Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 84 - Kesetiaan sahabat


__ADS_3

\*\*\*


"Aku beli apa lagi ya?," ucap Keyla seraya menggigit jarinya.


Keyla dan Nino berada di minimarket, sibuk memilih kebutuhan untuk dibawa ke rumah sakit. Sambil berjalan dan memegang barang belanjaan, Nino terus mengoceh dengan perasaan terkejutnya karena mengetahui bahwa Kenzi juga menyukai Sania.


"Aku tidak menyangka jika selama ini Kenzi tidak punya pacar itu ternyata karena Sania, aku kira selama ini dia homo," celetuk Nino.


Sebelumnya, Nino berpikir bahwa Kenzi tidak tertarik pada wanita karena tidak pernah menjalin hubungan pacaran sejak dulu hingga sekarang.


"Kenzi sangat keren, dia bisa menyembunyikan perasaannya selama ini, tapi dia sangat malang karena sudah mencintai kekasih sahabatnya, aku tidak bisa membayangkan saat dia melihat Arka dan Sania bermesraan, jika itu aku, aku pasti sudah gila!,"


Nino terus mengoceh dengan terus mengekor di belakang Keyla yang sama sekali tidak meresponnya.


"Kalau Sania sudah bangun, baiknya apa yang dia makan ya?," gumam Keyla, bingung.


Keyla terlihat sibuk sendiri, mengambil beberapa makanan. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada tugasnya. Dia merasa sangat khawatir tentang kondisi Sania yang terbaring di rumah sakit.


"Hei! Apa yang kau lakukan! Cepat kemari!," teriaknya saat melihat Nino berada jauh di belakangnya. "Iya, iya iya... Aku datang," jawab Nino sambil berlari kecil.


Keyla berjalan keluar minimarket dengan sangat cepat sehingga Nino tertinggal di belakangnya. Ia terus merasa cemas dan bergumam sendiri dan sikapnya menjadi serba salah.


"Keyla! Tunggu aku...," teriak Nino yang berlari mengejar Keyla, namun Keyla tidak menoleh sama sekali dan terus berjalan lurus.


Nino memperhatikan Keyla yang terlihat cemas dan terganggu. Ia mendekati Keyla dengan penuh perhatian. Nino menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Keyla.


"Keyla, apa yang sedang kamu pikirkan?," tanya Nino dengan lembut sambil meraih tangannya.


Keyla menoleh ke arah Nino dan terlihat cemas juga terkejut. "Aku khawatir pada Sania... Hiks hiks... Sania... Bagaimana dengan Sania... Sania... Hiks hiks...."


"Keyla! Hentikan! Sania baik-baik saja...."


Keyla berlutut menangkupkan kedua tangannya di wajah dan menangis sesegukan di trotoar. "Keyla, jangan seperti ini, berhentilah menangis... Ayo kita duduk disana," ucap Nino lalu mengajaknya duduk di kursi.

__ADS_1


Keyla merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Sania juga pelecehan yang terjadi pada Sania empat tahun yang lalu. Dia juga merasa bukan teman yang baik karena tidak bisa melindunginya.


Nino mengangguk mengerti. Ia tahu betapa beratnya beban yang ditanggung Keyla. "Keyla, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri... Apa yang terjadi pada Sania bukanlah kesalahanmu, yang terpenting sekarang adalah mendukung dan membantu Sania dalam pemulihannya."


Keyla menatap Nino dengan mata penuh kesedihan. Lalu Nino meletakkan tangan di pundak Keyla dengan penuh kehangatan. "Keyla, Sania adalah teman kita, dia pasti tahu betapa baiknya hati dan niat baikmu, dia membutuhkan dukungan kita sekarang... Jangan biarkan rasa bersalah membebanimu."


Keyla merasa sedikit tenang mendengar perkataan Nino dan menghapus air matanya. "Kita tidak bisa menyelamatkan Sania empat tahun yang lalu, tapi kita bisa berusaha untuk membuat dia selalu bahagia di masa sekarang...," lanjut Nino.


Nino terus membujuk Keyla agar merasa lebih tenang, juga dia menggoda Keyla dengan mengatakan jika ia terus menangis maka matanya akan bengkak dan dia tidak mau lagi menjadi pacar Keyla.


Keyla merasa terhibur dan tersenyum lemah, merasa lega mendengar kata-kata Nino. Lalu ia berpikir jika lebih baik mereka menikah saja. Lebih tepatnya saat itu Keyla melamar Nino untuk menikahinya.


"Nino, ayo kita menikah."


"Apa?... Menikah?."


