Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 42


__ADS_3

Hari itu, Jack sedang duduk di markas gengnya dengan wajah yang muram. Dia merasa sangat kesal dan frustasi karena Remon lebih suka mempercayakan tugas-tugas penting kepada Arka ketimbang kepadanya, padahal Jack merasa sudah banyak berjasa dalam memimpin geng ini.


Oleh karena itu Jack merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Arka dan menyuruh Coki untuk melaksanakan tugasnya. Setelah mereka berdua berbincang, gelak tawa dari dua penjahat itu menggelegar seolah merayakan kebahagiaan jika rencana mereka berhasil.


"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Se... la... mat ulang tahun... Semoga panjang umur...."


Terdengar suara riuh dan tawa riang di sebuah kafe karena Arka, Sania, Kenzi, Nino juga Keyla sedang merayakan ulang tahun Tedi. Mereka memberikan satu kejutan ulang tahun untuk Tedi sebagai rasa terima kasih atas semua kebaikannya dan menjadi wali mereka.


Tedi sangat terharu dan bahagia dengan kejutan tersebut, ia tidak menyangka akan merayakan ulang tahun di usianya yang menginjak 50 tahun.


"Aku merasa senang hari ini... Aku bisa melihat kalian bertumbuh, kalian sering membuatku marah sehingga sering aku pukul... Tapi, sekarang kalian sudah besar dan mempunyai pekerjaan yang bagus dan menghidupi sendiri... Sekarang kalian merayakan ulang tahunku... Ku rasa ini makan malam terindahku... Terima kasih," ucap Tedi.


" Pak Tedi, sebenarnya ada sesuatu untukmu," timpal Sania," Arka, ayo berikan," lanjutnya.


"Oh iya Om, kami bertiga ingin memberikan ini," kata Arka sambil memberikan satu kotak hadiah.


"Om, kami mencarinya dengan susah payah karena ingin memberikan yang terbaik untuk Om, tapi di banding itu... Lebih susah mengerjakan ujian sekolah ha ha ha...," celetuk Nino.


"Om, bukalah...," sambung Kenzi.


Tedi segera membuka hadiah tersebut dan nampak itu adalah sebuah jam tangan yang indah juga terlihat mahal. Dia mengomeli ketiga cogan itu karena sudah menghamburkan uang yang mereka dapatkan tidak seberapa hanya untuk memberinya hadiah yang di rasa tidak perlu karena jam miliknya juga masih bagus dan bisa di pakai.


"Om, sudahlah, jangan banyak bicara... Lebih baik di pakai saja," kata Keyla sambil memakaikan yang di tangan Tedi.


"Om, kami sudah melihat jam tanganmu kacanya sudah beberapa kali pecah dan sudah di pakai beberapa tahun, kami rasa itu tidak pantas untuk Om yang menjabat posisi tinggi di kepolisian," tutur Arka.


"Ha ha, baiklah... Aku terima hadiah kalian, lagipula ini terlihat sangat bagus di tanganku."

__ADS_1


Kemudian Tedi memberi nasihat kepada tiga cogan itu agar tidak terlalu menghamburkan uang karena mereka harus menabung untuk masa depan mereka. Dan untuk persiapan pernikahan yang Tedi harapkan dari Arka dan Sania agar segera di laksanakan agar cepat memberinya seorang cucu.


Perkataan Tedi itu sontak membuat Sania tersipu malu, berbeda dengan Arka yang melihat Sania dengan tersenyum, karena ia memang sudah menantikannya.


Mereka berbincang-bincang, tertawa, dan menikmati hidangan di kafe tersebut. Arka dan Sania juga tampak bahagia dan menikmati acara tersebut. Saat mereka akan bersulang, tiba-tiba beberapa orang yang berjas hitam menghampiri mereka.


"Permisi, kami dari kepolisian kriminal, kami mendapat laporan bahwa saudara Arka, Kenzi dan Nino terlibat dalam kasus pembunuhan, silahkan ikut kami ke kantor polisi untuk di lalukan investigasi," ucap salah satu polisi sehingga membuat semua orang yang berada di sana terkejut. Dan perayaan ulang tahun Tedi pun berakhir dengan ketegangan.


Kini, Arka berada di kantor polisi untuk di Interogasi dan Tedi mengambil alih untuk melakukannya sehingga membuat Arka terperanjat. Tanpa basa-basi Tedi langsung bertanya pada Arka tentang kasus kematian Moko, dan bertanya apakah benar Arka ada kaitannya?.


Awalnya Arka hanya diam karena tidak tau apa yang harus di katakan, dia tidak bisa mengelak bahwa memang benar da pelakunya, tapi dia juga tidak ingin sampai mengecewakan reformasi jika sampai mengetahuinya.


