
Masih dalam suasana malam itu...
Terlihat Nino yang sedang di kamar mandi karena terus menerus muntah dan meracu. Dia minum sangat banyak sehingga mabuk dan sakit perut, sedangkan Arka yang sudah tumbang tertidur di tempat tidur lalu Sania mengelus kepala Arka dan menyelimutinya.
Sania merasa hawatir melihat keadaan Nino, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantunya dan hanya membiarkannya saja. Kemudian Sania melihat Kenzi yang berdiri di luar dan masih minum. Lalu Sania menghampirinya dan mengajak Kenzi berbicara.
"Kenzi, kamu luar biasa, kamu bahkan tidak mabuk sama sekali," kata Sania, dan Kenzi pun tersenyum lalu berkata,
"Sania, kamu tau... Arka sudah banyak berubah."
"Benarkah?."
"Aku masih ingat, dulu... Semenjak Arka di tinggal oleh ibunya dan menikah lagi... dia tidak pernah pulang ke rumah, dia hanya pergi bermain bersama kami atau membantu neneknya berjualan dan tidak pernah mau tinggal di rumah, tapi semenjak bertemu denganmu... Dia mempunyai hubungan yang lebih spesial dari persahabatan kami."
" Tidak, bukan begitu... Kamu dan Nino tetap yang paling penting untuk Arka dan lebih daripada segalanya," kata Sania.
Setelah itu, mereka terus mengobrol berdua, dan Kenzi mengatakan jika sebelum dia berangkat kesana, Kenzi ke rumah Sania dahulu dan mengatakan jika orang tua Sania baik-baik saja.
Awalnya Sania merasa senang mendengar kabar ayah dan ibunya itu dalam baik-baik saja, namun setelah beberapa saat dia merasa bersedih karena sudah menjadi anak yang tidak berbakti dengan meninggalkan rumah dan membuat orang tuanya hawatir.
~
Keesokan harinya...
Arka sedang sibuk bekerja di area konstruksi, terdengar suara mesin pemotong besi dan bising dari alat berat. Lalu, Sania datang mengunjungi Arka, membawa bekal makan siang untuk Arka dan segera memanggilnya,
"Arka!," teriak Sania karena memang sangat berisik. Arka terkejut melihat Sania yang berada di sana dan segera menghampirinya dan berkata,
__ADS_1
"Lahan konstruksi sangat berbahaya, untuk apa kamu kemari?."
"Aku kesini membawakan bekal nasi untukmu."
Arka senang melihat Sania dan merasa senang karena Sania datang mengunjunginya. Kemudian mereka duduk di satu tempat beralaskan rumput dan membuka makan siang yang Sania bawa.
"Makan siang yang kamu bawa nampaknya enak sekali. Terima kasih," kata Arka sambil tersenyum dan menggenggam tangan Sania.
"Makanya... Yuk makan," ajak Sania.
Dan mereka pun makan bersama sampai habis tidak tersisa. Arka memakan makanan yang di buat Sania dengan sangat lahap, karena keahlian memasak Sania dari hari ke hari semakin maju dan berkembang menjadi satu masakan yang membuat Arka memfavoritkannya.
Pada hari itu, Sania memutuskan akan menunggu Arka sampai membereskan pekerjaannya. Awalnya Arka melarangnya karena terlalu berbahaya menunggu disana dan akan sangat membosankan untuk Sania. Tapi Sania memohon agar Arka menyetujuinya dan akhirnya Arka mengizinkannya menunggu tapi pada jarak yang tidak terlalu dekat.
Beberapa pekerja yang sedang bekerja di area konstruksi melihat Sania yang duduk setia menunggu Arka dan membicarakan kecantikannya. Namun, mereka juga memuji hubungan antara Arka dan Sania, mengatakan bahwa keduanya sangat cocok satu sama lain dan terlihat sangat bahagia bersama.
