
\*\*\*
Sore itu, Sania pulang terlambat dan ayahnya bertanya kenapa dia terlambat. Sania beralasan bahwa ada tugas sekolah yang harus diselesaikan di perpustakaan. Ayahnya mengangguk mengerti namun tetap menegaskan agar Sania tidak terlalu sering terlambat pulang karena alasan tugas sekolah.
Sania mengangguk setuju dan masuk ke kamarnya untuk istirahat lalu melihat piano nya dan memainkannya dengan hati yang senang. Sania merasa sedikit menyesal berbohong pada ayahnya karena sebenarnya Sania tidak ada tugas sekolah dan terlambat karena ia berkeliling dengan Arka.
Sementara Sania sedang asyik bermain piano dengan senang, sedangkan Arka dan teman-temannya datang dan menemui Ciko dan memperingatkannya agar tidak mengganggu Sania.
Arka menemui Coki dan gengnya yang sedang duduk santai di pinggir jalan lalu memanggilnya.
"Coki." Orang yang di panggil menoleh.
"Yuhuu... Lihat, siapa yang datang ini. Rupanya mereka ingin merasakan tunjuku ini." kata Coki sambil mengacungkan kepalan tangannya.
"Coki, untuk terakhir kali kamu sudah tercatat di catatan kriminal polisi. Jangan sampai aku melaporkan dan memasukanmu ke penjara." Jelas Arka.
"Apa maksudmu?."
"Selama kamu tidak menggangu Sania, maka kita tidak akan ada masalah," lanjut Arka.
"A ha, jadi semua ini karena gadis mungil itu."
Coki awalnya mencoba mempertahankan diri dan berdalih bahwa dia tidak akan menyakiti dan tidak tertarik Sania, tapi setelah mendengar Arka sangat memperhatikan Sania, hal itu membuat Coki semakin tertantang ingin lebih menggangu Sania dan membuat Arka marah.
Penolakan Coki atas permintaan Arka, juga kata-katanya yang melecehkan Sania membuat Arka naik pitam, apalagi saat Coki menantangnya berkelahi dengan sangat berani karena jumlah mereka lebih banyak.
Tanpa basa-basi, mereka langsung terlibat dalam perkelahian 3 lawan 10 orang.
Saat Arka dan Coki terlibat dalam perkelahian sengit, mereka tidak dapat mengendalikan amarah mereka dan berusaha untuk saling melukai.
Pukulan dan tendangan terus menerus dilontarkan, membuat toko di sekitar mereka menjadi berantakan dan rusak. Barang-barang yang dijual di dalam toko berserakan di lantai, dan beberapa barang bahkan hancur berkeping-keping.
Pemilik toko dan pengunjung yang lain terpaksa melarikan diri untuk menghindari bahaya. Suasana semakin panik dan hiruk-pikuk, dan banyak orang terlihat panik dan ketakutan.
Setelah beberapa waktu, Coki dan gengnya akhirnya kalah dalam perkelahian tersebut dan akhirnya memohon untuk dibebaskan dengan syarat jika mereka tidak akan menganggu Sania. Arka dan teman-temannya mempertimbangkan permohonan tersebut dan akhirnya menyetujuinya.
__ADS_1
Keesokan paginya...
Sania keluar rumah dengan tas sekolah di tangannya. Dia bergegas menuju gerbang depan dan menutup pintunya. Setelah itu, Sania melangkah ke jalan dan menunggu di depan rumahnya, mencari Arka yang akan menjemputnya untuk pergi ke sekolah.
Namun, Sania tidak melihat Arka di sekitar rumahnya. Dia menunggu beberapa menit, tetapi Arka tetap tidak datang. Sania merasa khawatir karena dia takut terlambat ke sekolah.
Akhirnya, Sania memutuskan untuk pergi ke halte bus. Sania tiba di halte bus dan menunggu beberapa menit sampai bus datang. Dia naik ke dalam bus dan duduk di bangku yang tersedia.
Sania merasa sedikit kecewa karena Arka tidak kunjung datang dan kehilangan waktu bersama Arka di perjalanan ke sekolah, tetapi dia tetap bersemangat untuk belajar di sekolah hari ini.
Saat sampai di gerbang sekolah, Sania bertemu dengan dua orang siswa yang waktu itu menjaganya karena di suruh Arka. Mereka berdua menyapa Sania sejenak lalu berjalan kembali mendahului Sania.
