Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 65


__ADS_3

\*\*\*


Sepulang dari rumah Arka, Nino mengendarai mobilnya dan menepi di depan Keyla yang sedang berdiri di pinggir jalan. "Hallo sayang... Kamu sudah lama menunggu ya?," sapa Nino, namun Keyla hanya diam dan terlihat kesal sambil melipat tangannya di perut.


Nino turun dari mobil dan melangkah menghampiri Keyla yang menatapnya tajam. "Kamu sangat brengsek!," maki Keyla. "Kamu kenapa? Kamu benar-benar sundal." Ucap Nino memaki Keyla kembali. "Katakan, apa yang kau lakukan! Aku tidak akan memaafkanmu kali ini!," Keyla berteriak kembali.


Keyla dan Nino terus berteriak dan saling berdebat. Nino sibuk membela dirinya jika ia tidak melakukan hal yang macam-macam bahkan Keyla sendiri sudah tau karena ia sudah berbicara dengan mama pemilik tempat hiburan itu.


Namun, justru Keyla nampak lebih marah karena bukannya Nino yang main gila dengan perempuan melainkan Arka. Jika Nino yang berbuat semacam itu, Keyla tidak terlalu menghiraukannya karena sudah biasa tapi itu menyangkut Arka.


Keyla terus memojokkan Nino karena sudah menyeret Arka untuk bersikap tidak baik dengan main perempuan. Lalu Keyla mengingatkan harusnya sebagai sahabat, Nino bisa mencegah dan menasehati Arka. Apalagi untuk sekarang ini hubungan antara Arka dan Sania sedang merenggang dan selalu tegang. Keyla khawatir kejadian ini akan memperburuk hubungan sahabatnya itu.


Setelah mendengar Keyla nyerocos, Nino pun tersenyum senang karena kekasihnya itu masih percaya padanya. Kemudian Nino menjelaskan keadaan yang sesungguhnya tentang dirinya dan Arka yang sedang melakukan misi penyelamatan gadis-gadis yang di culik oleh geng Jack.


Keyla pun mengerti setelah mendengar penjelasan Nino yang panjang lebar. "Ha ha... Aku tau, Arka memang bukan playboy, aku senang karena sekarang Sania tidak perlu khawatir," kata Keyla sambil tersenyum.


"Hei hei...! Tadi kamu mau memukul dan ribut denganku karena kamu marah, tapi sekarang kamu bisa tersenyum karena Sania... Benar-benar gila, kamu lebih mementingkan sahabat daripada pacar."


"Hei! Urusanku denganmu belum selesai," ujar Keyla. "He he... Aku tidak menyangka ternyata manis juga saat menyaksikan perempuan yang setia kawan," ucap Nino sambil mencubit gemas pipi Keyla.


Keyla menepis tangan Nino dan berkata, "Aku dan Sania bukan gadis picik, tapi kenapa kalian menyembunyikan hal itu dari kami, hah? Kami juga bisa membantu." Nino mengangguk dan berpikir benar juga yang di katakan Keyla.


"Apakah gadis itu terlihat cantik?," tanya Keyla dengan senyumnya yang menjebak. "Hmm... Ya, dia cukup manis , tapi tenang saja dia sama sekali bukan tipeku," jawab Nino yakin. "Siapa yang bertanya?!," teriak Keyla, Nino pun tersenyum dan mengajak Keyla segera masuk ke mobil.

__ADS_1


~


Arka tiba di rumah dengan hati yang berdebar-debar. Saat ia masuk, ia melihat Sania sedang menyiram tanaman di halaman dengan tatapan kosong sehingga air siraman tumpah dan meleber. Arka merasa khawatir melihat kondisi Sania yang tampak begitu lelah dan terbebani.


Tanpa ragu, Arka segera mendekati Sania dan dengan lembut meraih tangannya untuk menghentikannya menyiram tanaman. Air dari selang penyiram meluncur deras ke tanah, menyebabkan genangan air dan kelebihan tanah yang berceceran di sekitarnya.


"Bunganya akan terendam jika kebanyakan air, lagipula bukan waktu yang tepat menyiram tanaman saat tengah malam," seru Arka. "Tidak apa-apa, bunganya harus terbiasa dengan lingkungan," Jawab Sania sambil menyimpan selang tanpa melihat ke arah Arka.


"Sania, sebenarnya malam ini aku dan Nino ~...."


"Kamu tidak perlu menjelaskan padaku, kamu pikir aku perempuan yang picik?."


