Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 78 - Battle girls


__ADS_3

\*\*\*


Lanjut cerita...


Santi sedang terbaring di bangsal klinik di temani Nino dan Keyla. "Kondisinya baik, dia hanya mengalami gegar otak ringan dan perlu istirahat dalam beberapa hari," kata dokter yang menangani Santi. "Baik dokter, terima kasih," jawab Arka.


Tidak lama berselang, Santi tersadar dan bola matanya berputar melihat keadaan sekitar. "Arka... Arka...," gumam Santi, lemah. Keyla dan Nino yang berada di samping Santi segera menghampiri dan bertanya kondisinya namun Santi hanya fokus mencari keberadaan Arka.


Saat Arka tiba, ia tersenyum dan senang melihat Santi sudah siuman. "Santi, kamu sudah bangun? Apa kamu merasa lebih baik?," tanyanya. "Ya, aku lebih baik," jawab Santi sambilan tersenyum.


"Tentu saja lebih baik, kamu sudah mencapai tujuanmu!," timpal Keyla malas sambil melipat kedua tangannya di perut.


Santi merasa tidak nyaman atas sikap Keyla dan juga pada tempat dia di rawat sekarang. "Tenang saja Santi, kamu aman disini karena ini klinik teman kami... Jika kamu sudah baikan, kita pulang ya?." Santi pun mengangguk setuju.


Kemudian Nino memberi perhatian dan akan membelikan Santi beberapa makanan namun segera di halau oleh Keyla yang mengatakan jika ia sendiri yang akan menjaga Santi menimbang Arka dan Nino masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan.


"Apa? Kamu mau merawat Santi? Merawat kaktus saja kamu tidak bisa...," ledek Nino.


"Hei! Jangan meremehkan aku! Jika terjadi sesutu padanya aku akan berhadapan denganmu!," jawab Keyla ngegas.


Dalam hatinya, Santi merasa tidak yakin dan kurang setuju jika Keyla yang menjaganya, tapi melihat Arka berterima kasih pada Keyla, ia pun terpaksa mengikutinya.


~


Pagi harinya, Sania kini berada di kantor markas dan mengecek keadaan disana. Ketika ia bertemu dengan salah seorang anak buah Arka ia pun bertanya, "Apa hasil rapat kemarin?."


"Nona, aku tidak tau secara pasti, tapi yang aku dengar jika Jack telah menyandera seorang yang penting dan mengancam tuan Arka agar menyerahkan jabatannya, tapi... Bisa jadi itu hanya desas desus karena di kantor tidak ada hal serius yang terjadi."


"Apa Arka ada di kantor?."


"Tidak ada, tapi kalau tuan Nino ada di dalam."


Setelah itu, Sania berjalan menuju ruangan Nino sambil berkata-kata dalam hati.


"Siapa sandera yang penting itu? Semua orang nampak baik-baik saja... Siapa lagi yang jadi sepenting itu yang membuat Arka memutuskan keluar dari geng?."


Saking khusyu dalam pikirannya, tanpa terasa akhirnya Sania sampai di depan ruangan Nino dan tanpa sengaja mendengar percakapan Nino yang sedang berbicara dengan Keyla di telepon.

__ADS_1


" Nyonyaku... Apa kamu tidak salah menyuruhku pergi ke rumah Arka juga, untuk ikut jadi perawat? Apa kamu tidak bisa mengatasinya sendiri? Bukankah kamu yang suka rela dan tidak ada yang memaksamu? Wanita benar-benar merepotkan."


Setelah mendengar percakapan Nino, Sania berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tidak di ketahui olehnya.


Di tempat lain,


"Arrggh! Panas sekali!."


Terdengar suara erangan Keyla dan pecahan gelas yang terjatuh ke lantai.


"Keyla, kamu tidak apa-apa?."


Santi berhambur mendekati Keyla yang berusaha memunguti pecahan gelas yang berserakan. "Aku tidak apa-apa, aku hanya menjatuhkan obat untukmu jadi aku harus membuatnya lagi," jawabnya.


"Tidak apa-apa, aku akan mengurusnya sendiri," tutur Santi merasa tidak enak hati. "Kamu pikir aku mau melakukannya? Jika bukan karena Arka, aku tidak akan disini dan merawatmu!," jelas Keyla lalu beranjak dan berdiri.


Santi mencoba mencerna perkataan Keyla sesaat kemudian ia pun tersenyum seraya berkata, "Arka sangat perhatian...."


