
Hai hai hai...! Pacarku Seorang Gengster kini update lagi ya... 😃🤩
Maaf, karena dua hari kemarin author absen dulu karena ada urusan, tapi jangan bersedih... Mulai hari ini insyaAllah author akan update setiap hari dengan cerita yang lebih seru tentunya... 😍🤗
Selamat membaca...
\*\*\*
Malam itu, Sania terbaring di kasurnya dengan perasaan cemas dan gelisah. Jam dinding menunjukkan tengah malam, dan Arka belum juga pulang. Sania memandang ke luar jendela, memperhatikan setiap kendaraan yang melintas dengan harapan melihat mobil Arka.
Waktu terus berlalu, dan Sania semakin khawatir. Dia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada Arka. Apakah dia terlambat karena ada masalah? Apakah dia dalam bahaya? Pikiran-pikiran negatif itu mulai merayap ke dalam pikiran Sania, meningkatkan kegelisahannya.
Setiap detik terasa seperti jam bagi Sania. Dia berusaha menjaga pikirannya tetap tenang, tetapi rasa khawatir semakin menghantui. Kemudian Sania mencoba berbaring kembali dan mencoba memejamkan mata, tidak lama berselang Arka pun pulang.
Saat Arka membuka pintu dan masuk rumah, Sania pun terbangun dan duduk, "Kamu sudah pulang?," seru Sania dan Arka pun mengangguk. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sering pulang terlambat?," sambung sania.
Arka menatap Sania namun tidak lama langsung berpaling, "Akhir-akhir ini aku sibuk dan banyak perkejaan, jadi aku sering pulang larut malam... maaf sudah membangunkan tidurmu," jawab Arka lalu melangkah menuju lemari baju dan membuka pakaiannya hingga bertelanjang dada.
"Arka, Apakah akhir pekan ini kamu ada waktu? Pak Tedi ulang tahun dan Kenzi menyarankan kita untuk menemui pak Tedi," tanya Sania pada Arka yang hendak berbaring.
Arka yang terhenti sejenak saat mendengar perkataan Sania hanya berkata, "Aku tidak tau, aku terlalu sibuk... Kemungkinan aku tidak bisa datang," jawab Arka, lalu ia berbaring membelakangi Sania yang menatapnya seolah ingin berbicara banyak dengan Arka.
"Arka...."
"Sania, aku sangat lelah dan ingin istirahat, aku harus tidur."
__ADS_1
Melihat Aria yang sepertinya memang sudah kelelahan, akhirnya Sania pun ikut berbaring sambil menatap punggung Arka, "Arka... Aku merasa... Walau kita tidur di sampingmu tapi seperti ada jarak diantara kita," batin Sania. Arka yang asalnya memejamkan matanya lalu kini membuka matanya seakan memiliki beban yang tidak bisa dia ungkapkan pada Sania.
Keesokan paginya, Arka dan Nino duduk bersama di kantor markas geng Elang, berbincang tentang pekerjaan mereka dan masa depan. Sambil menyeruput secangkir kopi, Nino bercerita dengan antusias tentang mimpi-mimpinya.
"Arka, bayangkan saja, suatu hari nanti aku menjadi bos setara dengan bos Remon. Aku akan membeli mobil baru yang keren dan mewah!" ujar Nino, semangat memancar dari matanya.
Arka tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. "Nino, semua itu mungkin terjadi jika kita terus bekerja keras dan berusaha. Kita harus fokus pada tujuan kita dan menggapai kesuksesan."
Nino mengangguk setuju. "Betul! Kita memiliki potensi besar dan kemampuan yang luar biasa. Selama kita tetap berkomitmen dan tak kenal menyerah, tak ada yang tak mungkin."
Keduanya memulai diskusi serius tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk mengembangkan geng Elang menjadi lebih sukses dan berpengaruh. Mereka membahas strategi, rencana aksi, dan bagaimana menghadapi persaingan di dunia kejahatan.
"Tidak seperti biasanya, hari ini kamu sangat bersemangat membahas pekerjaan, biasanya kamu lebih bersemangat jika membahas perempuan," seru Arka sambil meledek Nino.
"Kamu kira aku menyukai ini? Semenjak aku pacaran dengan Keyla, aku jadi tidak bisa menyematkan diriku sebagai Nino sang playboy lagi, karena dia yang memaksaku setia padanya ha ha." Nino merasa bangga pada dirinya sendiri dan Arka pun tersenyum.
