
\*\*\*
Masih di toko buku berada...
Sania yang masih dalam emosi yang terpicu oleh kenangan masa lalunya yang terkait dengan piano, buru-buru menyimpan buku pelajaran piano ke dalam rak. Dia ingin segera pergi dari toko buku, menghindari terus terpapar dengan hal-hal yang mengingatkannya pada masa lalu.
Namun, saat Sania berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar, dia secara tidak sengaja menabrak seseorang. Terkejut, Sania melihat ke atas dan terkejut menemukan Kenzi berdiri di depannya. Kenzi sedang mencari buku untuk kuliahnya.
"Sania?." Kata Kenzi dengan terlihat senang.
"Kenzi? Oh, maafkan aku!." ucap Sania dengan terburu-buru. "Aku tidak sengaja menabrakmu. Apakah kamu baik-baik saja?."
Kenzi menyadari keadaan Sania yang tampak tegang dan sedih. Dia melihat ke dalam mata Sania dan bertanya dengan perhatian, "Apakah ada yang salah, Sania? Apa yang terjadi?."
Sania merasa terombang-ambing antara ingin mengungkapkan perasaannya dan takut membebani Kenzi dengan masalahnya. Oleh karena itu dia segera berusaha agar terlihat baik-baik saja. "Tidak apa-apa Kenzi aku hanya sedang terburu-buru, kamu sedang apa disini?," ujar Sania dengan senyuman di bibirnya.
"Aku sedang membeli buku-buku untuk kuliahku, dulu aku hanya bisa meminjam dari perpustakaan, tapi sekarang aku bisa membelinya sendiri," jawab Kenzi sambil melangkah bersama keluar dari toko buku tersebut.
Sania dan Kenzi memutuskan untuk melanjutkan perbincangan mereka di sebuah kafe yang memiliki jendela besar dan kaca netral. Mereka memilih tempat ini agar dapat berbicara dengan lebih leluasa tanpa khawatir terlihat oleh orang di luar.
Ketika mereka tiba di kafe, mereka memilih meja yang strategis di dekat jendela besar. Dari sana, mereka bisa melihat aktivitas di luar tanpa terlihat dengan jelas oleh orang-orang di luar.
Sania nampak melihat-lihat buku-buku yang sudah Kenzi beli dan merasa tertarik. "Kamu membeli buku banyak sekali," ujar Sania. "Ya, aku rasa aku punya banyak waktu untuk membeli buku-buku tentang hukum juga koleksi bacaanku... O ya, kenapa kamu berada di toko buku sendirian?."
Pertanyaan Kenzi membuat Sania terperangah dan mencoba mengatur perasaannya. "Kamu bertanya tentang kenapa aku sendirian atau aku yang sedang berada di toko buku?."
Lalu Sania menjelaskan jika sekarang ini Arka tidak akan khawatir padanya karena selain sudah mendapat pengakuan dari Arka dan tidak akan ada yang berani mengganggunya.
__ADS_1
Sania juga merasa jika para preman tidak akan menemukannya di toko buku karena mereka tidak pernah berada disana. Kenzi juga menambahkan bahkan Keyla pun tidak bisa menemukan Sania di tempat itu sehingga gelak tawa mereka pun tidak terhindarkan.
Sementara itu, Arka sedang berjalan menyusuri pertokoan. "Aku harus memberikan hadiah untuk om Tedi, tapi hadiah apa yang pantas untuknya ya? Aku akan tanya pada Sania dan minta pendapatnya," batin Arka, lalu segera meraih sakunya dan mengambil handphone-nya.
"Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi...."
Beberapa kali Arka menghubungi Sania namun hanya suara operator yang selalu terdengar. Kemudian Arka mencoba menghubungi Sania sekali lagi.
"Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi, telepon akan di alihkan ke pesan suara dan akan di kenakan biaya setelah bunyi bip...."
"Hallo, Sania... Emm... Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu makan malam, nanti aku akan menjemputmu ya, dah...."