Keyla terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya tapi Nino merespon kurang baik dengan mengatakan hal yang membuat Keyla sebal. "Jika kita menikah, kita harus bercerai dan itu sangat merepotkan."


"Maksudku, lihatlah... Kita selalu saja bertengkar, kamu tidak akan bisa menahannya di masa depan, lalu kamu akan selalu membahas perceraian dan aku akan setuju, bukan begitu? Hehe...," kata Nino sambil bersiap melarikan diri dengan membawa belanjaan mereka.


"Kaburrrrrr!."


"Nino!."


Keyla mengejar Nino yang melarikan diri dan terus memanggilnya dengan kesal.


Saat malam hari, Kenzi, Nino dan Keyla setia menunggu Sania di rumah sakit dan mereka rela tidur terbaring di kursi tunggu rumah sakit dengan meringkuk. Sedangkan Arka berada di samping Sania dan setia menemaninya.


Ketika pagi menjelang, tiba-tiba suara ponsel Nino berdering sehingga membuatnya terbangun lalu menerima telepon yang ternyata dari anak buahnya yang mengatakan jika Jack dan anak buahnya menuju kantor mereka.


Dengan ragu, Nino menghampiri Arka yang masih terlelap tidur di kursi lalu memberitahunya. Arka menatap Sania dan merasa ragu karena cemas jika harus meninggalkan Sania yang masih lemah.


Namun dalam hal ini, ia juga tidak bisa mengabaikan gengnya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, mengingat Jack membawa sebagian besar anak buahnya.

__ADS_1


Dengan berat hati Arka pun akan pergi ke kantor sejenak dan akan berusaha secepat mungkin kembali menemani Sania.


Sebelum beranjak pergi, Arka mencium kening Sania terlebih dahulu dan mendo'akannya. Ia melangkah dengan ragu dan sesekali menoleh ke belakang, tapi ia yakin dan mempercayakan Sania sementara pada Kenzi dan Keyla.


Dan benar saja, kini Jack sudah tiba di kantor dengan sikap arogan mereka. Ketika anak buah Arka menghalau perjalanan mereka dan mengatakan jika Arka, ketua mereka sedang tidak ada, Jack malah meneriaki dan mengancamnya sehingga mereka lolos dan leluasa masuk ke dalam.


Secara kebetulan, Santi yang ingin bertemu dengan Arka, ia berkeliling mencari alamat kantor berbekal secarik kertas yang ia temukan di rumah lama Arka.


Saat menemukan tempat kantor berada, ia merasa senang dan segera masuk tanpa ia sadari bahaya telah mengintainya. Santi melangkah dengan sangat yakin tapi seketika ia hendak kembali saat melihat Jack berada di dalam.


Tapi sebelum ia berhasil keluar, Coki terlebih dahulu mendapatkannya dan bersikap kasar padanya mengingat saat terakhir kali bersamanya mereka kecelakaan mobil akibat Santi yang mengacau.


"Coki, bukankah dia gadis yang kabur darimu? Sepertinya dia enggan meninggalkanmu," kata Jack meledek.


"Bos, waktu itu dia hampir membuat mukaku hancur! Hari ini berikan dia padaku, aku akan memberinya pelajaran."


"Ha ha ha ha... Aku tidak sabar melihatnya," ucap Jack seraya mendekati Santi. "Tapi hari ini aku tidak punya banyak waktu untuk bermain dengannya, jadi aku akan membebaskanmu... Hanya saja ada satu hal yang harus kau lakukan," lanjutnya menyeringai jahat.


Setelah beberapa saat, akhirnya Arka dan Nino tiba di kantor. Mereka melihat kantor begitu sepi karena sebelumnya Jack menyuruh anak buah Arka untuk meninggalkan kantor, mereka yang menolak mendapat serangan dari Jack sehingga terpaksa mereka menurut.


"Kenapa kantor sepi sekali?," gumam Arka, lalu seketika ia terkejut saat membuka ruang kerjanya dan mendapati Santi di ikat di kursi kebesarannya.


"Santi!," teriak Arka dan Nino berbarengan.


Mereka segera melepaskan ikatan Santi dan mengecek badannya karena khawatir terjadi sesuatu. Tapi Santi menjelaskan jika Jack tidak melakukan apa-apa padanya, dia berkata jika Jack hanya ingin memberikan surat yang ada di tangannya sekarang.


Saat Arka membuka dan membaca surat itu ia merasa tercengang karena isi di dalamnya adalah tentang Jack yang akan keluar dari geng Elang dan akan mendirikan geng baru.


Juga Jack mengatakan bahwa ia secara resmi menantang geng Elang untuk bertarung sampai mati awal bulan depan dan berjanji akan menghancurkan geng Elang.


Bersambung...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2