
Sania menatap Arka yang terlihat sendu dan mencoba memahami perasaan pria yang ada di hadapannya itu. Lalu Arka menghadap Sania dan berkata,
"Setiap kali aku memanggil namamu, aku merasa sedih karena itu semakin membuatku menyadari jika kita memang sangat berbeda."
"Tapi selama kita mau, kita bisa membuang semua perbedaan itu Arka."
Arka menatap mata Sania yang sudah berkaca-kaca, namun dia harus mengatakannya,
"Kita sudah berbeda sejak kita lahir Sania, dan aku rasa, ini adalah pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya. Semakin sering kita bertemu, itu hanya akan semakin memperburuk keadaan."
"Apa itu artinya, kita tidak akan bertemu lagi?."
"Ini takdir kita, Sania."
Sania dan Arka saling menatap dengan mata yang penuh rasa sedih. Arka terlalu sedih untuk mengucapkan kata-kata. Arka meyakini bahwa hubungan mereka harus berakhir, meskipun itu menyakitkan.
Arka memegang tangan Sania dengan lembut dan meminta maaf karena tidak bisa terus bersamanya. Ia kemudian membuka kalung yang selalu dia pakai,
"Sania, ini adalah kalung peninggalan nenekku. Aku ingin kamu memilikinya sebagai kenang-kenangan dariku," ujar Arka sambil mengalungkan kalung tersebut di leher Sania.
Sania terkejut dan terharu melihat hadiah dari Arka. Kalung itu sangat indah dan terlihat sangat berharga. Ia merasakan kehangatan dan cinta dari Arka yang mengalungkan kalung itu di lehernya.
"Terima kasih, Arka. Aku sangat menghargai ini," ucap Sania sambil memeluk Arka dengan erat. Arka merasakan pelukan Sania dan tersenyum bahagia. Ia merasa senang bisa memberikan hadiah yang berarti bagi Sania.
"Tapi Arka, bukankah hari ini kamu yang sedang ulang tahun, kenapa aku yang di beri hadiah?." Arka hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Sania.
"Baiklah, apakah kamu tidak berdo'a untuk satu keinginan?," lanjut Sania. Lalu Arka berdo'a dalam hatinya,
"Sania, aku berharap kamu bahagia selamanya, seperti saat pertama aku melihatmu, lugu dan ceria."
Setelah Arka selesai berdo'a, Sania mengatakan jika ia mempunyai sebuah hadiah untuk Arka. Tanpa aba-aba, Sania berjinjit dan mengecup kening Arka.
"Ini ciuman pertamaku, ini pertama kalinya aku mencium seorang laki-laki. Arka, aku akan mengingatmu selamanya," batin Sania.
Mereka lalu duduk di tepi gedung, masih menikmati keindahan pemandangan dan suasana malam yang tenang. Mereka pun berbincang-bincang dan menghabiskan waktu bersama hingga pagi menjelang.
__ADS_1
Pagi-pagi buta, Arka mengantar Sania pulang ke rumahnya dan saat sampai di depan rumah, Sania berkata bahwa dia akan masuk secara diam-diam agar orang tuanya tidak terbangun. Mereka saling melambaikan tangan saat Arka hendak pergi dan Sania pun masuk ke rumah.
Dengan sangat perlahan Sania membuka pintunya agar tidak berisik. Namun, tidak terduga ternyata orang tuanya sudah duduk di ruang tamu menunggunya.
"Akhirnya kamu ingat pulang juga!," bentak ayah Sania.
Ayah Sania marah besar karena putrinya itu kelayapan semalaman dan mengelabui meraka. Ayah Sania mengatakan jika Sania tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan dan menyalahkan orang yang membawanya semalaman.
" Siapa bajingan yang membawamu itu? Katakan!."
"Suamiku, kenapa kamu bicara seperti itu pada anakmu." Ibu Sania merasa ayahnya sudah terlalu keras dan mencoba membela Sania.
"Kamu juga, jangan mencoba membelanya."
"Ayah, Arka tidak seperti yang ayah katakan, dia orang baik," jelas Sania.
Ayahnya semakin marah saat mendengar nama Arka, dan mencelanya karena Arka hanya preman kecil dan menyuruh Sania untuk tidak percaya kata-kata pria yang ayahnya sebut sebagai berandal itu.
Sania mencoba membela dirinya dan Arka, juga mengatakan kalau mereka tidak berbuat salah dan Arka bukanlah orang jahat. Lalu Sania menyamakan sikap ayahnya dengan kepala sekolah yang menurutnya tidak bermoral dan berpikiran pendek.