Beberapa pekerja itu juga memberikan Sania beberapa makanan dan minuman sebagai tanda persahabatan dan bersikap ramah. Sania merasa senang dan berterima kasih atas kebaikan mereka. Setelah Arka selesai bekerja, ia dan Sania pulang bersama dan berpegangan tangan menyusuri jalan kota menuju rumah mereka.
Sania tersenyum melihat adegan ini dan tanpa sadar tangan Sania mulai bergerak mengikuti irama lagu. Arka mengamati Sania dengan senyum lalu berpikir jika Sania rindu untuk bermain piano. Kemudian Arka memegang tangan Sania dan membawanya untuk bergabung dengan anak-anak itu. Sania sempat ragu, tapi Arka meyakinkannya untuk bergabung.
Saat Sania dan Arka bergabung dengan anak-anak itu, mereka merasa bahagia dan serasa anak-anak kembali. Sania terus menari mengikuti irama piano, dan Arka tersenyum melihatnya. Beberapa anak-anak bahkan mengajari Sania beberapa gerakan dan akhirnya Sania bisa menari dengan lancar seperti anak-anak lainnya.
Setelah beberapa saat, anak-anak itu berhenti bernyanyi, Sania dan Arka pun pamit untuk pulang. Saat mereka berjalan pulang, Sania merasa senang dan mengucapkan terima kasih kepada Arka karena sudah membawanya bergabung dengan anak-anak itu. Arka tersenyum dan mengelus kepala Sania,
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia?," tanya Arka dengan lembut.
Sania tersenyum dan membalas, "Kamu sudah membuatku bahagia dengan hanya menjadi di sisiku."
__ADS_1
Arka sangat bahagia mendengar perkataan Sania lalu memeluknya, setelah beberapa saat kemudian, mereka melanjutkan perjalanan pulang tanpa melepaskan tangan masing-masing.
Pada satu hari, saat Arka pulang bekerja, dia melewati sebuah toko yang menjual piano. Arka berhenti sejenak dan memandangi piano di dalam toko. Dia teringat bagaimana Sania senang ketika mereka melihat anak-anak bernyanyi di iringi piano beberapa waktu lalu.
Arka mulai berpikir bahwa mungkin akan menyenangkan jika Sania bisa memainkan piano lagi di rumah mereka dan berpikir ingin membelinya untuk Sania agar tetap bisa menyalurkan bakatnya.
Setelah melihat toko piano itu, Arka terus memikirkannya di perjalanan pulang. Dia ingin sekali membeli piano tersebut untuk Sania, namun uangnya belum mencukupi.
Saat sampai rumah, Arka duduk termenung di meja yang ada di kamar mereka,
"Duarrr!."
Tiba-tiba, Sania datang dan mencoba untuk mengejutkan Arka dari belakang saat Arka sedang duduk di kursi, tapi Arka hanya menoleh dan bereaksi biasa saja. Sania merasa sedih karena merasa Arka tidak terlalu memperhatikan kehadirannya.
"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?," tanya Sania, cemas.
"Aku tidak apa-apa," jawab Arka sambil tersenyum.
"Benarkah?," tanya Sania lagi.
"Bodoh... Kamu terus bertanya, sudah seperti nenek tua saja."
"Aku sangat hawatir jika melihatmu seperti ini, karena jika kamu memasang raut wajahmu begini... Kamu akan melakukan hal yang tidak aku sukai."
Kemudian Arka menjelaskan, jika besok malam, dia akan bekerja lembur lagi. Arka hawatir jika meninggalkan Sania sendirian dia akan merasa ketakutan. Lalu Sania berkata jika Arka lah yang konyol dan mengatakan jika dia tidak akan takut tinggal sendiri di rumah karena dia bukan anak kecil.
Tapi Sania masih merasa janggal lalu bertanya lagi, "Apakah kamu akan balapan atau berkelahi lagi?,".
__ADS_1
Arka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu memeluk Sania dengan penuh kasih sayang namun mengernyitkan keningnya karena menyesal sudah berbohong pada Sania. Karena, sebenarnya besok Arka bukan akan kerja lembur melainkan akan mengikuti balapan liar lagi demi mendapatkan uang untuk membeli piano.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