Tedi bertanya sekali lagi tentang kebenaranya namun Arka hanya bisa mengatakan minta maaf pada Tedi, seolah mengerti jika Arka sudah jujur memang dia yang melakukannya maka Tedi sangat kecewa dan marah.


Di saat Tedi merasa emosi karena kebodohan Arka, tiba-tiba petugas polisi lain masuk dan memberi kabar jika Remon telah menjamin Arka karena pembunuh sebenarnya sudah menyerahkan diri sehingga Arka terbebas dari hukuman.


Tedi terus memarahi ketiga cogan itu di ruangan kerjanya sampai akhirnya Remon datang dan hendak membawa Arka pergi.


Tedi hanya menatap Arka namun menyiratkan melarangnya untuk pergi, tapi Arka menolak menuruti kata hatinya dan memutuskan untuk pergi dengan Remon.


Tedi berteriak agar Arka berhenti dan tidak mengabaikannya, namun dengan sangat berat hati Arka tetap melangkah pergi. Tedi merasa sangat marah ketika dan kecewa teramat besar pada Arka yang sudah tidak mendengarkannya.


Kemudian Tedi membuka hadiah jam tangan yang dia pakai lalu melemparnya ke lantai hingga pecah, menggambarkan hancur nya hati Tedi, orang yang selama ini sudah menjadi wali Arka dan sangat melarangnya bergabung dengan geng sebagaimanapun mereka nakak.


Melihat kemarahan Tedi, Sania mencoba mengejar Arka dan hendak membujuknya agar tidak pergi.


"Arka!."

__ADS_1


Sania memanggil Arka yang hendak masuk ke dalam mobil dan langkahnya pun terhenti saat mendengar suara Sania. Arka menoleh dan menatap Sania dengan tatapan yang sangat sedih, di satu sisi ia berharap dengan melakukan ini dia bisa melindungi Sania.


Dengan berlinang air mata Arka pun akhirnya pergi juga tanpa menghiraukan Sania yang kini menangis menatap kepergiannya. Sania pun melangkah atk tau arah dengan hampa dan tatapan kosong namun Kenzi mengikutinya.


"Sania, kamu mau kemana? Sania? Sania...!."


"Entahlah...," Sania hanya terus melangkah hingga Kenzi menghentikannya dan mencoba menyadarkannya.


"Aku harus berbuat apa? Apa yang harus aku lakukan!." Sania menangis sangat histeris.


"Sania! Tenanglah! Aku mengerti perasaanmu."


"Mengerti? Tidak, kamu tidak akan mengerti diriku! Bagaimana aku yang setiap malam terbaring tapi tidak bisa memejamkan mata karena khawatir Arka tidak pulang atau Arka pulang dengan luka dan berlumuran darah! Apa kamu bisa membayangkan jika orang yang aku cintai kini berubah menjadi seorang pembunuh! Hiks hiks hiks...."


" Aku mengerti! Aku mengerti saat ini kamu tersadar bahwa kamu sudah terjun ke dalam kehidupan gelap ini dan menyesalinya, aku mengerti sekarang kamu menyadari jika kamu hanya ingin hidup normal.... "


Kenzi memegang pundak Sania dan mencoba meyakinkan sesuatu," Aku ingin bertanya padamu... Apakah kamu masih mencintai Arka?." Sania berpikir dan hanya diam seakan mencerna pertanyaan Kenzi." Kamu meragukannya bukan? Ayo pergi." Lanjut Kenzi lalu membawa Sania pergi ke rumah orang tuanya.


Saat tiba di depan rumah Sania, Sania menatap rumahnya yang sudah lama Sania tinggalkan dengan tatapan rindu, lalu Sania melihat kedua orang tua nya yang berada di rumah dan melakukan aktifitas mereka setiap malam, ibunya yang akan selalu membuatkan teh untuk ayahnya yang sedang membaca koran, dan ayahnya yang tidak akan mandi sebelum menyelesaikan bacaannya.


Sania mengenang masa lalunya saat dia tinggal di sana dan menangis seolah menyesali semua yang terjadi padanya. Kemudian Sania dan Kenzi mencoba sembunyi di saat ayah dan ibunya seakan menyadari keberadaan Sania.


Sania sembunyi di balik dinding dan berharap orang tuanya tidak melihatnya. Kini ayah dan ibunya yang berada di depan pintu celingukan berharap mereka benar-benar melihat Sania, namun ayah Sania berkata dengan kecewa jika mereka hanya berhalusinasi karena Sania tidak mungkin kembali lagi pada mereka. Sania pun hanya terus menangis mendengar perkataan orang tua yang sangat merindukannya. 😭😭😭😭😭


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Sebagaimanapun sikap seorang anak, orang tua tetap menyayangi Anak-anakny..." 🤧🤧🤧

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2