Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 18


__ADS_3

Seminggu setelah Arka di keluarkan dari sekolah, Sania menjadi tidak fokus pada pelajaran piano dan nilai-nilainya menurun drastis. Ia merasa kehilangan semangat dan motivasi karena rasa sedih yang terus menghantui setelah kejadian yang menimpa Arka dan pengusiran Arka dari sekolah.


Meski ibunya sudah mencoba untuk memotivasinya, Sania tetap merasa terpuruk dan sulit untuk bangkit kembali. Ia terus memikirkan Arka dan merindukan kebersamaan mereka di sekolah dan luar sekolah.


Semua hal terasa berat dan kesulitan selalu menghampirinya, bahkan saat ia bermain piano, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Sania sangat merindukan Arka dan rasa sedih yang tak kunjung hilang membuatnya tidak bisa fokus pada kegiatan apapun.


Pada satu sore, Sania sedang berjalan pulang dari tempat les nya. Dia berjalan gontay dengan tatapan kosong sambil memikirkan setiap kejadian yang menimpanya juga Arka.


Sania bahkan tidak menyadari jika ia berjalan pada saat lampu lalu lintas masih hijau hingga akhirnya dia terserempet motor dan terjatuh. Pengendara motor itu memarahinya karena kelalaian Sania. Kemudian pada saat itu Keyla melihat kejadian yang menimpa Sania dan dia balik memarahi pengendara motor tersebutlah karena melajukan motor terlalu ngebut.


Keyla menghampiri Sania dan mencoba untuk membantunya tapi Sania malah terlihat ketakutan karena saat terakhir bertemu dengan Keyla, dia di tampar dengan sangat keras dan mengancamnya.


"Kamu baik-baik saja?," tanya Keyla, tapi Sania tidak menjawab dan malah menangis.


Melihat ketakutan Sania, Keyla mencoba meluruskan jika sekarang dia tidak akan menggangu Sania dan hanya ingin bertanya tentang keberadaan Arka saja.


Mendengar nama Arka membuat Sania merasa tertarik dan berharap mendapat kabar tentangnya, tapi ternyata Keyla pun tidak tau kabar lelaki yang sudah membuat Sania jatuh cinta itu.


"Sebenarnya Arka kemana, kamu pacarnya harusnya kamu tau tentangnya. Aku akui, aku memang menyukai Arka tali dia tidak membalas perasaanku. Awalnya dia tidak mempunyai pacar jadi tidak salahnya aku terus mengejar dia. Tapi saat hari itu, Arka menatapmu dengan sangat berbeda, tatapan yang tidak pernah dia berikan kepada perempuan lain, aku rasa dia sangat mencintaimu." jelas Keyla panjang lebar.


Mendengar hal itu, Sania menjadi lebih bersedih dan terus menitikan air matanya dan berkata,


" Kamu tenang saja, tidak ada hubungan apapun antara aku dan Arka. Kalaupun pernah ada, kini semuanya sudah berakhir."


Keyla melihat kesedihan di mata dan raut wajah Sania dan merasa prihatin, dia juga mengetahui kabar jika Sania mendapat peringatan dari sekolahnya karena mencoba membela Arka. Tapi untuk saat ini Keyla pun tidak bisa membantu mereka lebih jauh.


Tidit!


Saat kebersamaan Sania dan Keyla, tiba-tiba ayah Sania sudah ada di seberang jalan untuk menjemput Sania. Dari kejauhan ayah Sania melihat tidak suka pada Keyla dan Sania pun segera berpamitan kepada Keyla.

__ADS_1


"Sania, jika kamu tau kabar Arka, beritau aku ya!." Keyla berteriak kepada Sania dan membuat ayah Sania berkata kepadanya, "Siapa lagi gadis preman itu? Rupanya kamunya sudah banyak bergaul dengan orang yang salah Sania." Sania hanya menunduk dan tidak menjawab perkataan ayahnya itu.


~


Arka dan Kenzi duduk bersama di tepi danau di malam yang tenang. Di tengah obrolan mereka, Arka menceritakan bahwa dia akan mengikuti acara balapan motor malam ini.


Kenzi terlihat antusias dan bertanya, "Kamu sudah siap untuk itu?".


Arka menjawab dengan senyum, "Tentu saja. Aku sudah mempersiapkan motorku dan merencanakan strategi untuk memenangkan perlombaan itu."


Namun, Kenzi memberikan nasihat, "Pastikan kamu tetap aman dan tidak mengambil risiko yang berlebihan. Kesehatanmu lebih penting daripada memenangkan balapan itu."


