Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 63


__ADS_3

\*\*\*


Di tengah keramaian jalanan kota dan gemerlapnya lampu malam, Sania dan Keyla berdiri di pinggir jalan, wajah mereka terlihat serius dan penuh ketegangan. Mereka terus berargumen tentang apakah Sania seharusnya ikut mencari keberadaan Nino dan Arka atau tidak.


Keyla, dengan suara lantang, bersikeras bahwa Sania harus ikut dengannya. Dia yakin bahwa Arka tidak akan berbuat macam-macam dan percaya padanya. Tapi Keyla ingin memergoki Nino langsung untuk mendapatkan jawaban yang jelas.


"Tapi Keyla...."


"Ayolah Sania...."


Namun, Sania masih ragu. Dia merasa cemas dan khawatir tentang kemungkinan yang mungkin terjadi. Sania berpikir bahwa lebih baik mereka tidak terlibat langsung dan menunggu Nino dan Arka untuk menjelaskan situasi dengan jelas.


Sania merenung sejenak, dan akhirnya, Sania merasa bahwa dia tidak bisa membiarkan Keyla pergi sendirian dan memutuskan untuk mengikutinya. Meskipun masih ada kekhawatiran dalam hatinya, Sania tahu bahwa kehadiran dan dukungannya adalah penting bagi Keyla dalam situasi yang sulit.


"Baiklah, ayo kita pergi," kata Sania. Mereka berjalan bersama menuju tujuan mereka, mencoba menenangkan diri dan membuka pikiran untuk menerima apa pun yang mungkin terjadi.


Di tempat hiburan, Arka, Nino, Santi, dan Maya berusaha pura-pura menikmati suasana yang ada. Mereka duduk bersama di meja, sementara mama pemilik klub ikut bergabung dengan mereka.


Mama pemilik klub tersenyum ramah kepada mereka dan mencoba menjaga suasana yang nyaman. "A ha ha ha ha... Gadis-gadis kami disini selalu memberikan pelayanan yang baik pada tamu, jika kalian merasa kurang hanya dengan satu gadis, aku akan panggilkan beberapa gadis lain," serunya.


"Tidak usah, kami bawa gadis sendiri... Aku tau bagaimana para gadis mama disini, mereka tidak akan membiarkan kedua gadis ini melayani kami dengan puas, benar kan... Ha ha ha...," jawab Nino.


Arka, Nino, Santi, dan Maya berusaha tersenyum dan mengikuti pembicaraan, meskipun sebenarnya mereka masih memiliki kekhawatiran dan ketegangan di hati mereka.


Sementara mereka berbicara, mereka juga berusaha memperhatikan setiap gerakan dan interaksi di sekitar mereka. Setiap detik terasa panjang, dan mereka harus tetap berpura-pura menikmati suasana agar tidak menarik perhatian orang lain.

__ADS_1


Mama pemilik klub, dengan sedikit curiga, terus berinteraksi dengan mereka. Dia berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan dengan memberikan layanan yang baik dan menawarkan hidangan dan minuman yang lezat.


Meskipun mereka mencoba menikmati momen tersebut, pikiran mereka tetap terfokus pada penyelamatan Maya dan bagaimana cara membebaskannya. Meskipun tersirat kecurigaan pada mama karena melihat Santi yang tegang dan hanya duduk diam saja juga tidak melayani Arka dan Nino.


Di antara senyuman palsu dan percakapan yang ramah, Arka, Nino, Santi, dan Maya berkomunikasi dengan isyarat dan bahasa tubuh. Mereka saling memberikan kode dan petunjuk untuk mengkoordinasikan rencana penyelamatan.


Saat mama tersebut pergi sejenak, "Aku rasa dia sudah mulai curiga, lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum terlambat," kata Arka. "Maafkan aku, mungkin dia curiga karena melihatku," timpal Santi.


"Jangan bicarakan itu sekarang," jawab Nino. "Arka, kamu bawa mereka pergi dahulu, biar aku urus sisanya," lanjut Nino.


"Tapi aku...." Maya terlihat menunduk dan ragu saat akan di bawa keluar dari sana. "Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa padamu, tapi kalian harus berpura-pura sebentar denganku," seru Arka.