Akhirnya, Arka pun hanya berbicara lewat pesan suara dan berharap Sania akan membukanya. Kemudian Arka pergi ke sebuah toko bunga yang berada tidak jauh dari tempat dia berada sekarang.
Arka masuk ke toko bunga tersebut dengan senyum bahagianya dan melihat-lihat bunga yang ada disana. "Permisi, tolong siapkan satu karangan bunga yang besar dan cantik," pinta Arka pada salah satu pelayan di toko tersebut. Dia ingin memberikan kejutan pada Sania dengan memberinya bunga saat akan makan malam nanti.
"Hallo... Ya, aku ingin memesan meja untuk dua orang... Ya, meja dengan jendela yang besar dan tempat yang indah... Aku juga ingin... ~."
Teg!!
Langkahnya terhenti tiba-tiba saat Arka melihat ke arah sebuah cafe di dekatnya. Dia melihat Sania dan Kenzi sedang duduk di sana, tertawa bahagia, dan tampak sangat akrab. Hatinya terasa seperti terhantam oleh kejutan yang tidak terduga.
Tiba-tiba, bunga yang Arka pegang terjatuh dari tangannya, melayang di udara sebelum jatuh dengan lemah di tanah. Arka merasakan kekecewaan dan kebingungan yang mendalam. Dia merasa seperti dunia seakan-akan berhenti sejenak.
Dia mencoba mengatasi rasa kecewa dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Mungkin Sania dan Kenzi hanya teman baik dan tidak ada yang lebih dari itu. Tetapi perasaan campur aduk dalam hati Arka membuatnya sulit untuk mengendalikan emosinya.
Arka menatap nanar dan menelan salivanya saat melihat senyum lepas Sania saat sedang bersama Kenzi itu. Senyuman yang sudah lama ini tidak dia lihat saat bersamanya.
__ADS_1
Arka memutuskan untuk mengambil napas dalam-dalam dan memantapkan langkahnya. Dia menyadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menghadapi Sania. Dia merasa perlu memberikan mereka privasi dan waktu untuk menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan.
Dengan hati yang berat, Arka berbalik dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Dia meninggalkan karangan bunga dengan tergeletak begitu saja di tanah dan melangkah pergi dengan langkah yang lambat dan hatinya yang terasa hancur.
Sementara itu, Sania dna Kenzi yang tidak tau keberadaan Arka yang sudah melihat kebersamaan mereka, tetap asyik berbincang-bincang dan tertawa.
"Ha ha ha ha... Lalu apa?," tanya Sania sambil tertawa dan menyeruput minumannya.
"Lalu, aku putuskan untuk melanjutkan studi hukum untuk menyelamatkan sistem hukum di Indonesia."
"Hei, Kenzi... Aku tidak tau kamu orangnya humoris juga," ujar Sania pada Kenzi yang selama ini terkenal menutup diri.
"Semua orang berubah... Nino pun bisa pakai ungkapan sekarang ha ha ha...."
"Ya... Semua orang berubah... Tapi, ada beberapa orang memilih mengubah dunia, tapi ada juga beberapa orang yang memilih di rubah oleh dunia...," ungkap Sania dengan tatapan kosongnya, "Seperti dirimu, tapi aku senang mempunyai teman sepertimu, sungguh, aku bahagia berteman denganmu," lanjut Sania dengan melihat Kenzi seraya meyakinkan.
"Sania, apa kamu bahagia?," tanya Kenzi sambil menatapnya dalam.
Seakan sudah siap di beri pertanyaan seperti itu, Sania pun menjawab dengan tatapan sembarangnya yang sulit di artikan.
"Aku tidak mengatakan jika aku benar-benar bahagia... Tapi aku sadar, beginilah hidup... Jika ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah, maka harus mencari kegiatan apa saja untuk membahagiakan diri."
"Kamu semakin dewasa," ujar Kenzi. "Dan kamu semakin tua," jawab Sania. Dan mereka pun tertawa bersama.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Bersambung...
Next episode... 👉👉👉
__ADS_1