Arka merespon dengan mengangguk, "Aku mengerti. Aku akan berhati-hati dan tidak mengambil risiko yang berlebihan."


Kenzi merasa curiga karena terjadi lonjakan penonton tambahan dan taruhan yang lebih banyak di acara balapan motor yang akan Arka ikuti. Tapi Arka berpikir justru jika lebih banyak penonton akan lebih menguntungkan karena uang yang dia dapat pasti akan jadi lebih banyak.


Tiba-tiba Nino datang dengan sepeda motornya dan terus mengoceh karena di marahi gadis incarannya. Sebabnya karena Nino terlambat sedikit menjemput gadis itu, padahal jarak yang Nino tempuh menuju rumahnya itu sangat jauh. Nino berpikir bukannya merasa bersyukur karena jadi teman kencannya, gadis itu malah memarahinya.


"Kalian jangan menertawakan aku, suatu saat, aku bisa menemukan dan mendapatkan gadis manapun," kata Nino percaya diri. Arka dan Kenzi hanya menggelengkan kepala mereka.


"Tapi, ngomong-ngomong... Menurutku ada beberapa gadis cantik yang tidak bisa aku dapatkan, seperti Sania ha ha, dia sangat manis, tapi mengingat wajahnya yang lugu sangat lucu."


Mendengar perkataan Nino, ekspresi Arka langsung berubah dan menjadi sedih. Dia mengingat setiap momen bersama gadis yang sudah tinggal di hatinya itu.


" Arka, apakah kamu masih punya perasaan pada Sania?," tanya Nino, membuat Arka menatapnya.


" Nino, apa kamu sudah selesai bicara? Sejak kapan kamu menghargai seorang wanita?... Apa kamu bawa uangnya? Sekarang saatnya pergi," sambung Kenzi.


"Tadaaa...."

__ADS_1


Nino menujukan uang yang dia bawa untuk taruhan balapan motor Arka, mengingat Nino memang mempunyai lebih banyak uang karena kedua orang tuanya masih ada dan memiliki sebuah toko kelontong yang setiap hari Nino ambil uangnya untuk poya-poya tanpa sepengetahuan ibunya.


Kemudian Nino memberikan sebuah apel merah pada Arka dan mengundang mereka datang ke rumahnya malam ini untuk pesta makan-makan, karena ibunya sudah masak banyak untuk acara ini.


"Kenapa kamu memberiku apel ini, dan mengundang kami ke acara di rumahmu? Apakah untuk merayakan karena aku di keluarkan dari sekolah?," canda Arka.


"Arka, apa kamu sudah lupa, hari ini kan ulang tahunmu?," kata Nino dan Kenzi pun membenarkannya. Arka merasa teringatkan lalu memikirkan sesuatu, kemudian dia naik motornya menuju ke suatu tempat dahulu


dan mengatakan akan menyusul mereka ke tempat balapan.


"Kalian pergi duluan saja," pesan Arka sambil berlalu.


"Arka, kamu mau kemana dulu? Bagaimana balapannya?," teriak Nino, namun tidak di jawab Arka.


Di rumah Sania berada...


Sania duduk di atas tempat tidurnya dengan membaca sebuah buku. Dia mengenakan piyama berwarna pink dan rambutnya yang hitam terurai dengan lepas di sekelilingnya.


Di rasa sudah cukup lama dia membaca buku, Sania menggeliatkan tubuhnya dan meletakkan buku di sampingnya. Dia merasakan rasa lapar di perutnya dan memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil camilan. Dia berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Sesampainya di dapur, Sania membuka lemari es dan mengambil beberapa camilan. Dia duduk di meja dapur dan mulai menyantap camilannya sambil memikirkan Arka yang sudah lama tidak dia temui.


Saat itu orang tua Sania memperhatikan putri semata wayang nya itu yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan mereka sebagai bentuk kekecewaan Sania pada orang tuanya.


"Suamiku, berdamailah dengan putrimu, dia bahkan tidak makan malam dan hanya makan camilan saja, aku hawatir dia akan sakit," kata ibunya Sania.


"Biarkan saja, biar dia merenungkan perbuatannya, akhir-akhir ini dia sudah sangat keterlaluan," tegas ayah Sania.


Sania merasa kecewa karena tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Dalam seusianya ini, Sania memang sedang dalam masa labil, tapi dia juga berpikir memang tidak salah membela Arka yang tidak bersalah.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...


__ADS_2