Kemudian Arka berjalan hendak keluar dengan merangkul Santi dan Maya, namun mereka bertemu dengan mama. "Tuan Arka, kenapa buru-buru sekali....," serunya dengan sikap genit. "Hei, mama kemarilah... Jangan ganggu Arka, dia sedang bersenang-senang... Kami akan membawa mereka keluar, jadi masukan tagihannya atas namaku ya...," seru Nino mencoba menghindarkan mama dari mereka.


"Pergilah! Beraninya kami ikut campur urusanku!," teriak Arka. "Maaf, aku sudah salah paham," ucap penjaga tersebut. "Minggir!." Arka pun keluar dengan bebas membawa kedua gadis yang ia rangkul itu.


Kini, Sania dan Keyla sudah sampai di klub malam tempat Arka dan Nino tadi berada. "Menyingkir! Dimana dia?," teriak Keyla sambil menyingkirkan setiap orang yang menghalangi jalannya.


"Nona Keyla... Anda terlambat," seru mama. "Tuan Nino sudah pergi baru saja," lanjutnya. "Sial! Aku sudah membiarkannya lolos kali ini," ucap Keyla, dan Sania pun hanya tersenyum melihat tingkah Keyla. Dia berdiri memperhatikan tidak jauh dari Keyla dan mama.


"Nona Keyla jangan marah, tuan Nino sedang baik hari ini... Justru tuan Arka yang membawa dua gadis sekaligus," kata mama, Sania yang mendengarnya merasa terkejut dan ekspresi wajahnya menjadi tegang.


"Kamu jangan bicara sembarangan wanita tua!," kata Keyla sambil emosi. "Aku percaya jika itu Nino, tapi kalau Arka, bagaimana mungkin? Kalau kau berbohong akan aku hajar!," lanjutnya. "Itu benar nona Keyla, mana mungkin aku berani berbohong padamu," jawab mama. "Kau!."


"Keyla, sudahlah... Lebih baik kita pergi saja," kata Sania dengan ekspresinya yang tidak bisa di artikan. Lalu Keyla pun pergi dengan mengancam mama terlebih dahulu.

__ADS_1


"Untung saja wanita itu cepat pergi, sepertinya aku harus menyingkirkan sunda galak itu," ucap mama. "Mama, aku rasa wanita yang di belakang itu nona Sania, jarang sekali dia memergoki suaminya di tempat seperti ini dengan gadis lain," kata salah satu penjaga di sana.


"Aku tidak peduli selama bukan Keyla yang galak itu," jawab mama. "Hei, apa kamu memperhatikan gadis yang mereka bawa itu?," tanyanya. "Salah satu gadis itu aku pernah melihat saat bos Jack membawanya sendiri dari gudang, tapi aku tidak yakin."


"Aku rasa gadis yang satunya bukan wanita penghibur dan aku merasa aneh, setiap saat aku menyuruh Maya keluar dan melayani tamu, dia suka terlihat bersedih, tapi kali ini dia terlihat sangat senang," ucap mama mulai curiga. "Hubungi bos Jack dan awasi gadis itu."


Sania berjalan pelan menyusuri jalan, dengan pikirannya masih terpaku pada gambaran Arka di klub malam bersama para gadis. Keyla mencoba menghibur Sania, berusaha meyakinkannya bahwa itu hanya salah paham belaka dan bahwa Arka tidak mungkin berbuat macam-macam.


Keyla mendekati Sania dengan wajah penuh empati, berusaha memberikan dukungan dan pengertian. Dia mencoba menjelaskan bahwa Arka adalah orang yang baik, setia, dan tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti Sania. Keyla berusaha meyakinkan Sania bahwa kepercayaan dan cinta mereka berdua adalah yang terpenting.


"Keyla, aku tidak apa-apa...."


"Sania...."


"Keyla, Arka adalah ketua geng, terkadang dia harus melakukan hal itu... Aku, sebagai kekasihnya harus bisa memahaminya dan tidak terlalu picik, bukankah begitu?."


"Sania, tapi kamu...."


"Gadis bodoh, aku tidak apa-apa... Aku hanya lelah dan ingin sendiri dulu, aku butuh waktu."


Sania hanya menjawab dengan wajah sedih dan melambaikan tangannya dengan lemah. Dia merasa terluka dan bingung, tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini. Perasaan percaya dan kepercayaannya terhadap Arka telah goyah karena gambaran yang terlintas di benaknya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2