Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 61


__ADS_3

\*\*\*


Kini, Sania dan Keyla berada di sebuah toko permainan yang memiliki simulasi balapan motor. Mereka berdua sangat antusias untuk mencoba permainan tersebut dan melepaskan penat.


Mereka duduk di kursi pengendara motor masing-masing, memasang helm dan mengikat sabuk pengaman. Layar depan menampilkan lintasan balap yang menarik dengan berbagai tikungan dan rintangan yang menantang.


Tanda start diberikan, dan Sania serta Keyla memacu motor mereka dengan cepat. Mereka berdua menggunakan kemampuan mengendara dan refleks yang mereka miliki untuk mengatasi tikungan dan menghindari rintangan.


"Yeeee...! Akhirnya aku mengalahkanmu ha ha ha...," sorak Keyla kegirangan.


"Aku sengaja membiarkanmu menang karena kamu sedang suntuk," jawab Sania, mengelak.


"Kalau begitu, ayo kita main sekali lagi!," seru Keyla dengan penuh semangat.


Tawa riang terdengar saat mereka berdua berusaha saling mengalahkan dan memperebutkan posisi terdepan. Sania dan Keyla saling melemparkan ejekan dan tawa canda, membuat permainan semakin seru.


Mereka menikmati sensasi adrenalin dan kecepatan dalam simulasi balapan motor ini. Setiap kali melintasi garis finis, mereka merasakan kepuasan dan semangat untuk bermain lagi.


Toko permainan dipenuhi dengan suara gemuruh mesin dan tawa mereka yang bergemuruh. Waktu berlalu begitu cepat, mereka berdua tidak terasa telah bermain selama berjam-jam.


Setelah beberapa putaran balapan, mereka memutuskan untuk menghentikan permainan. Mereka duduk bersama di sebuah sudut toko, masih merasakan kegembiraan dan kelelahan setelah bermain.


"Senangnya bisa bermain balapan motor seperti itu," kata Sania sambil mengelap keringatnya. "Kita benar-benar melepaskan penat," lanjutnya.


"Kalau begitu, ayo kita bermain bola basket," seru Keyla. "Ayo! Siapa takut!," jawab Sania.


Mereka menyewa seluruh toko permainan untuk diri mereka sendiri, memastikan tidak ada orang lain yang mengganggu saat mereka bermain. Pintu toko ditutup, dan mereka memiliki kesempatan untuk menikmati permainan secara eksklusif.


Sania dan Keyla nampak semangat memasukan setiap bola basket pada keranjang permainan tanpa henti. Mereka terus berlomba mencetak gol tanpa menyerah.


"Nona Keyla, tolong kasihani aku... Setiap kali kamu merasa suntuk, aku selalu menderita karena rugi, bisakah kamu membiarkan yang lain masuk untuk bermain? Aku harus cari nafkah," kata menejer toko permainan tersebut yang berdiri memelas dan dua cup minuman milik Sania dan Keyla di tangannya.

__ADS_1


"Hei! Kenapa kamu merengek? Kami sudah memesan toko ini seharian...," jawab Keyla yang terus asyik bermain dan sesekali menyeruput minumannya. "Aku tidak suka berkelahi saat bermain! Sini, mana kuncinya, aku ingin bermain permainan yang lain," lanjut Keyla.


"Tapi, Nona tetap harus bayar kalau sudah memesan toko ini, tapi Nona tidak pernah membayar sepeser pun," jawab menejer tersebut sambil memberikan kuncinya.


"Hei! Hari ini suasana hatiku sedang jelek, aku akan memukulmu jika terus merengek!," gertak Keyla.


Kemudian Sania mencoba berbicara pada menejer itu untuk membandingkan pada sikap Coki yang setiap minggu mengambil uang darinya dan akan membuat kerusakan setiap kali tidak di beri uang yang menyebabkan kerugian lebih besar.


Tapi semenjak Arka membereskan masalah itu, Coki tidak pernah mengacau lagi disana. Lalu Sania hanya meminta agar di izinkan beberapa kali berkunjung kesana dan mengingatkan tentang jasa mereka. Dan akhirnya menejer itu pun mengalah dan membiarkan Sania dan Keyla bermain sesuka hati karena menghormati Sania.


~


Seperti biasa, Arka selalu membuka pintu rumah lamanya dengan menendangnya.


Brukkk!


"Santi? Santi...? Apa kamu sudah siap? Nino sudah menunggu kita." Ucap Arka sambil berjalan memasuki rumah lamanya yang kini di tinggali Santi.


