
Dua hari telah berlalu sejak kematian Arka, namun rasa berkabung dan kesedihan masih menyelimuti Sania, Kenzi, dan Nino. Mereka merasa kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup mereka, sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.
Terutama Sania, ia merasa hancur karena kehilangan cinta sejatinya. Setiap hari, dia merenungkan kenangan indah yang mereka lalui bersama. Dia merindukan senyum dan kehangatan Arka, dan kesedihan yang dalam mengisi hatinya saat menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi.
"Kamu adalah kekasihku tersayang... Kamu juga hartaku yang tersayang... Aku sangat mencintaimu Sania...."
Kini Sania duduk di kasur dengan tatapan kosong juga air mata yang jatuh tiada henti.
Dunianya seakan runtuh dan dia seakan lelah untuk membuka mata.
Di teras rumah, terlihat Nino sedang sibuk menelepon anak buahnya dan merencanakan balas dendam untuk kematian Arka. Ia mengerahkan semua orang untuk mencarikan keberadaan Arka.
Emosi Nino kini tidak terbendung, belum lagi ia bisa membalaskan dendamnya atas kematian Keyla, kini di tambah lagi dengan kematian Arka. Kenzi yang melerai Nino pun tidak di hiraukan dan hanya di abaikan yang kemudian bini segera pergi dengan amarah di ubun-ubunnya.
Kenzi hanya bisa menatap Nino nanar dan tidak bisa berbuat lebih dan hanya berharap jika Nino akan baik-baik saja. Beralih ke tempat Sania tadi berada, kini Kenzi membawakan bubur untuk Sania makan.
"Sania... Dari kemarin kamu belum makan apapun... Jika seperti itu maka tidak akan baik untuk tubuhmu, makanlah sesuatu ya..." kata Kenzi lembut namun Sania hanya tetap berada dalam lamunannya.
"Aniaya... Arka akan lebih sedih jika melihatmu seperti ini, jangan lupa kalau kamu sudah berjanji padanya akan menjaga dirimu baik-baik."
Mendengar hal itu, Sania pun akhirnya bereaksi dan menatap mata Kenzi dengan mata sayu dan berkaca-kaca. "Kenzi, Arka sudah tiada... Untuk apa aku memikirkan hidup?," kata Sania dengan putus asa.
__ADS_1
Seketika perkataan Sania membungkam mulut Kenzi hingga ia tak mampu bicara lagi. Kesedihan yang terpancar dari mata Sania membuatnya turut ikut bersedih. "Arka... Tolonglah aku... Apa yang harus aku lakukan? Tentang Sania... Tentang Nino... Apa yang harus aku lakukan untuk mereka...," batin Kenzi menjerit.
~
"Bos Remon... Kini Arka sudah mati, bos jangan lupa kesepakatan kita," kata Jack yang bicara pada Remon lewat telepon. "Aku tidak akan lupa," jawabnya singkat lalu menutup teleponnya.
Roy, yang selalu berada di di samping Remon merasa tidak percaya atas apa yang sudah bosnya itu lakukan pada Arka. "Bos... ~."
"Roy... Kau tau, aku sangat membenci semua ini, tapi ini adalah dunia yang kejam, jika aku tidak bergerak duluan maka mereka akan terlebih dahulu membunuhku, apa kau mengerti?."
"Ya Bos."
"Sekarang carikan aku wajah baru dan bunuh Jack secepatnya."
Setelah kepergian Roy, Remon memejamkan mata di kursi kebesarannya dan berkata, "Arka, jangan salahkan aku... Ini memang jalan yang harus di tempuh untuk laki-laki yang ada di dunia gelap."
Ya, keputusan yang sangat merugikan banyak pihak. Karena ketakutan yang terlalu, Remon dengan kejamnya mendukung rencana Jakc itu sehingga Arka menjadi korban dari kejamnya dunia mereka.
Malam harinya, nampak Remon dan Jack sedang bersama di kantor geng Elang menikmati minuman dan merayakan keberhasilan Jack yang berhasil menyingkirkan Arka.
"Bos Remon, terima kasih atas suksesnya kerjaan sama kita... Ngomong-ngomong, di mana Roy?."
__ADS_1
"Beberapa polisi sedang berpatroli dan dia sedang mengurusnya."
Di tengah perbincangan mereka, Jack membahas soal wilayah kekuasaan Arka yang ingin dia kuasai namun Remon berkata jika Jack jangan terburu-buru dan memintanya untuk santai.
Satu hal yang tidak di duga Remon, kini Jack membentaknya dan berkata jika Remon sudah mencoba mempermainkannya dan berkata pada bos setiap cabang jika Remon akan membalaskan dendam atas kematian Arka, dalam artian Jack sudah mengetahui jika Remon berencana menyingkirkannya.
Remon menyangkal hal itu dan berkata jika Remon sudah menyelesaikan masalah itu. Tapi Jack berkata lagi jika ia sudah tau informasi dari orang-orang kepercayaan Remon jika dirinya telah menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Jack.
Rupanya sangkalan Remon tidak berpengaruh pada Jack karena memang Jack sudah membeli orang-orang kepercayaan Remon, termasuk Roy.
"Jack! Apa maksudmu?," tanya Remon sambil berdiri tapi ia langsung memegangi dadanya.
"Selama kau mati, maka aku akan menguasai geng elang a ha ha ha ha ha...."
"Jack! Sialan kau! Kau mencampur minumanku dengan racun!," teriak Remon sambil meninju perut Jack lalu berlari keluar kantor namun di hadang beberapa anak buahnya yang sudah berkhianat.
Dan perkelahian pun tidak terhindarkan dengan satu lawan tidak terhingga dan dalam kondisi keracunan hingga saat Remon terjatuh dan mati terkapar di lantai akibat luka tusukan pisau Jack yang bertubi-tubi.
Hingga berakhirlah hidup bos gengster besar yang jadi panutan Arka selama ini tapi malah mengkhianatinya dan sekarang mati dengan mengenaskan juga.
Bersambung...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