
***
Hari sudah larut malam, dan Arka berdiri di balkon halaman rumahnya. Matanya terfokus ke dalam keheningan malam, tetapi pikirannya merenungkan hubungannya dengan Sania. Meskipun dia berusaha untuk terlihat cuek, hatinya bergejolak dengan kebingungan dan keraguan.
Ketika Arka melihat ke lantai bawah, dia melihat Sania yang pulang diantar oleh Kenzi. Mereka terlihat akrab dan hangat satu sama lain. Sania tampak tersenyum, tetapi ada sesuatu yang terlihat di matanya, suatu perasaan yang Arka tidak bisa mengartikannya dengan pasti.
"Sania...," Panggil Kenzi dan Sania pun menoleh. "Cobalah jadi dirimu sendiri di hadapan Arka, lupakanlah semua yang terjadi pada masa lalu, jangan biarkan hal itu menghalangi hubunganmu dengan Arka."
Mendengar perkataan Kenzi, Sania pun sedikit tersenyum, "Aku akan berusaha, terima kasih Kenzi...." Kenzi pun berpamitan dan pergi. Mereka tidak tau jika Arka sedari tadi memperhatikan mereka berdua dan menyimpulkan sesuatu.
Saat Sania baru masuk ke rumah, ia langsung dikejutkan dengan pertanyaan Arka yang nampak tidak senang. "Apa kamu bersenang-senang?." Sania pun menoleh, namun bukannya menjawab pertanyaan Arka, ia bersikap tenang dan bertanya balik tentang apakah Arka sudah makan, lalu hendak membuatkan makanan untuknya.
Arka menatap tajam Sania yang hendak masuk ke dalam rumah." Apakah kamu tidak dengar, aku bertanya apakah kamu bersenang-senang pergi dengan Kenzi?," tanya Arka lagi dengan suara yang mulai tinggi, Sania pun menghela nafasnya.
"Kamu sendiri yang tidak ingin pergi menemui pak Tedi, jadi aku meminta Kenzi menemaniku, jika karena masalah ini kamu tidak perlu marah... Kenzi juga sahabat baikmu...." jelas Sania. "Itu benar, tentu saja Aku percaya pada Kenzi karena dia sahabatku," tegas Arka.
"Jadi kamu tidak percaya padaku?," tanya Sania. "Aku hanya tidak mengerti, aku merasa semakin tidak bisa memahamimu walaupun kita tinggal bersama setiap hari... Kenzi baru saja kembali, tapi kamu seperti sudah mengatasi masalah empat tahun bersamanya dan lebih banyak bicara dengannya daripada denganku!," tutur Arka dan Sania pun nampak keheranan dengan sikap Arka.
Kemudian Sania mencoba bicara lebih tenang dan menjelaskan jika ia dan Kenzi hanya pergi ke rumah pak Tedi. Berharap Arka akan mengerti tapi ia malah mengungkit saat kejadian ia melihat Sania dan Kenzi berdua di cafe waktu itu. Dengan raut emosi Arka meminta penjelasan dari Sania.
"Arka, aku tidak tau harus bagaimana cara bicara denganmu... Setiap kali kita ada masalah, kamu selalu menyalahkan orang lain?."
Perdebatan di antara kedua insan itu semakin memanas. Arka mengatakan jika dirinya juga tidak mau sampai begini, tapi di saat ia melihat Sania dan Kenzi bicara dan tertawa bersama, itu membuat Arka berpikir jika mungkin Kenzi lebih cocok dengan Sania daripada dirinya.
"Kamu harus bersamanya...," ucap Arka sambil menahan rasa kecewanya. "Arka?."
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya lagi... Aku ingin keluar." Arka beranjak dan hendak keluar rumah. "Arka! bisakah kita duduk dulu dan bicara, kenapa kamu selalu melarikan diri di saat kita ada masalah? ...."
"Aku tidak mau bicara, kamu tau kan? Orang seperti aku hanya bisa mengunakan pisau untuk menyelesaikan masalah," kata Arka dan segera pergi meninggalkan Sania, walaupun Sania memanggilnya Arka tidak menoleh lagi dan terus berjalan.
Arka memasuki mobilnya dengan pikiran yang kacau dan hati yang berdebar. Dia memutuskan untuk mengendarai mobilnya, berharap perjalanan itu dapat memberikan sedikit kejernihan pikiran.