"Ya, aku sudah siap," jawab Santi yang keluar dari dalam kamar dengan setelan barunya. Arka sempat terperangah saat melihat penampilan Santi. "Siapa yang menyuruhmu memakai baju seperti ini?," tanya Arka saat melihat penampilan Santi dengan gaun pendek dan terbuka juga rambutnya yang di ikat cepol.


"Dasar Nino, dia selalu melakukan menurut standarnya," gumam Arka. "Aku rasa... kamu harus mengurai rambutmu, itu akan terlihat lebih alami," lanjut Arka. Dan Santi pun menuruti Arka dan melepas ikatan rambutnya.


Saat rambut Santi terurai, Arka menatap lekat penampilan Santi, dia merasa seolah melihat Sania di diri Santi. Setelah beberapa saat, Arka terus menatap Santi dengan pikirannya. "Arka? Arka...?." Tiba-tiba lamunan Arka tersadar saat Santi memanggilnya dan Arka pun mengalihkan pandangannya. "Ayo!," serunya.


Kini Arka dan Santi berjalan menyusuri jalan menuju hotel yang akan mereka kunjungi dan bertemu dengan Nino yang sudah menunggu mereka.


"Aduh Arka, aku sudah menunggu lama... Hei, anak buah kita mengatakan jika di hotel ini memiliki gadis baru dan ciri-cirinya sama seperti yang Santi katakan," ucap Nino.


Akhirnya mereka masuk dan tinggal di tempat hiburan itu selama beberapa jam, namun mereka keluar dengan hasil yang nihil, karena Maya tidak di temukan disana.


"Tidak apa-apa, mungkin kita bisa menemukan temanmu di tempat lain," seru Nino saat melihat Santi terlihat kecewa. Kemudian, Nino mengajak mereka ke beberapa tempat hiburan yang lain dan masih tidak menemukan hasil.

__ADS_1


Akhirnya Nino pun mengeluh karena baru kali ini dia merasa lelah saat mengunjungi tempat hiburan dan di kerumuni gadis-gadis yang menggodanya namun dia tidak tertarik sama sekali.


"Arka, apa menurutmu rencana Kenzi ini akan berhasil?," tanya Nino.


"Tenang saja, jika hari ini tidak menemukannya, kita bisa melanjutkan pencariannya besok," seru Arka mencoba menenangkan Santi yang terlihat bersedih.


~


"Aku mohon, jangan lukai aku...! Aku punya uang... Aku akan memberikannya padamu... Aku mohon... Jangan! Jangaaaan...!."


~


"Aaaaaargh!."


Sania berteriak dan terbangun dari mimpi buruknya. Wajahnya di penuhi keringat karena ketakutan. Rasa trauma yang dia alami dari kejadian empat tahun lalu masih menghantui hidupnya dan sering terbawa mimpi.


Sania turun dari ranjang dan segera membasuh mukanya ke kamar mandi. "Kejadian itu sudah lama berlalu, seharusnya aku sudah bisa melupakan kejadian itu... Tapi aku... Aku...."


Ceklek!


Tiba-tiba terdengar suara pintu rumahnya terbuka sehingga membuat Sania terkejut, lalu dia segera mengeringakn wajahnya dan keluar dari kamar mandi.


"Arka... Kamu sudah pulang? Kamu mabuk lagi? Aku akan buatkan sup dan mangkuknya...," kata Sania dan hendak melangkah ke dapur namun Arka meraih tangan Sania. "Tidak perlu, terima kasih... Tetaplah bersamaku."


Kemudian Arka menghampiri Sania dan memeluknya dari belakang. "Sania, aku sangat merindukanmu."


Arka menciumi rambut Sania dan area sekitar kepala dan lehernya dengan bergairah. Namun, Sania terlihat tidak nyaman dan seolah terpaksa. Kemudian Arka membalikkan tubuh Sania dan semakin berhasrat, tapi... Saat Arka ingin mencium bibir Sania, Sania mencoba terus menghindar.


"Arka... Maafkan aku...," ucap Sania sambil menatap Arka yang terlihat kecewa. "Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu lagi," jawab Arka sambil melangkah menuju ranjang mereka dengan rasa kecewanya.


Sania menatap nanar punggung Arka yang tidur membelakanginya, lalu ia memakai bajunya kembali yang sempat terbuka karena ulah Arka. Kini Sania duduk dan bersandar di pintu sambil menangis meratapi rasa trauma atas pelecehan yang terjadi padanya dahulu, sehingga kejadian Sania menolak keinginan dan hasrat Arka seperti ini sering terjadi.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...


__ADS_2