Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 21


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian...


Ayah Sania memutuskan untuk memindahkan Sania ke sekolah di luar negeri karena ingin memberikan kesempatan yang lebih baik bagi pendidikan Sania dan pengalaman internasional yang lebih luas. Selain itu, agar Sania terhindar dari Arka dan pergaulan bebas.


Pada hari terakhir Sania di sekolah, Sania bertemu dengan Kenzi dan memberitahunya bahwa ia akan segera pindah ke luar negeri. Kenzi merasa sedih mendengar berita tersebut, namun ia mengerti bahwa keputusan itu sudah diambil oleh ayah Sania. Mulai dari sini tatapan Kenzi terhadap Sania sudah terlihat berbeda.


"Kenapa secepat ini?," tanya Kenzi.


"Orang tua ku sudah lama merencanakan kepindahanku untuk belajar di luar negri. Seharusnya aku pergi setelah kelulusan, tapi sekarang, mereka berharap aku pergi secepatnya. Mereka diam-diam mencarikan sekolah bahasa, dan aku akan pergi ke sana."


"Jadi, kapan kamu pergi?."


"Aku naik pesawat hari selasa depan."


"Apa? Secepat itu? Kalau begitu, luangkanlah waktumu dan kita rayakan sebelum kepergianmu," saran Kenzi.


"Mustahil, aku tidak di izinkan keluar rumah dan menerima telepon. Tapi hari senin, aku akan ke sekolah untuk mengambil beberapa dokumen."


Sania meminta bantuan Kenzi untuk mengirimkan pesan pada Arka agar mereka bisa bertemu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi. Dengan berat hati Kenzi pun menyetujuinya.


~


Arka sedang sibuk dengan pekerjaannya di bengkel, sedangkan Nino menemani dan membantu dia. Kenzi duduk di sudut ruangan, terlihat terdiam dengan pikirannya. Arka merasa ada yang berbeda dari Kenzi hari ini lalu menghampirinya dan bertanya, "Kamu baik-baik saja, Kenzi?"


Kenzi mengangguk, "Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit banyak terpikirkan hal lain."


Arka merasa khawatir dan bertanya lagi, "Ada masalah apa? Apa aku bisa membantumu?"


Kenzi menatap Arka dengan mata kosong, "Tidak, tidak ada yang bisa kamu bantu. Ini masalah pribadiku."


Arka tidak ingin mendorong Kenzi untuk berbicara jika dia tidak nyaman, jadi dia kembali ke pekerjaannya. Nino mencoba menarik perhatian Kenzi dan mengajaknya bicara, tetapi Kenzi masih terlihat terdiam dan tidak tertarik untuk berbicara banyak.

__ADS_1


Nino memuji kehandalan Arka dalam bekerja dan optimis bahwa kemampuannya akan membawa pemilik bengkel menjadi kaya. Arka hanya tersenyum dan terus fokus pada pekerjaannya.


Lalu Arka berkata, jika dia tidak boleh sampai mengecewakan om Tedi yang memberinya pekerjaan ini. Dan jangan sampai mempermalukannya karena pekerjaan Arka yang tidak baik.


Mendengar perkataan Arka, Nino berkata,


"Kalau begitu, jadikan motor kesayanganku menjadi lebih bagus lagi. Aku tidak akan tamak kok, hanya ingin ban yang setengah licin, rem cakram 220 mm, karburator yang baru, dan kalau bisa kamu naikkan tenaganya, itu lebih baik."


Nino mengoceh begitu panjang, tapi Arka hanya mendengarnya selintas saja lalu berkata,


"Baiklah, bagaimana kalau mesin tenaga kuda, dan dengan helm terbaru?."


"Bagus." Nino mangut-mangut kegirangan karena itu yang sangat dia mau.


"Kalau begitu, teruslah bermimpi," lanjut Arka sambil tersenyum. Akhirnya Arka dan Nino saling mengejar dan bercanda, layaknya anak muda seusia mereka. Sedangkan Kenzi yang melihat keseruan dua sahabatnya itu hanya menghela nafas dalam-dalam.


"Haruskah aku mengatakannya. Sania, kamu memberiku pesan yang sangat berat," batin Kenzi, yang belum juga memberitau Arka tentang rencana kepergian Sania.


Sementara itu, ia juga mulai menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya dan berpamitan kepada teman-temannya di sekolah. Sania merasa sedih meninggalkan Indonesia, terutama karena ia harus meninggalkan Arka.