Sania kena tampar ayahnya yang sudah tersulut emosi sehingga membuat Sania dan ibunya terkejut. Ayahnya terus menerus memarahi Sania yang sedang menangis sambil memegang pipinya.
Ayahnya sangat kecewa karena putrinya itu sudah bersikap keterlaluan dengan membantah guru juga orang tuanya. Ayahnya mengatakan jika semua itu gara-gara Arka yang membawa pengaruh buruk untuk Sania. Arka yang dia anggapan hanya sebagai preman dan suka berkelahi juga siswa yang tidak mempunyai masa depan karena sudah di keluarkan dari sekolah.
Ibu Sania menyuruh putrinya itu untuk segera meminta maaf kepada ayahnya agar tidak berkepanjangan, tapi Sania menolaknya karena dia merasa tidak melakukan kesalahan lalu berlari menuju kamarnya dan menangis di sana.
Pagi itu suasana rumah Sania menjadi sangat tegang. Ibu Sania merasa sangat bimbang dan serba salah, di satu sisi dia melihat suaminya yang sangat marah dan satu sisi melihat putrinya yang menangis dan perlu dukungan.
~
Arka membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk dengan hati yang berat.
Begitu dia masuk ke dalam rumah, dia menemukan Kenzi, Nino, dan Keyla di ruang tamu. Keyla sedang tertidur di kursi, sedangkan Kenzi dan Nino sedang sibuk dengan ponsel mereka.
"Ada apa kalian semua di sini?" tanya Arka.
__ADS_1
"Akhirnya kamu pulang," Bukannya menjawab, Nino malah bersyukur atas kepulangan Arka yang mereka tunggu semalaman.
Kenzi mengangkat kepalanya dari ponselnya dan berkata, "Kami khawatir tentangmu, jadi kami ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja."
Arka mengangguk dan tersenyum kecil. "Terima kasih, aku baik-baik saja," jawabnya. "Kenapa di tidur disini?," lanjut Arka saat melihat Keyla terbaring di kursi dan masih terlelap tidur.
Nino menjelaskan kejadian semalam di area balap saat Keyla ngotot membela Arka di hadapan lawan balap Arka. Dan ia tidak bisa membiarkan gadis itu habis dipukuli mereka, apalagi saat geng Jack ada disana.
Lalu Nino, menggoda Arka bahwa Keyla itu penggemar setia Arka dan berani mati untuk membelanya. Nino terus mengoceh tentang Keyla yang kegirangan karena tau itu rumah Arka.
"Memangnya apa yang terjadi di arena semalam?," tanya Arka.
"Jack hadir di acara semalam dan dia menyimpan taruhan yang banyak pada lawanmu, sepertinya dia kesal karena kamu semalam tidak datang. Lebih baik kamu berhenti sejenak mengikuti balapan," jawab Kenzi.
"Tenang saja, aku bukan siapa-siapa sekarang, jadi mereka tidak akan menggangguku," jawab Arka.
Lalu Arka menyuruh Kenzi dan Nino untuk pulang dan berangkat sekolah karena hari sudah mulai siang. Arka tidak ingin jika teman-temannya di keluarkan juga dari sekolah. Akhirnya Kenzi dan Nino beranjak dan hendak pulang, tapi Arka menyuruh Nino untuk membawa Keyla pulang juga dna tidak membiarkannya tetap di rumahnya.
"Aku tidak pernah melihat wanita jelek sedang tidur seperti dia," celetuk Nino, lalu dia membangunkan Keyla dan menyuruhnya segera pulang.
Keyla meregangkan badannya dan menunggu nyawanya terkumpul. Dengan mata yang sedikit tertutup karena masih ngantuk dia mengusap iler di pipinya dan langsung terperanjat saat melihat Arka ada di hadapannya.
"Arka!."
Keyla sibuk sendiri dan salah tingkah karena menahan rasa malu saat berpenampilan sangat kacau di hadapan pria yang dia taksir selama ini.
"Kenapa kalian tidak membangunkan aku!,"
Teriak Keyla pada Nino sambil menginjak kakinya hingga membuat Nino kesakitan. Lalu Keyla segera pergi dari sana meskipun Nino terus berteriak mengomelinya karena sudah menginjaknya dengan sengaja.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...
Jangan lupa kasih like, subcribe, hadiah juga komentar terbaik nya ya...
__ADS_1