"Aku merasa iba pada kedua gadis itu, itu sebabnya aku membantu mereka."


"Terus berpura-pura?," Arka mengulangi perkataan Sania. "Apakah kamu pikir aku tipe orang yang bisa terus berpura-pura? Tidakkah kamu marah saat aku bersama gadis lain? Kenapa kamu tidak bertanya langsung padaku? Aku lebih suka kamu seperti Keyla yang selalu meminta penjelasan." Arka mulai berkata dengan nada tinggi.


"Kamu tau betul apa aku tipe orang yang suka ribut atau tidak... Apa perlu menjelaskan semua hal padaku? Aku mencoba mengerti dan memahamimu, apa itu salah?."


Arka mencoba mencerna setiap perkataan Sania dan berpikir sejenak. "Kita biasanya bisa bercerita segalanya, kenapa kita jadi begini? Bahkan sekarang aku tidak tau apakah kamu masih percaya padaku atau sudah sama sekali tidak peduli." Arka segera beranjak dengan kecewa meninggalkan Sania yang menatap sedih kepergiannya dan merasa serba salah.


Kini Arka berada di bar untuk menghilangkan penatnya dengan cara minum-minum. Ia berharap masalahnya dengan Sania bisa terlupakan. Ia terus meneguk minuman sambil menyesap rokoknya.


Tibalah seorang gadis yang menawarkan dirinya untuk menemani Arka, namun Arka marah dan menyuruh gadis itu segera pergi dari hadapannya. Kini Arka terlihat frustasi tanpa menghentikan minumnya sehingga tertidur di meja dengan igauan nya.

__ADS_1


"Sania... Sania... Aku sangat merindukanmu, apakah kamu tau itu? Sania...." Arka terus meracu memanggil-manggil nama Sania dengan ekspresinya yang seolah menahan sakit dan penuh penyesalan.


Beralih ke tempat Sania berada, tempat yang sama saat Arka pergi meninggalkannya. "Apa aku salah? Apakah aku berbuat salah?," batin Sania merasa sangat bersedih memikirkan yang terjadi padanya dan Arka.


Sementara di rumah Arka yang lama, Santi sedang berdiri menatap rembulan yang menerangi malam itu. "Dia bagaikan burung layang-layang yang terbang anggun di langit, sedangkan aku hanya kupu-kupu yang tidak berarti apa-apa dan tidak sebanding dengannya...."


Pagi harinya, saat Santi terbangun, ia mendapati Maya yang sudah tidak ada di sampingnya. Santi turun dari ranjang dan segera mencari keberadaan Maya dengan panik. Saat akan membuka pintu dan keluar, ia melihat secarik kertas di atas meja yang berisi pesan dari Maya.


"Santi... Maafkan aku, aku tidak bisa ikut denganmu... Aku tidak bisa kembali bahkan jika aku mau... Aku sudah kecanduan obat yang parah dan tidak ada obatnya... Aku kesakitan dan aku tidak mau kamu melihatku saat memakai obat itu... Jangan hiraukan aku dan jangan mencariku lagi... Jaga dirimu baik-baik, dan jika kamu bertemu dengan orang tuaku jangan katakan semua ini pada mereka... Katakan saja jika aku sudah mati... Aku sangat menyayangimu, Maya."


" Maya... Hiks hiks hiks... Maya! Maya...!." Santi berlari keluar rumah berharap bisa menemukan Maya.


Beralih ke rumah Arka dan Sania, terdengar suara bel rumah Sania berbunyi beberapa kali, dan saat Sania membuka pintu ia langsung di hujani banyak pertanyaan dari Keyla yang baru datang.


"Sania, bagaimana semalam? Apakah setelah mendengar penjelasan Arka kalian langsung bercumbu dan bermesraan? xixixi."


"Apa maksudmu?," tanya Sania lalu berbalik masuk ke rumah dengan tidak bergairah. Keyla mengikuti Sania dengan rasa antusiasnya. Namun, saat tiba di dalam ia merasa heran karena tidak mendapati Arka disana.


Kemudian Keyla ikut duduk di samping Sania yang nampak murung. "Sania, bukankah semalam Arka sudah menjelaskan padamu tentang dia yang sudah menyelamatkan para gadis yang di selundupkan geng Jack? Juga Arka akan memulangkan mereka ke kampung halamannya, sebenarnya kejadian semalam itu idenya Kenzi."


Seketika Sania terperanjat saat mendengar perkataan Keyla. "Berarti aku sudah salah paham pada Arka, pantas saja dia sangat marah...." batin Sania.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2