Mobil melaju di sepanjang jalan yang dikenal Arka. Dia melihat pemandangan sekitar, tetapi pikirannya tetap melayang ke dalam kegelisahan yang dia rasakan. Arka berusaha fokus pada perjalanan dan mencoba untuk menemukan arah yang jelas di tengah kekacauan pikirannya.
Dia menelusuri jalan dengan naluri, berbelok ke kiri dan kanan tanpa tujuan yang jelas. Arka membiarkan kendaraannya mengantar dia, berharap bahwa perjalanan ini akan membantunya merapikan pikiran yang kacau.
~
Beralih ke tempat yang berbeda, di kejauhan terlihat sebuah mobil hitam yang bergoyang-goyang karena guncangan yang terjadi di dalamnya. Setelah beberapa saat mobil itupun tenang kembali.
"Arrgh...! Setiap kali permainanmu selalu kasar, jadi aku harus merapikan riasanku lagi....," seru Siska sambil merapikan makeup nya yang belepotan.
Jack tetap mengerayangi Siska dan berkata, "Jika aku tidak nakal, apakah kamu akan menyukai? Hemm...."
"Sudahlah... Jack, lebih baik kita lebih bisa menjaga diri, karena sekarang situasi Remon sedang tidak baik... Jika dia mengetahui perselingkuhan kita, maka dia akan membunuh kita... Apa kamu tidak takut?."
"Heh, jika aku takut padanya, kenapa aku berani menyentuhmu? ... Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu terluka," jawab Jack.
Kemudian Jack memberikan sebuah buku catatan pada Siska dan berkata jika Siska harus menyimpan buku itu untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada mereka.
Saat Siska membaca isi catatan tersebut, ia merasa terkejut karena semua laporan bisnis kotor yang tercatat di dalam buku tertulis atas nama Remon. Dengan rasa tidak tau malu Jack membenarkan semua itu bahwa dia meraup keuntungan besar-besaran dari berbagi bisnis ilegal yang di atas namakan Remon.
__ADS_1
Jadi, jika suatu saat semua itu tercium polisi maka Remon lah yang akan di tangkap dan di salahkan atas semua bisnis ilegal itu. (Hemm, benar-benar si Jack ini udah nyolong bininya, berkhianat pula, haduh...!).
"Simpan baik-baik dan jangan sampai orang lain melihatnya," ucap Jack dan Siska pun mengangguk. "Apakah kamu lapar? Kita cari makan yuk." Mereka pun turun darinya mobil dan berjalan bersama dengan saling merangkul.
~
"Waah... Pemandangan ini sangat indah sekali... Dulu kami juga bisa melihat bintang-bintang dari kampung halaman, tapi aku rasa cahaya-cahaya ini lebih menarik," tutur Santi yang kini sedang berada di atas gedung bersama Arka. Tempat yang dulu ia membawa Sania kesana berdua dan menghabiskan malam bersama.
Ternyata setelah berdebat dan pergi meninggalkan Sania, Arka pergi ke rumah lamanya dan mengajak Santi jalan-jalan. Kini Arka dan Santi duduk di tepian gedung dan menatap seluas mata memandang pemandangan kota malam itu. Lalu Arka teringat perkataan Sania saat ia bersamanya waktu itu.
~
"Ada jutaan bintang yang ada di langit, tapi mereka kalah dengan cahaya lampu kota di malam hari... kamu juga suka melihat bintang?."
~
"Arka... ada apa?." Seketika lamunan Arka terhenti saat Santi memanggilnya. "Tidak ada apa-apa... Dulu... Seseorang juga berkata hal yang sama," ucap Arka sambil mengingat masa lalu.
"Apakah itu gadis yang ada di foto dalam dompetmu?," tanya Santi. Arka pun menoleh dan mengangguk. "Kamu pasti sangat merindukannya, kan?," tanya Santi lagi.
Arka berpikir sejenak lalu menghela nafasnya, kemudian ia meminta maaf pada Santi karena pasti saat ini ia sangat mengkhawatirkan Maya, tapi dia malah mengajaknya keluar bersamanya.
Santi mengatakan jika ia tidak merasa keberatan karena ia juga perlu udara segar. Lalu Arka berkata bahwa ia akan mencoba untuk menemukan Maya lagi dengan selamat dan Santi pun mengangguk penuh harap.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Bersambung...