
\*\*\*
Sementara Arka dan Nino terlibat dalam pertempuran antar geng, Tedi mengambil keputusan besar untuk mengundurkan diri dari kepolisian dan memasuki masa pensiun.
Tedi merasa bahwa setelah bertahun-tahun bertugas sebagai seorang polisi, saatnya baginya untuk melanjutkan hidup dengan jalan yang berbeda.
Nampak dirinya sedang bersiap diri dan membereskan berkas-berkas miliknya di kantor. "Pak, sering-seringlah berkunjung kemari jika senggang, maaf... Kami tidak bisa mengantar kepergian Anda secara baik-baik karena kami sedang sibuk mengurusi geng Elang," ucap salah satu polisi juniornya.
"Tidak apa-apa... Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian, dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh... Aku pergi dulu," jawab Tedi kemudian berlalu pergi dengan barang-barangnya.
Beralih ke tempat lain,
Nampak Sania dan Keyla sedang berjalan dan baru saja keluar dari apotek. Mereka membeli beberapa obat untuk Arka dan Nino yang sering terluka akibat perkelahian yang merasa alami selama satu minggu ini.
"Apakah semua obat ini akan cukup?... Sial, mereka berkelahi hampir setiap hari dan membuatku seperti perawat," ucap Keyla kesal, lalu melihat ke arah Sania yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Sania, apa kamu masih memikirkannya?."
Sania menoleh sejenak lalu berkata, "Aku rasa yang di katakan kenzi itu benar, seharusnya aku berkata jujur pada Arka... Tapi, aku hanya tidak bisa menghadapinya."
"Sania...?."
"Keyla... Kamu pergi ke kantor duluan saja, aku ingin sendiri dulu... Nanti aku akan menyusul, ya?."
"Kamu yakin akan baik-baik saja sendiri?."
Sania pun mengangguk dan memegang tangan Keyla seraya meyakinkan. Lalu ia beranjak dan pergi meninggalkan Keyla ke arah sebaliknya.
Sania berjalan sendirian menyusuri jalan, mendalam dalam pikirannya. Tanpa disadari, saat ia berhenti di trotoar menunggu lampu merah, sebuah mobil yang dikendarai oleh Coki tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi dan sengaja menyerempet Sania, membuatnya terjatuh ke tanah.
"Aarggh!..."
Kejadian itu begitu mendadak dan mengejutkan Sania. Ia merasakan rasa sakit dan keterkejutan yang besar saat tubuhnya terhempas ke tanah. Seketika itu juga, orang-orang di sekitar mulai menarik perhatian dan datang membantu Sania yang terjatuh.
Sesaat setelah kejadian tersebut, Coki melarikan diri dari tempat kejadian, meninggalkan Sania yang terluka di tengah jalan. Namun, Sania masih bisa melihat jika Coki lah yang melakukannya dengan sengaja.
__ADS_1
Setelah Arka mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Sania, tanpa ragu-ragu ia segera berlari dengan cepat menemui Sania yang sudah berada di rumah karena hanya terluka kecil di bagian kaki.
Saat Arka tiba di rumah, hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran dan kegelisahan atas keadaan Sania. "Sania! Sania! Kamu tidak apa-apa? Aku akan membawamu ke rumah skait," kata Arka dengan cemas.
Arka segera mendekati Sania dengan perasaan campur aduk, menggenggam tangannya dengan erat sambil menatapnya dengan kepedulian yang dalam.
"Arka, aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkilir...." Sania tersenyum pahit melihat Arka yang begitu khawatir. Ia mencoba memberikan kekuatan pada Arka dengan senyumannya meski ia merasakan rasa sakit yang tak terelakkan akibat kecelakaan tersebut.
"Ini semua gara-gara Coki! Dia sengaja melakukannya karena ingin membalas, mereka tidak bisa mengalahkanmu dan melampiaskannya pada Sania," tutur Keyla yang sudah setia menemani Sania di rumah.
"Apa! Jadi Coki yang mencelakakan Sania?!", tanya Arka geram dan di balas anggukan Keyla, tapi Sania nampak lebih khawatir saat melihat Arka emosi.
"Bajingan si Coki!." Lalu Arka meraih ponselnya dan memanggil Nino. "Nino, kumpulkan anak buah kita, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang sudah mencelakakan Sania!."
"Arka, aku tidak apa-apa...."