"O ya, mengenai Jack, kemarin aku melihat anak buahnya mengejar seorang gadis, sepertinya mereka melakukan penyelundupan manusia," seru Arka.
"Arka, kamu harus meluangkan waktumu untuk mengajak Sania jalan-jalan dan waktu berdua, jangan sering buat alasan untuk menghindarinya... Kamu tidak tau perempuan itu bagaimana, mereka harus sering di manjakan," seru Nino pada Arka yang belakangan ini memang terlihat menjauh dengan Sania. Mendengar perkataan Nino, Arka pun termenung dan berpikir.
Beralih ke tempat lain, Sania sedang berjalan-jalan di sebuah toko buku yang terkenal di kota. Dia merasa senang karena toko ini memiliki koleksi buku yang lengkap dan bervariasi. Sania dengan antusias melihat-lihat rak-rak buku yang tertata rapi.
Dia melintasi berbagai genre, mulai dari fiksi, nonfiksi, roman, hingga buku-buku motivasi. Namun, ada satu rak buku yang selalu menarik perhatiannya - rak buku dengan kumpulan novel romantis. Sania adalah penggemar berat genre tersebut.
Saat dia melihat-lihat buku-buku di rak roman, matanya tertuju pada salah satu buku dengan sampul yang indah karya salah satu penulis favorit Sania. Dia langsung meraih buku itu dan membacanya di bagian belakang.
Saat sedang asyik membaca, Sania melihat seorang anak perempuan yang tampak kebingungan di dekat rak buku. Sania melihat gadis kecil itu dengan rambut kusut dan matanya yang penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Tanpa ragu, Sania mendekati gadis itu dengan senyuman ramah. Dengan langkah hati-hati, Sania mendekati anak perempuan itu dan bertanya dengan lembut, "Hai, apa yang sedang kamu cari?."
Anak perempuan itu menoleh dan menjawab dengan nada kecil, "Aku sedang mencari buku pelajaran piano, tapi aku bingung mana yang cocok untuk usiaku."
Sania tersenyum dan memahami kebingungan anak perempuan itu. Dia mengajaknya untuk melihat buku pelajaran piano yang tersedia di rak.
"Mungkin aku bisa membantumu memilih," kata Sania dengan ramah. "Berapa umurmu? Dan sudah berapa lama kamu belajar piano?."
Anak perempuan itu menjawab, "Aku berusia sembilan tahun dan baru mulai belajar piano selama beberapa bulan."
Sania berpikir sejenak dan kemudian mengambil beberapa buku pelajaran piano yang sesuai dengan tingkat pemula dan usia anak perempuan itu. Dia menunjukkan satu per satu bukunya sambil memberikan penjelasan tentang isi dan tingkat kesulitan.
"Mungkin buku ini cocok untukmu," kata Sania sambil menunjukkan salah satu buku pelajaran piano dengan ilustrasi yang menarik.
Anak perempuan itu menatap buku dengan antusiasme dan sedikit senyuman di wajahnya. "Terima kasih, kakak. Aku akan mencoba buku ini."
Sania tersenyum senang melihat anak perempuan itu menemukan buku yang cocok. Dia memberikan beberapa tips dan dorongan untuk belajar piano dengan semangat.
"Jangan lupa untuk berlatih dengan tekun dan bersenang-senang saat bermain piano," kata Sania dengan penuh semangat. Anak perempuan itu berterima kasih dengan riang dan meninggalkan Sania dengan buku pelajaran piano yang dipilihnya.
Saat Sania hendak menyimpan buku pelajaran piano yang dipilihnya untuk anak perempuan tadi, dengan hati yang berat, Sania membuka buku pelajaran piano itu sebentar dan melihat notasi musik yang familiar.
"Apakah aku masih pantas membaca buku-buku ini?." Tiba-tiba pikirannya terlintas dengan perasaan bahwa mungkin dia sendiri sudah tidak pantas lagi membaca buku semacam itu. Sania merasa bahwa dia telah kehilangan minat dan semangat dalam aktivitas musiknya.
"Tidak, Sania yang dahulu sudah mati," batin Sania.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa kasih dukungannya ya...😊🙏