Sabtu malam, Arka menunggu di depan rumah Sania dengan beberapa rokok yang sudah habis dia sesap. Berharap, malam itu dia bisa melihat Sania. Tapi hal itu tidak mungkin, karena Sania tidur di temani ibunya sehingga tidak bisa keluar kamar dan terus gelisah.


Di bengkel, saat jam kerja kosong...


Kenzi merasa tidak tega melihat Arka yang selalu murung dan memutuskan untuk memberitahunya tentang kepergian Sania.


Namun, ketika Kenzi memberitahu Arka, Arka langsung merasa emosi karena merasa Kenzi terlambat memberitahunya. Arka kemudian bertanya pada Kenzi kapan Sania akan pergi dan Kenzi menjawab bahwa Sania akan pergi besok. Kemudian Kenzi mengatakan jika hari ini Sania menunggunya untuk bertemu di xx.


Setelah mendengar kabar itu, Arka langsung meminta izin kepada pemilik bengkel untuk izin kerja setengah hari. Sementara Sania sudah berada di tempat yang dia janjikan.


Tapi, saat Arka hendak pergi, ia melihat beberapa pelanggan yang baru datang. Namun Arka terkejut saat mengetahui jika orang-orang itu adalah Coki dan gengnya. Begitupun dengan Coki yang terkejut sekaligus merasa senang karena menemukan Arka di sana.

__ADS_1


"Hei hei hei...! Bukankah dia Arka yang kabur saat aku tantang balapan malam yang lalu?," kata Coki sambil bertepuk tangan gembira.


"Ada apa? Kenapa kamu bersikap menyedihkan seperti ini? Kamu anak magang kan? A ha ha...."


Arka mencoba bersikap baik karena tidak ingin Coki sampai membuat kerusuhan di tempat dia bekerja. Tapi Coki malah semakin bersikap kasar kepada Arka dan mengolok-oloknya karena di keluarkan dari sekolah.


" Coki, ini bukan saat yang tepat, aku akan melakukan apapun yang kamu mau lain kali, tapi saat ini aku harus pergi," kata Arka.


"Aku paling tidak suka seseorang menolakku! Kamu sudah bersikap kurang ajar padaku. Aku rasa, aku akan membuat perhitungan denganmu."


Coki mulai masuk ke bengkel tempat Arka bekerja dan mulai membuat kerusuhan. Dia mengacaukan tempat tersebut dan merusak beberapa peralatan yang ada di dalam bengkel.


Arka mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terpancing emosi. Namun, Coki terus mengganggu dan merusak bengkel dengan cara melempar alat-alat berat ke arah Arka. Dan di saat Coki akan merusak motor milik bosnya, Arka melindungi motor tersebut agar tidak rusak.


Coki merasa semakin senang saat Arka menderita dan susah payah mempertahankan bengkel tersebut. Kemudian Coki berganti dengan memukuli Arka. Merasa dalam bahaya, Arka pun mencoba melawan dan balik memukul mereka.


Mendapat perlawanan dari Arka, Coki mengepung dan mengeroyok Arka hingga babak belur, karena perkelahian itu tidak sepadan, satu lawan 5 orang. Sungguh terlalu si Coki ini. Setelah Arka tidak berdaya mereka pergi begitu saja saja.


Di saat tenaga terakhirnya, Arka mengingat Sania yang sedang menunggunya. Kemudian Arka mencoba bangun dan berdiri dengan tertatih-tatih hendak menemui Sania.


Di samping itu, Sania yang berdiri di tepi jalan terlihat sedang menangis dan bersedih menunggu Arka yang belum datang juga. Tiba-tiba dari sebrang jalan ayah Sania melihatnya dan mengajaknya segera pulang karena semua dokumen yang di perlukan sudah terpenuhi.


Dengan berat hati, Sania pun mengikuti ayahnya pulang ke rumah, karena tidak mungkin dia akan beralasan dan berbohong lagi saat Arka pun tidak kunjung menemuinya.


Sania ragu-ragu untuk masuk ke dalam mobil karena hati kecilnya meyakini jika Arka pasti akan menemuinya. Tapi, sampai saat itupun Sania tidak melihat Arka dan menyerah lalu masuk ke mobil dengan sangat berat hati.


Saat mobil Sania melaju, motor yang di kendarai Arka berpapasan dengan Sania yang melihatnya dari dalam mobil. Tapi Sania tidak bisa berbuat apa-apa karena ada ayahnya di sampingnya. Sania hanya bisa terus menangis melihat Arka dari spion mobilnya yang sedang mencari keberadaan Sania.


"Selamat tinggal Arka, selamat tinggal...."


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2