak ayah!."


Ayah Sania sangat marah dan hendak menampar Sania, namun dengan sigap Arka melindungi Sania dan menangkis tangan ayahnya.


"Apa yang anda lakukan? Jangan memukul Sania."


Mendapat penghadangan dan tidak berhasil menampar Sania, kini Arka yang kena sasaran dan mendapat satu tamparan yang lumayan menyakitkan dari ayah Sania.


"Ayah!."


Tedi mencoba memisahkan ayah Sania dan Arka agar tidak terjadi sesuatu yang lebih tidak di inginkan. Kemudian ayah Sania memperingatkan Arka untuk tidak menemuimu Sania lagi, jika tidak dia tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan Arka.


Namun Arka meminta maaf karena harus menolak perintah ayahnya Sania dan mengatakan jika ia sudah berjanji pada Sania untuk tidak meninggalkannya. Dan Arka mengatakan jika ia serius terhadap Sania, apapun yang terjadi dia tidak akan berpisah dengan Sania.


Ketegangan semakin mencekam, Tedi yang mencoba melerai pun ikut di dorong dan di usir dari rumah itu. (Howalah... Berani juga ngusir polisi, gak takut di tangkap tuh ayahnya Sania wkwkwwk).


Di rumah Arka, terlihat Nino yang sedang mondar mandir menunggu kepulangan Arka.


"Om Tedi ada disana, kamu tenang saja," jawab Kenzi.


"Bagaimana aku bisa tenang, Arka memagari putri mereka, aku takut dia di pukuli."


Tak lama Arka pun pulang dengan wajah yang di tekuk dan om Tedi pun mengikutinya dari belakang. Saat melihat Arka, Nino terus memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Arka, namun Arka tidak menjawabnya dan berlalu begitu saja.


Tidak mendapat respon dari Arka, Nino berbalik bertanya pada om Tedi yang baru mendudukkan dirinya di kursi. Kemudian om Tedi menjelaskan bahwa dia kena marah dan ikut di usir juga. Dia mengatakan selama bertahun-tahun menjadi seorang polisi dia tidak pernah di permalukan seperti itu.


Om Tedi terus mengomel dan mengeluh karena menjadi wali Arka itu sangat tidak mudah. Hampir setiap hari dia mendapat omelan dan harus menyelesaikan masalah Arka. Arka yang mempunyai kekasih, tapi dia ikut kena masalah juga. Dia merasa hidupnya sangat apes.


"Om, itu bukan keinginan Arka, Sania sendiri yang mendatanginya Arka," kata Kenzi.


"Om, maafkan aku," sambung Arka.

__ADS_1


Om Tedi menghela nafas lalu berdiri dan menasihati Arka dengan minta maaf terlebih dahulu karena bukan ingin menghina Arka. Hanya dia harus mengatakan, jika Arka harus sadar diri karena Sania itu putri satu-satunya. Orang tuanya tidak akan membiarkan putrinya itu bersama orang yang bahkan di keluarkan dari sekolah, dan Tedi mengatakan jika dia sendiri yang menjadi orang tua Sania, dia bahkan akan lebih murka pada Arka.


Setelah bicara panjang lebar, sebagai perkataan terakhir, Tedi meminta pada Kenzi dan Nino untuk selalu menasehati sahabatnya itu agar tidak keras kepala, lalu Tedi pulang diantar Nino.


"Arka, om Tedi sudah bicara seperti itu, maka sekarang kamu harus melepaskannya. Di mata orang tua Sania, kita hanyalah preman yang tidak punya harapan."


Kenzi juga menasehati Arka, karena sebagai sahabatnya dia juga prihatin dengan setiap kejadian yang menimpa Arka dan tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi. Setelah kepergiannya Kenzi, tinggallah Arka seorang diri bersandar di dinding dan memejamkan matanya merenungi semuanya.


~


Setelah kejadian semalam, Sania hanya berdiam diri di kamarnya dan mengabaikan orang tuanya yang menyuruhnya untuk sarapan. Sebelum berangkat bekerja, ayah Sania menemuinya terlebih dahulu dan berpesan pada istrinya untuk selalu mengawasi Sania, bahkan mengunci pintu agar dia tidak bisa keluar rumah.


Sania yang sudah merasa sangat kecewa pada ayahnya mengatakan jika lebih baik mereka membeli kurungan saja dan menyuruh mereka mengurungnya disana seperti burung agar tidak terlepas. Mendengar hal itu, ayah Sania tersulut emosi, namun ibunya segera menenangkannya.


"Ingat! Apapun yang kamu lakukan, dan bagaimana pun kamu menolaknya, aku akan tetap mengirimmu ke luar negri."


Sania menatap kepergian ayahnya dengan kesal tanpa bicara lagi, kemudian ibu Sania mencoba berbicara kepada putrinya yang menginjak dewasa itu.


"Sania... Kamu sudah di butakan oleh cinta, Arka bukanlah jodohmu. Jika nanti kamu sudah di luar negri, akan lebih banyak pria yang menyukaimu. Kamu akan menyesali perasaan sesaatmu ini."


"Ibu... Arka orang yang baik, kami saling mencintai."


"Kamu bicara tentang cinta, memangnya berapa usiamu sekarang? Sejak kecil kamu hidup serba kecukupan dan tidak pernah kesusahan. Kamu pikir kamu bisa hidup hanya dengan cinta?," nasihat ibunya.


"Ibu... Kalian saja yang tidak pernah merasakan cinta, jika saling mencintai maka tidaklah akan mengeluhkan apapun. Kalian sebagai orang dewasa hanya menilai seseorang dari penampilannya luarnya saja."


"Sania...."


Sania tidak ingin mendengar perkataan ibunya lagi dan lebih memilih tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sehingga membuatnya ibunya berdecak karena keras kepala anaknya itu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2