Setelah selesai bicara dengan Nino, Arka segera beranjak dari duduknya dengan amarahnya. "Keyla, bantu aku menjaga Sania." Lalu ia pergi tanpa menghiraukan Sania yang mencegahnya.
"Arka! Arka!...."
"Arka sangat bersikap agresif, melihatmu terluka sedikit saja dia sangat murka, apalagi kalau kita mengatakan kejadian yang menimpamu empat tahun lalu...," ucap Keyla dan Sania pun bertambah khawatir saat mendengar perkataan Keyla.
"Jack!."
Arka segera menyergap Jack dan menodongkan senjata api di kepala musuhnya itu. "Arka! Apa yang kau lakukan!." Teriak Coki yang juga di sergap oleh Nino. "Diam kau Coki!."
"Arka, mari kita bicara baik-baik dan jangan gegabah," seru Jack yang terlihat ketakutan sambil mengangkat tangannya. Serangan tiba-tiba yang di lakukan Arka membuat Jack menciut.
"Aku bisa bicara baik-baik tentang apa saja, tapi kau sudah menyerang Sania, aku tidak akan tidak akan tinggal diam!."
"Apa maksudmu?... Coki, dia mungkin ingin unjuk gigi dan mendapat pujian dariku dan melakukannya tanpa sepengetahuanku." Jack membela diri karena dalam hal ini ia memang belum mengetahui perihal yang sudah di lakukan Coki.
Namun, Coki berdalih jika ia tidak akan melakukan hal yang tidak di setuju oleh Jack. Sehingga membuat Arka semakin geram.
" Kau berbohong!. " Arka berteriak dan menekan pemicu pistol yang dia pegang. "Arka! Tunggu! Jika kamu berani membunuhku, maka anak buahku tidak akan membiarkanmu hidup, lalu bagaimana kamu akan bisa melindungi Sania milikmu yang cantik itu?." Jack mencoba mengulur waktu.
__ADS_1
"Selama aku hidup, jangan pernah berpikir untuk menyentuh dia! Kau harus mati!."
"Jangan menyentuhnya?! Empat tahun yang lalu anak buahku memperkosanya! Apa kamu tidak tahu itu?!."
Deg!!!
"Jack! Hentikan!." Nino berteriak dan ingin menghentikan perkataan Jack, namun Jack hanya terus bicara dan memancing emosi Arka.
"Bahkan Kenzi membunuh anak buahku dan masuk penjara untuk melindungi kekasihmu itu!."
Setelah mendengar perkataan Jack tentang pelecehan yang terjadi pada Sania, Arka merasa tubuhnya bergetar dan hatinya penuh dengan kejutan dan ketakutan.
Kejadian ini mengguncangnya dengan keras, dan Arka merasa syok dengan kenyataan yang terungkap. Pistol yang ada di tangannya pun terjatuh ke tanah, sementara matanya terpaku pada Jack yang berdiri di hadapannya.
Arka tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, ia terdiam oleh kejutan atas apa yang baru saja diungkapkan Jack. "Kau bahkan tidak bisa melindungi gadis yang kau cintai, sangat tidak berguna!," lanjut Jack yang tak henti memberikan pukulan batin pada Arka.
Rasa marah dan kebencian meluap dalam diri Arka, namun ia juga merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan yang menghampirinya. Ia hanya bersimpuh dengan berurai air mata.
"Arka! Arka!." Nino segera menghampiri Arka yang terkulai lemas, sementara Jack dan Coki berlalu melarikan diri. "Arka! Tenanglah!."
"Pergi!." Arka menyingkirkan Nino lalu memungut pistolnya kembali dan menembakkannya ke sembarang arah.
"Aarrgghh...!." Teriakan panjang Arka menggelegar memenuhi keheningan malam. "Nino, katakan jika itu tidak benar," ucap Arka sambil terisak dan nafas yang tersengal-sengal.
"Arka... Aku... Aku...."
Arka mengepalkan tangannya. "Teman macam apa kau ini!."
Jekukk!
Satu bogeman keras mendarat di pipi Nino hingga terjungkal. Lalu Arka berlari sambil berteriak frustasi menuju mobilnya.
"Arka!." Nino segera meraih ponselnya dan menghubungi Kenzi. "Kenzi, hal buruk telah terjadi!."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung...
Next episode 73 πππ