"Ya, dia memang perhatian pada setiap orang dan menjaga yang lemah, tapi hanya itu saja... Karena perhatian pada kekasihnya tidak bisa di bandingkan pada siapapun...," ucap Keyla bangga. "Asal kamu tau, di seluruh geng, Arka terkenal dengan kesetiaannya."


Dia menambahkan lagi jika bukan hanya Arka yang melihat Sania sebagai wanita yang ideal, bahkan para anggota yang lain pun melihat hal yang sama. Lalu Keyla menelisik penampilan Santi.


"Sekilas, kamu nampak sama seperti Sania, tapi setelah tiga menit bersamamu, maka akan terlihat perbedaan yang sangat jauh," tutur Keyla.


"Jadi aku mirip dengan Sania... Tidak heran jika para penculik itu juga mengatakannya," ucap Santi lemah. "Itu sebabnya malam itu... ~."


"Apa kau bilang? Malam yang mana?," tanya Keyla penasaran. Santi merasa gugup dan hendak pergi tapi Keyla segera menghalaunya. "Hei! Apa yang kau katakan tadi?!."


"Tidak ada, Keyla, kamu hanya salah mendengar...."


"Apa? Aku salah dengar? Telingaku sangat tajam! Katakan yang sebenarnya apa yang terjadi di antara kau dan Arka! Kenapa dia sangat peduli padamu?... Jangan-jangan... kalian berbuat sesutu di belakang Sania?."


Santi mencoba terus mengelak dan berusaha menghindari tatapan Keyla. Dia mengatakan jika mereka tidak ada hubungan apapun. Melihat Santi yang merasa cemas Keyla semakin yakin jika memang telah terjadi sesuatu di antara mereka.


"Aku katakan padamu, jika laki-laki tergila-gila sesaat, itu sangat tidak berarti...


Arka hanya mencintai Sania, terlepas hubungan apa yang pernah kalian alami, itu tidak akan menjadikanmu menjadi pacar keduanya, mengerti!."

__ADS_1


Santi merasa terkejut melihat respon Keyla dan dia terus mengelak dengan mengatakan jika ia tidak pernah berpikiran seperti itu.


"Baguslah, aku akan merawatmu sebaik mungkin agar cepat pulih dan kau bisa sesegera mungkin pulang ke kampungmu!."


Keyla merasa sedikit tenang sekarang, dan ia mengatakan akan pergi keluar sebentar untuk membeli makanan. Keyla juga berpesan pada Santi untuk mengunci rumah saat ia keluar dan jangan berisikap konyol pada orang asing karena jika ia di culik lagi maka tidak akan ada yang menolongnya.


Sesaat setelah Keyla pergi, Sania datang dari arah berlainan menuju rumah Arka yang lama, dimana Santi kini berada disana.


Saat tiba di depan rumah, Sania terlihat mengamati rumah yang nampak tertutup. Kemudian ia mencoba membunyikan bel beberapa kali dan Santi pun nampak senang karena berharap Arka lah yang datang.


"Siapa?," tanya Santi namun tidak membukakan pintu rumahnya.


Sania nampak berpikir sejenak saat ia mendengar suara wanita di dalam. "Apakah Arka masih tinggal disini?," tanyanya.


"Arka?," batin Santi. "Kamu mencari siapa?," tanyanya balik.


"Aku mencari Keyla, aku pikir dia datang kemari."


"Keyla baru saja keluar."


...


"Apa Arka ada di dalam?."


"Arka? Dia menanyakan Arka, Keyla berpesan padaku untuk tidak bicara pada orang asing, jangan-jangan ini jebakan lagi untuk Arka," batin Santi.


Kini, dua perempuan yang terhalang pintu saling berhadapan dengan pikiran mereka masing-masing. "Maafkan aku sudah mengganggumu, mungkin aku akan kembali lagi nanti," ucap Sania yang lalu pergi dari sana dengan banyak pertanyaan di hatinya.


Di rasa sudah merasa aman, kini Santi membuka pintu rumahnya dan melihat Sania yang berjalan pergi. Santi memperhatikan penampilan Sania sampai dia menghilang dari pandangannya.


"Siapa gadis itu? Sepertinya dia mengenal Arka dan Keyla...." Santi berpikir sejenak lalu terkesiap. "Apakah dia Sania?."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...


Perang dingin 🤭

__ADS_1


__ADS_2