Sania merasa heran, dia kira mereka di suruh Arka untuk mengikutinya lagi nyatanya tidak. Lalu Sania memanggil mereka dan hendak bertanya tentang Arka, tapi Sania mengurungkan niatnya.
Saat di kelas, Sania memikirkan Arka yang masih belum dia temui dan tidak terlihat di sekolah. Kebersamaan mereka kemarin nyatanya telah membuat Sania penasaran tentang sosok Arka.
Saat Sania sedang belajar teman di sampingnya berkata,
"Sania, ada seseorang yang mencarimu. Ini."
Siswi itu memberikan secarik kertas yang tertulis beberapa kata. Sania melihat sekitar karena hawatir gurunya melihatnya. Lalu membuka kertas yang tertulis beberapa kata di dalamnya yang berbunyi,
Sania tersenyum dan berpikir jika catatan di kertas itu adalah pesan dari Arka.
Setelah selesai belajar di sekolah, Sania bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, sebelum pulang, dia ingin mengunjungi lapangan basket di sekolah dan menemui orang yang mengirimnya catatan itu.
Sesampainya di lapangan basket, Sania melihat seseorang berdiri di sana. Dia berharap itu adalah Arka, tetapi saat semakin dekat, dia menyadari bahwa itu adalah ketua osis.
Sania berbalik untuk pulang karena kecewa bukan Arka yang memberinya pesan. Tetapi saat itu, dia mendengar ketua osis tadi memanggil dan menghampirinya. Sania pun terpaksa menemuinya.
"Sania, akhirnya kamu datang. Kamu sudah membaca suratku?." Sania mengangguk.
"Aku tau beberapa hari ini kamu di ganggu oleh preman. Maaf aku belum bisa melindungimu, tapi mulai saat ini aku akan selalu berada di sisimu."
"Tidak usah, kamu tidak perlu melakukan semua itu." Sania buru-buru menolak niat ketua osis itu.
__ADS_1
Saat Sania sedang berbincang dengan ketua osis, tiba-tiba Arka muncul dari belakang. Sania merasa lega karena dia merasa tidak nyaman dengan perhatian ketua osis itu.
Arka terlihat kesal dan mengatakan bahwa dia merasa terganggu karena Sania terlalu akrab dengan ketua osis. Lalu menyuruh Nino untuk memperingatkan siswa itu.
"Hei, apakah kamu tau luka yang Arka rasakan itu?," tunjuk Nino ke wajah Arka yang babak belur. "Rasanya sangat sakit."
Nino menggertak siswa laki-laki itu sambil menakutinya sembari bercanda.
"Jadi, kamu juga akan merasakan sakit yang sama jika kamu mengganggu Sania. Melihat tubuhmu sangat lemah sekali, aku sangat hawatir, a ha ha." lanjut Nino.
Sania melihat ke arah Arka dengan kesal karena melihat semua luka barunya, belum juga sembuh atas luka lembab lamanya, kini lukanya bertambah.
" Jadi kalian berkelahi lagi? Dan sekarang kalian mengancam orang, apa tidak keterlaluan?," kata Sania.
"Iya benar, kalian kira dengan bicara lantang kami akan takut pada kalian anak-anak yang bermasalah? Tenang Sania, aku akan melindungimu," sambung ketua osis.
Arka memicingkan matanya, karena Sania sekolah membela siswa itu lalu bertanya,
"Sania, apakah dia temanmu?." Tanya Arka dengan muka seriusnya.
"Bukan, aku tidak ada urusan dengannya, Jadi jangan ganggu dia."
Mendengar jawaban dari Sania, wajah serius Arka berubah menjadi wajah yang dihiasi sebuah senyuman. Lalu lebih mendekati Sania dan berkata,
"Baiklah, hei! Kamu pria asing. Mulai sekarang pergi jauh-jauh dari Sania, dan jangan mengganggunya lagi. Mengerti!."
Ketua osis itu merasa gugup dan ketakutan, pasalnya seluruh siswa disana menakuti Arka dan sahabatnya itu dan tidak ada yang berani melawannya.
"Sania, aku akan mengantarmu ke kelas," ucap Arka.
Sania melangkah mengekor di belalang Arka di ikuti Kenzi dan Nino di belakang. Tapi saat beberapa langkah mereka di tegur oleh kepala sekolah yang melihat mereka mengancam ketua osis tadi.
"Hei, sedang apa kalian?."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung...
Lanjut episode 9 ππ